Saat sinar kebenaran datang menyapa

Kavita dilahirkan dalam keluarga yang terkait dengan organisasi ekstrim Hindu Shiv Sena. Ia kemudian memilih nama Nur Fatima ketika masuk Islam. Sebelum itu dia juga terkenal dengan nama panggilan Poonam. Ia dilahirkan di Mumbai dan berusia 30-an. Pun demikian ia merasa umurnya tidak lebih dari lima tahun karena pengetahuannya tentang Islam tidak lebih dari pengetahuan anak muslim yang berusia lima tahun. Kavita mendapat pendidikan di Mumbai, kemudian ia melanjutkan pelajarannya ke Universitas Cambridge untuk pendidikan tinggi. Setelah menyelesaikan masternya, ia banyak mengikuti program/kursus computer.

Masa remaja, ia disekolahkan di Mumbai, di sebuah sekolah yang cukup besar dan hanya anak-anak dari keluarga kerajaan belajar di sana. Ia kemudiannya menikah di Mumbai dan kemudian ke Bahrain bersama dengan suaminya serta memiliki dua anak lelaki.

Ia dibesarkan dalam lingkungan Hindu ekstrim di mana Muslim sangat dibenci. Sejak remaja dia tidak menyukai penyembahan berhala. Pernah satu ketika, dia telah memindahkan berhala sembahan keluarganya ke dalam kamar kecil. Ketika dia ditegur ibunya karena perbuatan tersebut, dia mengatakan bahwa berhala itu tidak dapat melindungi dirinya sendiri, maka mengapa perlu kita mencari keberkahan dari berhala tersebut? Mengapa Anda tunduk di hadapannya? Apa kah yang diberikan kepada Anda?

Kita ikuti seterusnya kisah menarik ini dari ungkapannya sendiri!

Ada sebuah ritual dalam keluarga kami bahwa ketika seorang gadis menikah, ia mencuci kaki suaminya dan minum air basuhan tersebut. Tapi saya menolak untuk melakukannya pada hari pertama perkawinan saya, oleh karena itu saya telah dimarahi. Saya telah bergabung dengan sebuah sekolah (untuk tujuan pengajaran). Karena sendirian dan menggunakan mobil, saya mulai mengunjungi pusat Islam berdekatan. Saya sering mendengar percakapan mereka dan tahu bahwa umat Islam tidak menyembah berhala. Saya sangat menyenangi pandangan mereka. Kemudiannya saya mendapat tahu bahwa Allah-lah yang menyelesaikan segala sesuatu.

Yang paling saya kagumi dalam Islam ialah shalat. Saya tidak tahu sebelumnya bahwa hal itu disebut sebagai shalat. Pada awalnya saya pikir itu semacam latihan atau sejenis olah raga. Ketika saya mulai mengunjungi pusat Islam barulah saya memahami bahwa shalat adalah sebuah bentuk ibadah. Saya memimpikan satu hal setiap kali saya tidur. Hampir setiap hari saya bermimpi melihat sebuah ruang empat dimensi. Saya merasa sungguh terganggu dan bangun berkeringat. Ruang yang sama akan kembali muncul dalam mimpi saya ketika saya tidur lagi. Pada kemudian harinya, baru saya memahami apa yang saya mimpikan itu.

Setelah menikah, kami berpindah ke Bahrain. Hal ini banyak membantu saya untuk memahami Islam. Di negara ini saya berteman dengan seorang gadis muslim. Dia jarang mengunjungi saya, tapi sebaliknya saya sering mengunjunginya. Suatu hari
ia melarang saya mengunjunginya karena ketika itu bulan Ramadhan, bulan ibadah. “Ibadah saya terganggu karena kunjungan Anda” katanya. Karena saya ingin tahu ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, saya memintanya untuk tidak melarang saya dari mengunjungi rumahnya. Saya berkata: “Saya tidak akan menganggu anda, saya hanya akan melihat Anda melakukan semua itu. Anda tanyakan apa saja yang anda inginkan.” Jadi dia tidak melarang saya mengunjungi rumahnya.

Ketika saya melihat apa yang dilakukannya, saya begitu tertarik untuk menirunya. Lalu saya bertanya kepadanya tentang perbuatannya. Dia memberitahu saya bahwa dia melakukan shalat. Dan kitab yang sedang dibaca adalah al-Quran. Saya begitu ingin melakukannya. Lalu sayapun mengunci kamar rumah saya dan meniru apa saja yang diperbuat oleh teman saya meskipun saya tidak tahu banyak tentang hal ini.

Suatu hari saya terlupa untuk mengunci pintu kamar dan mulai mengerjakan shalat. Tiba-tiba suami saya masuk ke kamar. Dia bertanya apa sedang saya lakukan. Saya menjawab: “Saya sedang shalat”. Dia berkata: “Apakah Anda sadar apa yang sedang Anda lakukan? Apakah Anda tahu apa yang Anda katakan? “Pada mulanya saya dimarahi. Saya menutup mata karena takut. Tapi, tiba-tiba, saya merasakan sebuah kekuatan besar dalam jiwa saya yang membuat saya cukup berani untuk menghadapi situasi. Saya berteriak bahwa saya telah masuk Islam makanya saya menunaikan shalat.

Dia berkata: “Apa! Apa yang telah Anda katakan? Bolehkah Anda mengulangi kata-kata Anda .” Saya mengulangi kata-kata saya dengan menekankan: ” Ya! Saya telah masuk Islam “Mendengar hal ini, ia mulai memukul saya. Mendengar suara jeritan dan raungan saya,. kakak saya sampai di sana. Dia berusaha menyelamatkan saya. Tapi ketika suami saya menceritakan apa yang terjadi, dia pula maju untuk memukul saya. Saya memberhentikannya dengan berkata: “Anda tidak harus menghalangi saya. Saya tahu apa yang baik untuk saya dan apa yang buruk. Saya akan berjalan di jalan yang telah saya pilih”. Mendengar ini suami saya marah. Dia menyiksa saya sehingga saya tidak lagi merasa apa-apa.

Saat tu anak-anak saya berada di rumah. Anak sulung saya berusia 9 dan anak kedua berusia 8 tahun. Setelah insiden tersebut saya tidak lagi diizinkan untuk bertemu dengan siapa pun. Saya dikunci dalam sebuah kamar. Meskipun saya tidak memeluk Islam secara resmi, saya telah mengucapkan kata-kata bahwa saya telah masuk Islam. Suatu malam ketika saya berada di kamar yang terkunci, anak sulung saya datang dan menangis tersedu-sedu dalam dekapan saya. Saya bertanya di mana anggota keluarga lainnya. Dia mengatakan mereka telah pergi untuk menghadiri sebuah upacara dan tidak ada di rumah. (Ada festival keagamaan kami pada malam itu.)

Anak saya meminta saya untuk melarikan diri dari rumah karena keluarga kami ingin membunuh saya. Saya menghibur dirinya dengan mengatakan bahwa perkara seperti itu tidak mungkin akan terjadi. Mereka tidak akan menyakiti saya. Dan dia harus mengurus dirinya sendiri dan adiknya. Tapi dia tetap bersikeras di tengah isak tangis bahwa saya harus melarikan diri dari rumah. Saya berusaha merayu dengan mengatakan bahwa sudah pasti tidak akan bisa bertemu dengan mereka. Tapi dia menjawab bahwa Anda bisa bertemu kami hanya jika Anda masih hidup. “Pergilah, Mama, mereka akan membunuh Anda”

Akhirnya saya memutuskan untuk pergi. Saya tidak pernah bisa melupakan saat-saat yang begitu memilukan ketika anak sulung saya pergi untuk membangunkan adiknya dan berkata kepadanya: “Bangunlah. Mama akan pergi. Bertemulah dengannya sekarang karena kita tidak akan tahu apakah kita akan dapat bertemu dengannya lagi atau tidak. ” Setelah beberapa hari tidak bertemu dengannya, dia bangun mendekati saya. Dia menggosok matanya sambil menatap saya. Tapi ketika saya melangkah ke depan, ia memeluk saya dan menangis. Mungkin anak-anak saya telah mengetahui semuanya. Ia hanya bertanya pada saya, “Mama, pergilah”. Saya mengangguk menyetujuinya dan mengatakan bahwa kami akan bertemu lagi.

Kedua anak saya melihat kepergian saya pada malam yang gelap lagi dingin itu. Saya telah menghancurkan cinta seorang ibu di bawah kaki saya sendiri. Di satu pihak saya terpaksa menginjak cinta saya terhadap anak-anak dan berpisah dengan mereka dan di lain pihak adalah cinta saya untuk Islam yang mengatasi segalanya. Saya mengerang, berpegangan kepada anak-anak saya …. menghancurkan cinta saya untuk mereka. Luka hati saya masih segar. Saya tak bisa melangkahkan kaki. Namun, entah bagaimana saya berhasil melaksanakannya. Kedua anak-anak saya melambaikan tangan mereka kepada saya dengan deraian air mata di pintu gerbang. Saya tidak pernah bisa melupakan detik-detik tersebut. Setiap kali saya teringat pada peristiwa ini, saya pasti teringat pada muslim yang terpaksa meninggalkan rumah dan keluarga mereka demi Islam.

Dari rumah, saya langsung menuju ke kantor polisi. Masalah terbesar saya di sana adalah mereka tidak memahami bahasa saya. Salah seorang dari mereka, bisa memahami bahasa Inggris. Saya kehabisan napas dan tidak bisa berbicara karena gugup. Saya meminta dia untuk membiarkan saya beristirahat sampai saya bisa menenangkan diri saya. Lalu setelah beberapa saat, saya mengatakan padanya bahwa saya telah meninggalkan rumah dan ingin memeluk Islam. Saya sangat ingin menceritakan semuanya. Namun, dia menghibur saya dan mengatakan bahwa dia juga adalah seorang muslim dan akan membantu saya sedapat mungkin. Dia membawa saya pulang menemui keluarganya dan memberikan saya berlindung di rumahnya.

Di pagi hari, suami saya tiba di kantor polisi untuk meminta bantuan dengan mengatakan istrinya telah saya telah diculik. Ia kemudian diberitahu bahwa saya tidak diculik, tetapi telah datang sendiri. Saat seseorang itu ingin memeluk Islam, maka dia tidak lagi memiliki hubungan dengannya (sebagai non-muslim) sehingga dia tidak perlu pula untuk pergi bersamanya. Dia bersikeras dan melemparkan ancaman. Tapi saya sendiri menolak untuk pergi bersamanya. Saya bilang ia bisa mengambil semua perhiasan saya, saldo bank dan properti, tapi saya tidak akan pergi bersamanya. Pada awalnya dia tidak menyerah, tapi melihat penolakan konsisten saya ia mendapat pernyataan tertulis untuk memperoleh semua milik saya.

Orang yang telah memberiku tempat berlindung mengatakan sekarang keluarga Anda tidak akan membahayakan Anda dan Anda bisa saja memeluk Islam. Saya mengucapkan terima kasih dan pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan rawatan karena seluruh tubuh saya terluka. Saya dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Dokter bertanya kepada saya: “Dari mana kamu datang? Tidak ada satu dari keluarga Anda yang pernah mengunjungi Anda di rumah sakit “. Saya hanya membisukan diri dan tidak menjawab.. Karena saya sudah meninggalkan rumah saya dalam mencari hanya satu hal …… Sekarang saya tidak lagi punya rumah atau keluarga ….. Yang tinggal hanyalah hubungan saya dengan Islam, agama yang telah mengulurkan cintanya untuk saya pada langkah pertama.

Polisi muslim itu memanggil saya adik dan memperlakukan saya di rumahnya seperti saudara. Dia telah memberikan saya tempat penampungan pada malam dingin ketika saya telah kehilangan semuanya. Saya tidak pernah bisa melupakan kebaikannya. Ketika saya masih dirawat di rumah sakit, saya cemas tentang langkah berikutnya. Kemanakah harus saya mencari perlindungan? Setelah keluar dari rumah sakit saya langsung pergi ke pusat Islam. Tidak ada seorangpun pada waktu itu kecuali seorang tua yang mungkin tinggal di sana. Saya pergi kepadanya dan menceritakan segala yang telah menimpa saya. Dia ragu-ragu untuk beberapa saat dan kemudian berkata: “Anakku. sari ini bukan pakaian muslim. Pergilah, pakailah jilbab dan berpakaian seperti muslim.

Saya mempunyai sedikit uang ketika meninggalkan kantor polisi. Dengan uang itu saya membeli pakaian dan kembali ke pusat Islam itu. Dia mengajar saya untuk berwudhu. Sesudah itu, dia membawa saya ke sebuah kamar. Di ruangan itu, saya menemukan foto besar yang tergantung di dinding. Melihat gambar tersebut langkah saya terhenti, karena gambar itu menunjukkan ruang empat persegi yang sering muncul dalam mimpi saya. Saya langsung berteriak: “Itulah yang saya sering muncul dalam mimpi saya ….. yang telah mengganggu tidur saya”. Dia tersenyum. Dan berkata itu adalah rumah Allah. Muslim dari seluruh dunia mengunjungi rumah ini untuk menunaikan Haji dan Umrah. Ia disebut Baitullah. Saya terkejut dan bertanya. “Apakah Allah tinggal di rumah itu”. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan senyum dan kasih sayang?.

Saya tidak menghadapi kesulitan dalam berbicara dengannya. Ia menjelaskan setiap dan segala sesuatu dalam bahasa yang saya pahami. Saya merasakan kebahagiaan aneh yang menyusup dalam jiwa saya yang tidak dapat saya pahami pada waktu itu. Dia mengajarkan saya mengucapkan syahadah dan kemudian menceritakan tentang Muslim dan Islam. Sekarang saya tidak merasa cemas atau beban apapun di pikiran saya. Saya merasa diri saya sangat ringan. Saya merasa seperti telah berenang dari polusi untuk membersihkan diri dengan air. Pemilik pusat Islam ini telah mengadopsi saya sebagai putrinya dan membawa saya ke rumahnya. Kemudian, dia mengatur pernikahan saya dengan keluarga muslim. Keinginan pertama saya adalah untuk melihat rumah “Allah” . Saya menunaikan Umrah.

Saya tidak pergi ke India setelah itu dan tidak ingin untuk pergi ke sana. Keluarga saya memiliki hubungan dalam politik dan organisasi keagamaan di sana. Mereka telah mengumumkan akan memberikan hadiah bagi yang dapat membawa kepala saya. Saya seorang Muslim, seorang putri Muslim …. dan saya bangga menjadi seorang Muslim ….. Saya ingin menjalani hidup saya dalam cahaya Islam.[IRIB/NA]

Sumber: http://www.islamway.com

Categories: AGAMA, Kisah-Cerita | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: