Perang Irak di Sinema Hollywood

The Hurt Locker

Sudah tujuh tahun berlalu sejak Irak pertama kali diduduki oleh pasukan asing pimpinan Amerika Serikat (AS). Maret 2003, dari darat dan udara, Irak menjadi bulan-bulanan gempuran mesin-mesin perang AS, Inggris dan sekutu-sekutunya. Perang berujung pada jatuhnya kekuasaan Saddam Hossein dan Irakpun diduduki. Invasi Irak terjadi berkat adanya dukungan media besar-besaran yang mengesankan bahwa serangan militer ini punya misi kemanusiaan demi menghadiahkan kebebasan dan demokrasi kepada rakyat Irak. Namun, tak berapa lama kemudian fakta yang sebenarnya terkuak. Fakta itu meragukan kebenaran klaim AS dalam menggelar serangan militer dan menyoal keberingasan dan kejahatan tentara AS dalam memperlakukan rakyat Irak. Upaya AS untuk menjustifikasi kehadiran militernya dan melukiskan wajah yang ramah, tidak lagi dipercaya oleh masyarakat dunia. Dengan adanya fakta yang sudah terkuak ini, televisi dan sinema tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk menjustifikasi perang dan pendudukan.

Para analis meyakini bahwa perang Irak telah menjadi topik garapan insan-insan Hollywood lebih cepat dari yang diperkirakan. Namun gaung itu tidak berlanjut seperti yang diharapkan. Yang menarik, Hollywood yang biasanya memproduksi film-film yang sejalan dengan kebijakan Gedung Putih dan Pentagon justeru menggarap film-film dalam jumlah besar yang mengkritik bahkan mengecam perang Irak. Pertanyaan yang segera muncul adalah, apakah fenomena ini pertanda bangkitnya Hollywood di barisan penentang kebijakan AS atau mungkinkah kebijakan AS yang sudah berubah dan Hollywood hanya meladeni kebijakan yang baru? Memang ada sebagian kalangan yang meyakini bahwa produksi film-film anti perang di Hollywood tak lebih dari sandiwara semata.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk memoles kembali wajah AS yang sudah buruk di dunia adalah pemberian hadiah utama Piala Oscar untuk film The Hurt Locker karya Kathryn Bigelow. Film ini sepintas menggambarkan bahwa perang telah menghancurkan kehidupan. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa sebenarnya misi di balik pembuatan film-film seperti ini?

Dengan mencermati film-film ini akan nampak bahwa kesemua film tersebut melayani kebijakan pemerintah AS dari tahap pembuatan hingga tayangnya. Misalnya, dalam film The Hurt Locker dialog dan adegan-adegan mematikannya sangat sesuai dengan kebijakan pemerintah AS. Film ini mengklaim bahwa tentara AS datang untuk membebaskan rakyat Irak, dan sementara orang-orang Irak adalah teroris yang tak punya rasa kemanusiaan. Di film ini dikesankan bahwa tentara AS selalu meraih kemenangan di semua medan pertempuran meski ada pula serdadu AS yang tewas di dalamnya.

Film The Hurt Locker menggambarkan kerelaan para prajurit AS untuk meninggalkan keluarga dan kehangatannya demi menghadiahkan kebebasan untuk rakyat Irak. Film ini juga tak lupa mengesankan keakraban yang dijalin tentara AS dengan anak-anak Irak. Sebaliknya, The Hurt Locker juga menayangkan wajah pria-pria Irak yang diam membisu menyaksikan tewasnya tentara AS, perempuan-perempuan Irak dengan wajah garang dan anak-anak yang berlari-lari mengejar tentara AS sambil melempar batu.

Lakon utama film ini adalah William James yang kisahnya tak jauh berbeda dengan film pria-pria berbadan kekar yang sering kita jumpai di era Presiden Ronald Reagan. Sama seperti Rambo dan film-film yang dibintangi Arnold Schwarzenegger semisal Commando, William James dalam film The Hurt Locker juga memainkan peran pahlawan yang menyelamatkan dunia. Meski tidak mengibarkan bendera AS, lakon film ini mengenakan pakaian militer yang dihiasi bendera AS. Film ini di mata masyarakat umum tidak mendapat tempat yang semestinya karena tidak menunjukkan keberanian sedikitpun untuk menentang kebijakan perang. Bahkan Anda tak akan menemukan gambar demonstrasi menentang perang dalam film ini.

Film The Messenger buatan Oren Moverman adalah satu lagi film Hollywood yang menonjol tentang perang Irak. Film ini menyoroti isu paling hangat di tengah masyarakat AS yaitu tentang dampak perang terhadap keluarga AS. Film ini menceritakan tentang Sersan Will Montgomery yang baru saja kembali ke AS setelah bertugas di Irak. Montgomery tidak bisa lagi diterjunkan ke medan pertempuran karena menderita luka yang serius. Ia menjadi orang yang dipercaya menyampaikan berita kematian serdadu AS kepada keluarga masing-masing. Bertemu dengan keluarga serdadu AS yang tewas di Irak mengguncang mental dan kejiwaan Montgomery.

Film The Messenger berkutat pada dampak perang terhadap keluarga tentara AS, tanpa menyinggung masalah perang itu sendiri. Sepanjang film, penonton disuguhi suara-suara ledakan yang mengguncang kejiwaannya, ledakan yang serpihannya mengena dan bersarang di jantung mereka yang berada ribuan mil dari Irak.

The Messenger mengikuti gaya fim-film klise di Amerika yang memandang serdadu AS tak lepas dari dua kategori, pahlawan bangsa atau orang gila dan cacat yang tak lagi mampu memanggul senjata. Sebagian besar film Amerika bertemakan perang dibuat untuk meningkatkan mentalitas dan patriotisme di kalangan tentara AS. Memang tidak sedikit film yang mengangkat masalah perang Vietnam yang mengesankan para serdadu AS sebagai orang-orang sakit jiwa yang menggunakan senjata api layaknya alat permainan. Mereka hanya memikirkan sisi negatif dari perang. Film-film model ini dibuat untuk menunjukkan anggapan umum di tengah masyarakat Amerika. Tujuannya adalah untuk mengobati luka hati akibat kekalahan di Vietnam.

Satu sisi menarik dari film-film tadi adalah bahwa para produser film ini tidak menyalahkan tentara AS yang membunuh warga sipil di negara yang diserang. Yang mereka permasalahkan justeru kelabilan mental tentara AS yang berdampak buruk pada keluarga mereka. Para pembuat film-film ini berusaha meyakinkan kepada penontonnya bahwa hak asasi manusia hanya milik AS, dan yang pantas dihibur karena haknya terlanggar adalah warga AS. Dalam film The Messenger, keluarga tentara AS yang tewas di Irak layak menerima ucapan belasungkawa, padahal fakta yang sebenarnya menyebutkan bahwa korban asli dari perang ini adalah warga Irak.

Dalam beberapa tahun terakhir sekitar 30 film telah digarap di Hollywood yang mengangkat tema perang Irak. Film Green Zone buatan Paul Greengrass mungkin agak berbeda. Film ini mengangkat masalah yang dipertanyakan oleh kebanyakan masyarakat dunia tentang keberadaan senjata pemusnah massal yang dijadikan alasan oleh AS untuk menyerang Irak. Film ini menceritakan tentang seorang perwira intelijen AS di Baghdad yang berhasil memperoleh informasi akurat tentang kebohongan klaim pemerintah AS soal keberadaan senjata pemusnah massal di Irak.

Perwira yang bernama Miller ini merunut benang merah yang ia dapatkan tentang program senjata pemusnah massal di Irak, sampai ia berhasil menemui salah seorang perwira tinggi Irak berpangkat jenderal. Dari jenderal inilah ia memperoleh data yang menyebutkan bahwa program senjata pemusnah massal Irak telah dihentikan pada tahun 1991. Ditambahkannya bahwa AS punya data yang jelas tentang penghentian program itu. Dengan data-data yang ia dapat, Miller memprotes kebohongan yang disebarluaskan oleh pemerintah AS. Tindakan itulah yang membuat ia harus berseteru dengan rekan-rekannya sendiri. Meski sudah menyingkap hakikat, tapi tak ada yang bisa dilakukannya.

Yang menarik, meskipun film Green Zone mengangkat kisah seorang perwira AS yang berani, jujur dan obyektif, namun Miller tetap mengkhawatirkan memburuknya citra AS di mata masyarakat dunia. Dalam satu kesempatan ia mengatakan, “Alasan menyulut perang adalah masalah penting. Apa yang akan terjadi jika kita memerlukan lagi dukungan dan kepercayaan rakyat?” Artinya, bagi orang-orang seperti Miller, fakta dan hakikat atau pembelaan kepada para korban perang bukanlah hal yang penting. Yang paling prioritas adalah memupuk kepercayaan umum.

Sumber : disini

Categories: FILM | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: