Solusi Keluar dari Krisis Afghanistan

Sejarah menceritakan bahwa berlarut-larutnya perang yang melelahkan semakin memperbesar kemungkinan bagi pihak agresor untuk mengambil tindakan tergesa-gesa yang sangat berbahaya. Salah satu contohnya adalah penggunaan bom atom oleh AS untuk menghentikan Perang Dunia Kedua dengan Jepang sebagai korbannya. Masyarakat dunia tak akan pernah melupakan kisah Nagasaki dan Hiroshima yang luluh lantak dan ratusan ribu orang tewas terpanggang hanya dalam hitungan detik akibat bom atom. Kisah mengenaskan juga menimpa warga Vietnam yang dihujani bom-bom yang membakar setelah AS kelelahan menghadapi perang berkepanjangan di negara itu.

Bukan hanya AS yang bertindak demikian. Rezim Baath Irak yang mengagresi Iran pada dekade 1980, juga menggunakan cara yang sama untuk mengakhiri perang. Secara buas, pasukan Baath menggunakan bom-bom kimia dan kuman untuk keluar dari perang. Dalam banyak kasus, pihak agresor mengambil jalan pintas untuk mengakhiri perang yang dampaknya dirasakan negara sasaran sampai puluhan tahun kemudian. Terkait Afghanistan, banyak bukti yang menunjukkan adanya rencana negara-negara Barat untuk bertindak secara brutal dan tergesa-gesa demi mengakhiri perang berkepanjangan di sana. Jika rakyat Afghanistan, negara-negara kawasan dan bangsa-bangsa di wilayah serta lembaga-lembaga internasional diam berpangku tangan dan tak bisa menghalangi pelaksanaan agenda yang kejam itu, maka kawasan ini akan tenggelam dalam ketidakamanan dan krisis perdamaian untuk masa yang panjang.

Salah satu dari dua agenda yang saat ini mengemuka adalah program yang diusulkan komandan militer tertinggi AS dan NATO di Afghanistan Jenderal Petraeus yaitu membentuk milisi lokal bersenjata. Komandan Militer tertinggi ini tentunya mengenal benar kondisi Afghanistan. Dia mengaku bahwa program ini diusulkan untuk memperbaiki kondisi di negara ini. Departemen Pertahanan AS, Pentagon juga mengklaim bahwa program ini bisa menjadi solusi tepat yang temporer. Juru bicara Pentagon Geoff Morrel mengatakan, Afghanistan kekurangan personil polisi. Untuk itu warga di 20 kawasan negara ini akan dipersenjatai untuk melawan kelompok-kelompok bersenjata ilegal. Para pengamat menilai program ini sama dengan program pembentukan Dewan Kesadaran yang mempersenjatai kelompok-kelompok Sunni di Irak. Menurut pengakuan AS, program ini berhasil menekan konflik bersenjata di Irak. Namun yang menjadi masalah, logiskah menyamakan kondisi Afghanistan saat ini dengan kondisi Irak tahun 2007-2008?

Para pengamat menolak untuk menyamakan resep penyelesaian krisis Afghanistan dengan resep yang dijalankan di Irak. Memang ada sejumlah kemiripan dan kesamaan. Misalnya, di kedua negara ada kelompok pemberontak yang hidup di tengah masyarakat sementara pasukan keamanan dan tentara belum memiliki kemampuan yang cukup matang. Pertumbuhan ekonomi yang lamban, korupsi yang parah, dan maraknya aksi teror terhadap para tokoh dan pemuka masyarakat. Yang lebih penting adalah sikap warga di kedua negara yang tidak menaruh kepercayaan kepada pasukan pendudukan khususnya tentara AS.

Meski banyak kesamaan, tapi kondisi kedua negara tetap berbeda. Aksi kekerasan di Irak umumnya terjadi di perkotaan sedangkan di Afghanistan aksi-aksi seperti itu marak di pedesaan dan di luar wilayah kota. Kekerasan di Irak terjadi di sebagian kecil wilayah negara ini sedangkan di Afghanistan hanya sembilan dari 365 kota yang tergolong sebagai wilayah aman. Perbedaan lainnya adalah bahwa rata-rata warga Irak punya taraf pendidikan menengah ke atas sedangkan di Afghanistan umumnya warga tidak berpendidikan dan hidup dalam kemiskinan.

Beberapa waktu lalu, Presiden AS Barack Obama menjanjikan pasukan asing akan mulai ditarik dari Afghanistan bulan Juli 2011. Untuk kasus Irak, Obama tidak menyebutkan tanggal penarikan tentara asing secara jelas. Di Irak, pembentukan Dewan Kesadaran dibarengi dengan bergabungnya kubu-kubu bersenjata seperti kelompok Sadr ke panggung politik. Beda halnya dengan Afghanistan. Kubu bersenjata di negara itu sama sekali belum menunjukkan kesiapan untuk masuk ke arena politik. Secara geografis, kedua negara juga punya perbedaan mencolok. Seperti yang diakui sendiri oleh Pentagon, mempersenjatai warga bisa menjadi solusi temporer yang dijalankan seiring dengan proses memperkuat dan mematangkan kesiapan tentara dan polisi. Di Irak, program ini berjalan lancar sementara di Afghanistan sulit dan bahkan mustahil terlaksana mengingat kondisi perekonomian dan taraf pendidikan warga yang sangat minim serta faktor-faktor lainnya.

Afghanistan juga punya masalah yang spesifik. Kebrutalan dan kebuasan pasukan asing membuat kebanyakan warga di sana berpihak kepada kelompok anti tentara asing. Sebelum diduduki, Irak mempunyai angkatan bersenjata yang relatif kuat dengan infra struktur kokoh. Hal seperti itu tidak bisa ditemukan di Afghanistan. Sederet perbedaan itulah yang membuat program semisal pembentukan Dewan Kesadaran di Afghanistan sulit diharapkan berhasil. Sayangnya, pemerintah Kabul dan Dewan Keamanan Afghanistan menyetujui program yang digulirkan oleh Jenderal Petraeus. Padahal para pengamat menilai sebelum dijalankan, program ini dijamin mandul. Mereka beralasan bahwa membagi-bagikan senjata di tengah warga hanya akan meningkatkan ketidakamanan dan instabilitas di negara ini sekaligus membuka pintu bagi kelompok-kelompok tertentu untuk memanfaatkan kesempatan ini bagi mengejar misinya. Bahaya program ini semakin kentara saat ketidakamanan semakin memperlemah pasukan asing sehingga keamanan tidak bisa lagi dikendalikan. Dalam keadaan seperti itu, masing-masing kelompok bisa menggunakan senjata yang ada di tangan mereka untuk melakukan apa saja atau membalas dendam lama terhadap kelompok lain.

Agenda kedua yang juga berbahaya adalah pemetakan Afghanistan berlandaskan kesukuan dan etnis. Deputi Menteri Luar Negeri AS urusan Asia Selatan dan mantan Duta Besar untuk India Robert Blake mengatakan, Washington harus membagi Afghanistan ke dalam dua bagian. Menurutnya, AS harus melepas kawasan berpenduduk Pashtun di selatan dan bergabung bersama pemerintah dan rakyat Afghanistan lainnya di utara dan timur negara ini. Dalam wawancaranya dengan koran Politico, mantan Dubes di India ini menandaskan, kebijakan strategis saat ini tidak akan menghasilkan kemenangan. Sebab Taliban yang berusaha menghindari kekalahan tidak akan bersedia berdamai. Karena itu, AS sebaiknya menyerahkan kendali wilayah selatan kepada Taliban. Pernyataan dari seorang pejabat tinggi AS ini memperlihatkan adanya skenario berbahaya yang ingin memecah kesatuan Afghanistan sebagai sebuah negara.

Afghanistan memang sering dilanda konflik internal bersenjata yang memakan korban besar. Namun demikian, belum pernah ada wacana di tengah warga di sana soal pemecahan kesatuan negara. Kini, wacana itu mulai digulirkan oleh pihak asing yang menduduki Afghanistan. AS pernah menggulirkan wacana yang sama di Irak tahun 2007-2008. Saat itu Joe Biden yang sekarang menjabat Wakil Presiden mengusulkan pembagian Irak ke dalam tiga wilayah. Prakarsa itu ditolak mentah-mentah oleh rakyat Irak. Dan nampaknya rakyat Afghanistan tak akan mau jika kesatuan negara mereka dipecah.

Di luar pihak pendudukan, negara-negara kawasan termasuk Republik Islam Iran sudah menyatakan kesiapan mereka untuk membantu negara tetangganya ini dalam menyelesaikan kesulitan yang dihadapinya. Nampaknya resep asing khususnya AS tidak menjanjikan penyelesaian yang baik untuk Afghanistan. Lembaga-lembaga dunia terlebih Organisasi Konferensi Islam (OKI) diharapkan bisa melangkah ke depan untuk membantu penyelesaian masalah Afghanistan sesuai kondisi dan kemauan rakyat di sana.

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: