Dunia Mendukung Serangan Terhadap Iran?

Berbagai propaganda digulirkan satu persatu oleh Barat untuk merongrong kecerdasan Iran dalam menangani isu nuklirnya dengan menandatangani Deklarasi Tehran bersama Turki dan Brazil.

Setelah resolusi berisi sanksi anti-Iran yang diajukan Amerika Serikat disetujui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kini Barat menyusun strategi baru dengan membangun opini publik anti-Iran.

Kali ini Pew Research Center merilis hasil polling terbarunya soal serangan terhadap Iran. Polling tersebut diklaim diikuti oleh 25.000 responden di 22 negara. Para responden dari sejumlah negara Arab juga dilibatkan dalam polling tersebut. Menurut hasil polling itu, sikap Iran dan presidennya, Mahmoud Ahmadinejad, ditanggapi negatif di 22 negara termasuk negara-negara Muslim. Bahkan di 16 negara diklaim para responden berpendapat bahwa penindaklanjutan “ancaman” nuklir Iran harus diselasaikan dengan menggunakan cara militer.

Kontradiksi

Pengamat menilai perilisan hasil polling tersebut dan publikasinya secara meluas oleh media-media Barat sebagai lanjutan episode upaya meruntuhkan keberhasilan Iran dalam membangun kepercayaan terkait program nuklirnya dengan menandantangani Deklarasi Tehran. Barat “kecolongan” langkah dengan penandatanganan tersebut. Bagaimana tidak? Deklarasi Tehran melandasi kesepakatan pertukaran uranium antara Iran dan Turki untuk suplai bahan bakar reaktor riset nuklir Tehran. Usulan itu dikemukakan oleh Kelompok 5+1 dan bahkan didukung oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Bedanya, tidak satu pun negara dari Kelompok 5+1 yang dilibatkan dalam proses tersebut.

Penandantangan Deklarasi Tehran mendapat sambutan hangat dari berbagai negara dunia khususnya 118 negara anggota Gerakan Non-Blok. Kembali masalah diplomasi dan perundingan ditekankan sebagai satu-satunya solusi untuk program nuklir Iran.

Setelah Deklarasi Tehran ditandatangani, Barat tampak kebingungan menyikapinya. Deklarasi tersebut telah membuat penanganan terhadap kasus nuklir Iran keluar dari dominasi dan manipulasi Barat khususnya Amerika Serikat. Oleh karena itu, tanpa memberikan reaksi proporsional, Amerika Serikat secara mengejutkan mengajukan draf sanksi baru anti-Iran.

Deklarasi Tehran merupakan babak kedua dari kebijakan tegas Iran dalam menggagalkan ketamakan Barat. Sebelumnya, partisipasi Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, pada sidang revisi Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), telah menggagalkan rencana Amerika Serikat dan sekutunya untuk mengendalikan total sidang tersebut. Singkatnya, jika Ahmadinejad tidak tampil mengajukan usulannya yang disambut oleh nyaris seluruh negara peserta minus Amerika dan segelintir sekutunya, tentu saat ini telah ditetapkan larangan pendayagunaan energi nuklir oleh negara mana pun kecuali dengan ijin Barat.

Namun, makar AS dan sekutunya dapat digagalkan dan bahkan sidang tersebut untuk pertama kalinya menjadi biang keresahan para pejabat Israel. Di statemen akhir sidang itu, nama Israel untuk pertama kalinya tercantum dan Tel Aviv dituntut untuk membuka pintu instalasi nuklirnya bagi para inspektor asing.

Cerita Lama

Sebenarnya masalah serangan terhadap instalasi nuklir Iran dikemukakan Barat jauh hari sejak era pemerintahan Bush. Agitasi tersebut terus didengungkan Barat dan rezim Zionis Israel yang menilai program nuklir Iran sebagai “ancaman” bagi keamanan dunia. Padahal, IAEA dalam 20 laporannya telah menekankan status damai program nuklir Iran.

Tampaknya, pendukung serangan terhadap instalasi nuklir Iran hanya Amerika dan segelintir sekutunya saja termasuk rezim Zionis Israel. Jika benar dunia mendukung serangan ke Iran, apakah Amerika Serikat akan menunggu lama untuk merealiasasikannya. Propaganda serangan ke Iran itu sengaja digulirkan sekaligus untuk mempengaruhi konstelasi politik dan keamanan regional. Beberapa waktu lalu, media Amerika mengklaim bahwa Arab Saudi mengijinkan penggunaan zona udaranya jika terjadi serangan ke Iran. Namun klaim tersebut buru-buru dibantah oleh Riyadh.

Terkait serangan, yang diperhitungkan hanya pihak Amerika Serikat mengingat rezim Zionis Israel secara otomatis tercoret dari daftar kemungkinan pihak penyerang. Seperti yang berulangkali dikemukakan para pejabat tinggi Iran menyikapi ancaman serangan dari Israel, Tel Aviv bahkan tidak punya nyali atau kemampuan untuk berbuat ulah sekecil pun terhadap Iran.

Lalu dengan klaim “dukungan dunia”, mengapa Amerika Serikat masih menunggu? (IRIB/MZ/AHF)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: