Orang Miskin Dilarang Sekolah!?

Dewasa ini, pemerintah Indonesia berupaya mengejar ketertinggalan di bidang ?pendidikan dengan meluncurkan program Sekolah Bertaraf Internasional ??(SBI).

Kini proyek rintisannya telah menjamur di berbagai SMP dan SMU ?di seluruh Indonesia. Untuk itu, pemerintah mengeluarkan biaya milyaran ?rupiah. Bukan hanya itu, sekolah-sekolah negeri pun menarik biaya jutaan ?rupiah dari para siswa dengan alasan untuk membiayai program rintisan ?sekolah berstandar internasional (RSBI). ?

Berbagai kalangan, terutama rakyat kecil mulai mengeluhkan program ?RSBI ini. Betapa tidak, program prestisius itu mengeruk biaya besar yang ?tidak bisa dijangkau orang tua berpendapatan menengah ke bawah. Selain ?itu, muncul masalah baru berkurangnya bangku sekolah akibat adanya ?program RSBI. ?

Sebagaimana dilaporkan Media Indonesia hari ini (Kamis,8/7) masyarakat ?Depok mengeluhkan berkurangnya alokasi bangku sekolah akibat ?penambahan kelas program RSBI. Puluhan ribu siswa di Depok, Jawa ?Barat, gagal melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri. Kegagalan itu, ?selain karena tidak lolos seleksi, juga akibat kekurangan ruang kelas, ?termasuk karena dialokasikan untuk program rintisan sekolah berstandar ?internasional (RSBI).

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Depok ?Mohammad Nurdin mengakui hal itu. Menurut Mohammad, dengan hanya ?mengandalkan gedung sekolah yang ada sekarang ini tidak akan ?menyelesaikan masalah.

Tahun ini saja, SMP negeri di Kota Depok hanya bisa menampung siswa ?sebanyak 4.778 yang lulus dari SD. Begitu pun SMA negeri hanya ?menampung siswa sebanyak 1.406 orang dari lulusan SMP, dan SMK ?negeri hanya menampung sebanyak 684 orang. Total siswa yang ?tertampung di SMP, SMA, dan SMK negeri hanya sebanyak 6.868 orang.?? ?

Ketua Garda Pena, LSM pendidikan di Kota Depok, Cornelis Leo Lamongi ?mengatakan agar masyarakat dapat menikmati pendidikan di RSBI,
ia mengusulkan hendaknya kelas reguler dengan metode pembelajaran ?yang berkualitas RSBI harus ada. ?

?Program RSBI diluncurkan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di era ?globalisasi dibandingkan negara-negara tetangga. Namun apakah ?program yang telah menyisihkan orang miskin bersekolah ini berhasil ?mewujudkan tujuannya. ?
Terkait hal ini, Satria Dharma, Direktur The Centre for the Betterment of ?Education (CBE) mengungkapkan tujuh kelemahan program SBI. ?

Pertama, program ini nampaknya tidak didahului dengan riset yang ?mendalam dan konsepnya lemah. Dikdasmen membuat rumusan 4 model ?pembinaan SBI tersebut yaitu : (1) Model Sekolah Baru (Newly ?Developed), (2) Model Pengembangan pada Sekolah yang Telah Ada ??(Existing School), (3) Model Terpadu, dan (4) Model Kemitraan. Padahal ?kalau dilihat sebenarnya hanya ada dua model yaitu Model (1) Model ?Sekolah Baru dan Model (2) Model Sekolah yang Telah Ada. Dua lainnya ?hanyalah teknis pelaksanaannya saja. ?

Dari dua model tersebut Dikdasmen sebenarnya hanya melakukan satu ?model rintisan yaitu Model Pengembangan pada Sekolah yang Telah Ada ?dan tidak berusaha membuat model Sekolah Baru. Anehnya, buku ?Panduan Penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) ?yang dikeluarkan sebenarnya lebih mengacu pada Model pertama, ?padahal yang dikembangkan saat ini semua adalah Model kedua. ?

Ini berarti, Dikdasmen tidak mampu untuk menerjemahkan model yang ?ditetapkannya sendiri sehingga membuat lembaga ini beresiko gagal total ?dalam mencapai tujuannya.?

Kedua, konsep ini berangkat dari asumsi yang salah tentang penguasaan ?bhs Inggris sebagai bahasa pengantar dan hubungannya dengan nilai ?TOEFL. Penggagas mengasumsikan bahwa untuk dapat mengajar hard ?science dalam pengantar bahasa Inggris maka guru harus memiliki ?TOEFL di atas 500. Padahal tidak ada hubungan antara nilai TOEFL dengan ?kemampuan mengajar hard science dalam bhs Inggris. ?

Ketiga, penyusun konsep ini nampaknya juga tidak paham bahwa tidak ?semua orang (terutama guru PNS!) bisa ‘dijadikan’ fasih berbahasa Inggris, ??apalagi mengajar dengan menggunakan bahasa Inggris, meskipun orang ?tersebut diminta untuk tinggal dan hidup di negara yang menggunakan ?bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari.?
? ?
Keempat, dengan penekanan pada penggunaan bahasa Inggris sebagai ?medium of instruction di kelas oleh guru-guru yang baik kemampuan ?penguasaan materi, pedagogi, apalagi masih struggling in English jelas ?akan membuat proses belajar mengajar menjadi kacau balau. Program ini jelas ?merupakan eksperimen yang beresiko tinggi yang belum pernah diteliti ?dan dikaji secara mendalam dampaknya, tapi sudah dilakukan di ratusan ?sekolah yang sebetulnya merupakan sekolah-sekolah berstandar “A”. ?

Kelima, kritik paling mendasar barangkali adalah kesalahan asumsi dari ?penggagas sekolah ini bahwa Sekolah bertaraf internasional itu harus ?diajarkan dalam bahasa asing (Inggris khususnya) dengan menggunakan ?media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD . ?Padahal negara-negara maju seperti Jepang, Perancis, Finlandia, Jerman, ?Korea, Italia, dll. tidak perlu menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ?pengantar jika ingin menjadikan sekolah mereka bertaraf internasional. ?

Keenam, kesalahan mendasar lain adalah asumsi bahwa Sekolah Bertaraf ?Internasional hanyalah bagi siswa yang memiliki standar kecerdasan ?tertentu. Kurikulum yang bertaraf internasional dianggap tidak bisa ?diterapkan pada siswa yang memiliki tingkat kecerdasan rata-rata. Ini juga ?mengasumsikan bahwa SNP (Standar Nasional Pendidikan) hanyalah bagi ?mereka yang memiliki tingkat kecerdasan ‘rata-rata’. ?

Ketujuh, dengan program SBI ini Depdiknas memberikan persepsi yang ?keliru kepada para orang tua, siswa, dan masyarakat bahwa sekolah-?sekolah yang ditunjuknya menjadi sekolah Rintisan tersebut adalah ?sekolah yang ‘akan’ menjadi Sekolah Bertaraf Internasional dengan ?berbagai kelebihannya. ?

Sejatinya, RSBI hanya diperuntukkan bagi siswa mampu, sedangkan siswa ?miskin terpaksa harus memilih sekolah lain. Padahal, banyak warga miskin ?yang pintar dan mampu bersaing di dunia internasional. Fenomena RSBI ?ini persis seperti gambaran penulis muda prolifik Eko Prasetyo, Orang ?Miskin Dilarang Sekolah! (IRIB/Media Indonesia/PH)?

Categories: Dalam Negeri | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: