Wikileaks, Alat Propaganda AS?

 

Sepekan setelah publikasi dokumen yang masuk klasifikasi rahasia Kementerian Luar Negeri AS oleh situs WikiLeaks, beragam tanggapan masih mewarnai aksi yang menghebohkan itu. Asisten Menteri Luar Negeri AS, Nicholas Burns menyatakan bahwa perilisan dokumen-dokumen tersebut telah memukul diplomasi Amerika.

Pendiri WikiLeaks, Julian Assange dalam wawancara dengan sebuah koran Spanyol, mengatakan, “Jika peran Presiden Barack Obama dalam peristiwa spionase terhadap para pejabat PBB terbongkar, maka ia harus meletakkan jabatannya.”

Dalam beberapa hari terakhir, kawat-kawat diplomatik para pejabat AS dibocorkan oleh WikiLeaks dan disebarkan ke publik. Pada beberapa bagian dokumen itu ada upaya propaganda terhadap negara-negara independen dan pengkritik AS dan memperuncing ketegangan di kawasan tertentu seperti Timur Tengah dan Semenanjung Korea. Di antara dokumen yang dipublikasikan WikiLeaks, ada sejumlah masalah yang menunjukkan proyek ini telah direkayasa sejak sebelumnya. Ada aksi terorganisir di balik proyek ini dengan tujuan menciptakan perselisihan dan konflik antarnegara Timur Tengah.

Penjelasan ungkapan sebagian pemimpin negara Arab terkait Republik Islam Iran yang dikutip dalam dokumen-dokumen itu merupakan upaya menjustifikasi adanya perselisihan dan konflik hebat antara negara-negara di Timur Tengah.

Para pengamat politik berkeyakinan, dengan mencermati pengaruh kuat Republik Islam Iran di kawasan, maka publikasi berita-berita semacam ini dan fokus media-media secara luas terhadap masalah ini membuktikan ada satu skenario untuk menciptakan perselisihan antara Iran dan negara-negara Arab.

Oleh karena itu, dokumen-dokumen yang sebagiannya disusun berdasarkan analisa para diplomat dan bukan data primer, dianggap sebagai gerakan operasi perang psikologis pemerintah Amerika.

Terlepas siapa yang berada di balik WikiLeaks dan siapa yang diuntungkan atas peristiwa itu, ada sebuah fakta yang terungkap yaitu tingkat kepercayaan sekutu-sekutu politik dan militer AS terhadap negara itu menurun drastis. Dapat dibayangkan kini para diplomat asing khawatir perundingan-perundingan rahasiannya dengan pejabat AS akan tersebar di internet. Masalah ini tentu saja akan menciptakan masalah dalam hubungan militer, keamanan, dan diplomatik AS dengan negara-negara lain.

Poin yang patut dipertimbangkan bahwa AS tengah menyusun program untuk memanfaatkan gelombang kebocoran dokumen oleh WikiLeaks. Mungkin saja dokumen-dokumen yang sekilas terlihat menyudutkan AS, dapat mendukung tujuan-tujuan ekspansionisnya di seluruh dunia. Karena itu perlu kehati-hatian menyikapi langkah WikiLeaks dalam merilis dokumen-dokumen tersebut.

Ternyata Ada Koordinasi Antara WikiLeaks dan Deplu AS

Media-media Amerika Serikat mengungkap bahwa pemerintah Washington sebagai aktor utama kebocoran dokumen-dokumen di situs WikiLeaks. Koran Jomhouri Eslami cetakan Tehran, Senin (6/12) menulis, “Di tengah kegusaran para pejabat AS atas bocornya sejumlah kawat diplomatik di situs WikiLeaks, sejumlah pemimpin redaksi senior majalah Newsweek menegaskan bahwa ada koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri AS dalam merilis dokumen-dokumen tersebut.”

Menurut keterangan mereka, pemerintah Barack Obama memberi pertimbangan dalam menyeleksi dokumen itu dan juga mempublikasikan, membesar-besarkan atau membatalkan publikasi konten tertentu. Padahal tanpa pengakuan ini juga terlihat ada gerakan terorganisir yang menargetkan tujuan-tujuan tertentu.

Pernyataan eksplisit dari orang-orang yang terlibat menerbitkan dokumen-dokumen tersebut membuktikan bahwa para pejabat Washington selain tidak gusar atas perilisan itu, tapi malah berusaha mengeksploitasi momen itu untuk tujuan tertentu dan progam politik.

Menurut koran Jomhouri Eslami, Perdana Menteri rezim Zionis Israel Benyamin Netanyahu menyambut langkah WikiLeaks dan mengatakan, “Untungnya semua dokumen itu tidak ada yang anti Israel dan Tel Aviv sama sekali tidak mengkhawatirkan publikasi dokumen-dokumen tersebut.”

Situs WikiLeaks juga mengkonfirmasikan publikasi empat juta dokumen rahasia pemerintah AS dalam waktu dekat. Sambutan luar biasa Netanyahu adalah bukti bahwa ia yakin bahwa dokumen-dokumen berikutnya juga sama sekali tidak akan mengancam kepentingan Israel.

Ini berarti para pejabat Israel yakin bahwa informasi-informasi yang akan dibocorkan sudah difilter secara rapi dan mustahil bila tidak ada informasi tentang Israel yang bocor.

Tapi masalah yang lebih penting dari itu adalah perilaku Washington yang mencurigakan terhadap kebocoran dokumen-dokumen rahasia dalam jumlah besar, tulis Jomhouri Eslami.

Para pejabat Amerika dan dinas-dinas intelijen sebelumnya menunjukkan aksi intensitas setinggi mungkin terhadap tersangka dan bahkan mereka yang entah bagaimana bisa mengakses informasi rahasia, sementara sekarang dengan volume besar informasi yang bocor, pemerintah AS tidak menunjukkan reaksi yang sesuai dengan dimensi bahaya dan kerugian yang mereka derita.

Pejabat Washington hingga kini belum menunjukkan reaksi kerasnya atas kebocoran empat juta dokumen rahasia milik lembaga diplomasi AS.

(IRIB/RM/SL)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: