Arab Saudi Terus Tangkapi Warga Syiah

Pasukan keamanan Arab Saudi masih terus menahan warga Syiah di negara ini. Televisi Al-Alam melaporkan, 40 warga Syiah dari Provinsi Al-Ahsa dan Al-Qathif, dalam satu tahun terakhir ini, dijebloskan ke penjara. Hingga kini, para pejabat pengadilan belum mengeluarkan keputusan hukum, bahkan mereka melarang para tahanan menggunakan pembela hukum.

Berdasarkan laporan tersebut, keamanan Arab Saudi melarang segala aktivitas yang bersentuhan dengan ajaran Syiah, termasuk peringatan hari kelahiran dan hari kesyahidan keluarga suci Rasulullah Saw. Jika para pengikut Ahlul Bait as ini tetap menggelar peringatan-peringatan itu, tentara Arab Saudi segera meringkus mereka.

Berdasarkan pasal 114 undang-undang pidana Arab Saudi, penahanan lebih dari enam bulan adalah ilegal. Setelah enam bulan, para tahanan harus diserahkan ke pengadilan atau dibebaskan dari jeratan hukum yang ditudingkan. Akan tetapi hukum itu tidak berlaku bagi warga Syiah di Arab Saudi karena pengaruh pengikut Wahabi radikal di jabatan-jabatan pemerintah, khususnya Departemen Dalam Negeri negara ini. Kondisi semacam ini tentunya membuat komunitas Syiah yang juga menjadi bagian warga negara ini, kian khawatir.

Sementara itu, lembaga-lembaga pembela hak-hak asasi manusia berulangkali memperingatkan Arab Saudi karena melakukan pelanggaran hak-hak sipil. Lembaga-lembaga itu juga mengingatkan pemerintah Risyadh menghormati kebebasan berkeyakinan.

Ledakan Zahedan, Incar Perpecahan Sunni-Syiah

Wakil Golongan Ahlusunnah Provinsi Sistan-Balouchestan di Dewan Ahli Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Nazir Ahmad Salami menilai dilancarkannya aksi teror di Zahedan bertujuan untuk memperlemah persatuan Sunni dan Syiah. Salami kemarin (Jumat, 16/7) dalam wawancara dengan IRNA, sembari menyinggung tujuan di balik serangan teroris di Zahedan, ia juga mendesak masyarakat Provinsi Sistan-Balouchestan tetap menjaga persatuan dan kekompakannya.

Ia menilai, aksi tidak manusiawi itu akan menambah buruk rapor merah imperialisme global dan menyatakan, “Seluruh masyarakat Sunni dan Syiah Sistan-Balouchestan mengutuk kejahatan tak terampuni dan tak manusiawi itu”.

Kamis malam (15/7), terjadi dua ledakan bom di depan Masjid Jami Zahedan, Provinsi Sistan-Balouchestan, Tenggara Iran. Sedikitnya 27 orang tewas, termasuk anggota pasukan elite Garda Revolusi Islam, dan mencederai lebih dari 300 lainnya.

(IRIB/AR/SL)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: