Benarkah Hanya Agama Penyebab Radikalisme?

Muslim Women in Europe

Pemerintah sering kali membiarkan, bahkan memberikan peluang tumbuhnya kelompok-kelompok radikal di masyarakat. Padahal radikalisme membahayakan kehidupan kebangsaan.

“Untuk mencegah merebaknya radikalisme, harus dilakukan revitalisasi Pancasila sebagai pedoman berbangsa dan bernegara. Kelompok-kelompok intelektual harus melakukan upaya revitalisasi ini untuk menyelamatkan keindonesiaan,” kata Guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Hotman M Siahaan mengatakan, di Surabaya, Jumat (30/9/2011).

Munculnya Radikalisme

Radikalisme yang tumbuh tidak hanya dalam konteks keagamaan, tetapi juga dalam konteks lain. Salah satunya adalah radikalisme kedaerahan pada saat ini jauh lebih berbahaya bagi kehidupan kebangsaan dibanding radikalisme dalam konteks lain.
Menurut Hotman, radikalisme dalam konteks kedaerahan ini salah satunya dipicu oleh otonomi daerah. Walaupun sebenarnya otonomi daerah itu sebagai perwujudan demokrasi, tetapi karena lemahnya revitalisasi nilai-nilai kebangsaan, akhirnya malah berkembang dalam bentuk radikalisme.

Dikatakan, benih radikalisme selalu tumbuh pada kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Masyarakat yang merasa dizalimi negara. Bisa juga karena merasa bahwa sistem nilai yang sudah ada tidak lagi mampu menjawab perkembangan zaman sehingga menuntut adanya sistem nilai baru.

Masih mengenai terorisme, cendekiawan muslim Azyumardi Azra menasehati Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir agar tidak eksklusif bila tidak ingin dikait-kaitkan dengan berbagai aksi kekerasan di Indonesia.

“JAT jangan menjadi organisasi yang eksklusif dan menyebarkan faham yang tidak cocok dengan Indonesia,” kata Azyumardi dalam talkshow di salah satu televisi swasta (Rabu, 28/9).

“Dan kepada Baasyir sudah waktunya lebih banyak berdzikir,” tambah Azyumardi.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga meminta Abu Bakar Baasyir untuk membina semua anggota dan simpatisan JAT untuk lebih mencintai Indonesia. Sebab Indonesia merupakan tempat bernaung bagi anggota JAT juga.

“Dan Indonesia tidak bisa dan jangan seperti Afghanistan atau Irak yang ada bom setiap hari di tempat ibadah,” kata Azyumardi.

Apabila Baasyir dan JAT tidak suka dengan kebijakan pemerintah atau agama lain, kata Azyumardi, lebih baik disampaikan secara baik-baik.

Antisipasi Terorisme

Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Achmad Satori Ismail menyerukan agar adanya penanaman akidah Islam secara benar pada generasi muda Muslim di Indonesia. Langkah ini merupakan salah satu upaya preventif agar generasi muda Islam tidak terpikat pada pesona radikalisme dan terorisme.

‘’Semua pihak harusnya bisa berperan serta untuk memberikan penanaman akidah yang lurus, benar, tidak ekstrem, dan menempatkan bahwa Islam itu adalah rahmatan lil alamin,” kata Satori kepada Republika di Jakarta, Selasa (27/9).

Selain pembenaran terhadap pemahaman akidah, Satori juga menilai, upaya tersebut harusnya dapat dilanjutkan dengan memperbanyak amal saleh. Hal lainnya lagi, kata dia, generasi muda Islam itu harus mendapatkan lingkungan yang baik. Mengajak mereka untuk dekat terhadap masjid sangat diperlukan.

Kemudian, kata Satori, generasi muda Muslim agar bersikap waspada pada ajaran-ajaran Islam yang lebih memperlihatkan kecenderungan eksklusif. Ini sangat berbahaya karena Islam itu tidak demikian. Rasul saja semasa hidupnya juga bisa berdamai dengan orang Yahudi.

Satori lebih lanjut menjelaskan keterlibatan generasi muda pada aksi teror itu juga dapat dipicu dari aspek psikologis, sosial, maupun politik yang terjadi di lingkungannya.

Dari aspek psikologis, kata guru besar Lingustik Arab UIN Jakarta ini, pemicunya ke rap para pelaku teror itu merasa diasingkan dalam kehidupannya. efHingga akhirnya, munculnya sikap memberontak, kata dia.

Lalu, dari latar belakang sosial, keterlibatan generasi muda pada aksi teror ini juga dapat disikapi dengan situasi realistis yang terjadi di Indonesia. Banyaknya koruptor itu boleh jadi juga bisa menjadi penyebab lain munculnya aksi teror.

Sementara dari latar belakang politik, Satori mengatakan, minimnya teladan yang baik menjadi salah satu faktor penyebab.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan Shaberah menjelaskan, secara khusus pihaknya memang masih dalam tahap merancang program untuk pembinaan generasi muda Muslim agar tidak terlibat dalam kegiatan teror.

Namun, secara umum, kata Amidhan, pihaknya sudah memiliki perangkat kerja bernama Tim Penanggulangan Terorisme (TPT) melalui pendekatan agama. Tim ini sudah ada sejak zaman menteri agama Pak Maftuh. Di sini kita mencoba mengadakan kajian-kajian masalah jihad mengapa sampai diselewengkan, sambungnya.

Cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat memahami aksi terorisme yang terjadi di Indonesia karena adanya perbedaan sudut pandang. Bagi ekstremis, Islam di Indonesia itu minoritas, mayoritasnya kafir, ujarnya singkat.

Antisipasi Melalui TI

Pakar teknologi informasi (TI) Dr Onno W Purbo menyatakan, aksi teroris itu bisa dicegah dan ditangkal dari jaringan internet, karena informasi apapun lewat internet selalu tercatat.

“Karena itu, teroris itu bisa dilacak lewat internet, karena semuanya tercatat, meski dia menggunakan komputer mana agak sulit diketahui,” katanya kepada ANTARA di kampus STIKOM Surabaya, Jumat.

Ia mengemukakan hal itu di sela-sela Seminar Nasional TI (SNasTI) 2011 bertajuk “Peran TI dalam Membangun Pendidikan Karakter” yang dihadiri 40-an peneliti TI dan puluhan mahasiswa STIKOM Surabaya itu.

Sebelumnya, teroris Ahmad Yosepa Hayat yang mengebom GBIS Solo (25/9) itu mengirim pesan khusus lewat email untuk keluarganya. Almarhum juga aktif melakukan “browsing” situs arrahmah.com dan membuka situs http://millahibrahim.wordpress.com/ yang berisi ajakan jihad.

Menurut Onno W Purbo yang alumni ITB itu, upaya pelacakan akan mudah mencegah praktik terorisme, namun penangkalan terorisme agak sulit dibanding mencegah, karena penangkalan itu memerlukan “database” teroris.

“Yang jelas, mencegah teroris itu bisa dilakukan melalui pelacakan, tapi untuk penangkalan juga bisa dilakukan, namun agak sulit, karena memerlukan `database` teroris,” katanya.

Oleh karena itu, kata penggagas RT/RW.Net dan WikiBelajar itu, polisi bisa melakukan pencegahan dan penangkalan jaringan terorisme itu melalui pelibatan orang-orang yang ahli komputer.

“Polisi itu selalu menggunakan bahasa hukum, karena itu untuk mengerti bahasa komputer, maka polisi harus merekrut orang yang ahli komputer dan bila berhasil tinggal diberi bahasa hukum,” katanya.

Dalam seminar itu, Onno yang sudah mengajar TI pada 33 negara berkembang itu menyatakan internet itu mengajarkan pendidikan karakter dan sekaligus pornografi.

“Internet itu memaksa orang menjadi jujur, karena internet itu sadis, sebab kalau ada orang yang satu kali saja tidak jujur, maka ribuan atau jutaan orang akan tahu, sehingga namanya akan hancur,” katanya.

Namun, internet juga mengajarkan keburukan yakni pornografi, terorisme, dan sebagainya. “Untuk menangkalnya tidak mungkin hanya dengan teknologi, karena teknologi juga terbatas. Cara terbaik adalah berteknologi tapi juga beriman dan bertakwa,” katanya. (IRIB/Kompas/Republika/AR)

Categories: AGAMA, Dalam Negeri | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: