Larang Burka, Amnesti Internasional Kritik Prancis

Debat Burka di parlemen Prancis terus berkepanjangan. Menteri Hukum Prancis, ‎Michelle Alliot-Marie’s terus berupaya agar Burka dilarang di negaranya.

Menurut ‎dia, penggunaan burka telah melukai nilai-nilai masyarakat Prancis yang sekuler. ‎Dia pun berharap agar larangan untuk mengenakan burka itu jadikan undang-‎undang.

Amnesti Internasional pun sudah mengingatkan Prancis untuk menolak rancangan ‎undang-undang tersebut. Hal senada juga dikemukakan oleh kelompok anti-rasis, ‎MRAP. Kelompok ini menganggap bahwa undang-undang pelarangan burka ‎sangat tidak berguna dan mengundang bahaya.

Namun Marie’s tetap ngotot dengan pelarangan itu. Saking ngototnya untuk ‎memperjuangan aturan pelarangan burka, Marie’s sampai-sampai mendata ‎Muslimat di Prancis yang mengenakan burka. Kata dia, saat ini di Prancis terdapat ‎‎1.900 Muslimat yang mengenakan busana penutup wajah itu. Dengan jumlah yang ‎dinilai tidak signifikan, dia lantas menganggap bahwa pelarangan burka semestinya ‎bisa lebih mudah untuk dijalankan.

Lebih jauh dia pun menyatakan bahwa pelarangan burka ini tidak ada kaitannya ‎dengan agama. Padahal jelas-jelas mereka yang mengenakan burka itu ‎menjadikan agama sebagai alasan utamanya. Selain itu, dia juga menjual isu ‎kesetaraan gender dan perlindungan terhadap kaum wanita sebagai alasan untuk ‎melarang burka.

‎”Ini adalah persoalan soal harga diri, kesetaraan, dan transparansi,” kata dia dalam ‎pidatonya di parlemen Prancis. Jika disahkan, aturan itu tidak akan dinamai ‎undang-undang pelarangan burka, tapi undang-undang pelarangan menutup wajah ‎di depan publik. Mereka yang melanggar aturan tersebut dikenai denda sebesar ‎‎185 dolar AS atau sekitar Rp 1,6 juta.

Terang saja, perdebatan ini menjadikan para aktivis masjid di Prancis kian risau. Said Aalla, ketua persatuan masjid di Strasbourg, mempertanyakan upaya ‎penegakan aturan itu. Dia khawatir, pelarang burka, kemudian menjadikan alat ‎untuk menstigma Islam sebagai agama yang melanggar aturan dan harus dijauhi. ‎‎(IRIB/Republika/PH)‎‎ ‎ ‎ ‎ ‎

Categories: Feminimisme, Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: