Pasang Surut Al-Azhar

Universitas Al-Azhar

Di tepi sungai Nil yang membelah Kairo, bangunan besar Universitas Al-Azhar menarik siapa saja yang melihatnya. Sebagaimana Nil, Universitas Al-Azhar pun menjadi icon Mesir yang telah bertahan lebih dari seribu tahun. Semua itu bermula dari sebuah bangunan masjid jami kuno yang dibangun pada 970 M. Masjid itu dibangun menyusul keberhasilan Dinasti Fatimiyah menguasai Mesir. Dinasti Fatimiyah sengaja menamakan masjid tersebut dengan nama Masjid Jamie Al-Azhar sebagai bentuk penghargaan terhadap Sayyidah Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah saw. Tak lama kemudian, masjid itupun berkembang pesat menjadi pusat penyebaran ajaran Syiah Ismailiyah sebagai akidah resmi Dinasti Fatimiyah hingga banyak para penimba ilmu dari berbagai negeri muslim datang ke sana.

Pasca serangan Salahuddin Al-Ayyubi ke Mesir dan tumbangnya Dinasti Fatimiyah, Universitas Al-Azhar makin lemah. Semenjak itu, Al-Azhar hanya mengajarkan studi yang berkenaan dengan akidah Ahlusunnah. Di sisi lain, invasi tentara Mongol di belahan timur dunia Islam dan melemahnya kekuasaan umat Islam di Spanyol mendorong banyak kalangan terpelajar muslim yang hijrah ke Al-Azhar. Dengan demikian, universitas yang dirintis Dinasti Fatimiyah ini pun bergeliat kembali menjadi pusat keilmuan yang berpengaruh.

Pada masa pemerintahan Dinasti Ottoman, posisi Al-Azhar makin mandiri lantaran memiliki sumber finansial independen yang lepas dari campur tangan negara. Pada tahun 1895, saat Syeikh Muhammad Abduh menjadi mufti agung Mesir, ia menjalin kerjasama dengan para petinggi Al-Azhar dan memasukkan ilmu-ilmu modern ke dalam sistem pendidikan universitas terbesar di Mesir itu.

Namun akhirnya pada tahun 1954, ketika Gamal Abdel Nasser menguasai Mesir, budjet Al-Azhar berada dalam kontrol negara bahkan penetapan dan pemberhentian para pengurus Al-Azhar pun ditentukan oleh pemerintah Mesir. Sehingga semanjak saat itulah, Al-Azhar telah kehilangan independensinya.

Meski demikian semenjak setengah abad terakhir, Al-Azhar terus berkembang pesat dan mendirikan beberapa cabangnya di kota-kota Mesir yang lain. Pimpinan terkemuka Al-Azhar, Syeikh Mahmoud Syaltut merintis pendirian fakultas kedokteran, teknik, dan sains lainnya. Upaya itu sengaja dilakukan agar mahasiswa ilmu-ilmu modern juga bisa mengenal ajaran Islam. Inovasi lainnya yang dilakukan Syeikh Syaltut adalah pendirian Universitas Al-Azhar khusus perempuan. Saat ini, tercatat lebih dari puluhan ribu mahasiswa tengah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar. Sebagian besar mereka mempelajari ilmu-ilmu keislaman, dan sebagian lagi di bidang keilmuan lainnya seperti filsafat, ekonomi, kedokteran, dan komputer, serta jurusan lainnya.

Pada dasarnya Universitas Al-Azhar hanya merupakan salah satu bagian dari tiga bagian utama Lembaga Al-Azhar. Rektor universitas ini ditetapkan oleh presiden Mesir. Dewan Kajian Islam merupakan bagian lain dari Lembaga Al-Azhar. Dewan ini lebih terfokus untuk melakukan kegiatan riset dan kajian ilmiah. Selain itu, Dewan Kajian Islam juga memiliki kegiatan lainnya seperti mengeluarkan fatwa, menerbitkan majalah, dan mengirim para juru dakwah.

Kantor Syeikh Al-Azhar merupakan satu dari tiga bagian utama lainnya Lembaga Al-Azhar. Kantor ini bertugas untuk mengelola pusat-pusat pendidikan yang berafiliasi dengan Al-Azhar dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Pusat-pusat pendidikan itu dipersiapkan untuk mendidik para calon mahasiswa yang akan memasuki Universitas Al-Azhar. Syeikh Al-Azhar adalah posisi jabatan tertinggi di Lembaga Al-Azhar yang dipilih langsung oleh Presiden Mesir dan memiliki wewenang untuk mengawasi seluruh bagian dari lembaga tersebut.

Maret lalu, Syeikh Al-Azhar, Muhammad Sayyid Tantawi meninggal dunia lantaran sakit jantung yang dideritanya. Presiden Mesir Husni Mubarak akhirnya menunjuk Dr Ahmad Tayyib sebagai pimpinan Lembaga Al-Azhar yang baru. Sementara Abdullah Al-Huseini ditetapkan sebagai rektor universitas Al-Azhar. Syeikh Ahmad Tayyib berusia 63 tahun merupakan anak kelahiran selatan Mesir. Ia mengenyam pendidikan tingginya di Universitas Al-Azhar hingga berhasil menyabet gelar doktoral di jurusan filsafat Islam. Ia juga sempat menempuh tugas akademisnya di Universitas Sorbonne, Perancis. Karena itu wajar jika ia pun fasih berbahasa Perancis. Pada tahun 2003, ia dipilih sebagai rektor Universitas Al-Azhar dan akhirnya semenjak wafatnya Sayyid Tantawi, ia pun diangkat menjadi Syeikh Al-Azhar.

Kendati lembaga Al-Azhar merupakan organisasi keilmuan yang besar, namun lembaga ini kerap menghadapi beragam tantangan serius. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mempertahankan pengaruh Al-Azhar di kalangan warga Mesir dan umat Islam dunia. Tantangan lain yang tak kalah pentingnya adalah upaya untuk meraih independensi.

Sejak masa pemerintahan Gamal Abdel Nasser, Al-Azhar makin bergantung pada pemerintah. Penetapan para pejabat tinggi Al-Azhar oleh presiden Mesir semakin mempertegas ketergantungan tersebut. Namun begitu, semenjak wafatnya Sayyid Tantawi beragam upaya untuk mengembalikan wewenang pemilihan Syeikh Al-Azhar kepada Dewan Ulama mulai diperjuangkan. Namun penunjukkan Syeikh Al-Azhar yang baru oleh Presiden Husni Mubarak, membuat upaya itu pun kembali menemui kegagalan. Kini, ketergantungan Al-Azhar kepada pemerintah Mesir dan sikap Al-Azhar yang kerap mendukung kebijakan pemerintah, membuat pengaruh lembaga keagamaan ini di mata masyarakat Mesir kian menurun.

Pada tahun 1977, Mesir dan rezim zionis Israel menandatangani perjanjian damai Camp David. Tentu saja kesepakatan itu menyulut kemarahan dunia Islam. Sampai-sampai Mesir dikeluarkan dari Liga Arab dan putus hubungan dengan sejumlah negara-negara Arab. Ironisnya, kebijakan pemerintah Mesir itu justru mendapat sokongan Al-Azhar. Karuan saja sikap mengekor Al-Azhar mendapat kecaman luas rakyat Mesir.

Pada tahun 2003, saat santer-santernya isu larangan jilbab di Perancis, Nicholas Sarkozy yang menjadi menteri dalam negeri Perancis saat itu, meminta Al-Azhar untuk mengeluarkan fatwa yang membolehkan para mahasiswi muslim tidak mengenakan jilbab di lingkungan kampus. Syeikh Al-Azhar pun segera menanggapi seruan tersebut dan meminta kaum muslimah menghormati undang-undang Perancis. Tak ayal, fatwa kontroversial ini pun menyulut kritikan keras dari dalam dan luar Mesir.

Kini, Mesir berada dalam masa-masa transisi kekuasaan. Husni Mubarak berusaha menjadikan anaknya, Gamal Mubarak sebagai penggantinya. Tentu saja, rakyat Mesir yang sudah tiga dekade lebih berada dalam kekuasaan Husni Mubarak makin tidak tahan lagi dengan ambisi diktator Mesir itu yang ingin mewariskan kursi kekuasaan pada anaknya. Rakyat menghendaki digelarnya pemilu yang bebas dan demokratis. Dalam kondisi semacam ini, jika Al-Azhar masih saja menyokong rezim Mesir, niscaya reputasi Al-Azhar pun bakal kian merosot. Karena itu, tantangan yang dihadapi Syeikh Al-Azhar yang baru saat ini kian berat. Apalagi kelompok-kelompok pergerakan Islam yang kuat, seperti Ikhwanul Muslimin, menjadi penentang terbesar pemerintah dan jika Al-Azhar masih saja mempertahankan sikap pronya terhadap rezim Husni Mubarak, niscaya Al-Azhar bakal berhadap-hadapan langsung dengan Ikhwanul Muslimin.

Abdul Muin Abdul Futuh, tokoh senior Ikhwanul Muslim menyatakan, “Hubungan dengan pemerintah bisa mengancam reputasi Al-Azhar. Segala bentuk fatwa yang dikeluarkan Al-Azhar akan tetap dicap oleh rakyat sebagai fatwa pemerintah meskipun fatwa tersebut benar menurut agama”.

Tentu saja, di dunia Islam pun Al-Azhar memiliki tantangan yang tidak kalah serius. Politik pecah belah di kalangan masyarakat muslim, masuknya pengaruh kelompok-kelompok ekstrimis dan radikal, serta maraknya propaganda anti-Islam media-media Barat merupakan sejumlah tantangan berat yang dihadapi Al-Azhar. Selama bertahun-tahun, Al-Azhar senantiasa memposisikan dirinya sebagai lembaga yang membela persatuan Islam dan memperjuangkan pendekatan di antara mazhab-mazhab Islam. Hal itu ditandai dengan keputusan Syeikh Al-Azhar, Mahmoud Syaltut yang membolehkan penganut mazhab lain mengamalkan fiqih Syiah dan menjadikannya sebagai salah satu mazhab resmi di Al-Azhar.

Sebagian pakar pun juga memandang Syeikh Ahmad Al-Tayyib, pimpinan Al-Azhar yang baru, sebagai tokoh yang pro pada persatuan Islam. Ulama besar Syiah yang juga menjabat sebagai Sekjen Dewan Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam, Ayatollah Muhammad Ali Tashkiri menuturkan, “Syeikh Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyib adalah ulama yang memperjuangkan pendekatan di antara mazhab-mazhab Islam. Ia menentang pemikiran radikal dan takfiriyah”.

Kendati demikian, Syeikh Al-Azhar tidak bisa lepas begitu saja dari tekanan kelompok-kelompok radikal di dalam maupun luar Al-Azhar. Sampai-sampai dalam wawancaranya dengan Televisi Al-Arabiya baru-baru ini, ia lebih terkesan sebagai tokoh ulama yang anti-Syiah dan menegaskan akan menentang segala upaya penyebaran mazhab Syiah di kalangan negara-negara Islam.

Menanggapi pandangan arogan Syeikh Al-Azhar ini, Ayatollah Taskhiri menjelaskan bahwa harus ada pembedaan antara tabligh terorganisir dengan arus kebebasan informasi. Ia menjelaskan, “Ulama Syiah tidak pernah melakukan tabligh yang terorganisir dan sistematis di wilayah mazhab lain. Mereka hanya berusaha membela secara ilmiah fatwa-fatwanya, dan ini merupakan hak mendasar seluruh mazhab”.

Munculnya pernyataan gegabah Syeikh Ahmad Al-Tayyib menunjukkan bahwa pengaruh Wahabi pun telah merasuk ke tubuh Al-Azhar. Baru-baru di Kairo pun sempat digelar sebuah seminar yang mengkaji sejauhmana pengaruh gerakan Wahabi di Al-Azhar. Dalam seminar serupa musim panas tahun lalu, seorang ulama Al-Azhar mengungkapkan, selama tiga puluh tahun terakhir, Arab Saudi mengucurkan dana 86 miliar USD untuk memperkuat pengaruh keuangan, ekonomi, dan agamanya di Al-Azhar. Karena itulah, belakangan muncul juga istilah kelompok radikal di kalangan ulama Al-Azhar. Sejatinya, tantangan utama yang dihadapi Al-Azhar saat ini adalah munculnya gerakan wahabi yang radikal.

Kini, tampaknya Syeikh Ahmad Al-Tayyib menghadapi ujian besar. Meski selama ini ia dikenal sebagai tokoh yang selalu menyerukan persatuan di kalangan mazhab-mazhab Islam. Namun sekarang, entah karena terpengaruh tekanan anasir Wahabi ataukah kebijakan anti-Syiah pemerintah Mesir, Syeikh Al-Azhar yang baru ini pun kini justru menampakkan wajah yang lain. Meski demikian, yang pasti Al-Azhar tidak ingin lagi reputasinya makin merosot di mata dunia Islam lewat sikap-sikapnya yang banyak merugikan umat.

Categories: Hubungan Internasional, Sosial - Budaya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: