Cakar di Balik Sarung Beludru Amerika

Ketua Parlemen Republik Islam Iran Ali Larijani menganggap tawaran perundingan Amerika Serikat sekedar langkah hipokrit dan tipu daya. Larijani pada sidang terbuka parlemen Iran, Ahad (15/8) saat menyinggung ajakan perundingan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton soal isu Afghanistan, menyatakan, Iran menentang agresi militer AS dan NATO di Afghanistan serta kezaliman dan kejahatan menimpa rakyat negara tersebut. Tehran tidak memiliki jalan yang searah untuk berunding (baca: dengan AS)”.

Sembari mengungkit ulang peran langsung AS dalam aksi Kudeta 19 Agustus 1953, Larijani kepada pemerintah AS mengingatkan, “Jangan kalian kira dengan melontarkan kata-kata baru, kalian bisa meringankan beban pengkhianatan kalian terhadap bangsa Iran. Sebab bangsa Iran sadar betul bagaimana AS dalam berbagai periode sejarah mencederai kepentingan bangsa Iran”.

Pada dasarnya, bila kita tengok kembali rekam jejak AS dalam merampas hak-hak dan kepentingan bangsa Iran, tampak nyata bahwa kebijakan intervensif Washington selalu mendominasi sejarah perlakuan AS terhadap Iran. Perjalanan sejarah selama tiga dekade terakhir, pasca kemenangan Revolusi Islam juga menunjukkan bahwa permusuhan AS terhadap Republik Islam Iran menjelma dalam beragam model.

Selama beberapa tahun belakangan, AS dan Inggris mengejar dua sasaran strategis. Pertama pada tataran regional, mereka bermaksud membendung pengaruh Revolusi Islam dan menguasai sumber-sumber energi di Timur Tengah dengan cara menduduki Afghanistan dan Irak serta menempatkan militernya di kawasan. Target kedua adalah menciptakan revolusi berwarna dan perang lunak untuk meruntuhkan pemerintahan Republik Islam Iran dengan cara menyokong gerakan teroris dan memunculkan konflik sektarian dan antar-etnis. Bersamaan dengan itu, mereka juga terus menerapkan tekanan dan sanksi yang lebih keras terhadap Iran, mulai dari larangan investasi di sektor energi sampai pengharaman ekspor bensin. Semua itu merupakan bukti bahwa permusuhan AS terhadap Iran masih terus berkobar.

Kini, setelah mereka merasa gagal menundukkan bangsa Iran lewat berbagai cara, Washington pun berusaha menutupi kegagalannya itu dan mengelabui opini publik dengan cara menawarkan perundingan; seolah-olah AS adalah pihak yang cinta dialog dan peduli terhadap nasib rakyat Iran. Namun trik muslihat semacam itu sudah terendus lebih dahulu.

Oleh karena itu, sebagaimana yang ditegaskan Larijani, sejatinya tipu daya AS tersebut justru makin menampakkan jati diri AS yang sebenar. Meminjam gaya bicara Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatollah Khamenei, “Di balik tangan panjang yang terselubung sarung beludru itu, terkuak cakar yang siap mencabik” (IRIB/LV/NA)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: