Akhirnya Kuucapkan Dua Kalimat Syahadah Dalam Kesendirian Bersama Allah di Pesawat

Nama saya Christina Morra dan dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen. Saya mempunyai tiga saudara lelaki dan tiga saudara perempuan. Kami berhenti menghadiri gereja pada ketika usia saya 6 tahun. Kami percaya bahwa lebih baik membaca Injil di rumah karena kami tidak dapat menemukan gereja dengan doktrin  bisa kami patuhi, makanya lebih baik kami di rumah saja. Saya yakin bahwa sikap agamis keluargalah yang menyebabkan saya memeluk Islam. Saya percaya bahwa perjalanan menuju Islam bermula ketika saya baru lahir. Salah satu perkara yang saya pelajari dalam Islam ialah konsep fitrah. Artinya setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, bebas dari sebarang dosa. Oleh karenanya, kita bisa memanggil anak atau bayi tersebut Muslim.

Hanya ibu bapaknya lah yang mengajarnya untuk menjadi seorang yahudi atau Kristen. Saya begitu tertarik sekali dengan kepercayaan Islam ini karena saya menyetujuinya sepenuh hati. Fakta menyebutkan bahwa Muslim berusaha untuk kembali dalam keadaan suci dan menjadi orang terbaik bisa menjadi benar pada pandangan saya. Dalam Judaisme dan Kristiani, dipercayai bahwa manusia lahir dalam agama mereka sendiri dan mereka menyakini bahwa mereka adalah orang yang terpilih. Masyarakat Kristen termasuk keluarga saya sendiri percaya satu-satunya jalan untuk masuk surga ialah dengan menerima inti konsep Kristen, bahwa dengan mempercayai bahwa Nabi Isa adalah Anak Tuhan dan meninggal untuk menebus dosa-dosa manusia. Ibu bapa saya mendkotrin masalah ini kepada kami bahwa hanya dengan cara ini sajalah kita masuk surga, sementara orang lain akan ke neraka.

Saya tidak dapat menerima perkara ini. Ada kejanggalan bagi sifat Tuhan dan hubungan Nya dengan manusia serta kriteria untuk masuk surga. Saya punya teman muslim. Saya tidak dapat menerima kenyataan bagaimana mereka akan tetap masuk neraka, sekalipun mereka percaya dengan Tuhan dan yakin bahwa menjadi orang baik harus disertai dengan melakukan kebaikan.

Saya masih ingat bahwa jika Kristen itu benar, saya lebih rela masuk neraka bersama dengan rekan-rekan muslim saya. Belum lagi bagaimana dengan nasib teman-teman saya dan begitu juta dengan orang lain serta seluruh manusia. Saya tidak dapat menerima diskriminasi dan merasa diri lebih superior dari yang lain dan memandang rendah mereka.

Saya mulai mengenal Islam dari beberapa orang rekan muslim saya di internet. Tidak semua teman saya muslim, tetapi Alhamdulillah saya punya beberapa orang teman muslim yang baik. Sebelumnya memang saya tidak mengetahui apa-apa. Hanya saya teringat seorang muslim yang bekerja dengan ayah saya. Waktu itu saya belajar mengucapkan “Assalamu Alaikum”. Saya tertarik dengan orang ini yang kelihatan lembut dan damai serta berpakaian serba putih. Perlahan-lahan saya baru bahwa memberi salam kepada anak-anak merupakan satu perbuatan baik.

Saya pernah menulis satu artikel berkaitan dengan kecenderungan dan minat saya untuk belajar tentang berbagai budaya dan kemanusiaan. Ketika itu saya belajar di sekolah tinggi. Artikel itu mendapat perhatian dari guru pembimbing kami. Guru bahasa Inggris saya turut memuji artikel tersebut. Ketika masa berlalu, hubungan saya dengan umat Islam juga semakin meningkat. Saya menjadi lebih tertarik untuk belajar mengenai Islam.

Ketika di Universitas, saya mengambil mata kuliah agama, sayangnya materi yang disampaikan tidak banyak memberikan informasi tentang Islam. Saya merasa yang harus dipelajari adalah Islam. Oleh karena itu, saya mengambil mata kuliah Islam klasik. Saya juga turut belajar bahasa Persia karena begitu minat untuk mempelajari bahasa. Asik dengan minat yang saya geluti membuat saya memutuskan tidak melanjutkan kuliah bidang arsitektur. Teman baik saya, Ehsan, seorang yang saya temui online dan kami sama-sama belajar al-Quran. Saya banyak sekali menanyakan persoalan berkaitan Islam kepadanya. Dia datang dari Iran untuk menemui saya di Amerika. Kami bertemu di Texas. Saya juga bertemu dengan ramai warga Iran di sana.

Kemudian saya kembali ke Universitas, pada saat ini lah saya memasuki kelas Klasik Islam. Saya tetap melanjutkan pembahasan saya tentang Islam bersama Ehsan. Saya benar-benar puas hati dengan pembelajaran Islam saya. Karena saya mengambil studi bahasa. Bahasa Arab merupakan satu hal yang amat penting buat saya.

Saya juga mendapati bahwa dalam Islam, tidak seperti Kristen, kita haruslah berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik demi Allah. Melakukan perbuatan yang diredai oleh-Nya. Walaupun secara alami kita bukanlah manusia sempurna dan tidak bisa menjamin diri sendiri untuk bisa masuk surga. Lalu mengapa harus menghukumi orang lain? Agama yang saya anut adalah sebuah agama dimana sebagai manusia biasa, kita diberi kesempatan untuk meminta maaf dan bertaubat. Seorang pelacur bisa masuk surga karena memberi air pada seekor anjing, sebuah perbuatan yang kelihatan amat mudah tetapi diridhai Allah.

Kesimpulannya, Islam memberi jawaban atas segala persoalan yang menjadi tandatanya bagi saya selama ini. Dahulu saya pernah terpikir memiliki agama yang sempurna. Saya percaya bahwa manusia harus memiliki agama, bahwa Tuhan berhubungan dengan mereka dan tidak meninggalkan mereka. Saya menemui konsep tersebut dalam Islam, makanya saya bisa memberikan kepercayaan saya pada agama ini dan segala yang saya temukan adalah benar dan sempurna.

Tidak lama kemudian, saya pergi ke Texas dan Ehsan memberi dukungan untuk saya menyebutkan kalimat syahadah. Dia mengajar saya cara menunaikan shalat, sebelumnya saya sudah melihat dia menunaikan shalat. Shalat adalah sebuah manifestasi yang indah. Dua perkara yang menyebabkan saya menahan diri; bagaimanapun saya masih berpendapat saya harus belajar lebih banyak lagi. Islam adalah sebuah agama yang luas dan saya ingin sekali memeluk agama Islam pada hari yang istimewa.

Ketika saya melakukan penerbangan dari Texas pulang ke Tennessee, pesawat yang saya naiki mengalami gangguan sebelum memulai penerbangan. Saya terpikir akan kematian yang bisa datang tiba-tiba. Jika saya mati mengadap Tuhan, saya belum juga menjadi seorang muslimah. Saya tidak ingin perkara tersebut berlaku. Maka sayapun memikirkan kalimah bahasa Arab cara menyebut syahadah dan Tuhan sebagai saksinya.

Kemudian, saya menyebut kembali kalimat syahadah di hadapan Ehsan sebagai saksi. Ia bertepatan pada hari lahir Nabi Muhammad Saw . Dahulu saya merasa bingung dengan masa depan saya, apa yang akan saya lakukan, apa akan jadi dengan diri saya. Ketika mengenang kembali hal tersebut, saya tahu bahwa sebenarnya saya belum menemui jalan yang membawa saya kepada Islam. Insya Allah Allah akan membimbing saya dan membuka jalan untuk saya mempelajari Islam sekarang dan disepanjang kehidupan saya, sehingga saya dapat pula mengembangkannya.

Alhamdulillah Islam sebenarnya adalah indah, jauh dari rasisme dan kebencian. Islam merupakan bimbingan sempurna yang dapat memenuhi keperluan individu dan masyarakat. Saya benar-benar percaya bahwa seseorang itu memerlukan Islam untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik dan membentuk sebuah tempat yang lebih kokoh. Islam bukan untuk diperdebatkan dan mencari perhatian. Sejatinya, mengamalkan Islam dengan benar merupakan cara terbaik untuk semua manusia di alam sejagat ini. Alhamdulillah, saya bertemu orang-orang sedemikian dan insya Allah saya akan berusaha untuk menjadi orang seperti itu demi Allah. (IRIB Indonesia/Revertmuslim)

Categories: Kisah-Cerita | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: