Pegawai Negeri Terkaya di Dunia

Kasus makelar kasus (markus) senilai puluhan miliar yang melibatkan pegawai Ditjen Pajak Gayus Tambunan semakin melebar. Menurut laporan terbaru, eks Pejabat Sementara Kepala Seksi Keberatan Direktorat Pajak, Maruli Pandopatan Manurung dipanggil oleh Polri terkait dengan kasus ini.

Seperti dilaporkan Republika, pemanggilan terhadap eks pejabat sementara Kepala Seksi Keberatan Direktorat Pajak, Maruli Pandopatan Manurung oleh Polri, dipastikan memang terkait dengan kasus mafia pajak Gayus.

Menurut Kepala Bidang Penerangan Umum Polri, Kombes Pol Marwoto Soeta, pemanggilan terhadap Maruli tidak terkait dengan perkara khusus, seperti penanganan PT SAT Sidoarjo. “Karena kalau kasus mafia itu tidak berdiri sendiri,” ujarnya di Mabes Polri, Jakarta, Senin (21/6).

Marwoto mengakui Maruli akan dipanggil sebagai tersangka pada Selasa (22/6). Menurutnya, pemanggilan tersebut dilakukan oleh Tim Penanganan Mafia Hukum Polri, Irjen Pol Mathius Salempang.

Sementara itu, kuasa hukum Maruli Pandapotan Manurung, Junifer Girsang mengatakan, kliennya akan datang menghadiri pemeriksaan besok. Menurutnya, Maruli akan menjelaskan perihal kebijakan dan putusan yang dilakukan untuk memproses permohonan PT Surya Alam Tunggal Sidoarjo.

Junifer mengakui bahwa kliennya memang telah memproses wajib pajak tersebut ketika mengajukan permohonan keberatan atas penetapan pajak dalam Surat Ketetapan Pajak (SKP) dengan nilai Rp 290 Juta pada 2007 lalu. Namun setelah diteliti, maka nilai sengketa tersebut menjadi tidak ada. “Penetapan SKP itu ditinjau jadi tidak dikenakan. Alasannya sangat teknis,”ungkap Junifer.

Selain itu, Junifer mengaku kliennya memang pernah kenal dengan pengusaha bengkel yang menjadi tersangka kasus Gayus, Alif Kuncoro dan adiknya Alif Kuncoro, Imam Cahyo Maliki di Hotel Peninsula, Jakarta.

Sementara itu Kompas melaporkan bahwa Maruli Pandapotan Manurung, membantah pemberitaan di berbagai media selama ini yang menyebutkan bahwa ia adalah atasan langsung Gayus Halomoan Tambunan. Maruli membantah terlibat dalam mafia pajak bersama Gayus.

“Dengan tegas kami katakan bahwa Maruli bukan atasan Gayus. Itu fitnah atau pencemaran nama baik,” ucap penasihat hukum Maruli, Junifer Girsang, saat jumpa pers di Jakarta, Senin ( 21/6/2010 ).

Dikatakan Junifer, kliennya tahun 2007 hingga 2008 ditugaskan menjadi pejabat sementara Kepala Sub Penelaah dan Keberatan Banding. Menurut dia, Maruli dan Gayus hanya berkerja sama dalam satu kasus yakni menelaah permohonan keberatan pajak PT. Surya Alam Tunggal senilai Rp 290 juta.

“Karena itu alasan yang mengkait-kaitkan klien kami dengan Gayus yang seakan-akan mengetahui sepak terjang Gayus menangani sengketa pajak di Ditjen Pajak adalah fitnah dan pencemaran nama baik,” tegas dia.

Ke depan akan jelas benar atau tidaknya klaim itu. Saat ini, Maruli telah ditetapkan sebagai tersangka oleh tim independen Mabes Polri sehingga dia menjadi salah satu dari 10 pegawai Ditjen Pajak yang telah dinonaktifkan terkait perkara Gayus.

***

Masih tentang kasus Gayus. Media Indonesia dalam editorialnya menyoroti masalah ini dan menyebutnya sebagai kasus yang fantastis. Sebab, seorang pegawai negeri sipil bisa menumpuk kekayaan fantastis berkat merampok uang negara dengan cara yang tak kalah fantastis. Di pengadilan kelak, orang pun berharap terjadi buka-bukaan yang juga fantastis, sehingga terbongkarlah semua aib yang fantastis.

Usia Gayus Tambunan baru 31 tahun, pangkatnya golongan IIIA, tapi kekayaannya telah mencapai Rp100 miliar lebih. Gayus baru bekerja 10 tahun. Gaji dan honornya Rp 12,1 juta per bulan atau Rp145,2 juta per tahun. Dengan penghasilan sebesar itu, untuk mencapai kekayaan Rp100 miliar, diperlukan waktu 688 tahun lebih atau hampir 7 abad. Rentang waktu yang juga fantastis!

Padahal, tidak tertutup kemungkinan kekayaan Gayus masih terus bertambah. Sebab, semula polisi hanya menemukan uang di rekeningnya Rp28 miliar. Uang itulah yang dipakainya untuk menyogok polisi, jaksa, dan hakim lewat pengacaranya sebesar Rp 7 miliar. Ia menyogok aparat penegak hukum untuk membebaskan dirinya dari jerat hukum.

Memiliki Rp 28 miliar saja telah membuat orang tercengang-cengang. Orang makin terbelalak dan ternganga-nganga, setelah polisi menyita dari safety box senilai Rp 74 miliar, terdiri dari uang tunai Rp 60 miliar dan Rp 14 miliar dalam bentuk logam mulia. Itulah sebabnya pemilik 10 safety box di tiga bank berbeda itu disebut-sebut sebagai pegawai negeri terkaya di Republik ini, bahkan di dunia, sehingga namanya patut diabadikan dalam Guinness World Records.

Gayus jelas contoh koruptor yang sangat komplet. Penelaah keberatan pajak itu bukan hanya menggarong uang negara, membuat negara selalu bertekuk lutut bila beperkara dengan perusahaan pengemplang pajak, tetapi juga melumpuhkan semua unsur penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, dan pengacara), hanya dengan menggunakan sebagian kecil saja dari hasil merampok uang negara yang jumlahnya fantastis itu.

Membongkar kasus Gayus, mengusut semua pemberi dan penerima dana, jelas tugas penyidik. Namun urusan kiranya akan lancar karena Gayus berjanji akan membongkar semuanya. Itulah syarat yang diajukan Adnan Buyung Nasution, sehingga firma hukumnya mau menangani perkara Gayus. Sebelumnya Gayus telah mengaku kepada polisi bahwa uangnya senilai Rp28 miliar berasal dari tiga perusahaan di bawah Bakrie Group, yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Arutmin, dan PT Bumi Resources.

Pernyataan Gayus ini telah dibantah pihak Bakrie Group. Siapakah yang benar, biarlah kelak pengadilan yang mengujinya. Tak hanya itu. Publik pun berharap Gayus akan membongkar semua asal-usul aset Rp74 miliar yang disimpan dalam safety box atas nama istrinya, Milana Anggraeni, pengawai negeri di DPRD DKI Jakarta.

Pengadilan Gayus mestinya menjadi forum hukum yang fantastis. Inilah peluang emas bagi polisi dan jaksa untuk menunjukkan kehebatannya, membongkar kasus ini, dan di situlah pula akan tampak apakah negara ini masih memiliki hakim yang berani menegakkan hukum sekalipun langit runtuh. Sebab, di sanalah mestinya, semua penerima suap dan pemberi suap hendaknya ditelanjangi oleh Gayus tanpa pandang bulu. Bila itu terjadi, dua jenis mafia pun terbongkar, yaitu mafia pajak dan mafia hukum. (IRIB/Kompas/Republika/MediaIndonesia)

Categories: Dalam Negeri | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: