Di Balik Lawatan Menlu Iran ke Eropa

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Manouchehr Mottaki

Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki beserta rombongan kemarin (Senin,12/7) bertolak ke dua negara Eropa, Spanyol dan Portugal. Dilaporkan, lawatan ini bertujuan membahas hubungan Iran-Eropa dan masalah program nuklir sipil Iran.

Di sela-sela sidang kabinet Ahad (10/7), Mottaki kepada wartawan menyatakan, kelompok Wina yang terdiri dari Rusia, Amerika Serikat, Perancis dan Badan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), sebelum keluarnya resolusi Dewan Keamanan PBB no.1929, mengirimkan pesan kepada Iran untuk memulai perundingan babak baru dan Tehran pun secepatnya akan mengirim balasan. Meski demikian, Mottaki menuturkan bahwa Turki dan Brazil harus dilibatkan dalam perundingan mendatang antara Iran dan kelompok Wina.

Ketua Dewan Tinggi Kebijakan Nasional Iran, Saeed Jalili yang memimpin perundingan nuklir Iran pada 6 Januari lalu membalas usulan Uni Eropa mengenai dimulainya perundingan dengan Iran. Jalili menjelaskan, Tehran bersedia berunding dalam kerangka inisiatif Iran yang disampaikan kepada Uni Eropa pada Mei 2008 mengenai penyelesaian program nuklir sipil Iran.

Menyikapi usulan Uni Eropa tersebut, Jalili dalam surat resminya kepada Ketua kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Margaret Ashton mengemukakan bahwa Iran punya pertanyaan terhadap Uni Eropa. Tepat sehari setelah keluarnya resolusi DK PBB, untuk apa Uni Eropa mengusulkan perundingan dengan Iran?.

Sejumlah pengamat politik menilai usulan pejabat tinggi Uni Eropa ini dalam rangka menerapkan politik wortel dan tongkat dengan resolusi DK PBB itu. Meski demikian, para analis menilai Uni Eropa tidak akan mengikuti kebijakan unilateral Amerika Serikat karena merugikan kepentingannya dengan Iran. Untuk itu, negara-negara Eropa bertekad menarik kepercayaan Tehran supaya kembali bersedia berunding membahas program nuklir sipil Iran. Namun sebelum menyetujui babak baru perundingan ini, Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad mengemukakan sejumlah persyaratan.

Kini harus dipertegas apa tujuan perundingan tersebut, di saat pihak yang mengajak berunding terus melancarkan permusuhan terhadap bangsa Iran. Poin lainnya, apakah pihak yang berunding mengakui logika perundingan, dari pada melancarkan tekanan dan ancaman?

Sejatinya, prinsip kolektif perundingan dalam kerangka Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) adalah perlucutan senjata nuklir rezim Zionis yang merupakan masalah kunci yang harus diperhatikan dalam perundingan. Karena hanya dengan cara inilah bisa dimulai perundingan yang komprehensif guna menepis segala kekhawatiran kolektif dunia dalam mewujudkan keamanan bersama dan menghormati hak legal negara-negara dunia berdasarkan prinsip penggunaan teknologi nuklir sipil.(IRIB/PH/SL)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: