Gagalnya Sebuah Revolusi Semu

Pemilu Iran 2009

Selama lebih dari tiga dasawarsa terakhir semenjak kemenangan Revolusi Islam, rakyat Iran merasakan beragam pahit manisnya sejarah. Selama masa itu, mereka senantiasa membuktikan kewaspadaan dan kesetiaannya kepada Republik Islam Iran. Pemilu presiden 12 Juni tahun lalu dan rangkaian peristiwa setelahnya adalah salah satu ujian paling menentukan bagi bangsa Iran pasca Revolusi Islam. Pemilu presiden yang akhirnya mengantarkan kembali Ahmadinejad sebagai presiden untuk kedua kalinya itu merupakan pesta demokrasi Iran yang paling bersejarah dan mencatat rekor partisipasi tertinggi setelah referendum 1979. Sekitar 40 juta pemilih atau 85 persen dari konstituen yang memenuhi syarat dengan penuh antuisme memadati kotak-kotak suara.

Tingginya antuisme dan partisipasi rakyat Iran dalam pemilu presiden 12 Juni tahun lalu menunjukkan bahwa kesetiaan rakyat kepada Republik Islam dan cita-cita luhur revolusi masih bertahan meski sudah tiga dekade. Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei memuji peran aktif rakyat dalam pemilu kala itu dan menyatakan, “Pemilu 12 Juni merupakan pementasan agung dari rasa tanggung jawab bangsa kita terhadap nasib negaranya, pementasan agung dari jiwa partisipasi umum masyarakat dalam mengelola negaranya, pementasan agung dari kecintaan rakyat kepada negaranya”. Pada pemilu presiden yang kesepuluh tersebut, Mahmoud Ahmadinejad kembali terpilih sebagai Presiden Republik Islam Iran dengan raihan suara sebanyak 63 persen dari total suara.

Di saat rakyat Iran bersuka cita atas prestasi demokrasi yang berhasil ditorehkannya dalam pemilu presiden 12 Juni, namun Barat berusaha merusak kesuksesan itu dengan melancarkan beragam konspirasi dan fitnah. Sejumlah calon presiden mengklaim telah terjadi kecurangan dalam pemilu. Meski protes semacam itu terbilang wajar dalam sebuah negara yang demokratis jika disampaikan melalui jalur konstitusional, namun apa yang terjadi pasca pemilu 12 Juni di Iran justru banyak mengundang pertanyaan. Beberapa calon presiden yang kalah, menuntut dibatalkannya hasil pemilu dan meminta digelar ulang. Sayangnya upaya protes itu tidak disertai dengan bukti-bukti kuat mengenai klaim yang mereka tuduhkan. Padahal kritikan dan persoalan yang mereka lontarkan pun telah dijawab secara detail oleh komisi pemilu Iran.

Mereaksi masalah ini, Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran dan berperan penting dalam menyelesaikan persoalan negara mengajak seluruh pihak-pihak yang bersengketa untuk menaati konstitusi dan mengormati supremasi hukum. Ia menyatakan, “Republik Islam Iran bukan pengkhianat suara rakyat. Mekanisme hukum pemilu di negara kita tidak mengijinkan adanya kecurangan. Namun demikian, jika ada pihak yang memiliki keraguan dan bukti yang bisa disampaikan, maka hal itu harus diproses. Tentu saja mesti melewati jalur konstitusional. Dan saya tidak akan tunduk pada bidat-bidat inkonstitusional”.

Pemimpin Besar Revolusi bahkan memerintahkan untuk bekerjasama dengan kalangan pemrotes pemilu sesuai dengan koridor hukum. Meski begitu, dua kandidat presiden yang kalah tetap saja menuntut digelarnya pemilu ulang. Padahal tuntutan perhitungan ulang suara sebanyak 10 persen telah dikabulkan dan tidak terbukti adanya kecurangan. Di sisi lain, para kandidat yang tidak puas mengajak para pendukungnya melakukan protes turun ke jalan tanpa ijin dari otoritas yang berwenang hingga akhirnya berujung pada aksi kerusuhan.

Namun apa yang menjadikan rangkaian peristiwa pasca pemilu 12 Juni Iran makin kompleks dan pelik adalah munculnya dukungan luas pemerintah dan negara-negara Barat terhadap para perusuh. Para pemimpin AS dan negara-negara Eropa ternyata malah mendukung aksi anarkis para perusuh dan mengintervensi urusan internal Iran. Tidak hanya itu, mereka bahkan terus memprovokasi para perusuh untuk terus melanjutkan tindak anarkisnya. Seiring dengan itu, media-media barat juga gencar melancarkan serangan propaganda anti-Iran dan terus menyokong aksi brutal para perusuh. Dalam serangan propaganda kali ini, BBC dan Voice of America serta sejumlah jaringan internet seperti Facebook, Twitter, dan Youtube memainkan peranan penting untuk mencoreng prestasi demokrasi di Iran.

Segera setelah munculnya beragam aksi mencurigakan pasca pemilu 12 Juni, rakyat dan pemerintah Iran serta para analis politik independen segera menyadari bahwa Barat tengah berusaha memunculkan revolusi berwarna seperti yang terjadi di negara-negara bekas Uni Soviet. Revolusi semu semacam itu sebelumnya pernah dipraktekkan Barat di Ukraina, Georgia, dan sejumlah negara lain. Biasanya, ketidakpuasan atas hasil pemilu senantiasa dijadikan alasan untuk menciptakan revolusi berwarna. Jika kandidat yang diinginkan Barat gagal memenangi pemilu, niscaya pemerintah dan media-media Barat pun berusaha mendukungnya dengan beragam cara.

Protes jalanan merupakan bagian penting dari perang propaganda revolusi berwarna. Sedemikian dahsyatnya tekanan itu hingga memaksa pemerintah yang berkuasa tunduk dan menyerahkan tampuk kekuasaan kepada kandidat yang direstui Barat. Anehnya, pemerintahan hasil revolusi berwarna yang muncul lantaran dukungan dan rekayasa Barat ternyata hingga kini selalu gagal dan beberapa di antaranya bahkan tumbang di tengah jalan.

Bagi AS dan sekutu Eropanya, memenangkan perang urat syaraf dan revolusi berwarna melawan Iran merupakan langkah yang sangat menentukan. Republik Islam Iran adalah model pemerintahan demokrasi Islam yang menjadi tandingan sistem demokrasi liberal Barat. Selain itu Iran juga dikenal sebagai negara independen yang senantiasa menentang imperialisme dan arogansi AS dan negara-negara kuat lainnya. Karena itu pasca pemilu presiden 12 Juni tahun lalu, dengan bantuan anasir lokal, Barat melancarkan perang lunak untuk menumbangkan atau minimal memperlemah pemerintahan Republik Islam lewat Revolusi Hijau.

Meski demikian, realitas yang terjadi di Iran berbeda dengan kondisi negara-negara bekas Uni Soviet. Kendati mesin propaganda Barat gencar memprovokasi rakyat Iran untuk bergabung dengan gerakan Revolusi Hijau yang dimotori oleh sejumlah pendukung salah satu kandidat presiden yang kalah, namun konspirasi itu pun segera berhasil digagalkan. Sebagian kalangan yang sebelumnya turut mendukung Revolusi Hijau, belakangan mulai paham bahwa mereka hanya dimanfaatkan untuk memuluskan perang lunak Barat terhadap pemerintahan Islam Iran. Mereka sadar bahwa tujuan utama Revolusi Hijau bukan sekedar protes terhadap hasil pemilu, tapi merupakan upaya tak langsung untuk menumbangkan sistem pemerintahan Islam. Tudingan semacam adanya kecurangan dalam pemilu sejatinya hanya isu yang sengaja dimunculkan untuk menggelar revolusi berwarna.

Perlahan dengan berjalannya waktu, skenario tersembunyi di balik Revolusi Hijau pun makin terkuak nyata. Para pendukung revolusi semu ciptaan Barat dan antek-antek kontra-Revolusi Islam makin berani menampakkan sikap penentangannya dengan menistakan simbol dan nilai-nilai sakral masyarakat muslim Iran secara terang-terangan. Penistaan itu mencapai klimaksnya pada saat peringatan Hari Syahidnya Imam Husein as pada 10 Muharram. Para pendukung gerakan Revolusi Hijau melancarkan aksi kerusuhan justru pada hari yang sangat dikeramatkan dan dihormati oleh masyarakat muslim Iran.

Karuan saja, aksi penistaan tersebut mendapat reaksi keras rakyat Iran. Hingga kemudian muncullah aksi demontrasi akbar 30 Desember 2009 sebagai bentuk ungkapan kesetiaan rakyat terhadap pemerintahan Islam dan cita-cita revolusi Islam. Unjuk rasa akbar itu merupakan luapan perlawanan rakyat terhadap Revolusi Hijau hasil rekayasa Barat dan antek-anteknya.

Tak ayal aksi tersebut merupakan pukulan telak bagi Barat. Namun belum pulih menelan kecewa, Barat kembali dibuat lebih terpukul lagi dengan aksi demo besar-besaran rakyat Iran di seluruh pelosok negeri pada peringatan hari kemenangan Revolusi Islam, 11 Februari. Demo masif tersebut sekali lagi menunjukkan bahwa rakyat Iran masih setia mempertahankan prinsip-prinsip Revolusi dan Pemerintahan Islam. Dengan demikian, konspirasi Revolusi Hijau yang mulai bergerak sejak Juni 2009 itu berhasil dipatahkan. Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyatakan, “Bangsa Iran memberikan pukulan terkuat dan pamungkasnya pada demo 30 Desember dan 11 Februari. Langkah bangsa Iran pada dua hari itu, merupakan langkah besar yang menunjukkan keutuhan dan persatuan bangsa”.

Sejatinya, beragam rangkaian pasca pemilu 12 Juni lalu merupakan ujian besar bagi rakyat dan pemerintah Iran. Selama lebih dari tiga dekade semenjak kemenangan Revolusi Islam, musuh menggunakan beragam cara untuk menumbangkan revolusi. Dan kali ini, musuh menggunakan perang media dan propaganda untuk merongrong Iran dari dalam. Tidak diragukan lagi, meski Revolusi Hijau yang dilancarkan Barat berhasil digagalkan, namun musuh tidak akan berhenti begitu saja dan bakal terus melanjutkan konspirasinya. Namun begitu, selama rakyat dan pemimpin Iran waspada dan cerdas dalam menghadapi rongrongan musuh, niscaya segala bentuk tantangan dan ancaman pun bisa ditundukkan sebagaimana yang ditunjukkan rakyat dan pemimpin Iran dalam menghadapi gerakan makar Revolusi Hijau. (IRIB/LV/NA)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: