Motif Lawatan PM Inggris ke AS

Barack Obama-Presiden Amerika&David Cameron-Perdana Menteri Inggris

David Cameron, Perdana Menteri Inggris dalam lawatan pertamanya ke Amerika ‎Serikat hendak mengulang masa keemasan hubungan London-Washington yang ‎pernah gemilang pada periode Churchill dan Thatcher. Dalam literatur media dan ‎politik AS dan Inggris, kedua pemimpin ini disebut-sebut sebagai simbol ‎keberhasilan uapaya London mendekatkan hubungan strategis antarnegara besar ‎dunia, termasuk Inggis dan AS. ‎

Selama 70 tahun silam, kedekatan hubungan ini berhasil meminimalisasi friksi kecil ‎antarpara pemimpin partai kedua negara. Tony Blair, mantan perdana menteri ‎Inggris dari Partai Buruh mengekor kebijakan unilateral George Bush, hingga ‎media massa Inggris sendiri menyebut Blair sebagai anjing piaraan Bush. ‎

Setelah Blair, Cameron dari kubu Konservatif dalam statemennya menegaskan ‎pengokohan hubungan bilateral London-Washington. Meski demikian, Perdana ‎Menteri Inggris ini mengingatkan bahwa persahabatan ini jangan sampai ‎menjadikan Inggris sebagai budak AS. Seraya mengkritik kebijakan pendahulunya ‎Blair yang mendukung agresi militer AS ke Irak dan Afghanistan, Cameron ‎mengatakan, Inggris di tangan Blair menjadi mitra AS yang tidak kritis dan patuh ‎terhadap Washington. Statemen ini keluar dari seorang pejabat tinggi Inggris yang ‎mendukung pengokohan solidaritas dengan AS sebagai prioritas kebijakan luar ‎negeri partainya. ‎

Kubu Konservatif selama ini dikenal sebagai partai yang menjalin kedekatan ‎dengan Washington. Hal ini menunjukkan terjadinya transformasi baru berkaitan ‎dengan hubungan AS dan Inggris saat ini. Sebuah perubahan yang menunjukan ‎bahwa Inggris tengah mencari peran yang lebih independen dari AS di arena politik ‎luar negerinya.‎

Transformasi ini berakar dari perubahan sikap Inggris terhadap AS dan pandangan ‎AS terhadap Inggris. Pada Mei 2009, seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS ‎mengeluarkan statemen mengenai hubungannya dengan Inggris dengan ‎mengatakan, “Tidak ada yang khusus mengenai hubungan dengan London. Peran ‎Inggris bagi Washington sama seperti 190 negara dunia lainnya. Kalian jangan ‎berharap mendapat perlakuan khusus dari kami.” Statemen ini keluar dari seorang ‎pejabat tinggi AS saat Gordon Brown bertandang ke Gedung Putih. ‎

Setahun setelah peristiwa ini, Komisi di Parlemen Inggris menyatakan bahwa ‎kalimat hubungan khusus harus dihapus dari budaya hubungan bilateral London-‎Washington. Di bagian lain statemennya, Komisi ini menegaskan bahwa kalimat ini ‎bisa menciptakan penantian khusus mengenai manfaat hubungan dengan Inggris ‎di benak warga AS. Benih perselisihan ini memuncak dalam statemen Departemen ‎Luar Negeri AS saat menyikapi friksi antara AS-Argentina pada Februari silam. ‎Dalam statemen tersebut disebutkan bahwa AS mengetahui tekad kuat bangsa ‎Inggris untuk berada di kepulauan ini. Namun hal ini tidak menyebabkan masalah ‎tersebut menjadi hak kedua pihak. ‎

Tampaknya statemen Deplu AS ini hanya menjadi trik untuk mengorbankan mitra ‎lamanya dalam menghadapi Argentina. Stretegi Obama mengenai friksi AS-‎Argentina berseberangan dengan pendahulunya, Reagan.‎

Pada peristiwa perang Malvinas yang meletus 1982, Reagan mendapat tekanan ‎supaya mendukung pemerintah militer di Argentina. Meski demikian, Reagan tetap ‎berpihak mendukung Margaret Thatcher. Dalam buku, ‘Ronald Reagan and ‎Margaret Thatcher: A Political Marriage’ disebutkan bahwa seluruh perdana ‎menteri Inggris sejak Churchill hingga kini dipengaruhi pandangan para pemimpin ‎AS dalam bentuk hubungan timbal balik. Bagi orang Inggris, hubungan khusus ‎bermakna sebagai sebuah peluang khusus untuk mempengaruhi Washington. ‎

Thatcher dan Carter seperti George Bush dan Tony Blair saling mempengaruhi ‎dalam kebijakan mereka masing-masing. Kini muncul pertanyaan apa manfaat ‎yang didapatkan Washington menjalin hubungan dengan London. Dalam hal ini, ‎tidak diragukan lagi kebijakan AS bagi Inggris lebih urgen dari pada kebijakan ‎Inggris bagi Washington. ‎

Di saat hubungan London dan Washington mengendor dan tidak seerat dulu, ‎Cameron menemui Obama di Gedung Putih. Sebagai perdana menteri Inggris, ‎Cameron mengambil sikap yang bertentang dengan keputusan sebelumnya ‎sebagai pemimpin partai konservatif mengenai upaya menghidupkan kembali masa ‎keemasan hubungan London-Washington. ‎

Sebelum pertemuan resminya ke Washington, Cameron mengatakan bahwa peran ‎Inggris dalam kemitraan kedua negara lebih kecil dibandingkan peran mitranya, AS. ‎Statemen ini bermakna pengakuan London atas Washington sebagai saudara tua. ‎Cameron dalam lawatannya ke Gedung Putih tidak bisa menyembunyikan friksi ‎antara London dan Washington. ‎

Sebelum bertolak ke AS, Cameron memanggul dua masalah sensitif yang ‎menyangkut hubungan AS-Inggris, yaitu kebocoran minyak di Teluk Meksiko dan ‎pembebasan al-Megrahi, petugas Dinas Intelejen Libya yang dijatuhi hukuman ‎penjara seumur hidup, karena terlibat ledakan pesawat Pan American.‎

Pada tahun 1988, pesawat penumpang Pan American meledak di salah satu desa ‎di Skotlandia. Peristiwa naas itu menewaskan seluruh penumpang di dalam ‎pesawat tersebut. ‎

Perusahaan minyak Inggris, British Petroleum (BP) berperan besar dalam kedua ‎peristiwa tersebut. Pada peristiwa kebocoran minyak di Teluk Meksiko, Cameron ‎membela BP. Pembelaan Perdana Menteri Inggris terhadap CEO BP menjadi ‎kebencian bagi masyarakat AS. Meski demikian, Cameron menilai pembelaan ‎terhadap BP sebagai kewajiban dirinya. Karena kelanjutan perusahaan raksasa ‎Inggris ini sangat penting bagi ekonomi Inggris. PB membayar pajak senilai ‎milyaran dolar pertahun kepada pemerintah Inggris. Pajak yang diperoleh ‎pemerintah dari BP melampaui tingkat konsumsi minyak yang diproduksi ‎perusahaan itu. ‎
‎ ‎
Masalah lainnya yang menyangkut BP bukan hanya sebatas kebocoran minyak di ‎Teluk Meksiko semata. Sejumlah dokumen membuktikan bahwa perusahaan ‎minyak raksasa itu berupaya menekan Skotlandia untuk membebaskan Abdelbaset ‎al-Megrahi, orang yang dituding terlibat dalam ledakan pesawat Pan American, ‎guna mendapat konsesi sumber minyak dari Libya.‎

Motif pembebasan al-Megrahi pada 11 Mei lalu memicu reaksi keras para senator ‎AS. Mereka mendesak penjelasan resmi pejabat tinggi London mengenai masalah ‎ini. Pembebasan al-Megrahi dan perusahaan BP menjadi agenda pembicaraan ‎antara Cameron dan Obama. Meski demikian, kedua pihak berupaya ‎menyelesaikan masalah tersebut dengan damai sehingga friksi Washington-‎London bisa diredam.‎

Dewan direksi BP mendesak para pejabat pengadilan Skotlandia supaya ‎membebaskan al-Megrahi demi mendapatkan kontrak minyak bernilai milyaran ‎dolar dari pemerintah Libya. Para pejabat pengadilan Skotlandia ketika itu ‎menyatakan bahwa al-Megrahi memiliki penyakit kanker prostat yang diprediksi ‎tidak akan bertahan hidup melebihi tiga bulan. Dengan alasan tersebut, al-Megrahi ‎dibebaskan. Sambutan meriah terhadap kedatangan al-Megrahi di Libya dan ‎kalangsungan hidupnya hingga kini memicu kemarahan warga AS. Cameron dalam ‎lawatannya ke Gedung Putih menyatakan kesiapannya membantu BP dan ‎menyelamatkan perusahaan minyak raksasa ini dari krisis lingkungan yang ‎menimpa Negeri Paman Sam.‎

Inggris dan AS senantiasa saling membutuhkan dalam memainkan peran vital ‎masing-masing di kancah internasional. Masalah ini membuat Gedung Putih dan ‎kubu Konservatif Inggris tetap menjaga hubungan kedua dengan meninjau ulang ‎hubungan khusus dan historis London-Washington. Salah satu buktinya adalah di ‎Afghanistan.‎

Inggris, setelah AS adalah negara yang paling besar mengirimkan pasukan ‎militernya ke Afghanistan. Selama ini, Inggris telah mengirimkan 10 ribu tentaranya ‎ke Afghanistan, di saat opini publik negaranya mendesak penarikan pasukan ‎negara itu dari Afghanistan. Pemerintah Inggris menyatakan akan tetap ‎mempertahankan pasukannya hingga 2014. Padahal, tidak ada proyeksi yang ‎cerah mengenai operasi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di ‎Afghanistan. Setiap hari sejumlah tentara asing tewas di Afghanistan.‎

Cameron dan Obama dalam pertemuan terbaru di Gedung Putih berupaya ‎menampakkan kondisi baik di Afghanistan, meskipun berbagai pakar menilainya ‎sebagai kekalahan fatal yang menjadi perhatian publik dunia.‎(IRIB/PH/SL)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: