Lintas Sejarah 27 Juni

Helen Keller

Helen Keller Lahir

Tanggal 27 Juni 1880, Helen Keller, seorang penulis dan peneliti buta asal AS, terlahir ke dunia. Helen Keller dianggap sebagai tokoh yang telah membuka mata dunia agar menghormati dan menghargai orang-orang yang buta dan tuli. Hellen Keller terlahir ke dunia dalam keadaan normal, namun pada usia satu setengah tahun, ia terserang sakit parah yang mengakibatkan ia kehilangan penglihatan dan pendengarannya. Pada usia ke-7 tahun, Keller diajar oleh seorang guru pribadi bernama Anne Sullivan untuk berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Keller kemudian belajar untuk membaca bahasa Perancis, Jerman, Yunani dan Latin dalam huruf Braille. Pada usia 20 tahun, Keller berhasil diterima di universitas. Dia kemudian aktif menulis buku dan menggalang dana untuk membantu orang-orang buta. Buku pertamanya berjudul The Story of My Life telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Antara tahun 1946 hingga 1957, Hellen Keller melakukan perjalanan ke 39 negara di lima benua untuk berpidato dengan bantuan Anne Sullivan tentang pengalamannya dan menyerukan masyarakat agar menghormati hak-hak orang buta. Hellen Keller meninggal tahun 1968 pada usia 87 tahun.

Kemerdekaan Djibouti

Tanggal 27 Juni 1977 Jibouti bebas dari penjajahan bertahun-tahun Perancis dan meraih kemerdekaannya. Setiap tahun, pada hari ini, rakyat Jibouti merayakannya sebagai hari kemerdekaan. Negeri ini semenjak tahun 1896 menjadi jajahan Perancis dengan nama Somalia Perancis. Namun setelah 80an tahun berjuang, akhirnya Jibouti memperoleh kemerdekaannya, Jibouti adalah Negara terakhir yang bergabung dengan Liga Arab. Negara ini terletak di timur benua Afrika, di pertemuan laut Merah dan samudra Hindia, yang berada di selat Babul-Mandab. Karenanya dari segi geopolitik, negeri tersebut memiliki posisi yang amat strategis.

Ayatollah Khamenei Diteror

Tanggal 27 Juni 1981 Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Khamanei, yang saat itu menjabat sebagai wakil Imam Khomeyni di Dewan Tinggi Pertahanan Iran, dan Imam Jumat Tehran diteror oleh sekelompok terorisme munafik.Ayatollah Khamanei mengalami luka berat akibat letupan bom yang sengaja diledakkan ketika beliau tengah berpidato. Namun secara menakjubkan, beliau masih bisa terselamatkan, hingga kemudian beliau pun memegang tampuk kepemimpinan Revolusi Islam. Meski demikian, tangan kanan Ayatollah Khamanei mengelami cedera yang amat serius. Menyikapi peristiwa itu, Imam Khomeyni melayangkan sebuah pesan yang menuturkan, “Kini, musuh-musuh Revolusi Islam tengah berbuat jahat kepada mu, kepada seorang keturunan Rasul saw dan keluarga Imam Husein bin Ali as, engkau tak punya kesalahan kecuali selain berkhidmat kepada Islam dan negara Islam, engakau berjuang dalam medan peperangan, seorang guru yang mendidik, khatib yang tangguh di hari jumat dan di tengah-tengah rakyat, engkau memberikan panduan dengan penuh ketulusan di kancah revolusi, engkau telah mematrikan kekuatan pemikiran politikmu, pembelaanmu kepada rakyat dan penentanganmu kepada para penzalim”.

AS Serang Bagdad

Tanggal 27 Juni tahun 1993, dengan menggunakan 23 rudal jarak jauh, AS menyerang kota Bagdad dan sekitarnya. Serangan ini dilancarkan karena AS menuduh rezim Sadam terlibat dalam usaha pembunuhan terhadap Presiden AS saat itu, George Bush Senior, ketika dia tengah melakukan kunjungan ke Kuwait pada bulan April tahun yang sama. Dalam serangan ini enam warga sipil Irak tewas dan sebuah kantor badan keamanan Irak rusak.

Rahmonov dan Abdullah Nur Tandatangani Perdamaian

Tanggal 27 Juni tahun 1997, Presiden Tajikistan, Imamali Rahmonov, dan pemimpin pejuang Islam negara tersebut, Abdullah Nur, menandatangani perjanjian damai di Moskow. Dengan ditandatanganinya perjanjian tersebut, berakhirlah perang saudara di Tajikistan yang telah berlangsung selama lima tahun. Sekitar setahun setelah kemerdekaan Tajikistan tahun 1991 menyusul keruntuhan Uni Soviet, muncullah konflik di antara kelompok yang menginginkan dijalankan pemerintahan Islam di Tajikistan dengan kelompok pro-Rusia. Konflik ini akhirnya meletus menjadi perang saudara yang menimbulkan banyak korban jiwa. PBB, Iran, dan Rusia berusaha menjadi mediator di antara kedua kelompok tersebut yang akhirnya berhasil menggolkan penandatanganan perjanjian damai tahun 1997. Berdasarkan perjanjian ini, 30 persen jabatan pemerintahan diberikan kepada kelompok Islam dan tentara Islam mereka diikutkan dalam militer Tajikistan. Selain itu, dilakukan pula amandemen terhadap UUD Tajikistan yang mengakomodasi kehendak kelompok Islam. Islam merupakan agama mayoritas penduduk Tajikistan. Pengaruh Islam masuk ke negara ini sejak abad ke-10. Selama berada di bawah Uni Soviet, umat Islam dilarang menjalankan ibadah-ibadahnya. Namun demikian, semangat Islam tetap tersimpan dalam jiwa mereka dan setelah runtuhnya Uni Soviet, rakyat Tajikistan mendeklarasikan negara independen dan nilai-nilai Islam kembali hidup di negara tersebut.

Categories: SEJARAH | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: