Wawancara Presiden PDK : Iran Kehendaki “Perubahan Natural” di Indonesia

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran-Rahbar)

Tehran belum lama ini menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Pertama Kebangkitan Islam. Lebih dari 600 cendekiawan, akademisi dan peneliti menghadiri konferensi yang dibuka langsung oleh Pemimpin Spritual Republik Islam Iran, Ayatollah Sayid Ali Khamenei dan ditutup oleh Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Konferensi yang digelar selama dua hari dari Sabtu (17/9/2011) hingga Ahad (18/9/2011), berusaha melakukan pendekatan struktural untuk mengatasi kendala Kebangkitan Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Di Hotel Evin yang terletak di pusat ibukota Iran, Tehran, wartawan IRIB berhasil menemuiĀ  dan mewawancarai tamu asal Indonesia yang diundang secara khusus untuk menghadiri Konferensi Internasioanal Pertama Kebangkitan Islam. Tamu itu adalah Presiden Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Ir. Sayuti Asyathri.

Pada acara pembukaan Konferensi Kebangkitan Islam, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al Udzma Sayid Ali Khamenei, menyampaikan pesan tertulis yang dibacakan langsung oleh beliau sendiri. Bagaimana pendapat Anda terkait isi pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran?

Semangat kebangkitan dibimbing dan dikawal (guided and guarded) oleh Pemimpin Spritual Ayatollah Ali Khamenei dalam sebuah formulasi pendekatan struktural yang meniscayakan terjadinya transformasi dari dinamika yang ada pada tataran nilai-nilai etika dan moral menuju pencapaian tujuan dan cita-cita kebangkitan Islam.

Cita-cita luhur yang ditegaskan dalam konferensi tersebut adalah menemukan kembali identitas Islam dan meneguhkan martabat manusia dan kemanusiaan. Saya sangat terkesan dan terharu dengan perang Ayatollah Sayid Ali Khamenei sebagao seorang pemimpin spritual yang menjadi rujukan utama bukan hanya bagi muslimin di iran, tapi bahkan dunia pada umumnya. Sayid Ali Khamenei bukan hanya memberikan nasehat pada tataran moral dan etika dalam memaknai tujuan konferensi. Akan tetapi beliau juga mengawal dan membimbing konferensi tersebut dengan analisa, peringatan dan solusi untuk menghadapi problema Kebangkitan Islam di Afrika dan Timur Tengah, serta dunia pada umumnya.

Dari pidato yang disampaikan terlihat bahwa langkah tersebut dilakukan karena kepeduliannya untuk melihat bahwa perlu dan harus ada akuntabilitas proses dalam perwujudan cita-cita luhur. Ayatollah Ali Khamenei menekankan bahwa cita-cita luhur yang dimaksud hanya bisa dicapai dengan menjaga persatuan dan kesatuan, serta senantiasa menghindari konflik sektarian. Selain itu, Ayatollah Ali Khamenei juga mewaspadai kemungkinan dibajaknya gerakan kebangkitan oleh kekuatan arogan untuk mencegah tercapainya cita-cita sejati, yakni kebangkitan yang berkhidmat pada penegakan martabat manusia dan kemanusiaan.

Kemudian bagaimana tanggapan Anda mengenai pidato penutupan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad dalam acara penutupan Konferensi Kebangkitan Islam?

Sedangkan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, lebih spesifik menegaskan bahwa pencapaian tersebut dapat dicapai dengan apa yang disebut dengan “Global Governance.”

Global Governance yang dimaksud adalah satu tata pengaturan pemerintahan dunia yang menjadikan penghormatan kepada manusia dan kemanusiaan sebagai sendi utama dalam system peradaban. Dengan pidato Ahmadinejad terlihat bahwa Iran sungguh-sungguh ingin bekerja pada tataran pelaksanaan untuk meralisasikan semua pikiran yang berkembang dalam konferensi yang disampaikan oleh seluruh peserta dari kalangan cendekiawan, akademisi dan peneliti.

Artinya bahwa Konferensi Kebangkitan Islam telah berhasil mencapai kesepakatan pada wilayah nilai-nilai luhur, yairu membela dignity manusia dan kemanusiaan dengan menghargai perbedaan agama dan keyakinan dalam proses pelaksanaannya.

Apa kaitannya dengan Indonesia?

Bagi Indonesia, hasil-hasil konferensi tersebut telah memberi penguatan terhadap perlunya satu bentuk perubahan yang berlangsung secara natural sesuai dengan kondisi negara masing-masing tanpa intervensi negara lain. Perubahan natural itu harus menjunjung tinggi prinsip terwujudnya suatu tatanan yang adil, damai, harmoni, bermartabat dan berkhidmat pada manusia dan kemanusiaan tanpa mempertentangkan perbedaan keyakinan dan nilai nasional negara masing-masing.

Lebih dari itu, hasil Konferensi Internasional Pertama Kebangkitan Islam di Tehran sangat sesuai dengan amanat pembukaan undang-undang dasar negara Republik Indonesia1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Peneguhan martabat sebuah bangsa juga dilakukan dengan memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, komunitas muslimin internasional sudah waktunya, mengerahkan seluruh energi dan sumber daya untuk fokus mengambil langkah-langkah konkrit dan praktis untuk mencapai cita-cita luhur sebagaimana yang tertuang dalam pesan konferensi.

Kesimpulan Anda tentang hasil Konferensi Kebangkitan Isam?

Persatuan dan kesatuan yang harus dilakukan dengan menghindari konflik-konflik sektarian dan berbagai jenis konflik yang tidak produktif, bukan lagi hanya pada domain dan tataran himbauan etika dan moral. Tetapi persatuan dan kesatuan merupakan sebuah keniscayaan dan kebutuhan yang bersifat struktural untuk perwujudan cita-cita luhur negara bangsa dan sebuah tatanan dunia yang adil dan bermartabat. (IRIB/AR)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: