Reaksi Iran atas Sanksi Baru Uni Eropa

Jurubicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, Ramin Mehman-parast menyebut penjatuhan sanksi baru Uni Eropa terhadap Iran tidak akan meruntuhkan tekad bangsa Iran untuk meraih haknya yang absah. Sebagaiamana diketahui, para menteri luar negeri negara-negara Uni Eropa, Senin (26/7) dalam sidangnya di Brussel mengesahkan paket sanksi baru anti-Iran sebagai reaksi atas tekad Tehran dalam mengembangkan program nuklir sipilnya. Paket sanksi Uni Eropa itu meliputi larangan investasi di sektor minyak dan gas Iran, pembatasan terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan perbankan Iran, serta pemeriksaan atas kapal-kapal yang berlayar menuju Iran.

Keputusan itu disahkan oleh Uni Eropa hanya selang sehari setelah para menteri luar negeri Brazil, Iran, dan Turki menggelar perundingan segi tiga di Istanbul membicarakan kelanjutan dari Deklarasi Tehran. Sebelumnya, 17 Mei lalu ketiga negara tersebut mengeluarkan deklarasi bersama soal pertukaran uranium. Dalam deklarasi itu dinyatakan kesediaan Iran untuk menitipkan 1200 kg uranium berkadar rendah (LEU) kepada Turki untuk ditukar dengan uranium berkadar tinggi sebagai bahan bakar reaktor riset Tehran.

Baru-baru ini pun, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Manochehr Mottaki usai perundingan segi tiga di Istanbul, Senin (26/7) mengungkapkan kesiapan Tehran untuk berunding dengan 5 negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman (Kelompok 5+1) mengenai isu nuklir pada September nanti.

Selama ini, Iran memang selalu mengedepankan dialog yang adil dan rasional. Hal itu bisa terlihat dari kerjasama konstruktif Tehran dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan sikap transaparannya saat berunding dengan Kelompok 5+1. Perilisan Deklarasi Tehran pada pertengahan Mei lalu, merupakan indikator lain yang membuktikan iktikad baik dan kejujuran Iran dalam program nuklir sipilnya.

Ironisnya Barat selalu saja mereaksi rasionalitas kebijakan nuklir Iran itu dengan sikap destruktif dan konspiratif. AS yang sebelumnya mendorong Brazil dan Turki untuk membujuk Iran bersedia melakukan pertukaran uranium ternyata justru menjadi sponsor penjatuhan sanksi tambahan terhadap Iran di Dewan Keamanan PBB. Padahal saat itu, Ankara dan Brazilia telah berhasil mencapai kesepakatan dengan Tehran sehingga melahirkan deklarasi 17 Mei.

Kini di saat Iran telah sepakat untuk menggelar perundingan baru dengan Kelompok 5+1, Uni Eropa justru mengekor kebijakan unilateralisme AS dan menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran. Tentu saja, sikap standar ganda Uni Eropa itu makin memperparah suasana ketidakpercayaan antara Iran dan Barat. Melihat kenyataan ini memang benar apa yang dikatakan oleh jubir kemenlu Iran bahwa sikap Uni Eropa itu memang tidak konstruktif dan hanya kian memperpelik keadaan. Meski begitu, tekanan dan ancaman semacam itu tidak akan sedikitpun menggoyahkan tekad bangsa Iran untuk memanfaatkan teknologi nuklir bagi kepentingan damai. (IRIB/LV)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: