Motif Dibalik Film Prince of Persia

prince of persia

Video game tiga dimensi Prince of Persia diproduksi antara tahun 2002 hingga 2005. Pada tahun 2007, perusahaan Walt Disney mulai membuat film yang diadaptasi dari game tersebut. Prince of Persia: The Sands of Time mulai diputar di seluruh dunia pada permulaan Juni tahun ini. Meskipun diputar di berbagai bioskop terkemuka di dunia, namun film ini tidak mendapat sambutan meriah dari para penonton. Lalu, kenapa film yang diadaptasi dari video game ini tidak laris di pasaran? Mari kita simak bersama cerita dalam film ini.

Alamut, sebuah kota yang indah dipimpin oleh seorang ratu bernama Tahmina. Putra Mahkota Persia menyerang kota ini dan menguasainya. Para penguasa Alamut menyembunyikan sebuah belati yang dipercaya bisa memutar waktu kembali ke masa lalu dan mengubah nasib dunia. Bahkan bisa menghancurkan dunia.

Belati pusaka ini berhasil direbut oleh anak angkat Raja Persia, Dastan. Lewat sebuah konspirasi, Dastan melarikan diri dan Tahmina mengejarnya untuk mengambil belati itu. Di pertengahan film, dikisahkan paman Dastan hendak menghancurkan peradaban dunia dengan menggunakan belati itu. Di bagian akhir cerita ini, Dastan bertekad menghalangi kehancuran dunia dengan bantuan belati itu dan mengubah keadaan.

Film Prince of Persia adalah upaya terbaru Hollywood di arena fantasi untuk menyelesaikan kebuntuan politik akibat keserakahan Gedung Putih. Dalam film ini muncul sebuah masalah sederhana bahwa nafsu orang yang haus kekuasaan tidak boleh mengubah sistem. Di mata produser film ini, agresi negara adidaya terhadap negara kecil untuk menghancurkan senjatanya merupakan hal yang lumrah dan tidak bisa disebut sebagai invasi apalagi pendudukan.

Penulis skenario film Prince of Persia, mengklaim filmnya sebagai hiburan semata. Namun film ini menyajikan sejumlah masalah seperti keberadaan senjata pembunuh massal di Timur Tengah dan Irak.

Richard Nelson Corliss, kritikus film menilai film ini berkaitan dengan kondisi politik dunia saat ini. Menurut penulis majalah Time ini, “Film Prince of Persia sejatinya adalah film politik bagi orang yang menentang agresi militer ke Irak. Dalam film ini seorang raja menyerang negara kecil atas informasi yang diperoleh dari saudaranya. Dilaporkan, negara kecil itu menyimpan senjata pemusnah massal.”

Salah satu masalah film Prince of Persia adalah kacamata permukaan yang dipergunakannya. Bahkan menyoroti perang Irak pun dengan kacamata dangkal. Tampaknya, film ini hendak menebarkan persaudaraan dan pesan moral. Namun, tetap saja para tokoh utamanya saling bunuh untuk melanggengkan kekuasaan.

Ada keganjilan berupa perubahan dari keburukan menjadi kebaikan secara serentak dan tiba-tiba, serta tanpa permulaan terlebih dahulu. Bahkan dalam film ini prinsip pemikiran tidak memiliki peran signifikan. Karakteristik film ini menyebabkan audiens menilai rating film ini berada di bawah edisi video game yang telah meluncur ke pasar lebih dahulu.

Terkait hal ini, David Cox, kolomnis koran The Guardian menulis, film Prince of Persia menilai film ini tampak bagus dari luar, namun secara keseluruhan film ini tidak bernilai sama sekali. Film ini diisi tokoh-tokoh fantasi dan dialog anak-anak. Dalam film ini, kita tidak tidak merasakan perjuangan berat para tokohnya. Dastan, tokoh utama dalam film ini dengan mudah menaiki benteng dan mengalahkan musuhnya. Kemudian jatuh cinta dan menguasai belati pusaka. Ini semua kelebihan sebuah game, bukan film. Sejatinya film Prince of Persia tidak demikian.

Nama tokoh dan peristiwa dalam film ini dibuat mirip dengan peristiwa dalam sejarah Persia. Produser film menulis film ini berdasarkan biografi Hassan Sabbah dari sekte Ismailiyah, namun detailnya tokoh dan peristiwanya mengalami perubahan. Sebagaimana peristiwa ini tidak begitu jelas dijelaskan dalam sejarah. Ya, tidak lebih dari sebuah mitos belaka. Meskipun nama yang dipergunakan adalah nama-nama Persia, namun tidak ada kaitan sama sekali dengan kisah Persia, bahkan lebih dekat dengan kisah-kisah Arab dan India.

Lokasi shooting film Prince of Persia dilakukan di Maroko. Artefak kehidupan Arab dan Afrika begitu terasa dalam film ini. Hal ini kental terasa dalam aransemen musik dan kostum pakaian hingga para pemainnya. Poin ini memicu protes para penonton film. Penulis majalah mingguan Boston Globe menulis, “Amat disayangkan, film ini tidak menggunakan seorang pemain Iran satupun. Bahkan tidak memanfaatkan orang Iran sebagai penasehatnya. Padahal banyak orang Iran yang bisa memperbaiki kekeliruan fatal produksi film ini.”

Hollywood selama bertahun-tahun memproduksi film mengenai orientalisme dan Iran. Namun dari kebanyakan film tersebut, hanya sedikit yang memotret realitas secara akurat dan lebih dekat dengan situasi dan kondisi Timur dan Iran. Bisa dikatakan bahwa tujuan pertama dan utama produksi film Hollywood adalah motif politik.

Motif itu pula yang melatarbelakangi munculnya film tendensius yang menyudutkan Iran seperti ‘Not Without My Daughter’ dan ‘The Stoning of Soraya’.
Dalam film tersebut, Hollywood merupakan bagian dari militer Amerika yang menyerang budaya Iran melalui film.

Merusak citra Iran melalui penyelewengan fakta budaya dan sejarah serta agama merupakan tujuan utama produser film Hollywood. Tentu saja, semua penonton yang sadar dan realistis mengendus tujuan busuk dibalik film ini. Dalam berbagai film yang diproduksi hollywood, Iran ditampilkan sebagai negara yang kering dan rakyat yang tidak berbudaya. Tentu saja, film tersebut tidak mengggambarkan realitas Iran saat ini maupun masa lalu.

Jarak yang jauh antara cerita film dan realitas sebenarnya dengan sejarah kehidupan rakyat Iran menunjukkan bahwa produser film dengan sadar berupaya menggambarkan wajah Iran yang buruk kepada penontonnya.

Sejatinya, film ini dibuat berdasarkan sebuah video game terlaris. Tentu saja, tidak bisa diharapkan adanya cerita faktual dari realitas sejarah. Meski demikian, prinsip fantasi dan imaji dalam film inipun tidak begitu baik. Struktur fantasi juga harus berada dalam koridor logis, bukan sebuah peristiwa dan tempat yang mencampur adukan antara kondisi saat ini dan masa lalu.

Tampaknya masalah utama film Prince of Persia bukan hanya ketidakakuratan cerita sejarahnya. Selain itu film ini lemah karena berupaya menjustifikasi kinerja pemerintah Amerika. Bahkan, film ini turun derajatnya menjadi sebuah propaganda politik rezim Gedung Putih yang haus kuasa.

Film Prince of Persia berupaya menampilkan agresi Amerika dan sekutunya ke Irak. Tidak hanya itu, film ini hendak memulihkan wajah beringas Gedung Putih selama tujuh tahun menduduki Irak. Produser Film Prince of Persia menjustifikasi pendudukan tujuh tahun atas Irak lewat sebuah informasi keliru. Hollywood meramu target itu dalam bentuk sebuah berita, atau sebuah film serius seperti Green Zone, maupun film fantasi seperti Prince of Persia. Namun hasilnya tepat sama. Film itu tidak bisa memalingkan masyarakat dunia dari realitas kejahatan AS dan sekutunya di Irak.

Categories: FILM | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: