Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta

Kisah cinta adalah tema yang abadi. Meskipun sama-sama berbicara masalah dua hati, selalu ada begitu banyak hal yang bisa diceritakan di dalamnya. Ya, setiap zaman, masyarakat dan kebudayaan selalu memiliki aturan main yang berbeda. Akibatnya, persinggungan antarkebudayaan atau bahkan agama tak jarang menimbulkan permasalahan di dalam kisah percintaan.

Ini juga terjadi pada kisah cinta Rosid, seorang pemuda Muslim keturunan Arab di tanah Betawi, dan Delia, gadis Kristen berparas jelita. Keduanya jelas saling mencintai. Tapi, perbedaan di antara keduanya sudah pasti akan menghalangi niat mereka untuk menyatukan diri dalam pernikahan. Namun, seperti kata pepatah, cinta akan selalu menemukan jalannya. Hanya saja, bagaimana cinta mereka bisa menemukan jalan berbuah kebahagiaan?

Rosid dan Delia tak sekadar menuturkan masalah percintaan. Lebih dari itu, Rosid dan Delia juga menyinggung pemahaman keberagamaan yang lebih luas dan mencerahkan. Film yang diangkat dari novel Da Peci Code memberikan sebuah wawasan baru mengenai cinta dan perbedaan di dalamnya.

Rosid adalah seorang pemuda Muslim yang idealis dan terobsesi menjadi seniman besar seperti WS Rendra. Gaya seniman Rosid dengan rambut kribonya membuat Mansur, sang ayah, gusar karena tidak mungkin bagi Rosid untuk memakai peci.

Padahal peci-bagi Mansur-adalah lambang kesalehan dan kesetiaan kepada tradisi keagamaan. Bagi Rosid, bukan sekadar kribonya yang membuatnya tidak mungkin memakai peci, melainkan karena Rosid tidak ingin keberagamaannya dicampur-baur oleh sekadar tradisi leluhur yang disakralkan.

Ternyata tongkrongan seniman Rosid membawa berkah juga. Delia, seorang gadis Katolik berwajah manis, kepincut pada sosok Rosid. Tentu saja ini hubungan yang nekad . Rosid terlahir dari keluarga keturunan Arab-Muslim yang masih taat memegang teguh tradisi leluhurnya. Sementara Delia terlahir dari keluarga Manado-Katolik yang juga sangat taat beribadah.

Rosid dan Delia adalah dua anak muda yang rasional dalam menyikapi perbedaan. Tapi orang tua mana yang rela dengan kisah cinta mereka. Maka mereka pun mencari cara untuk memisahkan Rosid dan Delia. Jurus Frans dan Martha, orang tua Delia, adalah dengan mencoba mengirim Delia sekolah ke Amerika. Berbeda lagi dengan Mansur.

Muzna, ibunda yang sangat dihormati Rosid, pun turun tangan. Sang Ibu dengan bantuan Rodiah, adik suaminya, menjodohkan Rosid dengan Nabila, gadis cantik berjilbab yang ternyata mengidolakan Rosid, sang penyair.

Memang, cinta Rosid dan Delia begitu kuat, tapi sekuat itu juga tantangannya. Selain perbedaan agama ternyata ada beban psikologis yang harus dihadapi jika mereka meneruskan hubungan itu hingga ke ikatan pernikahan.

Meski akhirnya kedua orangtua mereka memberi kebebasan memilih, Rosid dan Delia justru memutuskan tidak melanjutkan hubungan mereka karena sadar hal itu akan melukai orang-orang yang mereka cintai. Rosid dan Delia memilih hanya bersahabat.

Mizan Makin Cemerlang

Mizan Production makin lihai saja dalam menelurkan film hiburan yang berpeluang laris di pasar. Setelah sukses dengan Laskar Pelangi dan Emak Ingin Naik Haji, kini Mizan menghidangkan “sup ayam hangat” baru untuk penonton Indonesia dengan menu gado-gado dari puisi W.S. Rendra, komedi peci, dan cinta beda agama dalam film Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta. Film ini akan hadir di bioskop pada awal bulan depan.

Film yang semula diberi judul Komidi Putar ini diangkat dari Da Peci Code serta Balada Rosid dan Delia, dua novel karya Ben Sohib. Sutradara Benni Setiawan kemudian mengadaptasinya ke layar lebar dengan membongkar naskahnya di sana-sini dan memasukkan berbagai unsur baru. “Kesamaan cerita dengan novelnya memang hanya 40 persen,” kata Benni.

Film ini sebenarnya mengangkat masalah cinta beda agama, tema kontroversial yang sudah pernah muncul di film lain, seperti Cin[t]a karya sutradara muda Sammaria Simanjuntak pada 2009. Film drama independen bikinan mahasiswa Institut Teknologi Bandung itu mengangkat kisah cinta antara Cina, mahasiswa baru keturunan Tionghoa, dan Annisa, mahasiswi muslim.

Film Tiga Hati juga mempertemukan dua hati yang berbeda keyakinan: Rosid (Reza Rahadian), pemuda muslim, dan Delia (Laura Basuki), gadis Manado penganut Katolik yang taat. Sepasang kekasih ini harus menempuh jalan berliku untuk memperjuangkan cinta mereka. Batu sandungan bukan hanya datang dari keluarga masing-masing, tapi juga kehadiran seorang gadis cantik berjilbab.
Rosid adalah pemuda Betawi nyentrik keturunan Arab yang digambarkan sebagai seniman kribo yang idealis dan terinspirasi menjadi penyair besar sekaliber W.S. Rendra. Gayanya yang cuek dan dandanannya yang tak Islami membuat sang ayah, Manysur (Rasyid Karim), selalu naik pitam.

Persoalannya sederhana: tak ada peci yang muat untuk rambut kribo Rosid. Padahal, bagi Mansyur, peci adalah lambang kesalehan dan kesetiaan kepada Islam. Mansyur memaksa Rosid selalu berpeci ke mana-mana, karena begitulah seharusnya adat seorang muslim Betawi.

Soal peci belum beres, Rosid malah bikin masalah baru dengan memacari Delia. Kedua orang tua Rosid dan Delia pun putar otak untuk memutus hubungan nekat itu. Orang tua Rosid, Mansyur dan Muzna (Henidar Amroe), menjodohkan si kribo dengan Nabila (Arumi Bachsin), muslimah cantik yang juga mengidolakan puisi-puisi Rosid. Adapun Frans (Robby Tumewu) dan Martha (Ira Wibowo), orang tua Delia, berupaya mengirim anak semata wayangnya bersekolah ke Amerika Serikat.
Pada saat ego orang tua bertakhta, Rosid dan Delia tak mau menyerah. Singkat kata, beberapa peristiwa terjadi, yang pelan-pelan meluluhkan hati orang tua mereka dan membuat mereka mencoba berdamai dengan anak masing-masing. Nah, ketika ego sudah luluh, eh, malah hati Rosid dan Delia yang bimbang. “Apa artinya jika cinta kita bahagia tapi banyak orang yang kita sayangi menangis,” ucap Delia bersimbah air mata.

Mengenang WS Rendra

Ada banyak ide tertuang dalam film ini. Setelah Benni mengantongi ide dari dua novel tersebut, Mizan pun berkeinginan mengenang W.S. Rendra melalui media ini. “Aslinya, Rosid adalah wartawan. Tapi, dalam proses produksi, Mizan ingin ada pesan mengenang Rendra,” kata Benni. Maka, jadilah Rosid si penyair kribo. Porsi syair-syair Rendra dalam film ini pun terlihat dikebut di bagian penutup film, sehingga terkesan dipaksakan.

Permainan pasangan Reza Rahadian-Laura Basuki kali ini tampil cukup baik. Kemunculan Laura sebagai pendatang baru yang dipercaya memerankan tokoh utama menandakan peningkatan perannya, yang selama ini mentok pada jabatan pemeran pembantu. Adapun Reza, aktor yang menerima penghargaan Pemeran Pendukung Pria Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2009 lewat Perempuan Berkalung Sorban, malah berakting standar saja.

Setelah dua debut filmnya yang konsisten dengan genre drama romantis, yakni Bukan Cinta Biasa dan Cinta Dua Hati, Benni Setiawan masih percaya diri memilih genre serupa untuk film terbarunya yang mengulik persoalan cinta beda agama. “Genre ini bisa hidup dan disukai semua orang dan di era kapan pun. Saya akan terus konsisten dengan genre ini,” katanya.

Namun, berbeda dari film sebelumnya, tema film terbarunya ini kontroversial tapi, “Saya mengambil jalan aman untuk akhir cerita,” katanya. Menurut Benni, keputusan ini dilakukan agar sesuai dengan jalan cerita di novel, sehingga jalan tengah pun diambil Rosid dan Delia. Sebagian penonton boleh jadi akan kecewa karena penutupnya jadi kurang gereget.

Syuting film ini memakan waktu empat bulan dan dilakukan di Bogor. “Kendalanya hanya cuaca yang tak menentu. Saat itu di Bogor sering hujan,” katanya. Harapan Benni, film ini mampu menarik perhatian penonton tak hanya yang beragama muslim, tapi lebih luas lagi. (Mizan/Tempointeraktif/IRIB/AR)

Categories: FILM | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: