Pesan bela sungkawa Sayyid Ali Khamenei (Rahbar) atas Meninggalnya Ayatullah Sayyid Hussein Fadlullah

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran-Rahbar)

Menyusul meninggalnya Ayatullah Sayyid Hussein Fadlullah, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengirimkan pesan bela sungkawa. Dalam pesannya, Rahbar mengatakan, ” Saya mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya alim mujahid Ayatullah Sayyid Muhammad Hussein Fadlullah (semoga Allah merahmatinya) kepada keluarga besar Fadlullah dan seluruh pecintanya di Lebanon dan masyarakat keturunan Lebanon di Afrika dan Amerika Latin serta kepada seluruh pengikut Syiah Lebanon.”

Ia juga menuturkan, “Beliau adalah ulama besar yang tak kenal lelah di bidang agama dan politik serta seorang tokoh agama yang sangat berpengaruh. Lebanon tidak akan melupakan pelayanan dan berkah alim rabbani ini.”
Tak ketinggalan pula, Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad menyampaikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Marji Syiah di Lebanon, Ayatullah Husein Fadhlullah kepada keluarganya dan umat Islam.
Ahmadinejad dalam pesannya yang ditujukan kepada sejawatnya dari Lebanon, Michel Sleiman menyatakan, tak diragukan lagi pengabdian dan jasa Ayatullah Fadlullah selama hidupnya yang berusaha keras mempersatukan rakyat Lebanon akan tercatat dalam sejarah negara ini.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Sabtu pagi (03/7) mengadakan pertemuan dengan Kepala Bidang Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB) bersama para sutradara, penulis, seniman dan kru rumah-rumah produksi pertunjukan IRIB. Dalam kesempatan itu Rahbar menilai pentingnya posisi media nasional khususnya di bidang seni pertunjukan, film dan sinetron. Beliau juga mengucapkan terima kasih yang tulus atas kerja keras para manajer dan senima media nasional di bidang ini.
“Dengan memanfaatkan fasilitas perangkat keras dan lunak, termasuk sejarah dan budaya Iran, negara ini dapat mengurangi kesenjangan dengan kondisi yang ada atau bahkan menutupinya,” ujar Rahbar.

Dalam pidatonya, Rahbar menyatakan, keteguhan historis bangsa Iran dalam menghadapi front arogansi menjadi sumber permusuhan kekuatan-kekuatan besar terhadap bangsa ini. Ditambahkannya, “Periode masa kini dari sisi politik dapat dikatakan era istimewa. Namun tak syak, bangsa besar Iran bakal melewati masa yang sulit ini. Setiap pergerakan termasuk di karya-karya seni, selalu memasukkan kenyataan periode bersejarah ini, yakni permusuhan kekuatan-kekuatan arogan terhadap bangsa Iran dan memainkan peran dalam menghadapi permusuhan ini.”

Dalam kesempatan tersebut, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengingatkan kebohongan musuh-musuh bangsa Iran terkait masalah demokrasi, hak asasi manusia dan kerjasama antarbangsa. Ditambahkannya, “Mereka yang memberikan senjata dan bahan-bahan kimia kepada Saddam guna melakukan kejahatan terhadap bangsa Iran. Kini, mereka membangun jaringan yang tampak sebagai jaringan budaya namun tetap punya tujuan yang sama. Fenomena ini harus diungkapkan pada semua orang.”

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei juga mengucapkan terima kasih yang dalam kepada Kepala Lembaga Penyiaran Iran, Sayyed Ezzatollah Zarghami dan para manajer media nasional ini khususnya di bidang seni pertunjukan. Ditambahkannya, “Sekalipun sudah ada kerja keras yang tak ternilai seperti ini namun masih ada jarak kesenjangan. Di sini, jarak yang ada ini dapat dikurangi atau ditutupi dengan memanfaatkan segala kapasitas, perangkat keras dan lunak serta usaha yang lebih keras lagi untuk memperbaiki program-program yang ada.”

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, menilai upaya Barat dan AS ‎dalam memblokade Iran sebagai langkah untuk menyelamatkan diri dari jalan ‎buntu yang menghambat mereka. Ahmadinejad mengatakan, “Sanksi semacam ini ‎sama sekali tidak berguna bagi Iran.”‎

Ahmadinejad dalam acara ‎peresmian perluasan proyek pabrik besi Bonab di Azerbaijan, barat laut Iran, hari Senin, (5/7) ‎mengatakan, “Jika bangsa Iran dengan latar belakang sejarah yang panjang dan ‎geografi yang luas, berupaya ekstra, maka tidak ada lagi tempat bagi negara-‎negara arogan di dunia.”‎
Lebih lanjut Ahmadinejad menjelaskan, “Kini, kemajuan teknologi nuklir Iran ‎menjadi modal Barat dan AS untuk memojokkan bangsa ini. Mereka sama sekali ‎tidak kuat menyaksikan mendunianya kebudayaan dan peradaban Iran.”‎
Dalam kesempatan tersebut, Ahmadinejad menyebut sanksi terhadap Iran sebagai ‎langkah yang sia-sia. Ia mengatakan, “Pandangan Iran bukan hanya mendobrak ‎sanksi, tapi juga mencapai puncak kemajuan dan pembangunan di segala bidang.” ‎‎

Sebelumnya, Ahmadinejad dalam acara pembukaan pameran internasional ‘Duta Perdamaian’ yang digelar di Tehran seiring dengan peringatan hari penentangan terhadap senjata kimia dan kuman, hari Selasa (29/6), mengatakan, “Mereka yang berambisi menegakkan perdamaian di dunia lewat kekerasan, unilateralisme dan paksaan terhadap bangsa-bangsa lain adalah para pembohong terbesar dalam sejarah.”

Ahmadinejad menyebut perdamaian sebagai hasil dari cinta dan kasih sayang, bukan dendam dan kebencian; perdamaian terwujud karena persahabatan dan cinta buka permusuhan dan perang. Presiden Ahmadinejad lebih lanjut menegaskan bahwa pihak yang menyimpan ribuan senjata atom, kimia dan kuman tidak berhak mengaku sebagai pihak yang cinta damai.
Seraya mengenang para korban senjata pemusnah massal Ahmadinejad menandaskan, “Selama orang-orang yang tak mengenal kemanusiaan masih memenuhi gudang-gudang senjatanya dunia tidak akan pernah menyaksikan perdamaian dan ketenangan.”

Menyusul kegabahan Dewan Keamanan (DK) PBB dalam memutuskan resolusi anti-nuklir Iran, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Manoucher Mottaki menyatakan bahwa Tehran melayangkan surat kepada para anggota Dewan Keamanan (DK) PBB. Mottaki menambahkan, surat itu segera akan diterima oleh para anggota DK PBB. Pernyataan Mottaki disampaikan di hadapan para wartawan, hari Selasa (29/6).

Mottaki dalam kesempatan itu juga menyatakan akan mempublikasikan isi surat itu secara umum dalam waktu dekat ini. Setelah resolusi anti-Iran nomor 1929 diratifikasi, Tehran menyatakan akan melayangkan surat kepada para anggota DK PBB.

Ketika menjawab pertanyaan mengenai adanya kemungkinan bahwa kelompok 5+1 menolak syarat-syarat yang diajukan Iran untuk berunding, Mottaki menjawab, “Mereka saat ini bukan berada dalam posisi dapat menolak syarat-syarat itu.” Wartawan kembali melontarkan pertanyaan, apakah ini peluang terakhir bagi Barat? Mottaki menjawab, “Dalam diplomasi tidak ada jalan tertutup. Kami selalu memberi kesempatan.”
Ketua Parlemen Iran kepada wartawan, hari Jumat (2/7) menjelaskan statemen akhir pertemuan luar biasa Uni Parlemen Negara-negara Islam (IIPU) yang menegaskan tindak lanjut laporan Goldstone ke Dewan Keamanan PBB dan pengiriman konvoi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Ketua Parlemen Iran menilai strategi statemen akhir pertemuan IIPU mengenai Palestina berbeda dari sebelumnya. Berdasarkan ketentuan dalam pertemuan ini dijadwalkan pejabat tinggi parlemen negara-negara Islam yang dipimpin Ketua Parlemen Suriah, Mahmoud al-Abrash akan bertolak ke Gaza. Pertemuan yang berlangsung sejak Rabu (30/6) membahas masalah Palestina terutama kondisi warga tertindas Gaza.

Dalam pertemuan tersebut, Larijani menegaskan solidaritas negara-negara Islam terhadap nasib bangsa Palestina dan mengemukakan 12 solusi praktis antara lain: mengkaji sarana legal untuk memutus hubungan politik, ekonomi dan budaya dengan rezim Zionis, ratifikasi undang-undang larangan lalu lintas kapal rezim Zionis dan merapatnya kapal Israel di bandara negara-negara anggota OKI, melarang zona udara negara-negara Islam bagi jalur penerbangan Israel dan mengirimkan kapal baru pengangkut bantuan kemanusiaan untuk Gaza.

Larijani dalam lawatan tiga harinya di Suriah, selain berpidato di sidang luar biasa IIPU di Damaskus, juga bertemu dengan Ketua Biro Politik Hamas, Khaled Meshal, Sekjen Jihad Islam, Ramadan Abdullah Shalah serta Ahmad Jibril, Sekjen Front Pembebasan Rakyat Palestina (PFLP). Selain itu, Larijani juga menemui sejawatnya dari Indonesia, Lebanon, Pakistan, Arab Saudi, Bahrain dan Oman. Pada pertemuan terpisah, mereka menegaskan peningkatan hubungan bilateral dan koordinasi antarparlemen.

Di luar itu, Larijani juga bertemu dan berunding dengan Wakil Presiden Suriah, Farouq Al Shara, hari Kamis, (01/1) mengenai hubungan bilateral Tehran-Damaskus dan masalah Palestina terutama blokade Gaza. Kedua pejabat ini mendesak pemerintah Mesir mengakhiri blokade Gaza dan kerjasama negara-negara Islam mengenai pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza serta proses pembentukan kabinet baru Irak.

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: