Sosial – Budaya

Mengenalkan Kekayaan Budaya Indonesia Kepada Dunia

Suasana Jalan Merdeka Selatan tampak meriah. Ratusan warga berjejer rapi mulai dari tepat di depan gerbang Balai Kota, Jakarta Pusat. Mereka ingin menyaksikan parade kostum dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Mereka tampak antusias menyàksikan parade kostum pakaian adat dan pertunjukkan kesenian daerah. Hentakan musik dari marching band, serta ondel-ondel raksasa setinggi 3 meter memukau warga.

 Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo membuka acara tersebut sekitar pukul 7.30. “Saya buka acara ini, satu, dua, tiga, empat, silakan jalan,” ucap gubenur yang akrab disapa Jokowi ini. Sedikitnya 6 ribu anak-anak sekolah dari SMP, SMA dan beberapa kampus dari 33 provinsi di seluruh Indonesia turut hadir mengenakan berbagai kostum pakaian adat dari seluruh nusantara. Mulai dari pakaian adat betawi, Bali hingga pakaian adat Papua. Dari Jakarta tampak SMAN 63, SMA 68, SMPN 130 dan masih banyak lagi.

 Tak hanya mengenakan pakaian adat, rombongan pelajar tersebut juga membawakan beberapa tarian daerah. Para pelajar dari Aceh misalnya membawakan tarian pasembahan khas Aceh. Ada juga pertunjukan kuda lumping serta tarian motaro dan torambia khas Kalimantan Barat.

 Mereka akan berpawai mulai dari Balaikota, patung kuda, thamrin, Bank Mandiri, putar arah dan berakhir di Monas. Jokowi yang mengenakan baju koko putih, celana hitam serta sarung yang dikalungkan ikut berparade sekitar pukul 8 pagi. Parade juga dimeriahkan dengan tetabuhan khas kalimantan.

 Kirab Budaya Rakyat yang digelar Pemprov DKI Jakarta akan dicatat dalam rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kirab dengan peserta terbanyak. “Kirab budaya ini diikuti 10.020 peserta, dan akan dicatat dalam rekor MURI,” ujar Ketua Panitia Kirab Budaya Rakyat, Kris Budiarjo, di Jakarta, Minggu (28/10). Kris mengatakan kirab budaya itu melibatkan peserta dari seluruh Indonesia, dan ribuan pelajar DKI Jakarta.

 Kirab budaya menampilkan atraksi budaya. Selain iti juga terdapat ondel-ondel setinggi lima meter yang diarak pada kirab tersebut. “Kegiatan ini diselenggaeakan dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda dan mendukung program Bapak Jokowi-Basuki,” katanya. Kirab budaya itu dibuka langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Acara budaya tersebut bertajuk “Kesetaraan Jakarta Sebagai Pusat Kebudayaan Berbasis Budaya Betawi.” Peserta kirab melakukan pawai mulai dari depan kantor Balaikota-Patung Kuda-Bank Mandiri- MH Thamrin- Monas.

 Sementara itu, Anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Jawa Tengah Poppy Dharsono mengatakan, sendratari Mahakarya Borobudur harus sering dipentaskan untuk menarik wisatawan berkunjung ke Candi Borobudur. “Saya senang, karena sekarang diselenggarakan sendratari Mahakarya seperti ini di Candi Borobudur,” katanya usai menyaksikan pentas sendratari Mahakarya Borobudur di panggung Aksobya di kompleks Candi Borobudur di Magelang, Sabtu (27/10) malam.

 Ia berharap pementasan sendratari tentang pembangunan Candi Borobudur itu lebih sering dilaksanakan seperti Ramayana di Prambanan pentas setiap bulan purnama. “Ceritanya sudah bagus, tetapi mungkin bisa dikembangkan lagi supaya lebih ada variasi,” katanya. Ia menilai sendratari tersebut bagus sekali karena dilakukan oleh para penari yang profesional. Poppy menuturkan, sendratari ini merupakan paket yang harus dijual pada wisatawan agar Candi Borobudur lebih menarik.

 Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Purnomo Prasetjo, mengatakan, selama ini sendratari Mahakarya Borobudur dipentaskan dua hingga empat kali setahun. “Tahun depan akan kami lihat, karena pementasan sendratari kolosal ini disesuaikan dengan kondisi pasar dan kesiapan para penari itu sendiri karena penari dari masyarakat setempat dan ISI Surakarta sehingga perlu koordinasi,” katanya.

 Di sisilain, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dilaporkan akan menginisiasi pendirian rumah budaya Indonesia di beberapa negara yang dianggap strategis di dunia di antaranya Amerika Serikat, Belanda, dan Prancis. “Rumah budaya itu dimaksudkan untuk mengenalkan kekayaan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat dunia,” kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti di Yogyakarta, Sabtu (27/10).

 Usai membuka “Grand Strategy Meeting” (GSM) dalam rangka persiapan “World Culture for Development Forum (WCF)-Bali Forum 2013”, ia mengatakan langkah itu akan dimulai pada 2013 untuk mendekatkan citra positif kehidupan budaya Indonesia dengan negara-negara strategis. “Keberadaan rumah budaya tersebut akan semakin menegaskan Indonesia sebagai satu-satunya tempat bagi dunia dalam membangun dialog kebudayaan,” katanya.

 Selain itu juga memberikan dampak citra positif tentang kehidupan budaya dengan negara-negara strategis. Rumah budaya itu akan semakin memperkuat jaringan Indonesia ke dunia luar. Ia mengatakan potensi kekayaan geografis dan budaya Indonesia yang memiliki ratusan etnis dan bahasa menjadi pilihan bagi pengembangan kemajuan kebudayaan dunia. “Jika negara maju berorientasi pada politik dan ekonomi, Indonesia menjadi rujukan untuk dialog kebudayaan,” katanya.

 Menurut dia, hasil GSM yang merupakan pertemuan para budayawan dan akademisi ituakan dijadikan bahan untuk agenda “WCF-Bali Forum 2013” di Bali, 24-29 November 2013.

 “Pertemuan yang diikuti oleh budayawan dan akademisi itu juga membahas tentang parameter indeks kebahagiaan sebuah negara. Kebetulan  UNESCO juga mulai menyusun indeks tersebut,” katanya.

 Guru Besar Fisipol UGM Mochtar Masoed mengatakan indeks kebahagiaan tidak hanya diukur dari sisi material tetapi juga nonmaterial. Menurut dia hal itu di antaranya indikator tingkat pendidikan, pendapatan, aksesibilitas, fasilitas umum, permodalan, dan ruang ekspresi budaya. “Hal itu nanti akan dibahas di ‘WCF-Bali Forum 2013’ tentang metode yang tepat untuk mengukur indeks tersebut,” katanya.

 Budayawan Timbul Haryono mengatakan selain membahas indeks kebudayaan, peserta pertemuan juga merekomendasikan pengembangan museum kesenian budaya gunung di berbagai daerah di Indonesia. “Salah satunya kesenian lima gunung di komunitas areal sekitar Gunung Merapi. Kesenian gunung itu berkembang cukup pesat, bagian dari hasil eksplorasi lingkungan melalui kreasi seni,” katanya.

 Sementara itu, Pusat Seni Universitas Syiahkuala (Unsyiah), Banda Aceh, Provinsi Aceh, sejak sepekan terakhir mewakili Indonesia dalam kegiatan muhibah seni di Hawaii, Amerika Serikat (AS). Tim seni tersebut tampil di University Of Hawaii at Manoa (UHM) di Honolulu dan berkeliling sekolah-sekolah dasar setempat.

 Kegiatan bermisi seni bertajuk Aceh itu tampil sejal 20 Oktober hingga Sabtu 27 Oktber. Rektor Universitas Syiahkuala, Banda Aceh, Samsul Rizal, kepada Media Indonesia, Sabtu (27/10) mengatakan, tim seni Unsyiah  mewakili Indonesia untuk memperkenalkan seni budaya Indonesia ke luar negeri.

 Misalnya menapilkan tarian yang hidup dan berkembang di Aceh, diataranya tari Saman Gayo, Sebuah tarian yang mendapat Intangible Word Heritage oleh Unesco. Kemudian tari Tiga Serangkai Masyarakat Melayu Aceh Tamiang. Kemudian tari Golek Kenyoe Tinembi, sebuah tarian klasik Jawa terpilihara oleh masyarakat  Jawa yang hidup di Aceh. “Itu merupakan agenda tahunan yang digelar Dirjen Pendidikan Tinggi Kementeran Pendidikan,” kata Samsul Rizal. Karena itu Unsyiah berhak mendapatkan dana hibah Rp750 juta.

 Dikatakan Samsul Rizal, tim tersebut berjumlah 27 orang terdiri dari mahasiswa, dosen, staf Dikti dan kalangan pimpinan Unsyiah untuk memimpin rombongan. Di Hawaii mereka juga melakukan pelatihan, seminar, pameraan benda budaya, dan seni Aceh. Tidak luput juga pertunjukan atau penyajian kopi Aceh seperti ala warung kopi di pelosok-pelosok Aceh.  “Ini memperkuat kerja sama multi pihak antara Unsyiah, Pemerintah Aceh, East-West dan University of Hawaii at Manoa,” tambah Saleh Sjafie, salah seorang pimpinan rombongan Unsyiah. (IRIB Indonesia/Micom)

Advertisements
Categories: Dalam Negeri, Sosial - Budaya | Leave a comment

Russia Today: Prostitusi Menjadi Home Industry di Amerika Serikat

Sebagian warga Amerika Serikat memilih jalan prostitusi dalam menyelamatkan diri dari kesulitan ekonomi karena politik-politik ekonomi Presiden Barack Obama tidak dapat diandalkan.

Fars News (4/3) mengutip laporan Russia Today menyebutkan, pasar prostitusi termasuk di antara segelintir sektor yang tetap menjanjikan keuntungan besar meski perekonomian di Amerika Serikat carut marut. Masalah ini membuat sebagian warga Amerika yang tidak sabar menanti janji pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja, memilih jalur prostitusi demi uang dan agar tetap dapat makan.

Sumber pemberitaan Rusia itu menyinggung keterangan seorang ibu di Amerika Serikat yang berpendapat bahwa prostitusi merupakan satu-satunya jalan baginya setelah ia di PHK. Dia hanya satu dari banyak kaum perempuan di Amerika Serikat yang memilih jalan gelap itu.

Berdasarkan laporan itu, akibat krisis ekonomi, saat ini prostitusi tengah berubah menjadi industri gross income bagi kaum perempuan Amerika Serikat. Seorang wiraswasta perempuan yang kini beralih profesi menjadi PSK (pekerja seks komersial) menyatakan bahwa kaum perempuan dapat mengubah bisnis ini menjadi industri perubahan. Dia bahkan menilai prostitusi sebagai sebuah terobosan menghadapi kondisi saat ini.

Berbeda dengan profesi dan pekerjaan lain, prostitusi di Amerika Serikat tidak memerlukan surat ijin.

Categories: Feminimisme, Hubungan Internasional, Sosial - Budaya | Leave a comment

Sadra, Kahak dan Sebuah Jalan Baru

Oleh: Afifah Ahmad
Jiwa tanpa cinta dan hati tanpa kasih, hanya hadirkan getir
Lihatlah kebersamaan udara dan tanah berdebu ini
(Mulla Sadra, filsuf dan Arif besar Islam)

Ketakjuban masih menyelimutiku saat mendapati diri berada di tengah-tengah padang sahara, di antara bukut-bukit pasir yang berkilauan bermandikan cahaya matahari. Sejak kecil, aku kerap dihinggapi rasa penasaran pada gurun-gurun yang digambarkan dalam cerita para Nabi.

Liukan pasir yang membentang, unta-unta berjalan gontai dan oase, selalu saja menjejali alam imajinasiku. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, gurun-gurun itu tersaji di hadapan mata, meskipun tak kujumpai musafir juga unta-unta berjalan, hanya ada kesunyian dan deru mobil kuning yang menghantar perjalananku menuju dusun Kahak, rumah Mulla Sadra.

Lepas dzuhur, mobil terus menapaki jalan sempit beraspal meninggalkan kota kecil Pardisan di Selatan Qom. Meski matahari sedang berada tepat di atas kepala, namun angin dingin yang lebih terasa kuat, karena kami memang datang di akhir musim gugur. Bila, bertepatan musim panas, mungkin sekarang ini kami tengah terjerembab dalam pusaran angin panas yang mencapai 50 derajat celsius. Provinsi Qom, memang termasuk salah kota yang memiliki iklim cukup ekstrim, terutama di musim panas.

Sejujurnya, ada debar tersendiri saat memutuskan untuk mengunjungi dusun Kahak. Bagaimana tidak, penduduk kota Qom saja, banyak yang tidak tahu persis lokasi desa itu. Sulit mencari informasi angkutan umum yang melintas ke arah sana hingga memaksa kami untuk menggunakan mobil sewaan. Untungnya, supir yang kami tumpangi ini, memiliki kenalan yang tinggal di Kahak, setidaknya ini membuatku sedikit lega.

Sejauh mata memandang, di kiri kanan jalan hanya tersuguh pegunungan terjal, bukit-bukit pasir dan sabana kering. Potret alam itu seakan ingin bercerita banyak tentang kegersangan yang melanda tempat ini sejak bertahun lalu.

Kalau melihat geografis setempat, wilayah Qom memang dikitari Kavir, padang sahara yang kering. Di tempat ini, sulit ditemukan mata air, kecuali dengan menggali beberapa ribu meter dari permukaan tanah. Namun, Kahak sendiri sebenarnya adalah daerah yang cukup subur dibandingkan dengan tempat-tempat lain di sekitarnya. Hanya saja, lokasinya sangat jauh dari pusat kota, sekitar 45 km sebelah Tenggara kota Qom. Baru beberapa tahun ke belakang, jalan yang menghubungkan Kahak dan Qom mulai dibenahi. Tak terbayangkan saat masyarakat masih menggunakan transportasi sederhana seperti unta dan keledai, bagaimana cara melintasi alam seganas ini?

Perjalanan terjal menyusuri jejak Sadra ini mengingatkanku pada kedatangan Henry Corbin, filsuf Perancis yang mengunjungi Iran di tahun 1945, angka yang sangat istimewa bagiku sebagai warga Indonesia. Jika di tahun itu, para orang tua dan kakek kita baru saja lega menghirup udara kemerdekaan, Corbin telah melakukan penjelajahan pemikiran filsafat Islam jauh ke jantung Persia. Lewat pencariannya ini, Corbin berhasil menemukan mata rantai pemikiran filsafat Islam yang tersambung dari sisa kejayaan Islam klasik.

Jika di belahan dunia muslim lainnya, filsafat sudah tutup buku dengan mangkatnya Ibnu Rushd, Corbin justru menemukan sebuah gejolak baru di dataran Iran yang hanya terdengar samar-samar di belahan Eropa. Orientalis lainnya yang menyusul Corbin menyelam keilmuan Timur di Persia adalah pasangan peneliti William Chittick dan istrinya Sachiko Murata. Bahkan, Murata sempat melanjutkan Ph.D nya di Tehran University pada bidang literatur Persia. Penyusuran ini terus berlangsung hingga Gery Legenhausen, filsuf Amerika akhirnya tertambat di kota Qom, menjadi pengajar filsafat di Institut Imam Khomeini dan menikahi wanita Persia yang juga menggandrungi filsafat.

Tidak seperti mereka yang berburu filsafat, kedatanganku hanya untuk sedikit mereguk kekayaan khazanah Timur, terutama jejak para arif dan filsuf, sembari memunguti sisi-sisi kehidupan lain yang tak terjelaskan dalam berbagai buku maupun catatan.

***

Pandanganku tak henti mengintai bukit-bukit pasir dari balik kaca mobil, sementara pikiran menerawang membayangkan rombongan Sadra dan keluarganya yang terseok-seok menyusuri lautan pasir gersang dan pegunungan terjal di antara badai gurun yang mematikan. Siapa yang menyana, seorang filsuf besar yang karya-karyanya saat ini menjadi bahan diskusi di seminar-seminar Internasional, pernah menghabiskan masa hidupnya di sebuah dusun terpencil seperti ini.

Para pecinta ilmu dan kebijaksanaan memang seringkali harus memikul derita demi apa yang diyakininya.Sejak kejayaan Yunani, Socrates telah memperagakan drama tragis dalam pembelaannya atas konsep kebijaksanaan, meski mati akhirnya menjadi pilihan. Sejarah terus berulang, selanjutnya di abad pertengahan, Galileo dan Copernicus harus menelan kepahitan serupa. Di dataran Timur pun, tak sedikit para pemikir yang terpaksa mendekam dalam sel-sel gelap bawah tanah hingga mengakhiri hidupnya di sana seperti Suhravardi. Sebagian di antara mereka memilih tersingkir dari tanah kelahirannya dan rela mengembara ke negeri-negeri terasing. Mereka melintasi ribuan kilometer ganasnya padang pasir yang setiap saat bisa merenggut jiwanya dan orang-orang terkasih.

Ya, Mulla Sadra adalah salah seorang yang bernasib serupa. Buah pemikiran barunya yang terus menggelontor, menyedot perhatian para pelajar muda. Kenyataan ini, dianggap membahayakan status quo para pemangku otoritas ilmu saat itu. Mereka terus mengintai dan menelikung Sadra dari berbagai arah, terutama tudingan ajarannya sebagai sufigari, mistisisme. Sebagian pembesar yang melingkar di istana itu, mulai menghembuskan angin tak sedap ke arah Sadra. Dan jalan ‘terasing’ akhirnya menjadi pilihan.

Taksi terus melaju di jalanan sampai bertemu sebuah papan nama bertuliskan: “Be Shahr-e Kahak, manzilatghah Molla Sadra, filsof buzourg-e Jahan-e Islam Khosh Amadid” Selamat datang di kota kecil Kahak, rumah Mulla Sadra, filusuf besar dunia Islam. Mobil sewaan berhenti sejenak, kunikmati langit biru yang belakangan sulit didapat di kota Tehran, akibat polusi.

Sementara, angin musim gugur mendesak masuk lewat jendela mobil yang dibiarkan terbuka. Ah…sahara, langit biru dan terpaan angin ini seakan ingin menyedotku ke sebuah lorong waktu, empat abad lalu.

Di tempat ini pula, kafilah kecil yang lelah disambut penduduk setempat dengan penuh suka cita.
“Kami sangat menanti Anda” Ujar pemuka desa itu.
Bagi Sadra, yang berkecimpung di dunia irfan, tak heran mendengar sapaan yang mengisyaratkan bahwa kedatangannya telah diketahui. Tapi, sekedar memperjelas ia tetap bertanya.
“Bagaimana Anda mengerti kedatangan kami?”
“Sejak Imam shalat di desa ini meninggal, kami selalu berdoa agar dikirimkan seorang Imam Shalat lain dan ternyata Andalah orangnya” Begitu papar pemuka desa.

Mulai saat itu, Sadra didaulat menjadi ustad oleh penduduk setempat. Selepas menunaikan shalat berjamaah, diadakan sesi tanya jawab ringan seputar hukum Islam dan masalah keseharian. Hati Sadra kian tertambat di tempat ini. Masyarakat menghadiahkan kepadanya sebidang tanah dan kebun. Sambil bertani, mengajar anak-anak di madrasah juga memprakarsai lingkaran diskusi para pemuda, Sadra pun melanjutkan beberapa karyanya yang tertunda.

***

Kahak hari ini, tentu sudah banyak berubah dari sejak kedatangan sang Musafir. Pohon-pohon rindang membelah jalanan aspal, toko-toko kelontong berjajar layaknya di perkotaan, gang-gang rumahan terlihat lebar juga rumah-rumah penduduk yang dilapisi keramik. Hanya ada beberapa bangunan yang masih tampak klasik dan dibiarkan tanpa tembok. Kahak sudah berbenah menjadi kota kecil yang cantik.

Setelah melewati berbagai kelokan, mobilpun tiba di mulut sebuah jalan kecil. Tak sabar ingin segera beranjak turun, menelisik lebih jauh rumah kuno yang terletak di ujung gang.

Di bagian tengah bangunan, terdapat kubah mungil yang terbuat dari tanah liat dan batu bata sederhana, ada empat pintu yang menghubungkan empat ruangan. Pepohonan rindang turut menghiasi halaman yang tidak terlalu luas. Persis di samping rumah, terdapat cekungan panjang yang konon dahulunya adalah sungai. Sementara bukit terjal terbentang melatari dusun mungil ini.

Sebuah tempat yang amat cocok untuk menumpahkan segala ide yang berjejalan di kepala. Ah…pantas saja, beberapa karya besar Sadra menyempurna di tempat ini. Di bawah sebuah pohon langsing yang ditinggalkan daun-daunnya, Aku berdiri mengaduk-aduk kata yang berlintasan di kepala.

Gerbong Pemikiran Timur

Masih kutatap pintu kayu rumah Sadra, berharap mullah dan filsuf itu datang menyambut kami, menyediakan teh hangat sambil mendedah rupa-rupa perjalanan hidupnya yang menakjubkan. Tapi, tak ada seorangpun yang datang, rumah itu senyap, karena memang telah lama ditinggalkan penghuninya, empat abad silam. Hanya ada lambaian ranting-ranting pepohonan di pekarangan rumah, diayun-ayun angin musim gugur.

Ingatanku melayang pada sebuah kelas filsafat yang pernah kuikuti beberapa tahun lalu. Suara Khanom Alubuyeh, pengajar muda filsafat, seperti kembali berlintasan. Sejak mengenal nama Sadra, aku semakin penasaran pada sosok yang satu ini.

Ia dikenal karena kegemilangannya melahirkan temuan-temuan baru dalam ranah filsafat seperti gradasi wujud, gerak substansial, juga kepiawaiannya mendekatkan tiga disiplin penting ilmu keislaman, filsafat, kalam dan irfan. Di samping sebagai filsuf dan gnostik, Sadra juga menulis buku tafsir yang cukup mumpuni. Namun lebih dari itu, sosok Sadra sendiri mampu menghembuskan nafas segar bagi pemikiran dunia Timur dan Islam.

Dalam beberapa tulisannya, Corbin sangat terinspirasi oleh pandangan Mulla Sadra. “Sadra telah melakukan kerja besar dengan meramu berbagai disiplin ilmu, menghidupkan kembali kreativitas masa lalu. Bahkan dengan tegas, Corbin juga pernah memuji, “jika kita bisa menempatkan Jakob Boheme (1575_1624) dan Emanuel Swedenborg (1688-1772) bersama, dan menambahkannya dengan Thomas Aquinas (1225-1274), maka lahirlah Mulla Sadra” Sejak itu, pemikiran Sadra mulai menjadi bahan perbincangan para pecinta filsafat di dunia.

Lewat karya-karyanya seperti The Man of Light in Iranian Sufism dan History of Islamic Philosophy, Corbin mulai menyelami pemikiran Ketimuran dan memperkenalkannya ke dunia Barat. Pemetaan yang dilakukan Corbin dalam History of Philosophy cukup lengkap dan detail. Bahkan, ia membuat klasifikasi filsuf muslim pasca Ibnu Rushd dari Suhravardi hingga Mulla Sadra, dari mazhab Khorasan sampai mazhab Isfahan.

Sebuah penyambung mata rantai yang sudah terpotong begitu lama di belahan dunia lain. Kenyataan ini menunjukkan, sebenarnya gerbong pemikiran Timur masih terus berjalan sejak masa kejayaannya. Dan Sadra, di antara penarik gerbong yang memiliki peran begitu penting.

Tegar Diterjang Badai

Di sepanjang jalan, di antara gunungan pasir, kulihat satu dua pohon kering yang ditinggalkan daun-daunya, sendiri dan sunyi menanti musim demi musim untuk mendapatkan kembali daunnya, tegar di tengah badai sahara yang ganas. Begitulah sosok Sadra yang kubayangkan. Terasing jauh dari tempat kelahirannya, menghadapi berbagai ujian untuk sebuah tekad yang kuat.

Semuanya tentu membutuhkan amunisi dan kesungguhan tak terbilang untuk menempatkan raga dan hati di dusun terpencil seperti ini. Ratusan malam mungkin telah ia lewatkan dalam bacaan dan renungan panjang di bawah redup cahaya lentera. Terkadang, bila persoalan tak terpecahkan menjejali kepalanya, ia rela berjalan kaki puluhan kilometer ke tempat peristirahatan terakhir Sayyidah Maksumah untuk memperoleh kejernihan pikiran.

Sadra seperti ingin membisikkan pada kita, untuk mendekati cahaya ilmu dan pemilik sumber cahaya itu sendiri, manusia harus mengoptimalkan segala daya yang dimilikinya.

Dalam teori gradasi wujud yang digulirkannya, Sadra menjelaskan bahwa manusia sangat mungkin melesatkan potensi dirinya menjadi wujud yang menyempurna. Tapi, semua itu memiliki tingkatannya masing-masing, perlu mengatasi rintangan lahiriah apalagi ruhiah. Dalam istilah keseharian kita, tak ada orang sukses dalam semalam. Barangkali, hikmah bisa dicapai hanya beberapa saat lewat ilmu hudhuri, tapi untuk sampai pada ilmu hudhuri sendiri manusia memerlukan jalannya yang panjang dan terjal.

Filsuf yang Membumi

Menyimak perjalanan para arif dan sufi dalam meraih cinta Tuhannya, terasa begitu indah. Tak jarang mereka yang sudah menikmati keindahan cinta itu akan larut melupakan dirinya bagaikan laron yang mendekati cahaya lalu terbakar bersamanya. Tetapi, para arif sejati justru menjadikan keindahan ini sebagai titik tolak untuk meraih keindahan lainnya dengan membagikan apa yang dirasakannya pada sesama.

Ia akan mengajak orang di luar dirinya untuk turut serta mencerapi keindahan yang diserapnya dengan cara hidup dan berada di tengah masyarakatnya, meraih tangan-tangan mereka untuk menapaki jalan cahaya. Hingga cahaya yang diterima, tidak hanya diserap, tapi juga dipantulkan kembali kepada wujud-wujud lain di sekitarnya.

Semangat ini bisa ditelisik dalam penjelasan perjalanan ke empat (terakhir) teori Asfar Arbaah atau empat perjalanan sebagai magnum opusnya Sadra, yaitu kembali dari pencipta kepada makhluk dalam kebenaran.

Tentu saja, teori ini lahir karena si pemiliknya memang menjadi bagian dari masyarakat setempat, hidup dan mengajar di antara mereka. Para pencari ilmu dan pecinta filsafat yang mengetahui kehadiran Sadra di dusun Kahak, lamat-lamat mulai berdatangan mereguk hikmah dari sang guru. Musafir itu seperti menebar berkah di tempat yang baru dipijaknya.

Sampai hari ini pun, aroma kecintaan masyarakat setempat masih dapat tercium. Di sebuah bengkel mobil yang terletak di samping gang rumah Sadra, di salah satu dindingnya kujumpai poster Mulla Sadra, sebuah pemandangan yang cukup unik. Begitu juga, sambutan masyarakat sangat antusias saat kami menanyakan rumah Sadra, mereka dengan penuh kebahagiaan mengantarkan kami sampai ke lokasi.

Lebih dari empat ratus tahum lalu, nampaknya kesinggahan sang musafir ke tanah Kahak ini masih begitu dikenang masyarakat. Karena Sadra memang membagi keberkahan langit yang diraihnya kepada sesama.(IRIB/AA/PH)

Qom, 02 Desember 2010

Categories: Sosial - Budaya | Leave a comment

Masyarakat Iran Peringati Hari Kesyahidan Imam Ali as

Malam pagi hari ini bertepatan dengan malam ke-21 bulan Ramadhan lailatul qadar yang bertepatan dengan gugur syahidnya Imam Ali as yang juga Imam pertama bagi ummat Syiah di dunia.

Pada malam tadi, para pencinta Ahlul Bait Rasulullah Saw di seluruh penjuru dunia berduka cita atas gugur syahidnya Imam Ali as 14 Abad lalu pada malam seperti ini. Peringatan atas hari kesyahidan Imam Ali as digelar secara serentak di seluruh penjuru Iran.

Masyarakat Iran yang mayoritas bermadzhab Syiah berkumpul di tempat -tempat suci seperti makam suci Imam Ali Ar-Ridho as, Imam kedelapan Syiah yang dimakamkan di Mashad dan makam suci Sayidah Fatimah Masumah yang berlokasi di Qom. Selain itu, masjid dan huseiniyah-huseiniyah di seluruh penjuru negara ini dipenuhi masyarakat untuk menghidupkan malam lailatul qadar yang juga sekaligus mengenang kesyahidan Imam Ali as.

Pada malam lailatul qadar yang pada umumnya digelar pada tanggal 19, 21 dan 23 bulan Ramadhan, masyarakat setempat membaca doa Jaushan Kabir yang isinya adalah seribu kalimat pujian kepada Allah Swt. Selain itu, mereka juga mengangkat Al-Quran di atas kepala sambil membaca doa bersama.

Pada tanggal 19 Ramadhan 14 abad yang lalu, Imam Ali as, sahabat kepercayaaan Rasulullah yang juga mantunya, dipukul pedang oleh musuh Allah dan Rasul-Nya, Abdurrahman Ben Muljam. Imam Ali dipukul pedang oleh Ben Muljam dari belakang setelah selesai mengerjakan shalat subuh. Malam 19 Ramadhan diyakini sebagai malam pertama lailatul qadar.

Tiga hari setelah tragedi pemukulan itu yang bertepatan dengan tanggal 21 bulan Ramadhan, Imam Ali as gugur syahid. Malam ini juga diyakini sebagai malam lailatul qadar kedua.

Kami segenap kru Radio Bahasa Indonesia Suara Republik Islam Iran, mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas gugur syahidnya Imam Ali as, manusia yang disebut Rasulullah Saww sebagai pintu ilmu. (IRIB/AR)

Categories: AGAMA, Sosial - Budaya | Leave a comment

Nuansa Spiritual dalam Seni Persia

Manusia adalah makhluk yang dianugerahi kekuatan kreativitas tinggi yang membuatnya mampu melahirkan cipta karya. Manusia mencari keindahan yang terkadang keinginan itu menggelora dan terkadang redup. Namun demikian, makhluk ini selalu menyampaikan kata hatinya lewat karya yang dibuatnya. Ada kalanya hal itu dituangkan dalam bentuk ukiran di atas lempengan logam atau bongkahan batu dan terkadang disampaikan dalam bentuk tulisan dan alunan musik.

Seni merupakan satu hal yang selalu mewarnai kehidupan umat manusia dan menambah keindahan kehidupan. Sejarah mengabadikan karya para seniman yang berjalan mengiringi setiap detik kehidupan manusia. Karya seni menunjukkan esensi pemikiran, norma, keyakinan, dan emosi manusia di setiap masa dan tempat.

Sejak mengenal seni melukis pahatan di dinding gua, manusia menunjukkan kecenderungannya yang kuat untuk lari dari gulita alam materi demi meraih hakikat yang lebih unggul. Upaya ini dalam beberapa periode sejarah manusia nampak menonjol. Sebab, jiwa seniman selalu menuntunnya untuk mencapai hakikat yang lebih unggul untuk dilukiskan dalam bentuk karya seni seperti pahatan, lukisan dan tulisan. Dari sisi inilah dapat dikatakan bahwa seni mempunyai dimensi spiritualitas yang membangun. Sisi spiritual ini memiliki nilai khusus dan bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi kehidupan dan kesehatan rohani dan mental masyarakat.

Kerajinan tangan di setiap negeri menunjukkan nilai industri lokal dan nilai seni leluhur masyarakat setempat. Kerajinan tangan dipandang sebagai identitas dan penjelasan akan sejarah sebuah masyarakat. Karena itu, dengan mengenal seni kerajinan tangan suatu daerah orang akan mengenal daerah itu dan masyarakatnya. Layak dicatat bahwa Iran adalah salah satu dari tiga kutub utama seni kerajinan tangan di Asia bahkan dunia. Dari sisi keberagaman, seni kerajinan tangan Iran menempati posisi teratas. Temuan arkeologi menunjukkan bahwa karya kerajinan tangan bangsa Iran tempo dulu selain memiliki nilai strategis juga lekat dengan keyakinan dan nilai-nilai reliji bangsa ini.

Bangsa Iran memeluk agama Islam pada abad ketujuh Masehi. Karya seni bangsa Iran sejak masa itu kental dengan nilai-nilai keislaman. Berbagai bidang seni seperti arsitektur, pembuatan porselen, anyaman permadani, kerajinan logam dan tanah liat adalah diantara seni kerajinan yang ditekuni orang Iran sejak dahulu kala. Kerajinan tangan itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini. Karya seni bangsa Iran sejak masuknya Islam selalu membawa pesan kedamaian dan spiritual kepada penikmat seni. Dalam persepsi ini, seniman berusaha menggambarkan imajinasinya tentang dunia, manusia dan alam ciptaan, seperti yang bisa disaksikan dalam karya lukis.

Bangsa Iran punya gaya seni lukis yang khas, sehingga bisa dikatakan bahwa gaya seni ini adalah seni tradisional bangsa Iran yang umumnya dipengaruhi oleh spiritualitas, aqidah dan norma-norma suci yang diajarkan Islam. Dalam gaya seni ini, seniman dengan menggunakan garis-garis dan warna yang sederhana mengambarkan alam dunia dengan indah. Seniman lukis gaya ini di Iran menghindari untuk bersentuhan langsung dengan fenomena fisikal sehingga karyanya bisa menjauh sejauh mungkin dari nuansa materi dan mendekat sedekat mungkin ke dalam suasana spiritual. Karena itu dapat dikatakan bahwa dalam seni lukis aliran ini, penikmat seni diajak untuk berpetualang di alam spiritual. Apalagi seniman dalam karyanya sengaja menggunakan warna biru, kuning keemasan dan hijau dalam lukisannya. Hal itu menunjukkan kejelian seniman tradisional Iran dalam berkarya seni.

Dalam seni pemasangan porselen di bangunan, seniman Iran menggunakan warna yang indah dan serasi. Misalnya seniman umumnya menggunakan warna kuning emas untuk menghiasi lukisan porselen pada bangunan. Hal itu menghadiahkan nuansa reliji kepada penikmat seni yang melihatnya. Di sebagian bangunan digunakan paduan warna tanah batu bata dengan biru porselen yang seakan kertas dinding yang menempel dan menutupi seluruh permukaan dinding. Hal itu selain membantu memperkokoh bangunan juga memberikan mengajak orang yang memandangnya untuk menikmati jamuan aneka warna yang membawa mereka kepada kedamaian khas yang dalam.

Seniman Iran biasa menghiasi dinding bangunan dengan lukisan tanaman dan tulisan ayat-ayat suci atau hadis. Lukisan dan tulisan hiasan itu tentunya disesuaikan dengan bentuk artistektur bangunan sehingga keserasiannya terjaga. Tebaran dan bunga dan pepohonan sering dijumpai dalam banyak karya seni lukis bangunan di Iran. Dan sering kali, dedaunan memainkan peran menonjol dalam menciptakan keindahan lukisan. Gaya seperti ini sering dijumpai dalam karya-karya seni kerajinan tangan lainnya semisal lukisan pada permadani, kerajinan tanah liat, kaca dan logam, juga pada jilid buku, halaman kitab-kitab agama dan sastera, prasasti-prasasti kuno, kubah-kuno dan masjid-masjid bersejarah.

Lukisan bernuansa reliji dan simbolik yang banyak ditemukan di dinding-dinding bangunan bersejarah di Iran menunjukkan bahwa bangsa Iran adalah bangsa dengan kehidupan spiritual yang kental. Poin yang lebih signifikan bukan terletak pada warna lukisan tapi hiasan kaligrafi ayat-ayat suci dan hadis yang menambah nuansa maknawiyah pada dinding-dinding bangunan. Kaligrafi adalah seni yang bisa dijumpai di semua bangsa dan negeri. Tapi seni kaligrafi Iran memiliki nuansa yang khas dan keindahan yang tersendiri.

Seniman kaligrafi sangat dihormati dalam masyarakat muslim di manapun juga. Sebab, ia adalah seniman yang bergelut dengan penulisan ayat-ayat suci dan pena atau kuas yang ada di tangannya menghasilkan karya-karya yang bermuatan suci. Apalagi, al-Qur’an dalam salah satu ayatnya memuji pena dan apa yang dihasilkannya. Seniman kaligrafi Iran sangat terpengaruh oleh budaya keislaman. Bahkan bisa dikata bahwa seni kaligrafi Iran diperuntukkan secara penuh untuk mengabdi kepada seni Islam.

Banyak karya seni kaligrafi indah yang dihasilkan oleh seniman Iran dengan penulisan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis dari Nabi Saw dan para Imam Ahlul Bait (as). Selain dalam bentuk buku, karya seni itu juga dibuat dalam bentuk prasasti yang dipajang di pintu masuk bangunan-bangunan besar. Umumnya penulisan itu menggunakan khat jenis Kufi meski ada pula yang menggunakan khat jenis Naskh dan Thuluth.

Salah satu ungkapan untuk mengklasifikasi jenis-jenis tulisan adalah dengan menggunakan tolok ukur penulisan ‘bismillahirrahmanirrahim’. Ungkapan suci yang termasuk ayat al-Qur’an ini ditulis secara indah dalam berbagai bentuk penulisan oleh para seniman kaligrafi termasuk seniman Iran.

Categories: Sosial - Budaya | Leave a comment

Menyorot Seminar Internasional Doktrin Mahdawiyat ‎

Hari kelahiran Sang Juruselamat, Imam Mahdi as adalah peristiwa yang penuh ‎kebahagiaan dan suka cita bagi umat Islam. Setiap 15 Syaban tiba, masyarakat ‎muslim Syiah di seluruh dunia merayakan hari penuh berkah itu dengan ‎memanjatkan doa, meminta kepada Allah Swt untuk menyegerakan kedatangan ‎Sang Juruselamat yang selalu dinanti-nantikan kehadirannya itu. ‎

Peringatan hari kelahiran Imam Mahdi as juga menjadi momentum emas untuk ‎menelaah kembali dimensi keadilan yang diperjuangkan Imam Mahdi di masa ‎kehadirannya kelak. Karena itu, baru-baru ini di Tehran digelar sebuah seminar ‎internasional yang membedah secara khusus doktrin mahdiwiyat atau mesianisme ‎dalam pandangan Islam. Seminar dua hari ini diselenggarakan oleh Forum Dunia ‎Ahlul Bait pada tanggal 24-25 Juli lalu di Tehran dan dihadiri para ulama dan ‎cendikiawan muslim dari mancanegara. ‎

Keyakinan terhadap kedatangan Sang Juruselamat di akhir zaman merupakan ‎kepercayaan yang juga diyakini oleh sebagian besar agama dan aliran ‎kepercayaan. Kerangka keyakinan ini tergambar lebih jelas dan sempurna dalam ‎doktrin mesianisme yang diajarkan Islam. Banyak hadis dan riwayat yang ‎mengungkapkan bagaimana sebenarnya ciri-ciri Imam Mahdi dan beragam tanda-‎tanda peristiwa yang bakal terjadi menjelang kedatangan Sang Juruselamat itu. ‎Selain itu banyak pula hadis yang menceritakan bagaimana kondisi umat di masa ‎Imam Mahdi nanti dan masa-masa sesudahnya. ‎

Tema tersebut juga turut dibahas dalam Seminar Internasional Doktrin Mahdiwiyat ‎di Tehran. Sebagaimana diketahui, seluruh mazhab-mazhab di dalam Islam, baik ‎Sunni maupun Syiah meyakini kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman. Karena itu ‎dalam simpulan akhir seminar dinyatakan, “Kini di tengah beragam macam ‎perbedaan aktifitas keagamaan di tengah masyarakat, tak ada satupun keraguan ‎bahwa seluruh ahli agama meyakini prinsip kedatangan Sang Juruselamat Samawi ‎dan kehadiran seorang manusia sempurna dalam memajukan kehidupan umat dan ‎meleraikan pelbagai perbedaan yang ada”. ‎

Hanya saja, kendati mesianisme merupakan doktrin yang diyakini oleh hampir ‎seluruh agama di dunia, namun doktrin tersebut rentan terhadap penyimpangan ‎dan penyesatan. Bahkan kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk ‎meraih kepentingan tertentu. ‎

Hujjatol Islam Akhtari, Sekjen Forum Dunia Ahlul Bait dalam keterangan persnya di ‎sela-sela penyelenggaraan Seminar Doktrin Mahdawiyat menyatakan, “Mentari ‎mahdawiyat dan penantian terhadap Sang Juruselamat, terus bersinar meliputi ‎seluruh alam semesta. Karena itu banyak bermunculan para pendusta yang ‎memanfaatkan pemikiran luhur ini untuk memenuhi ambisi durjananya”. Guna ‎menghadapi kosnpirasi dan upaya penyesatan semacam itu, ia mengajak seluruh ‎masyarakat untuk selalu waspada dan meminta para ulama dan cendikiawan ‎menyebarkan doktrin mahdawiyat yang sebenarnya. ‎

Selama ini penyimpangan terhadap isu mesianisme banyak terjadi di kalangan ‎masyarakat Barat. Penyimpangan itu menjadi lebih berbahaya lagi dampaknya ‎ketika dimanfaatkan oleh media-media Barat melalui pembuatan film, permainan ‎komputer, internet, dan perangkat media lainnya. Menteri Kebudayaan dan ‎Bimbingan Islam Iran, Mohammad Hosseini dalam sambutannya di Seminar ‎Doktrin Mahdawiyat menuturkan, “Semenjak tahun 1995 hingga 2005, dari 32 film ‎terlaris di dunia, 19 di antaranya berkaitan dengan isu akhir zaman”. ‎

Lebih jauh ia menguraikan, “Bila disimpulkan, aktifitas seni Barat meyakini bahwa ‎masa depan penuh dengan ketakutan dan sangat mengerikan. Sementara umat ‎manusia pun terancam musnah. Namun pada akhirnya mereka lantas ‎menggambarkan kemunculan Sang Juruselamat dari Barat. Lewat film-film ‎semacam itu mereka berusaha meyakinkan bahwa Barat adalah satu-satunya ‎rujukan akhir dan tempat berlindung bagi seluruh penghuni dunia. Harapan yang ‎semestinya mereka berikan, justru menjadi keputusasaan dan pesimisme”.‎

Gambaran akhir zaman yang tergambar dalam film-film Hollywood selama ini ‎sebenarnya berakar dari doktrin eskatologi kalangan ekstrimis Kristen yang ‎menggambarkan masa depan manusia yang penuh dengan kegelapan. Terjadinya ‎perang akhir zaman atau armageddon di Palestina dan musnahnya seluruh umat ‎manusia kecuali hanya sebagian kecil dari kelompok nasrani merupakan bagian ‎dari doktrin eskatologi ekstrimis Kristen. Dalam pemikiran tersebut, Nabi Isa as ‎dipandang sebagai sang juruselamat sementara Imam Mahdi as dianggap sebagai ‎pemimpin anti-kristus. Sementara dalam pandangan Islam, Imam Mahdi adalah ‎Sang Juruselamat seluruh umat manusia dari ketidakadilan dan kezaliman. ‎Sedangkan Nabi Isa as adalah mitra dan pembantu Imam Mahdi as dalam ‎menjalankan misinya. ‎

Menyangkut masalah ini, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, ‎Muhammad Hosseini menuturkan, “Dalam hadis dinyatakan bahwa Imam Mahdi as ‎membawa bendera Nabi Muhammad saw dan tongkat Nabi Musa as. Sementara di ‎jarinya tersemat cincin Nabi Sulaiman as. Semua itu menunjukkan kesepahaman ‎dan persatuan dalam Islam.” Dengan kata lain, perjuangan Imam Mahdi ialah ‎merealisasikan seluruh cita-cita para nabi dalam membentuk pemerintahan Ilahi ‎dan penegak kebenaran.‎

Di sisi lain, pemikiran Mahdawiyat di Islam memberikan gambaran masa depan ‎yang cerah dan gemilang. Ketua Parlemen Islam Iran, Dr. Ali Larijani dalam ‎sambutannya di seminar mahdawiyat menandaskan, “Pemikiran mahdawiyat ‎merupakan suatu titik puncak. Berdasarkan pemikiran itu, tak seorang pun manusia ‎mukmin ataupun masyarakat diperbolehkan untuk putus asa dan pesimis. Karena ‎itu, gerakan alam semesta bersifat progresif dan menuju kemajuan. Pemikiran ‎mendalam yang terkandung dalam batin mahdawiyat merupakan pelita pedoman ‎bagi umat manusia”. ‎

Sementara itu, Ayatollah Mohyeddin Haeri Shirazi, salah seorang guru besar ‎Hauzah Ilmiah dalam sambutannya menuturkan, “Penantian terhadap Imam Mahdi ‎as memerlukan kesabaran dan optimisme.” Tentu saja kendati para penanti ‎kehadiran Imam Mahdi as meyakini akan adanya masa depan yang cerah, namun ‎mereka juga tidak mengingkari bahwa untuk mencapai masa depan yang penuh ‎dengan kegemilangan itu, mereka harus melewati beragama tantangan dan kondisi ‎sulit. Meningkatnya ketidakadilan, kezaliman, kebodohan, dan kesesatan serta ‎permusuhan terhadap para penanti Imam Mahdi as merupakan sebagian dari ‎tanda-tanda menjelang munculnya Imam Mahdi as. ‎

Hojjatul Islam Faramarze Sohrabi, anggota dewan ilmiah Pusat Studi Mahdiwayat ‎mendedahkan tiga faktor yang bisa menyelamatkan umat manusia dari beragam ‎tantangan yang muncul menjelang kedatangan Imam Mahdi as. Ketiga faktor itu ‎adalah makrifat, budaya doa bagi kemunculan Imam Mahdi as, dan budaya ‎penantian mahdawiyat. Dalam urainnya mengenai tiga faktor tadi, Faramarze ‎Sohrabi mengutip sebuah riwayat dari Imam Hasan Askari as yang berbunyi, “Demi ‎Allah, ketika masa ghaibnya Imam Mahdi as berlangsung, semua orang akan ‎terancam bahaya, kecuali mereka yang memiliki pengetahuan dan makrifat akan ‎kehadiran Imam Mahdi as dan mereka yang dianugerahi Allah Swt kesempatan ‎untuk berdoa supaya disegerakannya kehadiran Imam Mahdi as”. ‎

Sembari menyebutkan riwayat lainnya Faramarze Sohrabi menjelaskan bahwa ‎barang siapa yang menyerahkan masa hidupnya untuk menanti kedatangan Imam ‎Mahdi as sama halnya dengan seseorang yang hidup di dalam tenda Imam Mahdi ‎as di sepanjang umurnya. Tentu saja penantian yang dimaksud adalah kesiapan ‎purna untuk menerima kedatangan Imam Mahdi as dan berjuang bersama beliau. ‎

Sejatinya, doktrin mesianisme yang diajarkan Islam merupakan penafian terhadap ‎pemikiran Barat yang meyakini bahwa kebahagiaan manusia hanya terjadi jika ‎agama disingkirkan. Padahal, munculnya beragam peperangan dan kehancuran ‎pada dasarnya berakar dari pemikiran materialisme Barat yang mengingkari nilai-‎nilai spiritual dan moral. Namun doktrin mahdawiyat kembali menyadarkan kepada ‎umat manusia bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa diwujudkan lewat keadilan. ‎Dan hal itu hanya bisa terealisasi ketika nilai-nilai spiritual dan moral dijunjung ‎tinggi. (IRIB/LV/SL)‎

Categories: AGAMA, Kisah-Cerita, Sosial - Budaya | Leave a comment

Gereja AS Canangkan Hari Pembakaran Al-Quran

Keputusan Pendeta AS, Terry Jones, untuk membakar kitab suci Al-Quran menuai kritik dan kecaman luas. Dove World Outreach Center, gereja non-denominasi di Gainesville, Florida, baru-baru ini mengumumkan akan menggelar acara pembakaran Al-Qur’an di properti gerejanya dalam peringatan ulang tahun serangan 11 September untuk memperingatkan warga Amerika tentang bahaya Islam.

Dalam beberapa hari terakhir ini, berbagai kelompok dan organisasi-organisasi Islam di dalam dan luar negeri memperingatkan tindakan konyol ini. Terry Jones, pendeta asal Florida itu meminta warga AS supaya menjadikan peringatan kesembilan Peristiwa 11 September sebagai hari pembakaran Al-Quran. Ia menghendaki pembakaran Al-Quran di khalayak umum.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Islamphobia di negara ini kian meningkat. Kelompok Kristen Zionis, lobi-lobi Rezim Zionis dan kalangan politisi radikal terus berusaha mengindentikkan Islam dengan kekerasan dan radikalisme.

Sembilan tahun lalu, seluruh kelompok dan pemikir agama di dunia Islam secara serentak mengecam aksi teror terhadap warga sipil. Meski demikian, kalangan neo-konservatif sudah merencanakan perang, beberapa tahun sebelum 11 September 2001. Pada akhirnya, peristiwa itu dijadikan sebagai alasan untuk menduduki Irak dan Afghanistan. Dari delapan tahun lalu hingga kini, lebih dari satu setengah juta muslimin di Irak dan Afghanistan tewas. Mereka menjadi korban balas dendam Peristiwa 11 September yang menewaskan tiga ribu warga AS.

Perilaku rasialis dan radikalis AS mempunyai sejarah panjang. Di Perang Dunia II, AS memerintahkan pemenjaraan atas semua warga Jepang dan keturunan negara ini di kamp-kamp perang. Padahal ada sejumlah keturunan Jepang di kamp-kamp perang itu yang belum pernah berkunjung ke Jepang meski sekali. Satu dekade setelah itu, McCarthyism berkuasa di Negeri Paman Sam. Pada masa itu, FBI dapat menangkap siapapun atas dasar prasangka terhadap Sosialisme dan menjebloskannya ke penjara. Sepanjang periode itu, sejumlah pemikir dan cendekiawan AS terlibat bertindak radikal dan kehilangan kredibilitas mereka.

Pada awal abad 21, kelompok radikal AS berniat membakar mukjizat Nabi Besar Muhammmad Saw, kitab suci Al-Quran yang menjadi pedoman bagi satu setengah milyar pengikut Islam di dunia ini. Yang jelas, upaya konyol dan gila ini sama sekali tidak mengurangi kemuliaan kitab suci Al-Quran. Selama 1500 tahun, kelompok-kelompok anti-Islam silih berganti dari masa ke masa, tapi tidak ada satupun yang mampu mengurangi kemuliaan dan keagungan agama suci Islam.

Untuk itu, tak diragukan lagi bahwa pembakaran Al-Quran akan menuai kecaman masyarakat muslim dan berhati nurani di dunia ini. Seperempat masyarakat dunia mengharapkan para pejabat AS supaya bertindak tegas mencegah upaya pembakaran kitab suci Al-Quran oleh kelompok-kelompok radikal dan rasialis. (IRIB/AR/MF)

Categories: Hubungan Internasional, Sosial - Budaya | Leave a comment

Haul Ustadz Husein Al-Habsyi di Bangil Dipadati Ribuan Tamu

Haul atau peringatan tahunan wafat Ustadz Husein Al-Habsyi yang digelar hari ini (Ahad, 1/8), dihadiri lebih dari 2.500 tamu. Ketua Panitia Haul Ustadz Husein Al-Habsyi, Sirajudin, ketika dihubungi IRIB menjelaskan, “Para tamu yang menghadiri Haul Ust Husein Al-Habsyi di Bangil, datang dari berbagai penjuru nusantara, termasuk dari luar Jawa.”

Acara tahunan itu berlangsung sesuai jadwal dari pukul 08.30 hingga 12.15 WIB. Selain diisi pembacaan tahlil, acara haul itu juga dimeriahkan dengan pidato para pembicara. Cendekiawan muda, Musa Kazim Al-Habsyi, yang juga putra Ustadz Husein Al-Habsyi dalam pidatonya menjelaskan empat poin yang patut ditauladani dari figur ayahnya. Keempat poin itu adalah penekanan pada kesadaran ummat Islam, persatuan, pengenalan terhadap para musuh dan percaya akan kemenangan. Ketika menjelaskan poin percaya akan kemenangan, Musa Al-Habsyi mengatakan, “Poin terakhir itulah yang membuat Ust Husein Al-Habsyi tidak pernah lelah dan selalu optimis akan perjuangannya.”

Dalam sambutan lainnya, Ust Mohammad BSA, ulama dan orator yang juga pernah berguru dengan Ust Husein Al-Habsyi, mengatakan, “Ust Husein Al-Habsyi adalah figur istimewa.” Ust Mohammad BSA ketika berbicara tentang pengalamannya saat berguru kepada Ustadz Husein Al-Habsyi, mengatakan, “Ada beberapa poin penting yang melekat pada figur beliau. Beliau selalu menaruh perhatian luar biasa pada anak-anak muda dan selalu menekankan penghormatan pada waktu. “

Terkait poin penghormatan pada waktu, Ust Mohammad BSA menjelaskan pengalamannya bersama Ust Husein Al-Habsyi. Ia mengatakan, “Pada suatu waktu, Ust Husein tidak dapat mengajar pada waktunya, karena ada urusan mendadak di luar daerah. Akan tetapi Ust tetap berusaha mengajak saya yang saat itu adalah murid beliau, untuk belajar di atas mobil.” Lebih lanjut Ust Mohammad BSA menjelaskan, “Poin lain yang seringkali ditekankan Ust Husein Al-Habsyi adalah menuntut ilmu agama di samping ilmu-ilmu lainnya.”

Dalam acara itu, kyai kondang asal Kraksan, Mostofa Badruduja yang juga alumnus Yayasan Pesantren Islam (YAPI), ikut memeriahkan acara haul itu. Selain itu, santri YAPI, Said Novel, juga menampilkan orasi bahasa Arabnya di hadapan para tamu. Dalam acara itu juga ada pementasan puisi yang disampaikan oleh Zaid Alaydrus, salah satu staf pengajar YAPI.

Ustadz Husein Al-Habsyi lahir di Surabaya pada tanggal, 21 April 1921 M. Pada usia yang masih belia beliau sudah harus berjuang sendiri setelah orang tuanya wafat. Pada tahun 1971 beliau mendirikan Pondok Pesantren di kota Bondowoso Jatim. Setelah itu, beliau hijrah ke Bangil dan mendirikan Yayasan Pesantren Islam (YAPI ) di kota itu . Karena bertambahnya murid yang cukup banyak dan tuntutan saat itu, beliau akhimya membuka Pesantren-Putra di Kenep-Beji, Pesantren-Putri dan TK di Kota Bangil.

Setelah berpuluh tahun mengabdikan diri demi Islam dalam dunia pendidikan dan dakwah, Ustadz Husein Al-Habsyi memenuhi panggilan Ilahi pada hari Jum’at, 2 Sya’ban 1414/ 14 Januari 1994 di rumahnya Jl. Lumba-lumba Bangil. Beliau dimakamkan pada hari Sabtu 3 Sya’ban 1414/15 Januari 1994 di belakang Masjid Tsaqalain yang terletak di komplek Pesantren Putra “Al-Ma’hadul Islami” YAPI, Desa Kenep Beji Pasuruan. (IRIB, AR/AHF)

Categories: AGAMA, SEJARAH, Sosial - Budaya, TOKOH | Leave a comment

Gelombang Baru Serangan AIDS

Konferensi Internasional AIDS ke-18 yang berlangsung selama enam hari di Wina ‎Austria telah berakhir dengan desakan kepada pihak-pihak terkait untuk memberikan ‎kemudahan perawatan dan pengobatan untuk para penderita penyakit ini. Lebih dari ‎dari 20 ribu orang dari 100 negara terlibat dalam sejumlah komisi yang membahas ‎perkembangan keilmuan terakhir dalam upaya memproduksi vaksin AIDS, kondisi ‎para penderita AIDS dan solusi mencegah penyebaran vitus HIV.‎

Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala ‎dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh ‎manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang ‎menyerang spesies lainnya (SIV, FIV dan lain-lain).‎

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu ‎virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ‎ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. ‎HIV umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam ‎‎(membrane mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, ‎seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan ‎dapat terjadi melalui hubungan intim, transfusi darah, jarum suntik yang ‎terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta ‎bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Penggunaan jarum suntik ‎yang tercemari HIV menjadi faktor penularan terbesar virus ini di kalangan para ‎pengguna narkotika jenis suntik karena sering menggunakan jarum secara bergantian. ‎Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, ‎namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.‎

AIDS pertama kali diumumkan menjadi penyebab kematian orang pada tanggal 5 Juni ‎‎1981. Sejak saat itu, AIDS menjadi momok yang sangat menakutkan dan dilema ‎besar bagi dunia medis. Sampai saat ini tercatat lebih dari 25 juta orang meninggal ‎dunia akibat penyakit ini. Di dunia, AIDS adalah penyebab kematian keempat ‎sementara di benua Afrika penyakit ini diklaim sebagai faktor kematian terbesar. ‎Sebagian besar korban AIDS adalah kalangan berusia muda bahkan lima juta ‎diantaranya masih berumur di bawah 15 tahun. Diperkirakan saat ini terdapat 40 juta ‎orang di seluruh dunia yang terinfeksi virus HIV. Yang menyedihkan adalah bahwa 95 ‎persen penderita AIDS hidup di negara berkembang.‎

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membagi dunia ke dalam sepuluh kawasan ‎geografis. Dengan pembagian itu jelas bahwa tingkat penyebaran HIV di setiap ‎kawasan berbeda dengan kawasan yang lain. Menurut laporan WHO, kawasan Timur ‎Tengah dan Afrika Utara dengan 98 persen warganya beragama Islam termasuk ‎diantara kawasan yang paling bersih dari virus HIV dari kesepuluh kawasan. ‎Penyebabnya adalah ketaatan warga di kawasan ini terhadap ajaran agama dan ‎norma-norma kesusilaan. Sayangnya, angka itu tercemari oleh faktor penularan AIDS ‎lewat jarum suntik yang marak diantara para pecandu narkotika. Akibat faktor ini, ‎Bahrain, Iran, Tunis, Mesir dan Pakistan menjadi negara-negara yang terancam ‎penyebaran cepat virus HIV.‎

Konferensi internasional AIDS ke-18 menyoroti penyebaran AIDS di kawasan Asia ‎tengah dan Eropa Timur. Direktur Unicef di Jerman, Christine Schneider, mengatakan, ‎AIDS terus berkembang dan menyebar di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah ‎dengan kebanyakan korbannya dari kalangan perempuan, anak kecil dan pemuda ‎miskin yang hidup di pinggiran kota. Faktor utama penyebaran AIDS di kawasan ini ‎adalah merebaknya praktik asusila dan penggunaan narkotika. Kondisi ekonomi yang ‎buruk mendorong para pemuda di kawasan ini pergi ke Rusia dan Ukraina untuk ‎mengais rejeki. Tak hanya uang yang mereka bawa pulang ke kampung halaman ‎tetapi juga virus HIV yang mematikan. Antara tahun 2001 dan 2008, jumlah penderita ‎AIDS di Asia Tengah dan Eropa Timur meningkat 66 persen. Di antara negara-negara ‎itu, Ukraina menempati urutan teratas penderita AIDS. Menurut data WHO, penderita ‎AIDS di Ukraina saat ini tercatat sebanyak 360 ribu orang.‎

AIDS tidak mengenal batas dan mengancam semua negara. Karena itu, masyarakat ‎dunia secara bersama-sama terus mengupayakan pencegahan penyebaran penyakit ‎ini. AIDS memang merebak tanpa kendali di negara-negara miskin dan berkembang, ‎namun uang dan obat untuk mengatasinya justeru dimiliki oleh negara-negara maju ‎dan kaya. Tahun 2006, negara-negara kaya berjanji akan membantu negara-negara ‎miskin dengan dana sebesar 25 miliar USD sampai tahun 2010 untuk program ‎penyuluhan dan pengendalian AIDS. Namun dari janji itu, hanya separuhnya yang ‎sudah terlaksana. Para donatur beralasan bahwa tak tersedianya dana yang dijanjikan ‎itu diakibatkan oleh krisis ekonomi yang melanda dunia. ‎

Julio Montaner, presiden International AIDS Society (IAS) mengkritik sejumlah negara ‎kaya dan mengatakan, sepanjang tahun lalu, para pemimpin yang menjanjikan ‎kerjasama untuk menanggulangi masalah AIDS tentu masih ingat bahwa mereka telah ‎mengucurkan dana paket bantuan ekonomi untuk menyelamatkan rekan-rekannya, ‎para bankir dan pemodal Wall Street yang rakus. Kini ketika tiba giliran masalah ‎kesehatan, mereka bergegas melepas tanggung jawab. ‎

Presiden IAS menambahkan, “Jika pemerintah di semua negara tidak memperbaiki ‎kualitas pengobatan dan layanan untuk para penderita AIDS, dampak yang bakal ‎terjadi bisa mengimbas semua negara.”‎

Penyebaran cepat penyakit ini di negara-negara miskin dan berkembang tidak berarti ‎bahwa negara-negara maju sudah aman dari penyebaran penyakit mematikan ini. ‎Dalam sebuah aksi kemanusiaan, negara-negara maju memberikan bantuan untuk ‎ikut mencegah penyebaran AIDS. Secara lahiriyah bantuan itu memang untuk ‎meringankan beban penanganan AIDS di negara-negara miskin dan berkembang, ‎padahal sebenarnya yang diuntungkan dari bantuan itu adalah negara-negara maju ‎sendiri. AIDS adalah epidemi yang menjadi masalah besar bagi dunia. Tak beda ‎halnya dengan masalah dunia lainnya seperti pemanasan global yang mengancam ‎semua negara tanpa kecuali. Apalagi, pusat kajian medis di Amerika Serikat dalam ‎laporannya menyebutkan, AIDS menyebar dengan sangat cepat di enam negara ‎bagian di wilayah selatan Amerika Serikat. ‎

Saat ini, di AS tercatat sebanyak satu juta orang mengidap penyakit AIDS. Namun ‎demikian, bujet pemerintah untuk menangani penyakit ini dalam beberapa tahun ‎terakhir menurun cukup drastis. Sangat mungkin hal itu dipicu oleh krisis ekonomi ‎yang melanda negara ini. Sudah 25 tahun berlalu sejak kasus AIDS pertama kali ‎dipublikasikan secara resmi dan penyakit inipun menyebar dengan cepat di seluruh ‎dunia, namun demikian, banyak penderita AIDS di AS yang enggan mendatangi klinik-‎klinik kesehatan. Menurut data yang ada, kasus infeksi virus HIV di Carolina Utara, ‎Carolina Selatan, Georgia, Alabama, Mississippi, dan Louisiana meningkat sampai 36 ‎persen. Data ini menunjukkan bahwa negara terkaya di duniapun tak selamat dari ‎serangan gelombang baru penyebaran AIDS.‎

Salah satu faktor penyebaran AIDS adalah melalui hubungan intim. Mereka yang tidak ‎mengindahkan norma dan nilai-nilai kesusilaan dan kerap melakukan hubungan ‎badan di luar pernikahan merupakan kelompok yang rawan terkena penyakit ini. ‎Mencegah lebih baik dari mengobati adalah prinsip yang harus dikedepankan dalam ‎menghadapi penyebaran penyakit AIDS. Untuk itu, para pakar mengimbau semua ‎orang untuk menghormati nilai-nilai etika, setia kepada keluarga dan menghindari ‎kontak seksual tanpa batas.(IRIB/AHF/SL)‎

Categories: Hubungan Internasional, Kesehatan, Sosial - Budaya | Leave a comment

Amato: Bunda Maria Pakai Jilbab, Lalu Bagaimana Melarangnya?

Giulliano Amato-Menteri Dalam Negeri Italia

Roma, IRIB News-Giulliano Amato, Menteri Dalam Negeri Italia kepada para pendukung sekuler ekstrim yang meminta dilarangnya jilbab di Italia mengatakan, “Ketika Bunda Maria senantiasa memakai jilbab, lalu bagaimana bisa kalian berharap dari saya untuk menentang jilbab kaum muslimah?”

Televisi Alalam memberitakan bahwa sekalipun ada tekanan kuat kalangan sekuler Italia, Mendagri Giulliano Amato kembali menyatakan bahwa jilbab merupakan masalah yang diterima oleh Bunda Maria. Sebagai menteri dalam negeri, ia juga tidak akan menyetujui pelarangan jilbab bagi muslimah negara ini.

Amato mengatakan, “Bunda Maria adalah ibu dari nabi kita Isa al-Masih dan senantiasa memakai jilbab. Bila demikian kenyataannya, bagaimana mungkin saya menyetujui pelarangan jilbab di negara ini.”

Berdasarkan laporan ini, kelompok-kelompok sekuler ekstrim di Italia senantiasa menuntut diberlakukannya larangan jilbab bagi muslimah yang tinggal di Italia dan juga perempuan Italia yang memeluk Islam. Mereka mengklaim bahwa jilbab membahayakan budaya Kristen di negara ini.

Kepada kelompok-kelompok sekuler ekstrim ini Amato mengatakan, “Bunda Maria merupakan satu dari wanita paling dicintai dalam sejarah manusia. Ia senantiasa memakai jilbab menutup kepalanya. Lalu bagaimana kalian berharap saya akan menentang jilbab yang dipakai wanita muslim?”

Menteri Dalam Negeri Italia ini mengingatkan, “Satu di antara kelompok sekuler ekstrim ini bahkan meminta kepada saya untuk menghapus foto Bunda Maria yang memakai jilbab dan menggantinya dengan foto-foto yang tidak ada penutup kepalanya.”(IRIB/SL/MZ)

Categories: AGAMA, Hubungan Internasional, Sosial - Budaya | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.