65 Tahun, DPR Masih TK

Gedung DPR

Kemarin, (Minggu,29/8) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) genap berusia 65 tahun.

Usia yang semestinya menunjukkan kematangan, kebijakan, sekaligus kearifan.

Tetapi, maaf, semua itu masih jauh dari DPR. Bahkan dalam usianya yang ke-65, seperti kata almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid, DPR masih menjadi murid taman kanak-kanak.

Kado ulang tahun kali ini bukanlah catatan kenangan manis, tetapi penuh dengan noktah kelam. Sejarah 65 tahun DPR tidak ditulis dengan tinta emas heroik, tetapi coretan kekecewaan yang menikam ke ulu hati rakyat. Secara jujur harus dikatakan dalam era reformasi, DPR lebih mewakili masing-masing pribadi anggota dan partai politiknya. Jauh dari representasi rakyat.

Suara dan aspirasi rakyat lenyap di lobi-lobi hotel karena menjadi alat transaksi dan barter kepentingan anggota dewan. Tak dapat ditampik, anggota dewan telah menyewa nuraninya demi mengisi pundi-pundi pribadi dan partai.

Sejumlah anggota dewan dibui karena menilap uang negara. Mereka berubah total dari wakil rakyat terhormat menjadi koruptor yang nista. Dari sisi legislasi, DPR pun menghasilkan undang-undang berusia pendek. Banyak undang-undang dibuat untuk kepentingan dan keuntungan masa kini. Akibatnya, undang-undang yang baru saja disahkan langsung diuji di Mahkamah Konstitusi (MK) dan kemudian dibatalkan.

Bukan rahasia lagi dalam pembuatan undang-undang terjadi politik dagang sapi. Pasal-pasal diniagakan. DPR bisa dengan mudah meloloskan pasal-pasal ‘bernilai ekonomi tinggi’ dan menyingkirkan pasal-pasal idealisme.

Dalam menjalankan fungsi anggaran, DPR pun muncul sebagai sosok yang piawai mengemas kepentingan pribadi dan partai atas nama rakyat. Rakyat dengan sangat mudah dijual untuk menggerogoti APBN.

DPR menjadi benalu politik yang menyedot APBN untuk kepentingan pribadi. Tidak hanya itu. Anggota DPR juga terbukti menjadi calo anggaran atau memelihara makelar proyek.

Lihatlah mata anggaran yang ngotot diperjuangkan DPR seperti dana aspirasi rakyat, rumah aspirasi rakyat, dana infrastruktur daerah pemilihan. Semua itu untuk kepentingan mereka atas nama rakyat.

Sebuah survei menyebutkan kredibilitas parpol dan DPR memang rendah di mata publik. Tingkat kepercayaan publik kepada DPR hanya 56%, dan terhadap parpol 48%. Itu karena parpol terlalu sibuk mengurusi kepentingannya sendiri ketimbang kepentingan bangsa dan negara. Parpol lebih banyak menjual slogan dan retorika daripada berbuat nyata.

Masyarakat lelah, pesimistis, bahkan apatis melihat sikap dan perilaku anggota dewan. Simak tabiat mereka yang tidak berubah. Tetap gemar pelesiran ke luar negeri menghambur-hamburkan uang rakyat, tidur pulas di ruang sidang, asyik menelepon saat rapat, bahkan sering bolos.

Dalam banyak hal, DPR justru menjadi musuh dan melukai hati rakyat. Lalu DPR mewakili siapa? Dalam menyambut ulang tahun ke-65 ini, kiranya tiada kado yang terbaik bagi DPR selain anjuran untuk berkaca dan introspeksi. Bertanya kepada diri sendiri: kapan naik kelas? Malu ah taman kanak-kanak terus.

Selamat ulang tahun, selamat berkaca, tapi jangan buruk muka, cermin dibelah.(IRIB/media indonesia)

Categories: Dalam Negeri | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: