Occupy Wall Street dan Sistem Kapitalisme AS

10 hari sudah Gerakan Occupy Wall Street mengumumkan eksistensinya di New York, Amerika Serikat. Bersamaan dengan itu, gelombang protes mulai merambah ke seluruh wilayah AS. Dalam beberapa hari terakhir, ratusan warga anti kebijakan politik dan ekonomi AS di kota Chicago serta Los Angeles turun ke jalan-jalan. Mereka di aksinya menyatakan dukungannya terhadap aksi saudara mereka di New York. Sejumlah aksi demo ini berubah menjadi aksi kerusuhan setelah polisi bertindak brutal terhadap para pendemo.

Gerakan Occupy Walla Street terbentuk akibat kondisi tak menentu AS dan dengan segera mendapat tempat di kelompok sosial dan politik negara ini. Indikasi terbentuknya gerakan ini terjadi pada 17 September di saat sejumlah aktivis berkumpul di depan gedung bursa New York yang terletak di jalan Wall Street. Mereka menyatakan akan melanjutkan aksinya selama tuntutannya tidak dipenuhi. Disebutkan bahwa aksi demo warga AS di Wall Street meneladani aksi protes warga Arab di Timur Tengah khususnya rakyat Mesir yang berdemo dan berkumpul di bundaran al-Tahrir serta berhasil menggulingkan diktator Hosni Mubarak.

Menurut statemen yang dirilis ketua Occupy Wall Street, gerakan mereka terdiri dari berbagai eleman masyarakat seperti kubu sosialis, anti kapitalis dan pemuda. Mereka meyakini bahwa sistem politik dan ekonomi AS sudah bobrok dan masuknya kapitalisme dalam pemerintahan membahayakan kehidupan warga miskin dan mereka yang berpenghasilan rendah.

Pemimpin Gerakan Occupy Wall Street menilai Wall Street telah merasuk ke sistem politik, ekonomi dan sosial AS. Hal ini jelas merusak kepentingan nasional, karena Wall Street mengeruk keuntungan negara dengan ilegal.

Krisis ekonomi yang dihadapi AS dan terbongkarnya berbagai skandal korupsi oleh sejumlah perusahaan besar negara ini kian menambah pandangan negatif warga terhadap Wall Street. Banyak yang menyebut perusahaan ini dengan sebutan “Fat Cats” atau kucing gemuk. Warga meyakini kucing gemuk ini sebagai pemicu krisis finansial, kebangkrutan, tingginya angka pengangguran dan korupsi para elit politik. Oleh karena itu, Occupy Wall Street meminta jantung perekonomian ini dirombak dan dilakukan pembersihan. Menurut mereka Wall Street perlu diganti dengan sistem yang bersih dan manusiawi.

Gerakan Occupy Wall Street yang dinilai sebagai gerakan kiri dan sosialis menjadi contoh nyata dari munculnya gerakan kiri seperti yang terjadi di kubu sayap kana konservatif AS dengan munculnya Gerakan Tea Party. Meski demikian antara Gerakan Occupy Wall Street dan Tea Party memiliki ideologi yang kontradiksi, namun demikian keduanya memiliki sisi kesamaan, yaitu sama-sama tidak puas atas kondisi yang ada di AS dan mereka berusaha menciptakan sistem baru di negara ini.

Namun demikian, apakan kedua gerakan ini akan berhasil atau tidak sangat bergantung dengan berbagai faktor seperi elit politik senior, partai-partai besar dan para elit kapitalisme Wall Street.

Tak Becus Atasi Krisis, Obama Tuding Eropa

Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama menilai krisis ekonomi di negaranya dipicu oleh krisis ekonomi yang melanda negara Eropa.

Obama Rabu (28/9) di Washington mengatakan, krisis ekonomi AS dipengaruhi oleh krisis ekonomi yang dihadapi negara-negara Eropa.

Ia menjelaskan, tak diragukan lagi bahwa kami tengah melewati masa-masa sulit krisis finansial dan inflasi pasca inflasi besar ekonomi di dekade 30-an. Ini adalah krisis global dan tidak terbata pada Amerika Serikat, tandas Obama.

Presiden Amerika Serikat menambahkan, sebagian kesulitan yang dihadapi AS dalam beberapa bulan lalu berkaitan dengan sistem perbankkan dan finansial negara Eropa. Oleh karena itu, Eropa harus melakukan langkah-langkah efektif guna menyelesaikan krisis mereka.

Obama menekankan, transformasi di kawasan Timur Tengah mendongkrak harga minyak dan hal diperlukan kerjasama untuk menghadapi fenomena ini, namun masalah terpenting bagi AS adalah menjaga laju pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja bagi warga yang kehilangan pekerjaan.

Barack Obama juga mengakui kelemahan pemerintahannya menciptakan lapangan kerja. “Antara tahun 2007-2008 kami kehilangan banyak lapangan kerja dan saat ini kondisi AS belum pulih serta angka pengangguran masih belum sesuai standar yang diharapkan. Angka pengangguran di AS masih tinggi,” tegas Obama.

(IRIB/MF)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: