Membela Korban Senjata Kimia

Pada peristiwa Perang dunia pertama, pasukan Jerman untuk pertama kalinya memasuki sebuah kota di Belgia dan menggunakan senjata barunya. Pada tanggal 22 April 1915, mereka membunuh ribuan tentara sekutu dengan gas kimia. Secara total, lebih dari 85 ribu orang tewas dan sisanya cidera akibat senjata kimia pada perang dunai pertama. Penggunaan senjata tidak manusiawi itu menyebabkan pemerintah dan lembaga-lembaga internasional bertindak untuk mengontrol produksi dan penggunaan senjata tersebut.

Urgensi larangan senjata pembunuh massal semakin sensitif pada tahun 1923, menyusul penggunaan senjata tersebut oleh pasukan Inggris dalam menumpas kelompok pejuang Irak.

Pada tahun 1920, Palang Merah Internasional dan sejumlah negara meratifikasi protokol Jenewa, dan penggunaan senjata kimia dilarang berdasarkan ketentuan tersebut. Pada akhir perang dunia kedua, Amerika menjadi penguasa senjata pemusnah massal terbesar di dunia. Senjata tersebut digunakan oleh Amerika untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki serta membantai ratusan ribu warga Jepang.

Persaingan kepemilikan senjata nuklir semakin meningkat menyusul sejumlah negara seperti Rusia, Cina, Inggris, Perancis dan rezim Zionis tercatat sebagai negara pemilik senjata pemusnah massal.

Gas kimia dipergunakan oleh Italia dalam menghadapi perlawanan rakyat Ethiopia pada dekade 1930-an. Selain itu, Cina juga mengunakannya pada perang dunia kedua dan Yaman juga memanfaatkan senjata berbahaya ini pada tahun1963. AS menggunakan senjata kimia dalam perang Vietnam. Pada perang tersebut mereka menumpahkan 80 juta liter bahan kimia di berbagai kota, hutan dan ladang pertanian serta rakyat dan gerilyawan Vietnam.

Selain itu, pencemaran lingkungan akibat senajat kimia ini merugikan ratusan ribu warga Vietnam. Dengan demikian, pemerintah AS pasca pemboman Jepang kembali melakukan kejahatan untuk kedua kalinya. Kali ini menggunakan senjata kimia dalam perang Vietnam.

Penggunaan senjata kimia kembali terulang dalam agresi militer selama delapan tahun yang dilakukan rezim Saddam Hossein ke wilayah Iran pada dekade 1980. Rezim Baath yang dipimpin diktator Saddam dengan dukungan negara-negara Barat dan Arab mengira bisa menguasai sebagian besar wilayah Iran dalam hitungan beberapa pekan. Namun, perlawanan rakyat Iran berhasil mengusir para agresor. Menyaksikan kegagalan itu, Saddam mulai menggunakan senjata kimia.

Rezim Baath berulangkali menggunakan senjata kimia, hingga memunculkan protes Dewan Keamanan PBB. Pada perang yang dipaksakan rezim Baath terhadap pejuang Iran, 70 ribu orang warga Iran syahid dan cidera. Korban cacat akibat senjata kimia ini terus merasakan penderitaan hingga akhirnya satu persatu gugur syahid.

Serangan kimia terbesar yang dilakukan militer rezim Baath terhadap warga sipil Iran terjadi pada 28 Juni 1987. Pada waktu itu, jet-jet tempur Irak membombardir sejumlah kota di barat laut Iran dengan senjata kimia. Serangan tersebut menyebabkan 110 orang syahid dan 5000 orang cidera. Tidak cukup hanya dengan pembantaian tidak berperikemanusiaan ini, enam bulan kemudian, rezim Baath membantai kota Kurdi di wilayah Halabche, utara Irak pada 16 Maret 1988.
Dalam serangan brutal itu, lima ribu laki-laki, perempuan dan anak-anak Irak menjadi korban tragedi ini. Dengan kejahatan ini, nama Saddam Hossein berada disamping pemerintah Amerika sebagai penjahat perang yang menggunakan senjata kimia terhadap rakyat.

Terang saja, kejahatan tersebut memicu kemarahan opini publik dunia. Setelah itu, Konvensi larangan senjata kimia diratifikasi pada tahun 1992. Berdasarkan konvensi tersebut, produksi, penyimpanan, penyebaran dan penggunaan senjata kimia dan mikroba dilarang di dunia. Selain itu, seluruh negara pemilik senjata nuklir dan kimia harus memusnahkan cadangan senjatanya. Namun sebagaimana biasanya, Amerika tidak menaati konvensi tersebut dan menolak memusnahkan senjata kimia dan mikrobanya. Rusia pun beberapa waktu lalu menyatakan penentuan tenggat waktu penghancuran senjata kimianya hingga tahun 2012.

Negara-negara besar menetapkan kebijakan traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT). Meski demikian, mereka menentang penghancuran senjata nuklir dan menekan negara lain supaya tidak menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Alasan kebijakan unilateral Barat, karena mereka ingin memonopoli teknologi tinggi tersebut.

Tampaknya Barat berupaya mempertahankan senjata kimia dan mikrobanya, namun ironisnya mereka mengontrol negara lain supaya tidak menggunakan senjata nuklir. Kazem Gharibabadi, Dubes Iran untuk Belanda menyinggung kebijakan pemerintah Barat, seraya menegaskan, “Dengan tidak mengindahkan tenggat waktu penghancuran senjata kimia, mereka mengancam kredibilitas konvensi dan lembaga yang melarang senjata kimia.” Gharibabadi juga mendesak keputusan untuk memaksa negara-negara Barat menunaikan kewajibannya. Dubes Iran untuk Belanda ini mengemukakan pandangannya dalam pertemuan Dewan pelaksana organisasi larangan senjata Kimia yang digelar pada 29 Juni hingga 2 Juli di Den Haag.

Dalam pertemuan tersebut, Gerakan Non Blok (GNB) juga menyebut AS dan Rusia tidak menepati komitmennya mengenai penetapan tenggat waktu penghancuran seluruh cadangan senjata kimia. GNB sangat mengkhawatirkan cadangan senjata nuklir yang dimiliki kedua negara adidaya itu terutama AS, mengingat negeri Paman Sam tersebut punya sejarah buruk mengenai penggunaan senjata berbahaya tersebut.

Seiring pertemuan dewan eksekutif larangan senjata kimia di Belanda, di Tehran berlangsung seminar mengenai dukungan terhadap korban senjata kimia dengan mengangkat tema, “Duta Perdamaian, Para Korban Senjata Kimia dan Nuklir dan Harapan Damai dan Adil”.

Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Republik Islam Iran dalam seminar ini mengungkapkan, negara-negara yang menyimpan ribuan senjata mikroba dan kimia, tidak bisa mengklaim sebagai pengusung perdamaian di dunia.” Dalam seminar ini, Saeed Jalili, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran menyinggung poin penting ini, seraya mengatakan, “Selama keistimewaan diberikan kepada anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang memiliki senjata pemusnah massal, mereka tidak bisa diharapkan akan memperjuangkan perlucutan senjata mematikan itu.”

Pada pertemuan para duta perdamaian di Tehran yang bertepatan dengan peringatan serangan kimia pasukan Saddam ke kota Sardasht, Ahmadinejad menghadiahi lencana perdamaian bagi delegasi dari Jepang, Belgia, Vietnam, Lebanon dan Irak yang menjadi korban senjata nuklir dan kimia. Sebaliknya, delegasi dari negara tersebut menghadiahi cindera mata perdamaian dan keadilan kepada Presiden Iran. Dalam seminar tersebut, Ahmadinejad menyatakan, “Kejahatan terbesar adalah pembantaian manusia. Lebih tinggi dari itu adalah pembantaian repetitif.”

Menyinggung penderitaan korban senjata kimia dan nuklir, Ahmadinejad menyebut mayoritas mereka berakhir dengan kematian yang mengenaskan. Laporan medis menunjukkan bahwa cacat akibat gas kimia dimulai dengan merusak penglihatan kemudian masuk ke paru-paru dan sistem syaraf. Tiap senjata kimia tersebut memiliki dampak buruk masing-masing. Riset yang dilakukan terhadap para korban senjata kimia di Iran menunjukkan rusaknya sistem pertahanan tubuh para korban dan mereka mengidap infeksi buruk. Selama 22 tahun pasca berakhirnya perang yang dipaksakan, rakyat Iran menyaksikan syahidnya salah seorang yang terluka akibat senjata kimia.

Bangsa Iran dan Irak berhak menyeret dan mengadili orang, perusahaan dan negara yang membantu Saddam membuat dan menggunakan senjata kimia. Saeed Jalili dalam seminar ini mengungkapkan, berdasarkan dokumen resmi, Amerika Serikat dan 14 negara Eropa adalah pelaku utama yang mempersenjatai Saddam dengan senjata kimia.” Jalili mendesak pengadilan negara -negara tersebut. Pasca berakhirnya perang yang dipaksakan Irak terhadap Iran, Tehran bertekad menyeret Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis, dan Belanda yang menjual senjata kimianya kepada Saddam. Lebih parah lain, selain menjual senjata kimia kepada rezim Baath Irak, Jerman juga mengajari penggunaan senjata berbahaya tersebut. Namun ironisnya negara-negara yang telah menewaskan dan melukai puluhan ribu rakyat Iran dan Irak itu hingga kini tidak pernah ditindak dan diseret ke pengadilan.

Senjata kimia dan nuklir merupakan noktah hitam bagi kemanusiaan. Penggunaan senjata ini merupakan tragedi besar dalam lembaran sejarah. Foto-foto yang dipajang dalam pameran duta perdamaian di Tehran merupakan sebagian kecil dari tragedi kemanusiaan. Hal menunjukkan urgensi pemusnahan secepatnya senjata kimia, mikroba dan nuklir. (IRIB/PH/SL)

Categories: Hubungan Internasional, SEJARAH | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: