Siapa Ketua KPK Mendatang?

Jimly Asshiddiqie, disebut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai sosok yang memiliki integritas sehingga dipilih sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Hal itu dikatakan SBY menanggapi minat Jimly untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Komisi Peberantasan Korupsi (KPK). Seperti diberitakan Kompas, Presiden mengatakan, Jimly memiliki kapabilitas yang baik bila terpilih sebagai pimpinan KPK. “Tentunya beliau perlu memenuhi prosedur yang ditentukan oleh panitia seleksi sehingga bisa menjaga kredibilitas yang dimilikinya,” katanya.

Nama Jimly dan tokoh lainnya yang memiliki kemampuan di bidang hukum maupun lainnya mendapat pertimbangan masyarakat untuk dapat maju sebagai Ketua KPK untuk menggantikan posisi Antasari Azhar yang telah mendapatkan vonis dari Pengadilan Negeri yang telah dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi.

Sementara itu diberitakan bahwa sampai saat ini antusiasme untuk menjadi ketua Komisi Pemberantasan Korupsi telah mendorong 286 orang untuk menmdaftarkan diri. Jumlah ini. Media Indonesia dalam editorialnya menyoroti masalah ini menyebutnya fantastis yang bahkan lebih fantastis ketika dibandingkan dengan jumlah pendaftar calon ketua Komisi Yudisial yang cuma 61 orang.

Lantas editorial ini menyoal, apakah minat mereka menjadi ketua KPK sungguh-sungguh dilandasi hasrat untuk memberantas korupsi yang sudah berurat berakar di negeri ini atau jangan-jangan sekadar rakus kekuasaan belaka.

Masalahnya adalah karena banyak dari pendaftar yang sudah dikenal sebagai pengacara pembela para koruptor. Bisa dibayangkan bagaimana masa depan KPK jika satu di antara para pengacara pembela koruptor ini yang memimpin KPK.

Selain dari mereka, sejumlah pendaftar lainnya adalah mantan pejabat. Jangan-jangan mereka melamar menjadi ketua KPK untuk mencari pekerjaan belaka. Itu artinya mereka berminat menjadi ketua KPK sekadar tergiur dengan posisi.

Melihat komposisi dan profil para pendaftar, sampai menjelang batas waktu terakhir, publik dan panitia seleksi pesimistis pemimpin KPK yang terpilih kelak dapat menjalankan fungsi pemberantasan korupsi. Nyaris tidak ada kandidat yang dijagokan publik yang mendaftarkan diri menjadi kandidat ketua KPK.

Namun, ketika Jimly Asshiddiqie dan Busyro Muqoddas mendaftar, publik dan panitia seleksi sedikit bernapas lega. Keduanya termasuk orang yang dijagokan sejumlah organisasi untuk menduduki posisi ketua KPK.

Akan tetapi, Jimly dan Busyro pun segera mengundang kekecewaan. Keduanya tidak mundur dari jabatan mereka saat ini. Jimly anggota Dewan Pertimbangan Presiden, sedangkan Busryo Ketua Komisi Yudisial.

Melamar menjadi ketua KPK, tanpa melepaskan jabatannya saat ini, hanya menunjukkan perangai rakus jabatan, bahkan gila kekuasaan.

Jimly dan Busyro memang menyatakan mereka akan mengundurkan diri dari jabatan sekarang jika terpilih sebagai ketua KPK. Inilah tipe khas para pejabat kita, memilih jalan paling aman untuk tidak kehilangan jabatan. Mereka tidak rela posisi dalam genggaman terlepas, sementara posisi yang sedang dikejar belum tentu teraih.

Karena enggan melepas jabatan saat ini, wajar belaka jika publik mencurigai Jimly dalam kapasitasnya sebagai anggota Wantimpres adalah titipan Presiden. Kecurigaan semacam itu wajar karena memang banyak kepentingan berseliweran dalam proses pemilihan ketua KPK. Lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, bahkan para koruptor sekalipun punya kepentingan untuk menancapkan kuasanya di KPK.

Dengan begitu banyaknya kepentingan, tugas KPK mendatang amatlah berat. Kriminalisasi tiga pemimpin KPK menunjukkan beroperasinya kepentingan itu. Kita membutuhkan ketua KPK yang bernyali, yang siap menghadang kematian demi kelangsungan hidup bangsa. Panitia seleksi harus jeli dan bernyali untuk tidak mengajukan kandidat ketua KPK yang sesungguhnya cuma orang yang rakus jabatan, bahkan gila kekuasaan.

Keberatan yang diangkat oleh editorial Media Indonesia sudah dijawab oleh Presiden SBY Jum’at kemarin. SBY secera tegas mengatakan, “Kalau beliau (Jimly) sudah masuk seleksi nanti saya minta mengundurkan diri dari Dewan Pertimbangan Presiden sehingga bila nanti terpilih tidak ada prasangka bahwa ini titipan dari Presiden.” Kita tunggu saja.

Sumber : disini

Categories: Dalam Negeri | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: