Mottaki: Pencekalan Dua Inspektor IAEA, Peringatan untuk Amano

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Manouchehr Mottaki

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Manouchehr Mottaki, menyikapi pencegahan masuknya dua pejabat Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke Iran dengan menyatakan, “Kebijakan tersebut pada hakikatnya merupakan peringatan kepada Amano supaya berhati-hati agar para inspektor IAEA tidak menyalahi aturannya sendiri.” Mottaki kepada wartawan Senin malam (21/6) menyatakan bahwa Dirjen IAEA, Yukiya Amano harus mengelola lembaga ini secara profesional.

Ketua Badan Energi Atom Iran, Ali Akbar Salehi sebelumnya menyatakan bahwa Tehran telah melarang dua inspektor IAEA memasuki Iran seraya menekankan bahwa kedua inspektor tersebut dicekal masuk ke Iran karena memberikan informasi keliru dan infaktual serta membeberkan data-data resmi sebelum waktunya. Oleh karena itu keduanya dilarang memasuki Iran.

Mottaki menegaskan bahwa Iran akan menjawab surat yang dilayangkan oleh kelompok Wina termasuk Amerika, Rusia, dan Perancis soal Deklarasi Tehran dan masalah pertukaran bahan bakar.

“Tehran telah menjawab surat yang dilayangkan oleh Penanggung Jawab Politik Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, soal permintaan dari Eropa untuk berunding dengan Iran,” jelas Mottaki

Di bagian lain pernyataannya, Mottaki mengkonfirmasikan 12 surat resmi yang telah disiapkan dan akan segera dilayangkan kepada 12 negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang beberapa waktu lalu mendukung ratifikasi resolusi sanksi anti-Iran.

“Di dalamnya, kami menjelaskan secara transparan sikap kami dan juga keluhan kami,” tambahnya.

Seraya menyatakan bahwa ratifikasi resolusi tersebut merupakan kekalahan besar bagi dunia Barat, Mottaki menuturkan, “Selama bertahun-tahun Barat yang dipimpin Amerika Serikat dengan klaim-klaim infaktualnya yang bahkan sebagiannya tidak dapat dibuktikan, terus berupaya menghambat program nuklir sipil Iran.”

“Pada resolusi-resolusi sebelumnya, hanya satu negara di Dewan Keamanan PBB yang menolak resolusi yaitu Qatar, sementara dalam resolusi terbaru, jumlah negara penentang resolusi meningkat menjadi tiga negara.”

Mottaki menambahkan, “Saya sependapat dengan Presiden Brazil, Lula da Silva, yang menilai resolusi tersebut sebagai kemenangan yang lebih buruk dari kekalahan.”

Menyinggung bahwa Amerika Serikat tidak mendapatkan apa-apa dari resolusi tersebut, Mottaki menegaskan, “Ratifikasi resolusi itu merupakan belang politik bagi Amerika karena selalu berupaya mengesankan sebagai negara adidaya.”

Menurutnya tidak ada pihak yang menilai resolusi tersebut sebagai kemenangan. Bahkan mottaki mengatakan, “Dalam pertemuan saya dengan lebih dari 100 rekan wartawan, hampir semua sepakat bahwa langkah itu justru menyudutkan Amerika Serikat pada situasi check-mate,” tambah Mottaki.

“Iran tidak gembira dengan adanya resolusi sanksi dan tidak akan melangkah menuju sanksi. Di sektor ekonomi dewasa ini, sanksi tidak berarti lagi. Tepat di hari sanksi diberlakukan, Iran menandatangani kontrak milyaran dolar,” tandas Mottaki seraya menyinggung berbagai langkah antisipasi yang telah diambil pemerintah Iran. (IRIB/IRNA/MZ/AHF)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: