Menggali Pelajaran dari Madrasah Imam Sajjad as

Imam Sajjad, putra Imam Husein as lahir di kota Madinah pada tahun 36 H. Masa-masa penting perjalanan hidup beliau dimulai semenjak masa keimamahannya pasca gugurnya Imam Husein as di padang Karbala. Saat peristiwa pembantaian keluarga Nabi saw di padang Karbala terjadi, Imam Sajjad tidak diperkenankan maju ke medan laga lantaran menderita sakit berat. Namun hal itu justru menyimpan hikmah besar sehingga beliau dapat bertahan hidup dan memimpin umat di masa-masa krisis pasca kesyahidan Imam Husein as.

Masa kepemimpinan Imam Sajjad berlangsung selama 34 tahun. Salah satu tugas besar yang diemban beliau adalah menyebarkan misi agung kebangkitan Asyura. Di samping itu, dakwah Islam yang dilakukannya juga meliputi banyak hal. Selain menyebarkan akidah Islam yang benar, Imam Sajjad juga mendidik para juru dakwah yang saleh dan bijak.

Tidak hanya itu saja, Imam Sajjad juga berjuang di ranah politik dalam menentang kezaliman dan membongkar kemunafikan pemerintahan Bani Umayyah. Untuk membentuk masyarakat islami, Imam Ali Zainal Abidin begitu giat mengupayakan diterapkannya gaya hidup yang bersandarkan pada moralitas al-Quran. Sebab sebagian besar persoalan yang terjadi di zamannya kala itu berakar dari kebobrokan moral para penguasa dan elemen penting masyarakat.

Salah satu strategi Imam Sajjad as adalah mentransfer pengetahuan agama lewat budaya doa dan munajat. Beliau as telah memaparkan sebagian besar maksud dan kehendaknya lewat bait-bait doa dan munajat yang menggugah hati. Kumpulan doa-doa beliau disatukan dalam kitab “Shahifah Sajjadiyah” yang merupakan harta karun pengetahuan dan hakikat agama. Kitab tersebut adalah kumpulan samudera pengetahuan Islam di bidang tauhid, akhlak, dan pendidikan yang telah mengundang perhatian banyak ulama.

Doa adalah media penghubung antara makhluk dengan penciptanya dan agama Islam sangat menganjurkan umatnya berdoa. Selain memiliki pengaruh spiritual luar biasa bagi manusia, doa juga dapat memberi pengaruh kepada seluruh dimensi keberadaan manusia mulai dari perilaku personal hingga sosial dan politik. Kontak dengan Allah Swt akan menjaga manusia dari gangguan dan kerusakan jiwa.

Imam Sajjad dikenal sebagai sosok yang sangat pengasih dan dermawan. Rumahnya selalu menjadi rujukan dan tempat pengaduan para fakir miskin untuk meminta bantuan. Suatu ketika, beliau melihat sekelompok orang penderita lepra yang dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya. Imam Sajjad pun lantas membawa mereka ke rumahnya dan menyambutnya dengan penuh kasih sayang.

Imam Sajjad as juga terkendal dengan sikapnya yang sangat tawadhu dan rendah hati. Meski ia adalah tokoh keluarga Nabi saw yang terpandang, namun ia tak segan-segan hidup seperti layaknya pembantu. Suatu hari ia pernah menjadi menyamar menjadi orang biasa supaya bisa menjadi pembantu bagi rombongan jamaah haji. Rombongan haji tersebut datang dari daerah terpelosok sehingga tak mengenal siapa sebenarnya Imam Sajjad as. Selama perjalanan menuju Mekkah, Imam as bekerja melayani dan membantu para jamaah haji. Hingga kemudian rombongan itu berjumpa dengan musyafir lain di tengah jalan. Musyafir itu lantas bertanya, “Apakah kalian tidak mengenal siapa lelaki itu? Mengapa kalian pekerjakan sosok mulia seperti beliau sebagai pelayan?” Mereka menjawab, “Kami tidak mengenal siapa dia. Kami hanya tahu bahwa ia adalah pemuda yang sangat baik dan berwibawa”. Musyafir tadi lantas memperkenalkan bahwa pemuda mulia itu adalah Imam Sajjad, salah seorang cicit Rasulullah saw.

Mendengar keterangan itu, seluruh rombongan haji pun menjadi menyesal dan meminta maaf kepada Imam as. Beliau pun lantas menjelaskan bahwa dirinya sengaja bergabung dengan rombongan haji yang tak dikenalnya itu untuk memperoleh kesempatan melayani para jamaah haji tanpa harus diketahui siapa sebenarnya beliau.

Kemuliaan akhlak dan perilaku Imam yang demikian bijak itu membuat siapapun mengagumi beliau. Sejarawan muslim terkenal, Ibnu Syahri Asyub, menuturkan, “Suatu ketika Imam Sajjad as menghadiri acara pertemuan yang digelar Khalifah Umayyah, Umar bin Abdul Aziz. Saat Imam as meninggalkan pertemuan itu, Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada orang-orang di sekitarnya dan berkata: ‘Siapakah orang yang paling mulia di sisi kalian? Semuanya berkata, ‘Anda wahai khalifah!’. Namun ia balik menjawab, “Bukan sama sekali. Orang yang paling mulia adalah sosok yang baru saja meninggalkan pertemuan kita. Semua kalbu dibuat terpesona kepadanya, hingga siapapun ingin menjadi seperti dia”.

Jiwa manusia sebagaimana raganya juga membutuhkan makanan. Untuk mencapai jenjang spiritual yang luhur, ruh memerlukan makanan berupa ilmu, iman, dan makrifat. Salah satu kebutuhan ruh manusia adalah berdoa dan menjalin hubungan permanen dengan Sang Pencipta. Imam Sajjad as dalam sebuah doa yang indah menyebut zikir dan mengingat Allah Swt sebagai penyebab ketenangan dan kebugaran jiwa. Imam as menyeru kepada Tuhan dengan berkata: “Wahai Tuhanku, hati dan relungku hidup dengan mengingat-Mu dan api kegelisahan hanya akan padam dengan bermunajat kepada-Mu.”

Tentunya, hati yang menjadi persinggahan kasih sayang Tuhan, memiliki kemurnian dan cahaya tersendiri, dan pemiliknya akan terjaga dari kerusakan jiwa dan mental. Pada bagian lain doanya, Imam Sajjad as berkata: “Wahai Tuhanku, sampaikanlah shalawat dan salam kepada junjungan-Mu Nabi Muhammad Saw dan keluarganya dan jadikanlah keselamatan hati kami dalam mengingat keagungan-Mu.” Dalam seluruh munajat dan doa Imam Sajjad as, pengharapan kepada Tuhan merupakan poin dominan yang patut direnungkan dan dicermati.

Pada dasarnya, Imam as mentransfer ajaran irfan ini secara tersirat dan halus.
Allah Swt tidak akan pernah meninggalkan orang-orang yang menyerahkan hatinya kepada-Nya dan hidup sesuai dengan keridhaan-Nya. Dalam penggalan doanya, Imam Sajjad as berkata: “Wahai Tuhanku, aku menyerumu sebelum menyeru selain-Mu, aku tidak menemukan selain-Mu dalam mengabulkan kebutuhanku, Dalam doaku, aku tidak akan menyertakan selain-Mu. Seruanku hanya kepada-Mu.”

Ketika umat di zamannya terperosok dalam kegelapan moral dan kebejatan para penguasa zalim, Imam Sajjad berusaha memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk menyadarkan jiwa-jiwa yang terlelap. Beliau senantiasa mengecam dan mengutuk para pendukung penguasa zalim. Suatu hari Imam bertemu dengan seorang ulama terkenal di masa itu, lantas kepada sang ulama, Imam berkata, “Aku menyaksikan bagaimana engkau menempatkan dirimu sebagai sumbu roda penggiling gandum para penzalim sehingga mereka bisa berlaku zalim terhadap masyarakat dengan berpangku padamu”.

Dalam lantunan doa-doanya, Imam Sajjad as juga menyelipkan pesan-pesan anti-kezaliman. Beliau dalam salah satu doanya menuturkan, “Ilahi ampunilah aku yang hanya bisa menyaksikan seorang yang teraniaya di depan mataku tanpa kuasa aku menolongnya. Maafkanlah aku lantaran tak mampu menebus hak orang mukmin yang mestinya aku tunaikan”.

Mari kita menyimak beberapa kata-kata bijak dari Imam Sajjad as. Beliau berkata, “Salah satu ciri dari ma’rifat dan tanda kesempurnaan agama seseorang adalah menghindari ucapan yang sia-sia, sedikit berdebat, dan selalu bersikap sabar dan santun”.

Beliau juga menuturkan, “Berpikir adalah cermin yang memperlihatkan kepada manusia kebaikan dan keburukan dirinya”.

Categories: AGAMA, SEJARAH, TOKOH | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: