Tekanan AS di Negeri Matahari Terbit

Perdana Menteri (PM) Jepang Naoto Kan menolak permintaan Walikota Hiroshima Tadatoshi Akiba dan menyatakan bahwa Jepang tidak dapat keluar dari payung nuklir AS. Walikota Hiroshima pada acara peringatan 65 tahun pemboman atom ke kota tersebut, menginginkan Jepang keluar dari payung nuklir AS dan mengambil tanggung jawab kepemimpinan perlucutan dan penyebaran senjata nuklir di dunia.

Akiba juga meminta pemerintah Tokyo untuk memegang komitmennya terkait larangan produksi, impor dan perluasan senjata nuklir. Menurut Akiba, Jepang perlu keluar dari payung nuklir AS demi membela korban serangan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki. Korban peristiwa tragis itu senantiasa mendorong negara-negara dunia untuk memusnahkan senjata nuklir.

Ketika menjustifikasi alasan menolak permintaan Walikota Hiroshima, Naoto Kan menyinggung keberadaan senjata nuklir di kawasan dan faktor-faktor yang tidak jelas di Asia Timur. Meskipun PM Jepang tidak menyebut nama Korea Utara, namun para pengamat politik menilai kekhawatiran dominan pemerintah Jepang menyangkut keberadaan senjata nuklir di Korea Utara.

Menurut para pengamat politik, AS dengan menempatkan senjata nuklir di Korea Selatan dan Jepang, secara praktis telah mendorong Korea Utara untuk mengembangkan program senjata nuklir militer. Masih menurut pengamat, keengganan Jepang untuk keluar dari payung nuklir AS dikarenakan kebijakan nuklir Abang Sam di kawasan. Jepang tetap berada di bawah tekanan AS dan tidak mampu mengambil kebijakan independen di bidang militer.

Kehadiran Jepang di bawah payung nuklir AS telah menjadi alat pembenaran bagi Gedung Putih atas keberadaan senjata nuklirnya di kawasan khususnya di pantai-pantai Jepang dan Korea Selatan. Padahal Jepang berdasarkan tiga landasan penting nuklirnya tidak boleh memberi izin kepada negara manapun bagi penempatan senjata nuklir di perairannya. Tiga landasan itu adalah larangan produksi, impor dan perluasan senjata nuklir.

Penekanan Naoto Kan untuk tetap berada di bawah payung nuklir AS memperlihatkan bahwa Washington telah meningkatkan tekanannya terhadap Tokyo demi memelihara kerjasama militer kedua negara.

Berdasarkan nota kesepakatan keamanan dengan AS, militer Jepang dilarang terlibat dalam pertikaian-pertikaian internasional. Namun AS secara sepihak melanggar kesepakatan itu dan menghendaki partisipasi tentara Jepang di Afghanistan dan Irak. Langkah ini menunjukkan bahwa Washington akan melanggar kesepakatannya dengan negara-negara lain demi memenuhi kepentingan dan ambisinya. (IRIB/RM/SL)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: