Filsafat

Murtadha Muthahhari-Tentang Ideologi

Ada dua jenis aktifitas manusia; aktifitas atas dasar kesenangan dan aktifitas atas dasar kepentingan.

Aktifitas atas dasar kesenangan didorong oleh naluri manusia. Sebagian orang menyebut sisi naluriah ini sebagai sisi hewani manusia. Kenapa demikian? Karena aktifitas yang menyenangkan dilakukan manusia untuk mendapat kesenangan, atau untuk melepaskan diri dari kepedihan yang terjadi akibat pengaruh langsung nalurinya. Naluri merupakan karakter pembawaan dan kebiasaan, yang merupakan kecenderungan yang terbentuk akibat lingkungan atau pengalaman.

Misalnya, kalau orang merasa haus, dia akan mengambil segelas air. Kalau seseorang melihat binatang penyengat, dia akan mengambil langkah seribu. Kalau seseorang ingin merokok, maka dia akan menyalakan rokok. Bila dia mengantuk, maka dia akan tidur. Dan kalau dia terangsang, dia akan menemui lawan jenisnya.

Sedangkan aktifitas atas dasar kepentingan, didorong oleh akal manusia. Sebagian orang, menyebut aktifitas ini, adalah aktifitas manusia yang bersifat politik. Politik merupakan aktifitas. Aktifitas politik ini tidak menarik dan tidak juga menjijikan. Naluri manusia, tidak mendorong dan tidak juga menjauhkannya dari aktifitas seperti itu.

Manusia melakukan aktifitas seperti itu, atau menghindari aktifitas seperti itu, atas dasar kehendaknya sendiri. Karena dia merasa berkepentingan untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Dengan kata lain, dalam kasus ini, penyebab utama dan kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu adalah kepentingannya. Bukan kesenangannya.

Saya kira, pada tahap ini, pemikiran Murtadha Muthahhari tentang perbedaan kedua jenis aktifitas manusia ini, sudah dapat disimpulkan. Yang mendorong manusia untuk memperoleh kesenangan adalah nalurinya, sedangkan yang mendorong manusia untuk melakukan kepentingannya adalah akal. Kesenangan merangsang hasrat, kepentingan membangkitkan kehendak.

Semakin kuat akal dan kehendak, semakin kuat kendalinya akan naluri. Sekalipun kecenderungannya menghendaki sebaliknya. Semakin maju akal dan kehendak seseorang, semakin bersifat politik aktifitasnya, bukannya bersifat kesenangan. Sebaliknya, semakin dekat dia dengan cakrawala sisi hewaninya, aktifitasnya semakin bersifat kesenangan. Karena aktifitas yang bersifat mencari kesenangan, kebanyakan merupakan aktifitas hewaniah.

Dalam melakukan aktifitas politiknya, manusia pada setiap tahap, mempraktikkan teori atau rencana.

Nah, perbuatan politik tidak mendatangkan kesenangan, karena tidak memberikan hasil langsung. Namun demikian, perbuatan politik, memberikan kepuasan. Kesenangan dan kesulitan, lazim dialami oleh manusia dan binatang. Namun, kebahagian dan ketidakbahagiaan, kepuasan dan kekecewaan, hanya dialami oleh manusia. Begitu pula dengan menghasratkan sesuatu, hanya dialami oleh manusia. Kepuasan, kekecewaan, dan berkeinginan merupakan fungsi-fungsi mental. Ketiga hal ini, hanya ada dalam wilayah pikiran manusia, bukan dalam wilayah persepsi inderawi.

Sementara, kebahagiaan, yang menjadi tujuan final manusia, termasuk dalam hal (atau masalah) yang masih abstrak (atau mendua). Sekalipun konsepsi mengenai kebahagiaan sekilas tampak jelas.

Masih belum jelas, apa sebenarnya kebahagiaan, dan apa saja yang mewujudkan kebahagiaan. Manusia sendiri dan kemampuannya belum diketahui. Sepanjang manusia belum diketahui, mana mungkin kita dapat mengetahui apa sebenarnya kebahagiaan, dan bagaimana memperoleh kebahagiaan.

Ditambah lagi, manusia adalah makhluk sosial. Kehidupan sosial manusia, membawa beribu-ribu problem bagi dirinya, yang tak dapat dipecahkannya. Namun begitu, tugasnya haruslah jelas. Karena manusia adalah makhluk sosial, maka kebahagiaannya, aspirasinya, standar baik dan buruknya, jalan hidupnya, pilihannya akan sarana hidup, berkait kelindan dengan kebahagiaan sesama manusia; aspirasi mereka, standar baik dan buruk mereka, jalan hidup mereka, dan pilihan mereka akan sarana hidup.

Manusia tidak dapat memilih jalannya tanpa bergantung pada sesamanya. Manusia, harus mencari kebahagiaannya, di jalan yang membawa masyarakat ke arah kebahagiaan dan kesempurnaan. Terlebih lagi, jika (dalam konsepsi Islam) dikaitkan dengan masalah roh yang abadi, dan akal yang tidak memiliki pengalaman dengan kehidupan akhirat, maka problemnya menjadi jauh lebih sulit.

Pada tahap inilah, untuk mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan, Muthahhari memandang, perlunya manusia akan mazhab atau ideologi.

Lalu, apakah ideologi itu? Apakah defenisi ideologi itu? Alasan-alasan apakah yang lebih menguatkan bahwa manusia perlu akan sebuah mazhab atau ideologi? Bagaimana manusia bila tanpa ideologi? Apa sajakah jenis-jenis ideologi itu? Dan apakah, menurut Muthahhari, ideologi yang ideal bagi ummat manusia? Dan kenapa mesti demikian?

Pertama, ideologi kelas. Ideologi kelas didedikasikan untuk kelas, kelompok atau lapisan masyarakat tertentu. Tujuannya adalah emansipasi (atau supremasi) kelompok tertentu.

Tanpa disebutkan contohnya, saya kira, anda sudah tahu apa yang dimaksud Muthahhari dengan ideologi kelas ini. Saya tak ingin menyebutkan contohnya satu persatu. Namun, sebagai bayangan, bukankah anda pernah mendengar perjuangan kaum buruh, pergerakan kaum petani, gerakan kelas pekerja, dan seterusnya. Atau, yang lebih tragis, penindasan kelompok orang kaya terhadap kaum lemah atau miskin. Semua peristiwa itu, “digerakkan” oleh ideologi kelas tertentu.

Yang kedua, ideologi manusiawi. Ideologi manusiawi adalah ideologi yang didedikasikan untuk seluruh umat manusia, bukan untuk kelas, ras, atau masyarakat tertentu saja. Ideologi ini menganjurkan orang kaya untuk menyayangi dan menghormati yang miskin. Sebaliknya juga, ia menganjurkan untuk menghargai yang kaya atas segala usaha dan pengabdiannya. Ideologi ini, mencakup konsepsi tentang manusia dan alam semesta secara menyeluruh. Penjelasan lengkap, tentang jenis ideologi yang kedua ini, akan kita ungkap pada pembahasan topik ini selanjutnya.

Pertanyaannya sekarang, ideologi jenis manakah dari kedua jenis ideologi itu yang ideal menurut Murtadha Muthahhari? (Saya kira, anda pasti sudah tahu) tentu saja yang kedua. Mengapa?

Untuk menjelaskan pertanyaan ini, tentu saja, kita harus merujuk kepada bagaimana Muthahhari mendefinisikan ideologi.

Mazhab pemikiran atau ideologi, bagi Muthahhari, diartikan sebagai teori umum, atau sistem yang komprehensif dan harmonis, yang tujuan pokoknya adalah kesempurnaan manusia dan kebahagiaan bagi semua.

Sistem ini, harus merinci prinsip-prinsip pokok, berbagai metode, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, perbuatan baik dan buruk, tujuan dan sarana, tuntutan dan pemecahannya, tanggung jawab dan kewajiban. Dan, juga, harus menjadi sumber yang mendorong semua individu untuk menjalankan kewajiban. Sistem inilah (yang dalam terminologi Al-Qur’an) disebut dengan “syari’at” (Islam).

Lalu, timbul pertanyaan, apakah Islam itu ideologi?

Bila patokkannya adalah Muthahhari, maka jawabannya “Ya”. Nah, pendapat ini tampak sedikit (atau jelas) berbeda dengan sebagian filosof yang menganggap ideologi adalah murni semata-mata sebagai hasil pemikiran manusia. Sementara, syari’at lahir atas tuntunan Ilahiah.

Tapi, Muthahhari, bukannya tanpa alasan menyatakan Islam adalah ideologi. Sejak awal, atau setidaknya sejak perkembangan kehidupan sosial, melahirkan begitu banyak perselisihan. Di masa dahulu, kecenderungan rasial, kebangsaan, dan kesukuan menguasai masyarakat-masyarakat manusia. Semangat ini, kemudian, melahirkan serangkaian ambisi – sekalipun tidak manusiawi – yang mempersatukan masing-masing masyarakat dan memberinya orientasi tertentu.

Nah, sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan dan akal telah melemahkan ikatan-ikatan serupa itu. Watak ilmu pengetahuan adalah cenderung kepada individualisme, melemahkan sentimen dan ikatan yang didasarkan pada sentimen.

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pertama, meskipun aktifitas politik manusia penting sekali bagi sisi manusiawinya, namun aktifitas itu saja (apapun kualitasnya) belumlah cukup untuk memberikan karakteristik manusiawi kepada semua aktifitas manusia. Akal, pengetahuan, dan perencanaan hanyalah separuh dari sisi manusiawi manusia. Aktifitas manusia, disamping rasional dan sadar, baru dapat disebut manusiawi apabila sesuai dengan kecenderungan yang lebih tinggi. Kalau tidak, maka aktifitas kriminal pun terkadang perencanaan dan pelaksanaannya sangat bagus. Rencana imperialisme yang jahat menunjukkan fakta ini.

Dewasa ini, lebih daripada sebelumnya, manusia membutuhkan filsafat hidup. Sebuah filsafat yang mampu menarik perhatiannya kepada realitas di luar para individu, dan diluar kepentingan mereka. Sebuah filsafat hidup yang rasional dan dipilih secara sadar. Atau, dengan kata lain, sebuah ideologi yang komprehensif dan sempurna, yang dapat mempersatukan umat manusia dewasa ini, dan malah umat manusia di masa depan. Memberi manusia orientasi, ideal bersama, dan standar bersama untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.

Lalu, siapa yang dapat merumuskan ideologi seperti itu? Tak pelak lagi, akal para individu tak dapat merumuskannya. Dapatkah akal kolektif merumuskannya? Bayangkan saja; dapatkah manusia, dengan menggunakan segenap pengalamannya, serta informasi lama dan barunya, merumuskan ideologi seperti itu? Kalau kita akui, bahwa manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka mana mungkin kita berharap manusia mengenal masyarakat manusia dan kesejahteraan sosial.

Lantas, harus bagaimana? Bila saja, konsepsi kita tentang alam semesta benar, dan kita percaya bahwa dunia memiliki sistem yang seimbang, dan tak ada yang tak beres dan tak masuk akal pada dunia, maka harus kita akui bahwa mesin kreatif yang hebat ini memperhatikan masalah besar ini, dan sudah merinci skema pokok sebuah ideologi dari cakrawala yang berada di atas cakrawala akal manusia. Yakni, dari cakrawala wahyu (prinsip kenabian). Kerja akal (dan termasuk juga ilmu pengetahuan) mengikuti skema ini.

Sampai disini, menjadi jelas, tanpa ideologi manusia akan berada dalam kebingungan dan salah. Lalu, apakah arti dari mengikuti ideologi itu? Ini sekaligus menjawab pertanyaan sahabat saya Kucrit. Mengikuti ideologi adalah meyakini ideologi tersebut. Sedangkan keyakinan, tidak dapat dipaksakan. Dan, juga, tidak dapat dipandang sebagai masalah praktis. Orang dapat saja dipaksa untuk tunduk kepada sesuatu. Tapi, ideologi tidak menuntut ketundukkan. Yang dituntut ideologi adalah keyakinan. Ideologi adalah untuk diterima dan dimengerti.

Ideologi, yang bermanfaat, harus didasarkan pada konsepsi tentang dunia yang dapat meyakinkan akal dan memupuk pikiran. Dan, juga, harus mampu menangkap sasaran yang menarik dari konsepsinya tentang alam semesta. Keyakinan dan semangat, merupakan dua unsur dasar dari agama. Kedua unsur ini, secara bersama-sama membentuk ulang dunia.

Bagaimana……

Advertisements
Categories: Filsafat | Leave a comment

Atheis pun Berpikir

“Tuhan itu tidak ada. Yang ada ialah teknik. Dan itulah Tuhan kita! Sebab, tekniklah yang memberi kesempatan hidup kita.” suara laki-laki itumenggema di ruangan yang tak berapa luas itu.

“Tidak!” seorang laki-laki lain, berwajah Mongol, mendebat pendapat orang itu. “Tidak! Teknik itu cuma alat.”

Dengan tangkas, sambil tertawa, laki-laki yang didebat menjawab, “Betul kata Saudara itu, ‘cuma alat’. Memang, ‘kan Tuhan pun hanya cuma alat bagi orang-orang yang percaya kepadanya. Alat yang katanya memberi keselamatan dan kesempurnaan kepada hidup manusia. Begitu pula teknik bagi kami. Alat yang memberi kesempurnaan bagi hidup manusia. Dus, apa bedanya? Teknik nyata, tegas, kongkret. Tapi, Tuhan samar-samar, kabur-kabur, melambung-lambung ke daerah yang tak tercapai oleh akal, ke daerah yang gaib-gaib, yang tidak ada bagi kami…”

“Betul.” kata laki-laki berwajah Mongol itu lagi. “Tapi, apa artinya alat kalau tidak ada manusia? Kalau tidak ada aku? Yang harus mempergunakannya? Apa gunanya mesin-mesin, kalau tidak ada tangan yang menjalankannya? Oleh karena itu, bagiku, Tuhan itu adalah aku sendiri, manusia, bukan teknik dan mesin-mesin.”

Petikan kisah ini saya ambil dari karya lama, karangan Achdiat K. Mihardja, berjudul Atheis. Walaupun dikutip dari karya lama dan lokal, tapi perdebatan orang-orang yang “tertarik magnet ajaran” semisal Karl Marx dan Nietzshce, hampir cenderung sama dari masa ke masa. Perdebatan-perdebatan serupa, juga pernah muncul di beberapa kalangan aktifis pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Nah, dari petikan diatas, setidaknya kita dapat melihat bahwa ada dua jenis atheis. Apa saja itu?

Pertama, Atheisme Rasionalistik. Atheisme rasionalistik mengingkari Tuhan karena penjelasan ilmiah yang rasional tidak memerlukan Tuhan dalam menjelaskan dunia. Tidak ada “bukti ilmiah” yang meyakinkan kita akan keberadaan Tuhan. Keberadaan Tuhan dan Tuhan itu sendiri tidak masuk akal. Tuhan tidak dapat diteliti di laboratorium, tidak dapat diuji dengan metode ilmiah. Oleh sebab itu, sekali lagi, sudah sangat pasti bahwa Tuhan itu tidak ada.

Aliran atheisme rasionalistik ini diperkirakan muncul pada masa Renaissance dan pasca-Renaissance. Kemudian, mencapai puncaknya pada masa pencerahan, pada abad 18. Sebelum revolusi Perancis, banyak sekali para pilsuf mereka yang atheis, seperti Voltaire, Diderot, Baron d’Holbach, dan lain-lain.

Kedua, Atheisme Romantik. Atheisme romantik bukan atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan. Tapi, atheis yang melihat Tuhan sebagai musuh kebebasan dan penentu moralitas. Atheisme romantik menolak Tuhan atas alasan moral. Tuhan adalah penyebab ketidakadilan, penindasan, dan penurunan nilai kemanusiaan. Agar bebas dan terbuka, manusia harus melepaskan dirinya dari Tuhan. Manusia harus meniadakan Tuhan, atau lebih ekstrimnya, manusia harus membunuh Tuhan. Dengan membunuh Tuhan, manusia memperoleh kebebasan untuk menentukan nilai, memilih baik dan buruk. Hanya dengan meniadakan Tuhan manusia baru bisa bertindak “otentik”.

Pada hakikatnya, atheisme romantik menggantikan Tuhan dengan individualitas. Salah satu penganutnya, Nietzsche, pernah berkata, “Be a man and not follow me – but your self”. Aliran ini muncul pada abad 19 dan banyak ditemukan dalam karya-karya sastra eropa. Selain Nietzsche, diantaranya dapat dilihat pada karya-karya sastra dari Rilke, Kafka, Camus, dan lain-lain.

Nah, sobat-sobat semua, itulah sekilas tentang atheis. Karena sekilas, tentu saja tidak lengkap. Harap maklum.

Atheisme ini sudah jelas merupakan dampak ideologis. Saya kira, kita semua sepakat, bahwa dengan mempelajari masalah atheisme ini, bukan berarti setelahnya kita harus dengan tak sadar, atau dengan suka rela, tertarik pada magnet atheisme tersebut. Kita tidak menutup diri untuk mempelajari masalah atheisme, adalah agar kita juga punya “bekal logika” ketika kita didebat pada masalah-masalah ke-Tuhan-an. Itulah yang dilakukan oleh Buya HAMKA, Murtadha Muthahhari, dan lain-lain. Walaupun ilmu pengetahuan kita tak sedalam mereka, tapi tidak ada salahnya untuk memulai memperdalamnya mulai sejak ini.

Bagaimana?….ada pendapat lain mungkin dari kalian….

Categories: Filsafat | Leave a comment

Mengapa Manusia Harus Beragama? (Murtadha Muthahhari)

Beragama berarti memiliki keyakinan religius. Sebuah keyakinan religius mempunyai titik sentral yang menentukan awal, akhir, dan proses dari sesuatu. Titik sentral itu adalah Tuhan. Tuhan itulah yang mengatur sistem dan hukum alam semesta. Dan keyakinan religius pada dasarnya adalah kecenderungan fitrah manusia, ia bukan hasil dari upaya. Kalau kecenderungan fitrah itu diikuti, ia akan menghasilkan ketenangan.

Tidak beragama berarti melawan kecenderungan fitrah itu, menciptakan pertentangan batin di dalam diri, sebuah pekerjaan yang tidak realistis, membangun dunia imajiner yang tidak mendapat dukungan dari sistem dan hukum alam semesta tadi. Hasil akhirnya adalah kegelisahan.

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Dalam Man and Universe, Murtadha Muthahhari menjelaskan dengan panjang lebar “Mengapa Manusia Harus Beragama”. Berikut ini, sari dari apa yang beliau sampaikan itu saya nukilkan di sini, tentunya dengan bahasa saya sendiri.

1. Optimisme

Pertanyaan-pertanyaan yang sering mengusik manusia adalah: Apakah perbuatan baik itu ada gunanya? Apakah kebenaran dan kejujuran itu membantu untuk mencapai tujuan? Dan, apakah akhir dari penunaian tugas mulia hanyalah kesia-siaan?

Sistem alam semesta sudah dirancang oleh Tuhan untuk mendukung orang-orang yang berbuat kebenaran, keadilan, dan integritas. Meskipun, sebelumnya, mereka yang berbuat untuk kebenaran dan keadilan tersebut akan menghadapi ujian. Reaksi dunia tidak sama terhadap orang-orang yang berbuat baik dan terhadap orang-orang yang berbuat buruk.

Orang-orang yang beragama yakin bahwa perbuatan baik – cepat atau lambat – pasti akan mendapatkan ganjaran kebaikan pula untuk dirinya. Dan begitu pula perbuatan jahat akan mendapat ganjaran keburukan. Keyakinan akan hal ini membuat orang yang beragama selalu berusaha untuk menjadikan dirinya baik dan melakukan perbuatan yang baik pula. Ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak pada kelemahan dan kemalasan. Karena orang yang beragama yakin bahwa keterbelakangan dirinya adalah akibat kelemahan dan kemalasannya untuk berusaha.

Hal itulah yang membuat orang yang beragama selalu punya pandangan yang optimis terhadap dunia, hatinya tercerahkan, bahwa segala usaha-usahanya akan mendapatkan hasil yang sebanding dengan apa yang ia usahakan.

“…baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan…” (QS. Al-Baqarah: 134)

”Dan barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

2. Mengurangi Kecemasan

Yang membuat manusia cemas adalah rasa ragu dan tak pasti. Dan kecemasan manusia yang utama adalah:

– Ketakpastian masa depan, dan
– Kecemasan akan kematian.

Banyak kepahitan dan penderitaan hidup dapat diatasi dengan upaya yang sunguh-sungguh. Namun, ada beberapa (atau mungkin banyak) kejadian dalam hidup yang tidak dapat dicegah dengan usaha sekeras apapun, ia hanya dapat diatasi dengan bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Orang yang beragama yakin bahwa kewajiban manusia hanya berupaya untuk kebaikan semaksimal mungkin agar Tuhan ridha padanya. Ia tidak berkuasa atas hasil dari apa yang telah dilakukannya, hasil dari upaya itu Tuhan-lah yang menentukan. Dan dia percaya bahwa Tuhan selalu punya “skenario” yang lebih baik terhadap dirinya, dan Tuhan tidak akan pernah memberikan hal buruk terhadap segala hal baik yang telah dia upayakan. Inilah yang dalam bahasa agama disebut sebagai Tawakkal.

Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan.” (QS. Ali Imran : 195)

Dan soal kematian, bagi orang yang beragama kematian bukanlah berarti kehancuran total. “Kematian berarti meninggalkan “dunia kerja” menuju ke “dunia hasil”, peralihan dari dunia fana yang kecil ini ke alam abadi yang agung. Karena itu, orang yang beragama menyikapi rasa takut matinya dengan menyibukkan diri dengan amal saleh.” kata Muthahhari.

3. Kepuasan Mental

Ada dua jenis kenikmatan yang dirasakan manusia:

  1. Kenikmatan yang berkaitan dengan panca indera. Kenikmatan semacam ini terjadi karena kontak organ tubuh dengan objek atau materi tertentu. Misalnya, mata memperoleh kenikmatan dengan melihat, telinga melalui mendengar, lidah dengan merasakan, dan seterusnya. Inilah yang dinamakan kenikmatan material.
  2. Kenikmatan yang berkaitan dengan jiwa dan batiniah manusia. Kenikmatan serupa ini tidak berkaitan dengan organ tubuh, juga tidak dipengaruhi langsung oleh faktor material. Inilah yang disebut kenikmatan spiritual.

“Kenikmatan spiritual lebih kuat dan lebih abadi ketimbang kenikmatan material. Setiap perbuatan yang dilakukan karena Allah Swt., merupakan perbuatan ibadah dan mendatangkan kenikmatan. Kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang tulus beribadah kepada Allah dengan ibadah mereka yang khusyuk adalah kenikmatan spiritual. Dengan kata lain, inilah yang disebut sebagai ‘Nikmatnya Iman’,” ujar Muthahhari.

4. Memantapkan Hubungan Sosial

Manusia tidak bisa hidup sendiri, meskipun itu hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya pribadi. Agar kebutuhannya terpenuhi manusia membutuhkan orang lain, harus ada kerja sama, harus ada take and give.

Manusia tahu apa yang diinginkannya. Yang tidak jelas bagi manusia adalah apa tugasnya terhadap dunia.  Agama menjelaskan tentang kewajiban seorang manusia terhadap manusia lainnya. Agama juga menjelaskan tentang peri kehidupan bermasyarakat yang baik.

“Kehidupan sosial dapat dikatakan baik kalau semua individunya menghormati hukum dan hak masing-masing, memperlihatkan rasa bersahabat satu sama lain, dan menganggap suci keadilan. Dalam masyarakat yang sehat, setiap orang menghendaki untuk orang lain apa yang dikehendakinya dan tidak menghendaki untuk orang lain apa yang tidak dikehendakinya. Semua individunya saling percaya, dan rasa saling percaya ini didorong oleh kualitas spiritual mereka,” demikian Muthahhari.

Categories: Filsafat | Leave a comment

Penyebab Kesalahan Berpikir (Murtadha Muthahhari)

Dalam buku  Man and Universe,  Murtadha Muthahharimenyebutkan ada lima penyebab kesalahan berpikir:

Pertamabersandar pada prasangka (persangkaan), bukan pada pengetahuan yang pasti. Persangkaan adalah penyebab utama kekeliruan. Descartes pernah bilang, “Jangan tergesa menghubung-hubungkan gagasan dengan kecenderungan.”

Keduahawa nafsu. Sekali-kali jangan pernah untuk bersikap tidak adil dalam menilai. Bila seseorang tidak adil dalam memberikan penilaian, maka secara tidak disadari, arah pemikirannya akan cenderung kepada hawa nafsunya.

Ketigatergesa-gesa.

Keempatberpikir tradisional dan melihat ke masa lalu. Kecenderungan alamiah manusia adalah cepat menerima gagasan atau kepercayaan yang sudah diterima oleh generasi sebelumnya, tanpa memikirkannya lebih jauh.

Kelima, memuja tokoh atau mengkultuskan seseorang. Mengkultuskan seseorang akan membuat seseorang tidak berani beda dengan pendapat sebelumnya atau pendapat tokoh yang dikultuskan tersebut. Ini akan menyebabkan seseorang kehilangan kemerdekaan berpikir dan berkehendak. Kata Muthahhari lagi, Al-Qur’an menyeru kita agar berpikir independen dan jangan membabi buta mengikuti pendapat orang-orang terdahulu.

Categories: Filsafat | Leave a comment

Blog at WordPress.com.