Bi’tsah, Kehidupan Baru Umat Manusia

Bi’tsah atau pengangkatan Rasulullah Muhammad Saw sebagai utusan Allah adalah peristiwa terpenting dalam sejarah Islam. Dengan bi’tsah inilah, Nabi Saw diberi amanat dan tugas dari Allah untuk membimbing umat manusia kepada kebenaran dan penyembahan Allah. Pengutusan ini diwarnai dengan turunnya ayat-ayat suci Ilahi kepada Nabi Saw yang berisi tuntunan bagi umat menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam sejumlah riwayat dan teks sejarah Islam disebutkan bahwa sebelum kelahiran Islam, agama-agama samawi terdahulu yaitu Yahudi dan Nasrani sudah memberi kabar gembira akan kedatangan seorang nabi di Jazirah Arab. Dialah akhir silsilah para nabi. Kitab-kitab samawi terdahulu menyebutkan tanda-tanda kenabiannya. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa para pengikut agama samawi terdahulu yang disebut Ahlul Kitab mengenal Nabi Saw sama seperti mereka mengenal anak sendiri. Di surat al-Shaf, Allah Swt menjelaskan bahwa Nabi Isa as kepada kaumnya menyatakan bahwa beliau datang dengan membawa pembenaran akan ajaran Nabi Musa as sekaligus memberi kabar tentang kedatangan seorang nabi yang bernama Ahmad.

Ahlul Kitab yang mengenal ciri-ciri dan tanda-tanda nabi terakhir selalu menantikan hari kedatangannya. Sebagian yang tahu benar bahwa sang nabi akan berhijrah ke kota Yatsrib, memilih untuk menantikan Nabi di kota itu, dengan harapan bisa menjadi orang yang pertama-tama berkenalan langsung dan bahkan mengikuti ajarannya. Pendeta Buhaira adalah salah satu ulama Ahlul Kitab yang sudah bertemu dan mengenal Nabi Muhammad Saw saat beliau masih berusia 12 tahun. Dia bahkan bersumpah bahwa remaja yang ditemuinya itu adalah nabi akhir zaman.

Pengutusan Muhammad Saw sebagai nabi dan utusan Allah Swt adalah peristiwa paling besar dan yang menentukan dalam sejarah umat manusia. Sedemikian besarnya peristiwa itu sehingga Allah mempersiapkan ruh Muhammad Saw untuk menerima tanggung jawab dan tugas yang agung ini. Sejak masih remaja dan jauh sebelum diutus menjadi nabi, Muhammad sudah dikenal sebagai manusia yang berbudi pekerti luhur, jujur, berwibawa, dan amanah. Al-Amin adalah gelar yang diberikan bangsa Arab khususnya Quresy kepada beliau sebelum masa kenabian. Imam Ali as berkata, “Allah Swt telah mengutus malaikatnya yang terbesar untuk mengawasi, membimbing dan menemani Nabi sejak beliau masih kanak-kanak. Malaikat itu selalu bersama beliau siang dan malam dan mengajarinya budi pekerti yang baik dan akhlak yang mulia.”

Nabi Saw punya kepekaan terhadap kondisi di sekitarnya. Beliau tersiksa menyaksikan kebodohan dan kebobrokan akhlak yang menyebar di tengah masyarakat, khususnya kota Mekah. Setiap tahun, beliau selalu menyempatkan diri untuk berkhalwat dan beribadah di luar kota Mekah tepatnya di gua Hira’. Hal itu berjalan terus sampai Allah Swt mengangkatnya menjadi nabi saat beliau berumur 40 tahun. Dengan amanat ini, beliau mengajak umat manusia kepada tauhid atau penyembahan Allah yang Esa dan mengamalkan ajaran yang diturunkan oleh Allah kepadanya.

Peristiwa bi’tsah terjadi pada tanggal 27 Rajab, 13 tahun sebelum hijrah. Saat berada di gua Hira dan sibuk dengan ibadah, munajat dan doa, malaikat Jibril datang menyampaikan risalah kepada beliau. Jibril meminta Muhammad untuk membaca sambil memberinya kabar gembira akan kenabian. Saat itu adalah awal dari dimulainya lembaran baru bagi sejarah umat manusia. Kenabian Muhammad di Mekah adalah kelanjutan dari silsilah risalah para nabi sebelumnya yang mengajak umat manusia kepada tauhid dan kebenaran.

Dalam kitab suci al-Qur’an disebutkan bahwa salah satu tujuan pengutusan nabi adalah untuk menjadi guru dan pembimbing umat dan menyelesaikan perselisihan di antara masyarakat. Allah Swt di ayat 213 surah al-Baqarah berfirman yang artinya, “Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”

Setelah hijrah dari Mekah ke Madinah, langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi Saw adalah mengikat umat dalam ikatan persaudaraan. Beliau mendamaikan antara dua kabilah besar Madinah, yakni Aus dan Khazraj yang telah terlibat permusuhan dan perang berkepanjangan. Al-Qur’an menceritakan hal itu, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103)

Tujuan lain dari bi’tsah Nabi Saw adalah untuk membuka peluang bagi tegaknya keadilan di tengah masyarakat. Dalam surah al-Hadid Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (al-Hadid: 25) Ayat tadi menjelaskan bahwa Nabi memanfaatkan mukijzat dan argumentasi logis untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan membimbing manusia kepada pengembangan potensi akal dan pemikiran yang ada pada manusia.

Di ayat lain, tentang misi menegakkan keadilan, Allah Swt berfirman; “… Katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu.” (as-Syura: 15) Keadilan adalah sesuatu yang diinginkan oleh manusia sepanjang sejarah. Sayangnya keadilan tidak ditegakkan lantaran umat cenderung melalaikan kebenaran dan mengabaikan keadilan.

Tak syak, pengutusan Nabi adalah karunia Allah yang sangat besar untuk manusia. Allah selalu memilih hambaNya yang terbaik untuk menerima risalah kenabian. Dengan bekal akhlak mulia dan ajaran Ilahi yang suci, mereka mengemban tugas untuk mengajak umat manusia kepada kesucian dan keindahan. Allah Swt berfirman: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.” (al-Jumu’ah: 2)

Berdasarkan ayat ini, tujuan berikutnya dari pengutusan nabi adalah untuk mendidik manusia dengan baik dan membersihkan mereka dari noda dan keburukan serta mengaktualkan potensi yang ada pada diri mereka. Ayat tadi juga menerangkan bahwa selain pembersihan jiwa atau tazkiyah nafs, buah penting yang didapatkan dari kenabian adalah pengajaran kitab dan hikmah. Nabi Saw diutus untuk membacakan ayat-ayat Ilahi dan mengajarkan hikmah kepada umat supaya mereka selamat dari kesesatan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengenai bi’tsah Nabi Saw mengatakan, ” Pesan yang terkandung dalam bi’tsah Nabi SAW dapat kita tinjau pada bagian-bagian paling menonjol dalam Al-Quran. Pesan pertama adalah pembebasan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang. Dalam banyak hal manusia mudah membedakan antara terang dan gelap. Islam dan bi’tsah Nabi membawa pesan yang mengikat manusia agar tidak terjerumus dalam gelapnya kebodohan, kebiasaan buruk, perangai buruk, fitnah antar sesama manusia, mitos-mitos yang bercokol dalam benak manusia, kezaliman, penindasan. Pesan bi’tsah mengingatkan manusia bahwa semua ini dapat menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus; mengingatkan manusia bahwa semua ini adalah kegelapan, dan menggiring manusia menuju cahaya. Bi’tsah mencanangkan perubahan besar dalam kehidupan manusia dari berbagai aspek, termasuk sosial, penentuan arah dan tujuan, dan aspek individu.

Pesan menonjol lainnya ialah menyangkut tazkiyah nafs ; penyucian jiwa. Pesan ini tertuang dalam berbagai ayat Al-Quran dan hadist Nabi SAW yang sangat popular di seluruh kalangan umat Islam yaitu; “Aku diutus untuk menyempurnakan keutamaan akhlak.”

Categories: AGAMA, SEJARAH | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: