Mesir Masih Jadi Anjing-anjing Firaun (Jongos Israel)

Perdana Menteri Zionis Israel, Benyamin Netanyahu, berkunjung ke Mesir dan bertemu ‎dengan Presiden Mesir, Husni Mobarak. Bersamaan dengan kunjungan itu, Pemimpin ‎Otorita Ramallah, Mahmoud Abbas, juga melakukan pertemuan terpisah dengan Mobarak.‎

Husni Mobarak sebelum bertemu dengan Benyamin Netanyahu dan Mahmoud Abbas, ‎juga bertemu dengan George Mitchell, utusan khusus Washington untuk urusan Timur ‎Tengah. Menurut laporan tersebut, Husni Mobrak bertemu dengan Benyamin Netanyahu ‎dan Mahmoud Abbas untuk membahas proses yang diistilahkan perdamaian antara ‎Palestina dan Rezim Zionis Israel.‎

Penekanan para pejabat Mesir untuk normalisasi hubungan Israel dan Palestina dilakukan ‎saat proses yang diistilahkan perdamaian dengan Tel Aviv malah membuat rezim ini kian ‎arogan di kawasan. Para analis menilai kebijakan Mesir itu sebagai langkah keliru yang ‎sama sekali tidak menguntungkan perdamaian di kawasan. Apalagi upaya normalisasi ‎Palestina dan Israel dengan mediasi Mesir itu terjadi saat AS terbentur dengan jalan buntu ‎untuk mengakurkan Israel dan Palestina. Pada dasarnya, apa yang dilakukan Mesir tidak ‎berbeda dengan AS, bahkan bisa dikatakan bahwa Kairo adalah boneka AS untuk urusan ‎yang diistilahkan perdamaian. ‎

Di mata Washington, perdamaian yang diistilahkannya tidak lebih dari basa-basi politik ‎untuk menekan opini publik. Upaya Mesir ini pada faktanya, hanya menekan opini publik ‎negara ini dan Palestina yang terus mengecam politik radikal Israel.‎

Kunjungan Benyamin Netanyahu ke Mesir tentunya mengecewakan dunia Islam. Apalagi ‎Israel hingga kini, tidak menunjukkan sikap konsisten terhadap perjanjian yang ada. Lebih ‎dari itu, Tel Aviv tengah terpojok menuai kritikan keras dari berbagai lembaga ‎internasional. Bahkan, dunia saat ini menuntut para pejabat Israel supaya diadili di ‎Mahkamah Internasional.‎

Yang mengenaskan lagi, Husni Mobarak tega menjamu Netanyahu saat Gaza terkepung ‎dengan blokade Israel. Ini sama halnya dengan keikutsertaaan Kairo dalam kejahatan ‎Israel. Apalagi Mesir berulangkali mempermainkan Gaza dengan membuka dan menutup ‎kembali pintu gerbang Rafah yang menyambung ke Gaza. ‎

Akhir-akhir ini, Mesir juga bersedia menjadi mitra Israel untuk mengalihkan konvoi kapal ‎pengangkut bantuan yang ingin menjebol blokade Gaza. Pelabuhan el-Arish di Mesir, saat ‎ini dapat dikatakan sebagai pelabuhan yang setara dengan Ashdod di Israel. Berlabuh ke ‎el-Arish sama halnya dengan berlabuh dengan Ashdod.‎

Belum lama ini, Libya mengirimkan kapal ke Gaza yang kemudian digiring ke pelabuhan ‎Mesir, Al Arish. Pengiriman ini diduga sandiwara Libya, Mesir dan Israel untuk ‎mengalihkan kapal-kapal pengangkut bantuan Gaza ke pelabuhan el-Arish, Mesir.‎

Dengan memperhatikan fenomena yang ada, bagaimana mungkin aktivis-aktivis peduli ‎Palestina bersedia mengirimkan bantuan-bantuannya ke Mesir yang selama ini masih ‎bersikap setengah hati kepada Gaza. Jika Mesir serius membantu warga Gaza, negara ini ‎cukup membuka pintu gerbang Rafah yang menyambung ke Gaza. Akan tetapi pada ‎faktanya, Mesir hingga kini menutup pintu Rafah.(IRIB/AR/SL)‎

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: