Sadra, Kahak dan Sebuah Jalan Baru

Oleh: Afifah Ahmad
Jiwa tanpa cinta dan hati tanpa kasih, hanya hadirkan getir
Lihatlah kebersamaan udara dan tanah berdebu ini
(Mulla Sadra, filsuf dan Arif besar Islam)

Ketakjuban masih menyelimutiku saat mendapati diri berada di tengah-tengah padang sahara, di antara bukut-bukit pasir yang berkilauan bermandikan cahaya matahari. Sejak kecil, aku kerap dihinggapi rasa penasaran pada gurun-gurun yang digambarkan dalam cerita para Nabi.

Liukan pasir yang membentang, unta-unta berjalan gontai dan oase, selalu saja menjejali alam imajinasiku. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, gurun-gurun itu tersaji di hadapan mata, meskipun tak kujumpai musafir juga unta-unta berjalan, hanya ada kesunyian dan deru mobil kuning yang menghantar perjalananku menuju dusun Kahak, rumah Mulla Sadra.

Lepas dzuhur, mobil terus menapaki jalan sempit beraspal meninggalkan kota kecil Pardisan di Selatan Qom. Meski matahari sedang berada tepat di atas kepala, namun angin dingin yang lebih terasa kuat, karena kami memang datang di akhir musim gugur. Bila, bertepatan musim panas, mungkin sekarang ini kami tengah terjerembab dalam pusaran angin panas yang mencapai 50 derajat celsius. Provinsi Qom, memang termasuk salah kota yang memiliki iklim cukup ekstrim, terutama di musim panas.

Sejujurnya, ada debar tersendiri saat memutuskan untuk mengunjungi dusun Kahak. Bagaimana tidak, penduduk kota Qom saja, banyak yang tidak tahu persis lokasi desa itu. Sulit mencari informasi angkutan umum yang melintas ke arah sana hingga memaksa kami untuk menggunakan mobil sewaan. Untungnya, supir yang kami tumpangi ini, memiliki kenalan yang tinggal di Kahak, setidaknya ini membuatku sedikit lega.

Sejauh mata memandang, di kiri kanan jalan hanya tersuguh pegunungan terjal, bukit-bukit pasir dan sabana kering. Potret alam itu seakan ingin bercerita banyak tentang kegersangan yang melanda tempat ini sejak bertahun lalu.

Kalau melihat geografis setempat, wilayah Qom memang dikitari Kavir, padang sahara yang kering. Di tempat ini, sulit ditemukan mata air, kecuali dengan menggali beberapa ribu meter dari permukaan tanah. Namun, Kahak sendiri sebenarnya adalah daerah yang cukup subur dibandingkan dengan tempat-tempat lain di sekitarnya. Hanya saja, lokasinya sangat jauh dari pusat kota, sekitar 45 km sebelah Tenggara kota Qom. Baru beberapa tahun ke belakang, jalan yang menghubungkan Kahak dan Qom mulai dibenahi. Tak terbayangkan saat masyarakat masih menggunakan transportasi sederhana seperti unta dan keledai, bagaimana cara melintasi alam seganas ini?

Perjalanan terjal menyusuri jejak Sadra ini mengingatkanku pada kedatangan Henry Corbin, filsuf Perancis yang mengunjungi Iran di tahun 1945, angka yang sangat istimewa bagiku sebagai warga Indonesia. Jika di tahun itu, para orang tua dan kakek kita baru saja lega menghirup udara kemerdekaan, Corbin telah melakukan penjelajahan pemikiran filsafat Islam jauh ke jantung Persia. Lewat pencariannya ini, Corbin berhasil menemukan mata rantai pemikiran filsafat Islam yang tersambung dari sisa kejayaan Islam klasik.

Jika di belahan dunia muslim lainnya, filsafat sudah tutup buku dengan mangkatnya Ibnu Rushd, Corbin justru menemukan sebuah gejolak baru di dataran Iran yang hanya terdengar samar-samar di belahan Eropa. Orientalis lainnya yang menyusul Corbin menyelam keilmuan Timur di Persia adalah pasangan peneliti William Chittick dan istrinya Sachiko Murata. Bahkan, Murata sempat melanjutkan Ph.D nya di Tehran University pada bidang literatur Persia. Penyusuran ini terus berlangsung hingga Gery Legenhausen, filsuf Amerika akhirnya tertambat di kota Qom, menjadi pengajar filsafat di Institut Imam Khomeini dan menikahi wanita Persia yang juga menggandrungi filsafat.

Tidak seperti mereka yang berburu filsafat, kedatanganku hanya untuk sedikit mereguk kekayaan khazanah Timur, terutama jejak para arif dan filsuf, sembari memunguti sisi-sisi kehidupan lain yang tak terjelaskan dalam berbagai buku maupun catatan.

***

Pandanganku tak henti mengintai bukit-bukit pasir dari balik kaca mobil, sementara pikiran menerawang membayangkan rombongan Sadra dan keluarganya yang terseok-seok menyusuri lautan pasir gersang dan pegunungan terjal di antara badai gurun yang mematikan. Siapa yang menyana, seorang filsuf besar yang karya-karyanya saat ini menjadi bahan diskusi di seminar-seminar Internasional, pernah menghabiskan masa hidupnya di sebuah dusun terpencil seperti ini.

Para pecinta ilmu dan kebijaksanaan memang seringkali harus memikul derita demi apa yang diyakininya.Sejak kejayaan Yunani, Socrates telah memperagakan drama tragis dalam pembelaannya atas konsep kebijaksanaan, meski mati akhirnya menjadi pilihan. Sejarah terus berulang, selanjutnya di abad pertengahan, Galileo dan Copernicus harus menelan kepahitan serupa. Di dataran Timur pun, tak sedikit para pemikir yang terpaksa mendekam dalam sel-sel gelap bawah tanah hingga mengakhiri hidupnya di sana seperti Suhravardi. Sebagian di antara mereka memilih tersingkir dari tanah kelahirannya dan rela mengembara ke negeri-negeri terasing. Mereka melintasi ribuan kilometer ganasnya padang pasir yang setiap saat bisa merenggut jiwanya dan orang-orang terkasih.

Ya, Mulla Sadra adalah salah seorang yang bernasib serupa. Buah pemikiran barunya yang terus menggelontor, menyedot perhatian para pelajar muda. Kenyataan ini, dianggap membahayakan status quo para pemangku otoritas ilmu saat itu. Mereka terus mengintai dan menelikung Sadra dari berbagai arah, terutama tudingan ajarannya sebagai sufigari, mistisisme. Sebagian pembesar yang melingkar di istana itu, mulai menghembuskan angin tak sedap ke arah Sadra. Dan jalan ‘terasing’ akhirnya menjadi pilihan.

Taksi terus melaju di jalanan sampai bertemu sebuah papan nama bertuliskan: “Be Shahr-e Kahak, manzilatghah Molla Sadra, filsof buzourg-e Jahan-e Islam Khosh Amadid” Selamat datang di kota kecil Kahak, rumah Mulla Sadra, filusuf besar dunia Islam. Mobil sewaan berhenti sejenak, kunikmati langit biru yang belakangan sulit didapat di kota Tehran, akibat polusi.

Sementara, angin musim gugur mendesak masuk lewat jendela mobil yang dibiarkan terbuka. Ah…sahara, langit biru dan terpaan angin ini seakan ingin menyedotku ke sebuah lorong waktu, empat abad lalu.

Di tempat ini pula, kafilah kecil yang lelah disambut penduduk setempat dengan penuh suka cita.
“Kami sangat menanti Anda” Ujar pemuka desa itu.
Bagi Sadra, yang berkecimpung di dunia irfan, tak heran mendengar sapaan yang mengisyaratkan bahwa kedatangannya telah diketahui. Tapi, sekedar memperjelas ia tetap bertanya.
“Bagaimana Anda mengerti kedatangan kami?”
“Sejak Imam shalat di desa ini meninggal, kami selalu berdoa agar dikirimkan seorang Imam Shalat lain dan ternyata Andalah orangnya” Begitu papar pemuka desa.

Mulai saat itu, Sadra didaulat menjadi ustad oleh penduduk setempat. Selepas menunaikan shalat berjamaah, diadakan sesi tanya jawab ringan seputar hukum Islam dan masalah keseharian. Hati Sadra kian tertambat di tempat ini. Masyarakat menghadiahkan kepadanya sebidang tanah dan kebun. Sambil bertani, mengajar anak-anak di madrasah juga memprakarsai lingkaran diskusi para pemuda, Sadra pun melanjutkan beberapa karyanya yang tertunda.

***

Kahak hari ini, tentu sudah banyak berubah dari sejak kedatangan sang Musafir. Pohon-pohon rindang membelah jalanan aspal, toko-toko kelontong berjajar layaknya di perkotaan, gang-gang rumahan terlihat lebar juga rumah-rumah penduduk yang dilapisi keramik. Hanya ada beberapa bangunan yang masih tampak klasik dan dibiarkan tanpa tembok. Kahak sudah berbenah menjadi kota kecil yang cantik.

Setelah melewati berbagai kelokan, mobilpun tiba di mulut sebuah jalan kecil. Tak sabar ingin segera beranjak turun, menelisik lebih jauh rumah kuno yang terletak di ujung gang.

Di bagian tengah bangunan, terdapat kubah mungil yang terbuat dari tanah liat dan batu bata sederhana, ada empat pintu yang menghubungkan empat ruangan. Pepohonan rindang turut menghiasi halaman yang tidak terlalu luas. Persis di samping rumah, terdapat cekungan panjang yang konon dahulunya adalah sungai. Sementara bukit terjal terbentang melatari dusun mungil ini.

Sebuah tempat yang amat cocok untuk menumpahkan segala ide yang berjejalan di kepala. Ah…pantas saja, beberapa karya besar Sadra menyempurna di tempat ini. Di bawah sebuah pohon langsing yang ditinggalkan daun-daunnya, Aku berdiri mengaduk-aduk kata yang berlintasan di kepala.

Gerbong Pemikiran Timur

Masih kutatap pintu kayu rumah Sadra, berharap mullah dan filsuf itu datang menyambut kami, menyediakan teh hangat sambil mendedah rupa-rupa perjalanan hidupnya yang menakjubkan. Tapi, tak ada seorangpun yang datang, rumah itu senyap, karena memang telah lama ditinggalkan penghuninya, empat abad silam. Hanya ada lambaian ranting-ranting pepohonan di pekarangan rumah, diayun-ayun angin musim gugur.

Ingatanku melayang pada sebuah kelas filsafat yang pernah kuikuti beberapa tahun lalu. Suara Khanom Alubuyeh, pengajar muda filsafat, seperti kembali berlintasan. Sejak mengenal nama Sadra, aku semakin penasaran pada sosok yang satu ini.

Ia dikenal karena kegemilangannya melahirkan temuan-temuan baru dalam ranah filsafat seperti gradasi wujud, gerak substansial, juga kepiawaiannya mendekatkan tiga disiplin penting ilmu keislaman, filsafat, kalam dan irfan. Di samping sebagai filsuf dan gnostik, Sadra juga menulis buku tafsir yang cukup mumpuni. Namun lebih dari itu, sosok Sadra sendiri mampu menghembuskan nafas segar bagi pemikiran dunia Timur dan Islam.

Dalam beberapa tulisannya, Corbin sangat terinspirasi oleh pandangan Mulla Sadra. “Sadra telah melakukan kerja besar dengan meramu berbagai disiplin ilmu, menghidupkan kembali kreativitas masa lalu. Bahkan dengan tegas, Corbin juga pernah memuji, “jika kita bisa menempatkan Jakob Boheme (1575_1624) dan Emanuel Swedenborg (1688-1772) bersama, dan menambahkannya dengan Thomas Aquinas (1225-1274), maka lahirlah Mulla Sadra” Sejak itu, pemikiran Sadra mulai menjadi bahan perbincangan para pecinta filsafat di dunia.

Lewat karya-karyanya seperti The Man of Light in Iranian Sufism dan History of Islamic Philosophy, Corbin mulai menyelami pemikiran Ketimuran dan memperkenalkannya ke dunia Barat. Pemetaan yang dilakukan Corbin dalam History of Philosophy cukup lengkap dan detail. Bahkan, ia membuat klasifikasi filsuf muslim pasca Ibnu Rushd dari Suhravardi hingga Mulla Sadra, dari mazhab Khorasan sampai mazhab Isfahan.

Sebuah penyambung mata rantai yang sudah terpotong begitu lama di belahan dunia lain. Kenyataan ini menunjukkan, sebenarnya gerbong pemikiran Timur masih terus berjalan sejak masa kejayaannya. Dan Sadra, di antara penarik gerbong yang memiliki peran begitu penting.

Tegar Diterjang Badai

Di sepanjang jalan, di antara gunungan pasir, kulihat satu dua pohon kering yang ditinggalkan daun-daunya, sendiri dan sunyi menanti musim demi musim untuk mendapatkan kembali daunnya, tegar di tengah badai sahara yang ganas. Begitulah sosok Sadra yang kubayangkan. Terasing jauh dari tempat kelahirannya, menghadapi berbagai ujian untuk sebuah tekad yang kuat.

Semuanya tentu membutuhkan amunisi dan kesungguhan tak terbilang untuk menempatkan raga dan hati di dusun terpencil seperti ini. Ratusan malam mungkin telah ia lewatkan dalam bacaan dan renungan panjang di bawah redup cahaya lentera. Terkadang, bila persoalan tak terpecahkan menjejali kepalanya, ia rela berjalan kaki puluhan kilometer ke tempat peristirahatan terakhir Sayyidah Maksumah untuk memperoleh kejernihan pikiran.

Sadra seperti ingin membisikkan pada kita, untuk mendekati cahaya ilmu dan pemilik sumber cahaya itu sendiri, manusia harus mengoptimalkan segala daya yang dimilikinya.

Dalam teori gradasi wujud yang digulirkannya, Sadra menjelaskan bahwa manusia sangat mungkin melesatkan potensi dirinya menjadi wujud yang menyempurna. Tapi, semua itu memiliki tingkatannya masing-masing, perlu mengatasi rintangan lahiriah apalagi ruhiah. Dalam istilah keseharian kita, tak ada orang sukses dalam semalam. Barangkali, hikmah bisa dicapai hanya beberapa saat lewat ilmu hudhuri, tapi untuk sampai pada ilmu hudhuri sendiri manusia memerlukan jalannya yang panjang dan terjal.

Filsuf yang Membumi

Menyimak perjalanan para arif dan sufi dalam meraih cinta Tuhannya, terasa begitu indah. Tak jarang mereka yang sudah menikmati keindahan cinta itu akan larut melupakan dirinya bagaikan laron yang mendekati cahaya lalu terbakar bersamanya. Tetapi, para arif sejati justru menjadikan keindahan ini sebagai titik tolak untuk meraih keindahan lainnya dengan membagikan apa yang dirasakannya pada sesama.

Ia akan mengajak orang di luar dirinya untuk turut serta mencerapi keindahan yang diserapnya dengan cara hidup dan berada di tengah masyarakatnya, meraih tangan-tangan mereka untuk menapaki jalan cahaya. Hingga cahaya yang diterima, tidak hanya diserap, tapi juga dipantulkan kembali kepada wujud-wujud lain di sekitarnya.

Semangat ini bisa ditelisik dalam penjelasan perjalanan ke empat (terakhir) teori Asfar Arbaah atau empat perjalanan sebagai magnum opusnya Sadra, yaitu kembali dari pencipta kepada makhluk dalam kebenaran.

Tentu saja, teori ini lahir karena si pemiliknya memang menjadi bagian dari masyarakat setempat, hidup dan mengajar di antara mereka. Para pencari ilmu dan pecinta filsafat yang mengetahui kehadiran Sadra di dusun Kahak, lamat-lamat mulai berdatangan mereguk hikmah dari sang guru. Musafir itu seperti menebar berkah di tempat yang baru dipijaknya.

Sampai hari ini pun, aroma kecintaan masyarakat setempat masih dapat tercium. Di sebuah bengkel mobil yang terletak di samping gang rumah Sadra, di salah satu dindingnya kujumpai poster Mulla Sadra, sebuah pemandangan yang cukup unik. Begitu juga, sambutan masyarakat sangat antusias saat kami menanyakan rumah Sadra, mereka dengan penuh kebahagiaan mengantarkan kami sampai ke lokasi.

Lebih dari empat ratus tahum lalu, nampaknya kesinggahan sang musafir ke tanah Kahak ini masih begitu dikenang masyarakat. Karena Sadra memang membagi keberkahan langit yang diraihnya kepada sesama.(IRIB/AA/PH)

Qom, 02 Desember 2010

Categories: Sosial - Budaya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: