Resolusi DK PBB anti Iran

Pekan lalu Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis resolusi baru anti Iran. Sontak resolusi tersebut menyulut kritikan luas dari berbagai kalangan, terutama pejabat teras Iran. Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dalam konferensi pers di akhir kunjungannya ke Cina menyebut Dewan Keamanan PBB hanya sebagai alat politik Amerika Serikat dan bukan milik bangsa-bangsa dunia.

Ahmadinejad menilai resolusi anti Iran ini justru menjadi pukulan pamungkas yang mematikan kredibilitas lembaga tersebut. Dia juga menyatakan, “Dewan Keamanan PBB memiliki 15 anggota, lima di antaranya mempunyai bom atom dan berhasrat untuk memonopoli energi nuklir. Kelima negara itu juga berusaha menghadang kemajuan negara-negara lain dengan beragam dalih”. Ahmadinejad memaparkan, “Empat anggota Dewan Keamanan juga merupakan bagian dari blok kapitalis yang tidak pernah mengeluarkan suara yang independen selama 60 tahun terakhir ini “.

Selama lebih dari tiga dekade belakangan, Pemerintah AS senantiasa menekan bangsa Iran dengan pelbagai tekanan dan dalih. Kini, Washington mengusung isu nuklir sebagai alat untuk menekan Tehran. Namun poin penting yang patut ditelisik lebih mendalam adalah upaya AS dalam membujuk negara-negara anggota Dewan Keamanan supaya meloloskan resolusi anti-Iran. Tidak segan-segan, Gedung Putih menghalalkan beragam cara untuk menggolkan ambisinya itu. Namun ironisnya, upaya tersebut tidak membuahkan hasil signifikan. Bahkan justru memperkeruh hubungan antarnegara.

Presiden AS Barack Obama dalam suratnya kepada Presiden Brazil Lula da Silva, soal pertukaran uranium pada 20 April lalu, menyebut kesepakatan Turki dan Brazil dengan Iran bisa membangun kepercayaan dan meredam ketegangan di kawasan. Dalam suratnya itu, Obama meminta Brazil untuk merayu Iran supaya mau memanfaatkan tawaran pertukaran uranium.

Ironisnya, justru pada saat Deklarasi Tehran telah disepakati dan Iran bersedia melakukan pertukaran uranium, AS malah tidak konsisten dan mengubah pandangannya. Tampaknya, AS bersama Perancis dan Rusia yang tergabung dalam kelompok Wina tak pernah berpikir Iran bakal bersepakat dengan Brazil dan Turki melahirkan Deklarasi Tehran. Kesepakatan itu benar-benar di luar dugaan AS dan sekutunya.

Tentu saja sanksi tambahan Dewan Keamanan PBB terhadap Iran sejatinya bertentangan dengan butir keempat NPT yang menjamin hak setiap negara anggotanya untuk memanfaatkan energi nuklir bagi kepentingan damai, termasuk pengayaan uranium. Meski demikian, segala bentuk tekanan dan sanksi semacam itu tidak akan menghentikan tekad Iran melanjutkan program nuklir sipilnya. Karena itu, sebagaimana yang ditegaskan Wakil Tetap Republik Islam Iran di PBB Mohammad Khazaee, resolusi anti-Iran ini sejatinya merupakan kesalahan historis Dewan Keamanan PBB. Sebab, resolusi itu dijatuhkan semata-mata berdasarkan prasangka dan tudingan fiktif yang tak pernah bisa dibuktikan kebenarannya.
Dalam pertemuan dengan Ketua Parlemen Turki, Mohammad Ali Shahin, Ahmadinejad menyatakan bahwa Iran dan Turki memainkan peran penting dalam percaturan dunia, dan keduanya akan menjadi kekuatan baru di masa mendatang.
Seraya mengingatkan bahwa Tehran-Ankara memiliki kepentingan serta misi yang sama, Ahmadinejad menambahkan, kerjasama kedua negara yang didasari rasa saling percaya dan persaudaraan, kian meningkat.

Menyinggung Deklarasi Tehran, Presiden Iran mengungkapkan, “Deklarasi ini diterima luas oleh masyarakat dunia karena isinya memperjuangkan keadilan, perdamaian dan kehendak seluruh umat manusia.”Ahmadinejad menambahkan, deklarasi Tehran bukan sekedar membicarakan masalah nuklir Iran, namun juga menyuguhkan model baru sistem dunia yang berasaskan dialog, logika dan keadilan.

Sementara itu, Shahin dalam pertemuan tersebut menyebut kerjasama Iran-Turki berada pada level yang memuaskan. Ia mengatakan, peran pemerintah Iran di tahun-tahun terakhir dalam upayanya meningkatkan hubungan bilateral Tehran-Ankara, patut mendapat pujian. Menyinggung Deklarasi Tehran, Shahin menyebutnya sebagai langkah yang benar. Ditambahkannya deklarasi ini mendapat sambutan positif dari masyarakat internasional, sehingga mayoritas publik internasional percaya bahwa Iran, Brazil dan Turki menghendaki penyelesaian masalah nuklir Tehran secara damai dan rasional.

Pekan lalu, ketua Parlemen Iran, Ali Larijani dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Turki, Mohammad Ali Shahin menyebut dirilisnya resolusi Dewan Keamanan PBB no.1929 sebagai bentuk kemarahan kekuatan adidaya global terhadap peran signifikan negara-negara independen dan pengusung perdamaian dalam menyelesaikan masalah regional dan internasional.

Pada pertemuan tersebut, Ali Larijani menyinggung masalah Deklarasi Tehran dan kerjasama yang baik antara Iran, Turki dan Brazil di bidang nuklir. Larijani mengatakan, “Kini tengah terjadi gelombang baru di arena internasional. Negara-negara arogan dunia yang mengklaim sebagai penguasa dunia mau tidak mau harus menyaksikan peran signifikan negara-negara independen.”

Ditegaskannya, reaksi negatif adidaya global terhadap Deklarasi Tehran menunjukkan bahwa mereka tidak serius menangani masalah nuklir Iran, bahkan hendak memonopoli nuklir di kancah dunia. Ketua Parlemen Iran mendesak kelanjutan lobi antara Tehran dan Ankara di berbagai bidang, terutama mengenai masalah regional dan internasional. Larijani menekankan pemanfaatan potensi kedua negara untuk meningkatkan kerjasama antara Tehran dan Ankara di tingkat regional dan internasional.

Sementara itu, Mohammad Ali Shahin menyatakan puas atas peningkatan kerjasama Iran-Turki di berbagai arena. Ketua Parlemen Turki ini menekankan, eskalasi kerjasama antara parlemen Turki dan Iran bisa meningkatkan hubungan persaudaraan.

Pekan lalu, kontrak final suplai gas Iran ke Pakistan akhirnya ditandatangani oleh Direktur Eksekutif Gas Pakistan dan Wakil Departemen Perminyakan Iran pada Ahad (13/6). Berdasarkan kontrak tersebut, mulai tahun 2014, Iran akan menyuplai gas alam cair ke Pakistan sebesar 1,5 juta meter kubik perhari, atau 7,8 milyar meter kubik pertahun. Usia kontrak ini berlangsung selama 25 tahun.

Jalur pipa gas dari Iran ke Pakistan sepanjang 750 km melalui perbatasan kedua negara. Jalur pipa gas Iran ke Pakistan memiliki kapasitas sebesar 110 juta meter kubik perhari. Suplai gas ke Pakistan akan dimulai dengan volume sebesar 21 juta meter kubik perhari.

Menteri Perminyakan Iran, Masoud Mirkazemi dalam acara resmi penandatanganan kontrak gas Iran-Pakistan mengatakan, Iran adalah negara yang memiliki cadangan gas alam cair terbesar kedua sedunia.

Sementara itu, Sekretaris Menteri Energi Pakistan, Kamran Lashari dalam acara penandatangan kontrak tersebut memuji komitmen Iran, seraya mengungkapkan bahwa proyek besar ini menunjukan hubungan persaudaraan yang terbangun lama antara Iran dan Pakistan.

Proyek pemasangan pipa gas di wilayah Pakistan menelan waktu hingga empat tahun. Terkait hal ini, Deputi Menteri Perminyakan Iran menyebut kontrak gas antara Iran dan Pakistan sebagai kontrak gas terbaik. Ditegaskannya, berdasarkan kontrak tersebut, Pakistan mengalirkan gas dari Iran ke negara ketiga melalui negaranya. Iran pun bisa menyuplai gas ke negara ketiga melalui Pakistan. Iran menjadi pusat perhatian berbagai negara, karena memiliki kekayaan minyak dan gas yang melimpah. (IRIB/PH/SL)

Categories: Hubungan Internasional | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: