Rezim Zionis dan Kebijakan Pengerusakan Rumah Palestina ‎

62 tahun berlalu sejak rezim ilegal Zionis mengumumkan berdirinya negara bernama ‎Israel di tanah Palestina. Sejak saat itu dan sampai kini, suara buldozer dan mesin-‎mesin berat terdengar di sana. Buldozer nampaknya mendapat tugas khusus yang tak ‎berkesudahan untuk melindas dan menghancurkan rumah dan meratakan tanah milik ‎warga Palestina guna menciptakan lahan yang tepat bagi pembangunan perumahan ‎baru bagi imigran zionis atau memperluas permukiman yang sudah ada.‎

Proyek pembangunan permukiman tentunya menimbulkan dampak yang terkadang ‎bisa disebut tragedi kemanusiaan. Puluhan, ratusan bahkan ribuan orang yang ‎semestinya hidup damai dan mendiami rumahnya dengan tenang dipaksa harus ‎menguras air mata menyaksikan rumah-rumah mereka dihancurkan oleh buldozer-‎buldozer Israel. Tanpa rumah mereka harus mencari tempat perlindungan yang ‎mungkin saja bisa didapatkan di tempat lain. Mungkin jika kisah itu terjadi di tahun-‎tahun pertama berdirinya rezim ilegal Israel, orang bisa mengatakan, sebuah tragedi ‎yang sudah berlalu. Namun, tragedi yang memiris hati itu masih terus terjadi sampai ‎hari ini.‎

Perilaku yang tak berperkemanusiaan itu sebenarnya sudah diprogram oleh orang-‎orang zionis jauh sebelum Israel berdiri. Program itu sudah disusun pada dekade ‎‎1930 dan 1940 ketika Inggris memegang Mandat atas Palestina. Berdasarkan ‎program DOLT, orang-orang Zionis dikerahkan untuk menyulut ketidakamanan ‎terhadap rakyat Palestina dan setiap hari harus ada tragedi yang mereka buat. ‎Dengan cara ini rakyat Palestina harus memilih satu dari dua pilihan, mati atau ‎pengungsian paksa.‎

Untuk menjalankan program ini, kaum Zionis mengerahkan regu-regu teror yang salah ‎satunya adalah Hagana. Regu-regu teror ini pada dekade 1940-an setiap hari ‎menyusup secara diam-diam ke wilayah permukiman warga dan desa-desa Palestina ‎untuk memasang bahan peledak di mana-mana. Pintu-pintu dan jendela rumah yang ‎terbuat dari kayu dilumuri bensin lalu dibakar. Percikan api itu memicu ledakan dinamit ‎yang sudah disebar. Dengan cara ini mereka membakar dan memberangus desa-‎desa Palestina dan menghilangkannya dari peta. ‎

Mungkin Anda pernah mendengar nama desa Deir Yassin dan Kafr Kassem yang ‎sudah berubah menjadi pedesaan Zionis. Kedua desa itu dan masih banyak desa ‎lainnya adalah korban kekejaman orang-orang Zionis. Program perluasan wilayah ‎Israel selalu terjadi di atas penderitaan dan dengan tumpahan darah rakyat Palestina. ‎Karena itu, para pengamat menyebut Israel sebagai rezim yang tak beridentitas, ‎sebuah negara yang tanpa bangsa dan negeri.‎

Untuk menjadi sebuah negara, Israel tidak memiliki dua unsur utama itu. Karena itulah, ‎orang-orang zionis berusaha mewujudkan satu unsur penting yaitu negeri dengan ‎merampas negeri bangsa lain. Perampasan itu dilakukan dengan menebar teror, ‎pembantaian dan pengusiran paksa. Sementara untuk memenuhi syarat lain, Israel ‎mendatangkan orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia. Tak heran jika rakyat ‎Zionis terdiri dari berbagai ras dan punya beragam tradisi yang berbeda. ‎

Setelah berdirinya Israel secara tidak sah di negeri Palestina tahun 1948, kaum Zionis ‎masih melanjutkan politik perluasannya. Salah satu agenda utama rezim ini adalah ‎menyulut perang dan merampas, demi untuk mempertahankan eksistensinya. ‎Kebijakan keji penghancuran rumah-rumah warga Palestina dan membangun ‎permukiman untuk imigran Yahudi, penghancuran masjid-masjid dan situs-situs ‎bersejarah Palestina adalah kebijakan yang tak berubah sejak tahun 1948. Kebijakan ‎bahkan dilanjutkan setelah Israel menduduki Gaza dan Tepi Barat Sungai Jordan.‎

Zionis ingin menghapus semua jejak negeri bernama Palestina. Mesin-mesin buldozer ‎Zionis bukan hanya menyasar ke rumah-rumah dan perkebunan warga Palestina, ‎tetapi juga menerjang kota kuno Beitul Maqdis dan situs-situs bersejarah Palestina ‎yang menyimpan kenangan ribuan tahun negeri ini. Tak ada rambu merah yang ‎diperhatikan oleh kaum Zionis dalam menghapus nilai sejarah negeri para nabi ini.‎

Masjidul Aqsha adalah salah satu situs yang terancam kehancuran akibat ulah orang-‎orang Zionis. Tanah-tanah di sekitar masjid ini dirampas untuk diubah menjadi taman, ‎tempat hiburan, dan pusat perjudian. Di bawah lokasi masjid dan sekitarnya dibangun ‎terowongan. Inilah yang dilakukan rezim zionis terutama dalam sepuluh tahun terakhir. ‎Yang menarik proyek pembangunan permukiman Zionis di wilayah pendudukan ‎khususnya di al-Quds digarap di bawah pengawasan Departemen Peperangan.‎

Dengan cara itu, Israel siap menggelar aksi militer jika rakyat Palestina memprotes ‎perampasan rumah mereka. Sejak tahun 1967, yaitu ketika Baitul Maqdis dan Tepi ‎Barat diduduki rezim Zionis, ratusan ribu warga Palestina dipaksa meninggalkan ‎negeri dan kampung halaman mereka. Sebagai gantinya, Israel mendatangkan para ‎imigran Yahudi untuk menempati wilayah Palestina.‎

Sejak awal abad 21, umat Yahudi di seluruh dunia sudah tidak menunjukkan minat ‎untuk berhijrah ke Palestina. Tak hanya itu, rezim Israel saat ini tengah menghadapi ‎dilema besar arus balik para imigran dari Palestina. Akhirnya, Israel melirik Yahudi ‎Afrika untuk didatangkan ke Palestina. Dengan cara ini, Israel berusaha mengatasi ‎masalah kependudukannya.‎

Kini semua orang sudah menyadari bahwa Israel adalah rezim perampas negeri lain, ‎rezim rasialis dan rezim yang tak mengenal perikemanusiaan. Rezim ini tak mengenal ‎kata puas dan selalu ingin memperluas kekuasaannya. Protes dari pihak manapun tak ‎pernah digubris. Pembangunan permukiman zionis terus berjalan dan dinding ‎pemisahpun tetap berdiri. Israel tak segan-segan menghancurkan masjid dan ‎menggantinya dengan sinagog. Proses pendatangan imigran yahudi dari berbagai ‎negara juga terus dilanjutkan.‎

‎62 tahun berlalu dan Israel masih melakukan hal yang sama, memperluas kekuasaan, ‎menghancurkan perumahan warga Palestina, memberangus ladang pertanian, ‎membunuh, menyiksa, dan menebar ketakutan. Zionis masih terus berusaha ‎menjadikan Israel sebagai negara yang bisa diterima di Timur Tengah. Namun ‎demikian, Israel tetap tak peduli dengan undang-undang internasional yang ‎terangkum dalam perjanjian Jenewa tahun 1949 yang menegaskan bahwa pihak ‎penjajah harus memerhatikan hak-hak bangsa yang dijajah. Dalam perjanjian ini ‎ditegaskan bahwa penjajah tak berhak untuk menistakan martabat bangsa yang ‎dijajah. Zionis adalah zionis, yang selalu merasa di atas semua hukum dan aturan. ‎Sebab, rezim ini merasa aman dengan adanya AS sebagai pelindung.(IRIB/AHF/SL)‎

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: