15 Khordad, Daya Lawan Suara Rakyat Iran

Kurang dari sebulan pasca kemenangan revolusi Islam, Bapak pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini mengungkapkan pengaruh besar perlawanan 15 Khordad (5 Juni 1963) terhadap kemenangan revolusi Islam Iran. Beliau mengatakan, “15 Khordad adalah titik pangkal sejarah dan permulaan revolusi. Mereka bangkit pada dengan heroik melawan para penindas pada 15 Khordad. Jangan katakan mereka mati, karena mereka adalah awal gerakan besar revolusi Islam.”

Kehadiran Imam Khomeini pada permulaan dekade 1960 menorehkan dua perubahan besar dalam masyarakat Iran. Di satu sisi, Imam mematahkan sikap bungkam yang menyelimuti hauzah Ilmiah Qom pasca revolusi konstitusional dalam melawan rezim despotik dalam negeri dan imperialisme asing. Di sisi Iain, Imam Khomeini juga mengakhiri teori sekularisme yang memisahkan agama dan politik. Tanpa embel-embel partai, maupun ormas, Imam Khomeini mengemukakan pemikiran murni Islam dan menyerukan kebangkitan serta kewajiban mendirikan pemerintahan yang menjunjung tinggi kehormatan manusia dan hak bangsa Iran.

Kebangkitan 15 Khordad terbentuk pada kondisi seperti ini dan mengambil inspirasi dari Imam Khomeini. Perbedaan utama antara perlawanan ini dengan gerakan lainnya adalah identitas keislamannya. Dengan dasar ini, gerakan 15 Khordad adalah sebuah gerakan politik, sosial, pemikiran dan budaya yang unik sebagai sarana untuk mewujudkan kemenangan revolusi Islam Iran.

Salah satu karakteristik gerakan 15 Khordad adalah peran vital marjiah syiah sebagai poros utama kekuatan politik. Rezim Shah adalah rezim anti Islam dan politik sekular yang mengusai Iran, di saat mayoritas masyarakat cenderung menghendaki terwujudnya sistem Islam. Sebelum 15 khordad, tidak ada marja taklid yang berjuang dan aktif di kancah politik seperti Imam Khomeini yang dengan gigih dan tak mengenal lelah melawan rezim despotik Pahlevi. Beliau adalah tipikal ulama yang memimpin gerakan besar rakyat Iran pada 15 Khordad.

Sejak awal, kebangkitan 15 Khordad yang berujung pada kemenangan revolusi Islam, Imam bukan hanya menggulingkan rezim despotik. Bahkan beliau dengan berani menentang imperialisme Timur dan Barat serta Rezim Zionis Israel. Oleh karena ini selama revolusi kita saksikan slogan, “Tidak Timur dan Tidak Barat” menjadi simbol utama pergerakan bangsa Iran.

Rezim Shah berkayakinan bisa membungkam gerakan rakyat Islam dengan menumpas perlawanan15 Khordad dan pengasingan Imam Khomeini ke luar negeri. Namun realitas terjadi sebaliknya, alih-alih hancur, perlawanan rakyat yang dipimpin Imam Khomeini justru menjadi awal sakaratul maut bagi rezim despotik Shah dan melahirkan revolusi Islam Iran.

Abad 20 hingga dekade 1980, menjadi momentum kebebasan bangsa Iran dan kemenangan gradual, yang tidak bertahan lama. Lebih dari 100 tahun lalu, Mozaffar al-Din Shah Qajar menandatangani instruksi konstitusional, karena merasa tidak lagi mampu menghadapi tuntutan masyarakat. Kurang dari tiga tahun setelah Shah sakit, tahta kekuasaan raja dipegang oleh putra mahkota, Muhammad Ali Qajar. Tidak lama setelah menjabat sebagai raja, putra mahkota, Muhammad Ali menutup parlemen nasional yang merupakan simbol konstitusi yang dikehendaki mayoritas rakyat Iran. Ulah ini memicu gelombang protes rakyat.

Bombardir parlemen di Tehran berbuntut perlawanan di kota Tabriz dan Esfahan serta Gilan. Namun perlawanan rakyat ini berjalan di tempat, karena tidak ada pemimpin visoner dan cakap dalam memimpin perjuangan ini. Akhirnya, Reza Khan memanfaatkan kesempatan ini untuk menggulingkan dinasti Qajar dengan dukungan dan arahan Inggris. Reza Shah menduduki Tehran dan berakhirlah kekuasaan dinasti Qajar. Reza Shah mendirikan sebuah sistem baru yang kelihatannya kuat dari luar, tapi bergantung pada asing dan membungkam tuntutan rakyat muslim Iran sendiri.

Perang dunia kedua dan pembagian kembali dunia kepada para pemenang perang, merupakan sumber perubahan besar dan kecil pada pertengahan abad 20. Karakteristik paling nyata perubahan yang terjadi di geografi dunia ketiga, Afrika dan Amerika Latin, adalah terbentuk dan tumbuhnya gerakan perlawanan menghadapi pemerintahan despotik. Pemikiran serupa mulai menyembul di benak bangsa Muslim dan pejuang Iran pada permulaan dekade 1950. Nasionalisasi industri minyak Iran pada Maret 1951 merupakan buah dari gelombang ini.

Tuntutan publik ini lahir dari strategi dan solidaritas para pemimpin Iran baik dari kalangan agamawan maupun bukan. Namun kemudian, para pemimpin ini berpecah belah, karena sebagian dari mereka tidak memiliki pandangan yang dalam mengenai musuh asing dan perannya dalam mendukung rezim despotik Shah. Menyusul kudeta kolektif AS dan Inggris yang berada di balik Shah terhadap pemerintah legal Dr. Musaddiq pada Agustus 1953, kembali lagi memberangus gerakan independen rakyat Iran.

Kurang dari 10 tahun pasca kudeta AS dan Inggris, pada Juni 1963 berlangsung demonstrasi berdarah melawan rezim despotik di berbagai kota di Iran, terutama di Tehran dan Qom. Shah tidak berhasil menumpas perlawanan bangsa muslim Iran, meski ia mengerahkan seluruh militernya. Pada Juni 1963, rakyat Iran berhasil mengibarkan bendera perlawanan Islam di bawah pimpinan imam khomeini.

Rakyat Muslim Iran menyebut metode kepemimpinan Imam Khomeini mengambil pelajaran dari kepemimpinan para nabi yang keluar dari segala bentuk khurafat. Dengan keimanannya yang dalam dan suluk politiknya, Imam Khomeini menganalisis dan memprediksi sejumlah peristiwa penting yang akan terjadi di kawasan dan dunia. Pada dekade 1960, ketika menjawab pertanyaan seorang jenderal rezim Shah di penjara, mengenai kekuatan mana yang akan mendukung Imam menghadapi militer shah. Dengan tenang Imam Khomeini menjawab, tentara pendukungku masih dalam kandungan.

Dengan berjalannya waktu, generasi muda itu tumbuh besar memperjuangkan revolusi Islam dan berparang melawan rezim saddam dalam perang pertahanan suci. Selain itu, Imam dalam surat politiknya kepada Presiden terakhir Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, mengabarkan hancurnya sistem komunis dunia dan memperingatkan eskalasi perang terhadap para kepala negara Teluk Persia dan Timur Tengah akibat kerakusan mesin perang rezim Saddam Hussein.

Saat itu, prediksi Imam Khomeini ini tidak diperhitungkan oleh mayoritas analis politik, bahkan dianggap angin lalu. Namun kini, kita menyaksikan kebenaran prediksi beliau mengenai peristiwa yang mengakhiri abad 20 itu. Bisa dikatakan, Imam Khomeini pada dekade 60-an adalah penutup peristiwa politik dan mengulirkan revolusi terbesar abad 20. Ketika itu, selama bertahun-tahun diasingkan di Irak, berbulan-bulan tinggal di Perancis, dan 10 hari menyambut kemenangan revolusi, Imam Khomeini dengan tegas mengatakan rezim Shah akan terguling dan revolusi Islam akan menang. Kita menyaksikan buktinya, hari ini juga. (IRIB/PH)

Categories: Hubungan Internasional, SEJARAH, TOKOH | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: