Ayatullah Fadlullah, Ulama Mujahid

Di detik-detik akhir hayatnya, orang tua yang menghabiskan usianya dalam perjuangan melawan rezim Zionis Israel berkata, “Selama rezim Zionis belum hancur, saya tidak akan pernah tenang.” Sambil berbaring menahan sakit, ia berkata kepada perawat rumah sakit, “Apakah waktu shalat Subuh telah tiba?” Perawat menjawab, “Belum.” Dia mengulang pertanyaannya hingga tiga kali dan tidak terdengar lagi suaranya, karena Allah Swt telah memanggil beliau.

Ayatullah Hussein Fadlullah akhirnya wafat di usia 75 tahun. Dunia Islam kehilangan seorang ulama penyeru persatuan dan penebar pencerahan.

Allamah Fadlullah lahir di Najaf Irak pada tahun 1935. Ayahnya, seorang marji syiah kelahiran Lebanon.

Fadlullah muda melanjutkan studinya di Najaf Irak. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, sejak usia sembilan tahun ia mulai mempelajari ilmu agama. Sebagian besar ilmunya dipelajari dari sang ayah yang alim itu.

Beliau juga dengan tekun belajar menimba ilmu dari para ulama terkemuka di Irak. Studi ilmu agama tidak menghalangi aktivitas politik dan sosial Fadlullah.

Sejak muda, Fadlullah menyaksikan kondisi buruk dunia Arab dan umat Islam dunia. Dengan tekad baja, ia mulai mendidik generasi muda serta menyuarakan kebangkitan Islam. Bersama syahid Ayatullah Muhammad Baqir Shadr, Fadlullah mendirikan Partai Dakwah Islam.

Pada tahun 1966, Allamah Fadlullah bertolak menuju tempat kelahiran ayahnya atas undangan sebuah lembaga Islam di negara ini. Menyaksikan kondisi buruk umat islam terutama muslim syiah Lebanon, beliau memutuskan untuk menetap di negara ini selamanya.

Bersama Imam Moussa Sadr, pemimpin Syiah Lebanon, Fadlullah terjun di dunia politik dan sosial. Ayatullah Fadlullah mendirikan hauzah ilmiah, Al Maahad al-Syari al-Islami di Beirut dan mendidik para ruhani muda.

Dari lembaga ini lahirlah para tokoh terkemuka muqawama Islam Lebanon. Ayatullah Fadlullah juga mendirikan sekolah Islam, al-Murthada di kota Sur, l Lebanon selatan.

Selain itu ulama terkemuka ini mendirikan sekolah Islam untuk perempuan di Beirut. Tidak hanya mendirikan sekolah Islam, Allamah Fadlullah juga mendirikan lembaga amal untuk membantu orang-orang yatim yang menjadi korban perang dalam negeri dan serangan Rezim Zionis Israel.

Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini mempengaruhi umat Islam dunia, begitu juga pemikiran Sayyid Fadlullah.

Beliau senantiasa memuji dan menempatkan Revolusi Islam Iran sebagai simbol kebangkitan umat Islam dunia. dalam sebuah makalah yang ditulisnya, Fadlullah menulis, “Imam Khomeini memimpin dan memenangkan revolusi hingga mendirikan pemerintahan pertama di dunia Islam yang dipimpin wali faqih sang pejuang.” Allamah Fadlullah menekankan suluk politik Imam Khomeini yang berjuang dengan landasan tidak memisahkan politik dan agama. Beliau juga menegaskan misi besar perjuangan Imam Khomeini mengenai urgensi kebangkitan dan persatuan Islam serta perjuangan melawan hegemoni global, terutama Amerika Serikat. Selain itu penekanan Imam Khomeini terkait muqawama menghadapi rezim Zionis dan perjuangan membebaskan Palestina semakin meningkatkan tekad kuat Allamah Fadlullah melawan rezim Zionis.

Sheikh Abdul Karim Ubaid, wakil Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah Lebanon menyatakan, Allamah Fadlullah senantiasa mengapresiasi kebijakan Republik Islam Iran mengenai perjuangan melawan hegemoni global di tingkat regional dan internasional. Bagi beliau muqawama bukan hanya di Lebanon, tapi juga didirikan di kawasan.

Dalam sebuah pertemuan beberapa bulan lalu antara Allamah Fadlullah dengan delegasi dari Iran, beliau menyebut Iran sebagai pusat produksi pemikiran dan budaya. Dukungan Ayatullah Fadlullah terhadap cita-cita Islam dan spirit anti hegemoni dan anti Zionis Revolusi Islam Iran, terutama dukungan Tehran terhadap muqawama Islam menghadapi Zionis menyebabkan ulama mujahid ini senantiasa menjadi kemarahan negara-negara Barat dan rezim Tel Aviv. Bahkan beliau sempat diteror empat kali.

Pengaruh Allamah Fadlullah terhadap para pejuang muqawama Islam Lebanon terpatri kuat di sanubari mereka. Dengan demikian media massa Barat menyebut Fadlullah sebagai pemimpin spiritual Hizbullah. Meski tidak ada jalinan hubungan institusional antara Allamah Fadlullah dan Hizbullah, namun keduanya memiliki kesamaan visi melawan penjajah dan anti Zionis yang lahir dari mata air pemikiran Islam.

Mengenai hubungan kuat antara keduanya, Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah, setelah wafatnya Ayatullah Fadlullah mengatakan, “Kami kehilangan seorang ayah yang welas asih, membimbing dengan bijak dan benteng yang kokoh.”

Allamah Fadlullah selama hidupnya mendukung perjuangan bangsa Palestina melawan rezim Zionis Israel. Di akhir wawancaranya dengan televisi Aljazeera mengatakan, “Kebohongan Israel adalah mengaku diberi tanah oleh Allah hingga hari kiamat dan kaum Yahudi mengira tanah suci itu hanya khusus miliknya. Namun kami meyakini tidak demikian, rezim Zionis mencaplok Palestina dan menjarah tanah mereka. Setiap hari mereka membantai anak-anak dan para wanita. “

Pandangan anti Zionis Fadlullah menyebabkan rezim Tel Aviv kebakaran jenggot dan mengibarkan permusuhan besar terhadap beliau. Akibat pandangan anti zionis Allamah Fadlullah, rezim agresor Israel tidak dapat menerima pujian yang dikemukakan atas wafatnya ulama syiah terkemuka ini.

Faktanya, Duta Besar Inggris di lebanon dalam catatannya, menulis, “Ayatullah Fadlullah adalah sosok yang terhormat dan seorang politisi besar. Siapapun yang menemui Ayatollah Fadlullah, akan menikmati pertemuan tersebut. Saya termasuk orang yang menikmati pertemuan dengan Ayatullah Fadlullah. Untuk itu, saya benar-benar kehilangan atas wafatnya beliau.”

Departemen Luar Negeri Inggris setelah mempelajari catatan tersebut, menilainya sebagai hal yang tidak pantas dan harus dihapus dari situs resmi pemerintah tersebut. Deplu Inggris juga menyatakan bahwa pernyataan Dubes itu mewakili pribadi, bukan pemerintah.

Sebelumnya, Jubir Rezim Zionis Israel mengkritik pujian Dubes Inggris itu, dan menyebut Allamah Fadlullah sebagai tokoh yang tidak layak dipuji. Menurut laporan yang ada, pemerintah Inggris ditekan Israel supaya mencopot jabatan Duta Besar Inggris untuk Lebanon itu yang dijabatnya dari tahun 2006. Belum hilang kekagetan publik dunia atas sikap arogan rezim Zionis mengenai statamen pribadi Dubes Inggris untuk Lebanon, baru-baru ini Octavia Nasr, redaktur senior CNN urusan Timur Tengah yang telah berkiprah sejak tahun 1990, secara sepihak diberhentikan gara-gara memuji almarhum Ayatullah Fadlullah.

Nasr di jejaring sosial Twitter menulis, “Fadlullah adalah tokoh senior Hizbullah Lebanon yang patut dihormati. Saya pun terpengaruh atas meninggalnya beliau.”

Tidak lama setelah pencopotan jabatannya, Nasr di blognya menulis, “Komentar pendek saya disikapi keras. Inilah sebuah pelajaran baik, mengapa saya tidak boleh berpendapat mengenai masalah sensitif dan kontroversial di Timur Tengah.”

Selain itu, hanya beberapa jam setelah Ayatullah Fadlullah wafat, televisi BBC berusaha mati-matian menggiring publik dunia dengan berita bohong mengenai friksi antara Allamah Fadlullah dengan Iran dan Hizbullah.

BBC berusaha mengesankan adanya perselisihan ini di benak umat Islam, padahal Allamah Fadlullah senantiasa mendukung Iran dan menyebut negara ini sebagai kekuatan penghalau hegemoni Barat dan rezim Zionis.

Marji syiah Lebanon ini menyebut Hizbullah sebagai anaknya sendiri. Mengenai Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Allamah Fadlullah mengatakan, “Ayatullah Khamenei adalah marji yang mengenai dengan baik kompleksitas masalah sosial dan model yang baik bagi ulama Islam dan pejuang muslim. Sebaliknya, Rahbar, Ayatullah Khamenei menyebut marji syiah Lebanon ini sebagai anggota Dewan Ahlul Bait Sedunia. Dalam pesan mengenai wafatnya Allamah Fadlullah, Rahbar mengatakan, “Ulama besar dan mujahid ini adalah tokoh yang berpengaruh bagi perkembangan ilmu dan politik. Selama bertahun-tahun Lebanon mendapat berkah dari kehadiran beliau.”

Ayatullah Khamenei memuji dukungan Allamah Fadlullah terhadap muqawama Islam Lebanon dan Revolusi Islam Iran. Di detik-detik akhir kehidupannya, Allamah Fadlullah memiliki harapan besar melepaskan Lebanon dari belenggu rezim Zionis.

Dalam berbagai karyanya, marji Syiah Lebanon ini senantiasa menegaskan kebangkitan Islam demi kemajuan dunia Islam serta menekankan untuk menghindari friksi mazhab sebagai pemicu kehancuran Islam. Salah satu harapan terbesar dunia Islam adalah pembebasan rakyat Palestina dari cengkeraman rezim Zionis.

Namun sebagaimana ditegaskan berulang kali oleh Rahbar, kini, tanda-tanda kehancuran hegemoni global terutama Amerika Serikat dan rezim Zionis semakin nampak di depan mata.

(IRIB/PH/SL)

Categories: TOKOH | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: