Kesehatan

Iran Produksi Obat Aids Tradisional

Ketua Pusat Penelitian Aids Iran mengumumkan hasil uji klinis obat aids Imod. Menurutnya, hasil uji klinis yang dilakukan terhadap obat ini selalu positif.

Dr. Minoo Mohraz menilai Imod sebagai obat yang mampu menstabilkan sistem pertahanan tubuh.

Ia mengatakan, ” Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sampai sistem ini lumpuh, akibatnya penderita akan mudah terserang infeksi dan bakteri, yang pada akhirnya akan berakhir dengan kematian.”

Imod telah melewati beberapa kali uji klinis dan hasilnya memuaskan. Oleh karena itu, penderita aids yang mengkonsumsi obat ini akan merasa lebih segar dan sistem pertahanan tubuhnya meningkat.

Ia menambahkan, “Obat ini belum dipasarkan secara luas, karena belum mendapat izin dari Depkes Iran.”

Jika obat ini sudah bisa dipasarkan secara luas oleh Depkes Iran, para penderita aids bisa memperolehnya dengan gratis.

Imod (Immuno-Modulator Drug) adalah obat penyeimbang sistem pertahanan tubuh yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan. Obat yang diciptakan oleh para peneliti Iran pada tahun 2004 dengan memanfaatkan teknologi Nano dan bioteknologi tersebut, mendapat sertifikasi internasional pada tahun 2005.

Imod membantu memulihkan sistem hidup dan pertahanan tubuh, serta menyelamatkan penderita dari stadium berbahaya. Proses pembuatan obat ini memakan waktu lebih dari lima tahun, dan menurut para peneliti, Imod tidak menyembuhkan aids secara total, akan tetapi ia digunakan untuk mengontrol penyakit ini. (IRIB Indonesia/HS)

Advertisements
Categories: Hubungan Internasional, Kesehatan | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Gelombang Baru Serangan AIDS

Konferensi Internasional AIDS ke-18 yang berlangsung selama enam hari di Wina ‎Austria telah berakhir dengan desakan kepada pihak-pihak terkait untuk memberikan ‎kemudahan perawatan dan pengobatan untuk para penderita penyakit ini. Lebih dari ‎dari 20 ribu orang dari 100 negara terlibat dalam sejumlah komisi yang membahas ‎perkembangan keilmuan terakhir dalam upaya memproduksi vaksin AIDS, kondisi ‎para penderita AIDS dan solusi mencegah penyebaran vitus HIV.‎

Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala ‎dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh ‎manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang ‎menyerang spesies lainnya (SIV, FIV dan lain-lain).‎

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu ‎virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ‎ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. ‎HIV umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam ‎‎(membrane mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, ‎seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan ‎dapat terjadi melalui hubungan intim, transfusi darah, jarum suntik yang ‎terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta ‎bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Penggunaan jarum suntik ‎yang tercemari HIV menjadi faktor penularan terbesar virus ini di kalangan para ‎pengguna narkotika jenis suntik karena sering menggunakan jarum secara bergantian. ‎Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, ‎namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.‎

AIDS pertama kali diumumkan menjadi penyebab kematian orang pada tanggal 5 Juni ‎‎1981. Sejak saat itu, AIDS menjadi momok yang sangat menakutkan dan dilema ‎besar bagi dunia medis. Sampai saat ini tercatat lebih dari 25 juta orang meninggal ‎dunia akibat penyakit ini. Di dunia, AIDS adalah penyebab kematian keempat ‎sementara di benua Afrika penyakit ini diklaim sebagai faktor kematian terbesar. ‎Sebagian besar korban AIDS adalah kalangan berusia muda bahkan lima juta ‎diantaranya masih berumur di bawah 15 tahun. Diperkirakan saat ini terdapat 40 juta ‎orang di seluruh dunia yang terinfeksi virus HIV. Yang menyedihkan adalah bahwa 95 ‎persen penderita AIDS hidup di negara berkembang.‎

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membagi dunia ke dalam sepuluh kawasan ‎geografis. Dengan pembagian itu jelas bahwa tingkat penyebaran HIV di setiap ‎kawasan berbeda dengan kawasan yang lain. Menurut laporan WHO, kawasan Timur ‎Tengah dan Afrika Utara dengan 98 persen warganya beragama Islam termasuk ‎diantara kawasan yang paling bersih dari virus HIV dari kesepuluh kawasan. ‎Penyebabnya adalah ketaatan warga di kawasan ini terhadap ajaran agama dan ‎norma-norma kesusilaan. Sayangnya, angka itu tercemari oleh faktor penularan AIDS ‎lewat jarum suntik yang marak diantara para pecandu narkotika. Akibat faktor ini, ‎Bahrain, Iran, Tunis, Mesir dan Pakistan menjadi negara-negara yang terancam ‎penyebaran cepat virus HIV.‎

Konferensi internasional AIDS ke-18 menyoroti penyebaran AIDS di kawasan Asia ‎tengah dan Eropa Timur. Direktur Unicef di Jerman, Christine Schneider, mengatakan, ‎AIDS terus berkembang dan menyebar di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah ‎dengan kebanyakan korbannya dari kalangan perempuan, anak kecil dan pemuda ‎miskin yang hidup di pinggiran kota. Faktor utama penyebaran AIDS di kawasan ini ‎adalah merebaknya praktik asusila dan penggunaan narkotika. Kondisi ekonomi yang ‎buruk mendorong para pemuda di kawasan ini pergi ke Rusia dan Ukraina untuk ‎mengais rejeki. Tak hanya uang yang mereka bawa pulang ke kampung halaman ‎tetapi juga virus HIV yang mematikan. Antara tahun 2001 dan 2008, jumlah penderita ‎AIDS di Asia Tengah dan Eropa Timur meningkat 66 persen. Di antara negara-negara ‎itu, Ukraina menempati urutan teratas penderita AIDS. Menurut data WHO, penderita ‎AIDS di Ukraina saat ini tercatat sebanyak 360 ribu orang.‎

AIDS tidak mengenal batas dan mengancam semua negara. Karena itu, masyarakat ‎dunia secara bersama-sama terus mengupayakan pencegahan penyebaran penyakit ‎ini. AIDS memang merebak tanpa kendali di negara-negara miskin dan berkembang, ‎namun uang dan obat untuk mengatasinya justeru dimiliki oleh negara-negara maju ‎dan kaya. Tahun 2006, negara-negara kaya berjanji akan membantu negara-negara ‎miskin dengan dana sebesar 25 miliar USD sampai tahun 2010 untuk program ‎penyuluhan dan pengendalian AIDS. Namun dari janji itu, hanya separuhnya yang ‎sudah terlaksana. Para donatur beralasan bahwa tak tersedianya dana yang dijanjikan ‎itu diakibatkan oleh krisis ekonomi yang melanda dunia. ‎

Julio Montaner, presiden International AIDS Society (IAS) mengkritik sejumlah negara ‎kaya dan mengatakan, sepanjang tahun lalu, para pemimpin yang menjanjikan ‎kerjasama untuk menanggulangi masalah AIDS tentu masih ingat bahwa mereka telah ‎mengucurkan dana paket bantuan ekonomi untuk menyelamatkan rekan-rekannya, ‎para bankir dan pemodal Wall Street yang rakus. Kini ketika tiba giliran masalah ‎kesehatan, mereka bergegas melepas tanggung jawab. ‎

Presiden IAS menambahkan, “Jika pemerintah di semua negara tidak memperbaiki ‎kualitas pengobatan dan layanan untuk para penderita AIDS, dampak yang bakal ‎terjadi bisa mengimbas semua negara.”‎

Penyebaran cepat penyakit ini di negara-negara miskin dan berkembang tidak berarti ‎bahwa negara-negara maju sudah aman dari penyebaran penyakit mematikan ini. ‎Dalam sebuah aksi kemanusiaan, negara-negara maju memberikan bantuan untuk ‎ikut mencegah penyebaran AIDS. Secara lahiriyah bantuan itu memang untuk ‎meringankan beban penanganan AIDS di negara-negara miskin dan berkembang, ‎padahal sebenarnya yang diuntungkan dari bantuan itu adalah negara-negara maju ‎sendiri. AIDS adalah epidemi yang menjadi masalah besar bagi dunia. Tak beda ‎halnya dengan masalah dunia lainnya seperti pemanasan global yang mengancam ‎semua negara tanpa kecuali. Apalagi, pusat kajian medis di Amerika Serikat dalam ‎laporannya menyebutkan, AIDS menyebar dengan sangat cepat di enam negara ‎bagian di wilayah selatan Amerika Serikat. ‎

Saat ini, di AS tercatat sebanyak satu juta orang mengidap penyakit AIDS. Namun ‎demikian, bujet pemerintah untuk menangani penyakit ini dalam beberapa tahun ‎terakhir menurun cukup drastis. Sangat mungkin hal itu dipicu oleh krisis ekonomi ‎yang melanda negara ini. Sudah 25 tahun berlalu sejak kasus AIDS pertama kali ‎dipublikasikan secara resmi dan penyakit inipun menyebar dengan cepat di seluruh ‎dunia, namun demikian, banyak penderita AIDS di AS yang enggan mendatangi klinik-‎klinik kesehatan. Menurut data yang ada, kasus infeksi virus HIV di Carolina Utara, ‎Carolina Selatan, Georgia, Alabama, Mississippi, dan Louisiana meningkat sampai 36 ‎persen. Data ini menunjukkan bahwa negara terkaya di duniapun tak selamat dari ‎serangan gelombang baru penyebaran AIDS.‎

Salah satu faktor penyebaran AIDS adalah melalui hubungan intim. Mereka yang tidak ‎mengindahkan norma dan nilai-nilai kesusilaan dan kerap melakukan hubungan ‎badan di luar pernikahan merupakan kelompok yang rawan terkena penyakit ini. ‎Mencegah lebih baik dari mengobati adalah prinsip yang harus dikedepankan dalam ‎menghadapi penyebaran penyakit AIDS. Untuk itu, para pakar mengimbau semua ‎orang untuk menghormati nilai-nilai etika, setia kepada keluarga dan menghindari ‎kontak seksual tanpa batas.(IRIB/AHF/SL)‎

Categories: Hubungan Internasional, Kesehatan, Sosial - Budaya | Leave a comment

Memiliki Hidung Besar? Selamat, Anda Lebih Tahan Polusi dan Penyakit

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Jika Anda memiliki hidung yang ukurannya lebih besar dari rata-rata, tak usah minder. Justru Anda seharusnya merasa beruntung. Menurut sebuah studi, individu yang memiliki hidung besar cenderung cerdas dan identik dengan darah biru. Riset terbaru juga mengungkap, hidung mancung dan besar memiliki perlindungan ganda terhadap penyakit.

Hasil riset juga mengungkap kendati secara fisik pemilik hidung besar kerap diejek atau dilecehkan, pemilik hidung itu cenderung kuat menghadapi fllu atau virus flu. Peneliti menyimpulkan, semakin besar hidung, semakin besar pula filter udara yang menyaring debu dan bakteri saat memasuki tubuh.

Peneliti menjelaskan hidung yang besar juga meminimalisir terhirupnya polusi udara hingga 7 persen. Hidung itu juga bertindak sebagai filter untuk menjauhkan kuman dari mulut dan mengurangi efek dari demam.

Sebelumnya, peneliti membuat semacam dua replika hidung. Ukuran pertama 2.3 kali lebih besar dari replika hidung kedua. Kedua hidung diletakkan pada kepala buatan dan dua set bibir yang juga dalam berbagai ukuran. Bibir menutupi ujung tabung dan menarik di udara yang mengandung berbagai partikel.

Hasilnya, hidung berukuran besar hanya menghirup partikel 6,5 persen. Prosentase ini lebih sedikit ketimbang repilka hidung berukuran kecil. Hasil mengejutkan juga diperoleh peneliti dimana bibir berukuran besar mampu mengurangi masuknya partikel hingga 3,2 persen.

Dr Renee Anthony, Pemimpin riset mengatakan hidung yang besar memberikan perlindungan yang lebih baik untuk mulut. “Hidung besar juga menurunkan resiko terinfeksi dan Hal itu berlaku juga untuk polusi,” tukasnya seperti dikutip dari dailymail, Senin (17/5).

Riset yang digagas University of Iowa, Amerika Serikat segera dipublikasikan dalam jurnal Annals Of Occupational Hygiene.

Jadi, beruntunglah selebritis macam Sarah Jessica Parker, Barbara Streisand dan Barry Manilow. Untuk tokoh asal Indonesia, sosok Akbar Tanjung mungkin termasuk beruntung orang-orang beruntung dengan berkah ukuran hidung tergolong besar dari ukuran rata-rata.

Categories: Kesehatan | Leave a comment

Ditemukan, Obat Pengencer Otak

REPUBLIKA.CO.ID, TEXAS–Para peneliti telah menemukan obat yang membantu otak kembali menumbuhkan sel-sel baru. Peneliti, menguji coba menggunakan tikus, didasarkan hasil temuan mamalia, termasuk manusia, membuat sel-sel otak muda sepanjang hidup mereka.

“Kita membuat neuron baru setiap hari di otak kita,” kata Andrew Pieper dari University of Texas Southwestern Medical Center di Dallas yang bekerja pada studi ini, melalui sambungan telepon pada Reuters. “Apa yang kami lakukan di penelitian memungkinkan mereka bertahan hidup.”

Saat ini, para peneliti masih mengembangkan temuan atas senyawa yang disebut P7C3 itu. Mereka mengatakan tampaknya aman dan bahkan ketika bekerja dengan meminum obat tersebut.

Senyawa ini mirip dengan Medivation Inc dan  obat eksperimental Alzheimer Pfizer Inc, Dimebon, dan mungkin menyediakan cara untuk meningkatkan efek. “Hal ini juga mirip dengan beberapa senyawa yang dimiliki Serono,” kata Pieper.

Dimebon, awalnya anti histamin buatan Rusia yang juga dikenal sebagai latrepirdine, gagal dalam percobaan klinis untuk penyakit Alzheimer pada Maret. Alzheimer secara bertahap menghancurkan otak dan mempengaruhi 26 juta orang di seluruh dunia. Obat-obatan, seperti Pfizer Aricept, memperbaiki gejala hanya sedikit.

Para peneliti memeriksa 1.000  dari 300 ribu senyawa kimia yang terkumpul dan diberikannya kepada tikus. Mereka kemudian membedah otak untuk melihat apakah salah satu tikus telah membuat sel-sel baru di hippocampus, suatu wilayah otak yang terkait dengan belajar dan memori. Mereka akhirnya mempersempit lapangan untuk P7C3.

Ketika mereka memberikannya kepada tikus tua untuk dua bulan, tikus tua itu jauh lebih baik daripada tikus tua lainnya dalam cara belajar mereka di sekitar tempat air yang membingungkan. Ketika membedah, tikus tersebut ditemukan memiliki tiga kali jumlah neuron baru yang lahir biasa di area otak yang disebut dentate gyrus. Mereka membuat turunan P7C3 disebut A20 yang bekerja lebih baik.

Ketika peneliti menguji Dimebon dan senyawa Serono, mereka menemukan obat-obatan ini juga merangsang pertumbuhan sel-sel otak baru. “Mampu memberikan efek dan menyebabkan kinerja obat lebih baik untuk mengobati Alzheimer dan penyakit lain yang mungkin menghancurkan sel-sel otak seperti stroke dan penyakit amyotrophic lateral sclerosis, juga dikenal sebagai ALS atau penyakit Lou Gehrig.”

Categories: Kesehatan | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.