Air Semakin Berharga

Tak ada yang memungkiri bahwa air adalah unsur paling penting bagi penciptaan dan kelestarian kehidupan. Tanpanya, manusia dan semua makhluk hidup tak akan mampu bertahan. Karena vitalitas air inilah, sejak pertama kali menjejakkan kaki ke bumi, manusia selalu memikirkan cara untuk bisa mengakses air. Mungkin sebagian orang akan berpikir sederhana dengan beranggapan bahwa manusia tidak akan menemukan masalah yang berarti karena bumi ini dipenuhi oleh air. Sebanyak 70 persen permukaan bumi memang diselimuti oleh air. Akan tetapi air tawar hanya sekitar 3 persen dari keseluruhan air yang ada di bumi. Sebagian besar air tawar berbentuk salju di wilayah kutub atau tersimpan di bawah tanah yang tentunya tidak mudah diakses.

Poin lain yang perlu disinggung di sini adalah bahwa sumber air tidak sama antara satu daerah dengan daerah yang lain. Artinya, di sebagian daerah air sulit atau bahkan tidak bisa ditemukan. Menurut data, sebanyak sembilan negara menguasai 60 persen cadangan air tawar di seluruh dunia. Sebaliknya, ada sekitar 80 negara yang meradang lantaran tak punya akses yang cukup ke sumber air. Selain itu, budaya yang salah dalam memanfaatkan air tawar telah menyebabkan pembuangannya secara sia-sia sehingga muncul apa yang disebut krisis air di dunia.

Krisis air dalam beberapa tahun belakangan ini semakin terasa. Masyarakat internasional pun turun tangan untuk bersama-sama mengatasinya. Salah satu upaya internasional adalah penyelenggaraan konferensi tingkat dunia dengan tema ‘Air untuk Kehidupan’ di Dushanbe Tajikistan. Konferensi dihadiri oleh para pakar dan pejabat dari puluhan negara termasuk sejumlah kepala negara. Para peserta membahas kondisi air yang mengkhawatirkan dan bertukar pandangan terkait solusi bagi mengatasi krisis ini.

Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad yang ikut serta dalam konferensi menjelaskan, vitalitas air yang merupakan salah satu nikmat Allah terbesar bagi kehidupan. Pembicaraan Ahmadinejad dimulai dengan ayat suci al-Qur’an surah al-Anbiya ayat 30 yang menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah dari air. Ayat ini menekankan ketergantungan makhluk hidup kepada air.

Air diperlukan untuk banyak hal. Selain untuk keperluan minum, air digunakan di sektor pertanian, industri dan kesehatan. Menurut data, sekitar 70 persen air digunakan untuk keperluan pertanian, 23 persen untuk keperluan industri dan hanya 7 persen untuk keperluan rumah tangga. Semua orang perharinya memerlukan satu sampai 7 liter air, tergantung pada kebutuhan dan kondisi.

Meski sangat diperlukan, ada ketidakadilan yang kentara dalam memperoleh dan memanfaatkan unsur yang sangat berharga bagi kehidupan ini. Sebagian negara berkembang mengalami kesulitan yang sangat besar akibat minimnya sumber air yang mereka miliki. Menurut data Program Pembangunan PBB tahun 2006, dari 7,3 milyar orang penduduk planet bumi hanya 1,1 milyar diantaranya yang mempunyai akses air bersih yang cukup.

Di konferensi Tajikistan, Presiden Mahmoud Ahmadinejad menyebut masalah terbesar terkait masalah air adalah penggunaannya yang tidak benar. Dikatakannya bahwa konsumsi air di dunia saat ini dua kali lipat lebih besar dari jumlah yang semestinya. Ahmadinejad mengatakan, “Di sejumlah negara, air banyak terbuang sia-sia karena kesalahan dalam pengambilan, penyaluran dan konsumsi. Padahal dengan meremajakan jaringan penyaluran air dengan benar, penggunaan metode pengairan yang ekonomis dan berbagai teknik pertanian …konsumsi air bisa dikontrol dengan baik.”

Para pakar telah banyak berusaha merumuskan metode baru untuk menekan penggunaan air di sektor pertanian. Usaha itu telah banyak membuahkan hasil. Di sejumlah tempat, metode itu berhasil menekan penggunaan air di sektor pertanian hingga setengahnya, tanpa mengurangi hasil panen. Berbagai organisasi pertanian di dunia telah mengupayakan gerakan universal untuk menerapkan metode yang bisa menekan penggunaan air secara sia-sia, meski proses itu berjalan lamban. Hal yang sama juga dilakukan di sektor industri. Sayangnya, meski sudah ada rumusan penghematan, di banyak negara khususnya di negara-negara dunia ketiga, budaya membuang air secara percuma masih belum teratasi. Penyebabnya adalah karena kesulitan memperoleh teknologi canggih yang mendukung proses ini.

Salah satu hal yang menjadi faktor munculnya krisis air adalah proses pemanasan global yang diakibatkan oleh peningkatan produksi gas rumah kaca. Dampaknya adalah kekeringan yang ditemukan di banyak tempat. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di konferensi Tajikistan menyebut pemanasan global sebagai fenomena perusak iklim yang disebabkan oleh pemikiran sejumlah pihak yang hanya mementingkan keuntungan materi negara-negara kapitalis. Karena itu logisnya, negara-negara Barat yang notabene negara industri memikul tanggung jawab yang lebih besar atas terjadinya proses pemanasan global.

Melihat dampak buruk dari meningkatnya produksi emisi gas rumah kaca, negara-negara peserta konferensi Tajikistan menekankan pentingnya penggunaan energi yang ramah lingkungan. Energi nuklir yang ramah lingkungan mendapat perhatian yang besar dalam konferensi itu. Tak hanya nuklir, konferensi juga mengimbau penggunaan energi lain yang ramah lingkungan seperti air dan angin.

Konferensi Tajikistan mengusulkan sejumlah hal yang terkait dengan penggunaan air bawah tanah secara efisien dan benar. Cadangan air bawah tanah berjumlah jauh lebih besar dibanding cadangan yang ada di sungai dan mata air. Di sejumlah kawasan yang kering, 90 persen kebutuhan air tawar dipenuhi dari cadangan air bawah tanah. Akan tetapi penggunaan air bawah tanah secara tidak benar akan menimbulkan masalah serius di kemudian hari.

Presiden Ahmadinejad dalam konferensi Tajikistan mengatakan bahwa untuk mengendalikan limpahan air dan membuat waduk diperlukan dana yang cukup dan semestinya. Namun sayang, sebagian besar negara berkembang tidak punya cukup kemampuan untuk menjalankan program ini. Akibatnya, mereka lebih cenderung melimpahkan masalah ini kepada perusahaan-perusahaan asing yang biasanya hanya menguntungkan perusahaan kontraktor Barat dan merugikan pengguna.

Banyak ahli yang mengatakan bahwa di masa mendatang, air akan lebih mahal dari emas dan minyak, dan jika penggunaannya tidak diatur, akan terjadi kelangkaan air yang bisa memicu pecahnya perang. Misalnya, saat inipun Rezim Zionis Israel sudah berulang kali melakukan kejahatan kemanusiaan demi memperoleh sumber air. Berita yang harus diingat selalu adalah bahwa PBB memperkirakan tahun 2030 nanti sebanyak lebih dari lima milyar orang di dunia akan mengalami kesulitan air. Karena itu, memanfaatkan air dengan benar adalah tugas semua orang.

Categories: Hubungan Internasional, Sosial - Budaya | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: