Bayang-Bayang Perang Dingin AS-Rusia

Kementerian Luar Negeri Rusia, Sabtu (7/8) menuding Amerika Serikat sebagai biang masalah munculnya krisis di kawasan konflik Ossetia Selatan, musim panas 2008 lalu lantaran menjual persenjataan kepada Georgia.

Seperti diketahui, menyusul agresi militer Georgia ke Ossetia Selatan pada musim panas 2008, tentara Rusia akhirnya turun tangan ke medan pertempuran dan memaksa tentara Georgia hengkang dari wilayah tersebut.

Dalam kritikan lainnya terhadap Washington, Moskow mengklaim bahwa Amerika Serikat melanggar komitmennya terhadap kesepakatan pengendalian senjata, larangan pengembangan senjata nuklir, kimia, biologis, dan rudal balistik.

Kritikan tajam Rusia kali ini dilontarkan pada saat Senat Amerika Serikat menunda pengesahan Traktat Pengurangan Senjata Strategis (START) antara Moskow-Washington. Selain itu, langkah AS belakangan ini dalam meningkatkan daya militernya, seperti penguatan sistem peluncur rudal balistik antarbenua, dan mempersenjatai ulang pesawat-pesawat besar pembomnya turut memantik kegusaran Kremlin.

Tidak hanya itu saja, ekspansi militer Amerika Serikat di Eropa, seperti lobi diplomasi Washington untuk memasang instalasi radarnya di selatan Eropa, penempatan situs radar di Ceko dan sistem pertahanan anti-rudal di Polandia juga turut menyulut kemarahan Rusia.

Tentu saja, Negeri Beruang Putih itu pun tidak tinggal diam begitu saja mereaksi manuver militer Paman Sam. Karena itu, Rusia pun memutuskan untuk menempatkan rudal pintarnya, Iskander di kawasan Kaliningrad, tak jauh dari perbatasan Polandia. Dalam aksi terbarunya yang lain, Rusia juga mengujicoba dua rudal antarbenua yang mampu mengangkut hulu ledak nuklir.

Kenyataan ini tampaknya sangat kontras dengan upaya akhir pemimpin kedua negara yang berupaya memperbaiki hubungan bilateral dan meredam ketegangan. Sebagian analis menilai kondisi tersebut sebagai dampak dari ketiadaan rasa saling percaya antara Washington dan Rusia. Bahkan hawa perang dingin masih meliputi hubungan kedua negara. Apalagi belakangan ini, Gedung Putih juga menolak usulan Rusia soal pembentukan struktur baru keamanan di Eropa. Sebab, jika usulan tersebut terealisasi maka peran Rusia di Eropa pun bakal makin santer sementara dominasi AS bisa terancam kian pudar.

Ekspansi NATO ke Eropa Timur dan penguatan militer AS di negara-negara sekitar Rusia menunjukkan bahwa logika militer Gedung Putih masih seperti di era Perang Dingin. Washington hanya berambisi untuk melemahkan rival lamanya. Kalaupun belakangan ini AS tampak ingin memberikan peran yang lebih besar kepada Rusia di kancah internasional dan berusaha mendekatinya, semua itu tak lain hanyalah trik untuk melimpahkan beragam persoalan dan krisis yang mendera AS. (IRIB/LV)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: