Mendulang Manfaat Politik dan Sosial Haji

Haji sebagai kongres spiritual terbesar merupakan ajang berhimpunnya jutaan kaum muslimin dari seluruh dunia. Kesempatan ini bukan saja momentum emas untuk beribadah secara personal tapi juga merupakan peluang terbaik untuk meraih manfaat dimensi sosial dan politik haji. Salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi politik dan sosial haji adalah mengelar beragam seminar dan ajang sosialisasi sebagai wahana untuk menyebarkan kesadaran beragama yang konstruktif bagi umat Islam. Sejak beberapa tahun yang lalu, selama penyelenggaraan haji, Republik Islam Iran senantiasa menggelar beragam konferensi dan seminar terkait masalah haji, persatuan Islam, dan isu-isu aktual dunia Islam. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada musim haji kali ini pun, Bi’tsah Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran selaku lembaga penyelanggara haji Iran menggelar serangkaian seminar yang dihadiri oleh para jamaah haji khususnya kalangan ulama dan cendikiawan dari berbagai negara Islam.

Salah satu tuntutan utama dunia Islam saat ini adalah penguatan persatuan dan solidaritas untuk menghadapi musuh bersama. Terkait dengan isu tersebut, Republik Islam Iran menyelenggarakan dua seminar penting di kota suci Mekkah. Dalam seminar “Pendekatan Isu-Isu Islam” yang diikuti oleh para tokoh muslim dari Iran dan negara-negara muslim lain, para peserta sepakat untuk menghindari terjadinya perpecahan dan sikap-sikap ekstrim.

Amirul-Haji Iran, Hojjatul-Islam Muhammad Reyshahri dalam sambutannya di seminar tersebut menyatakan: “Haji dengan seluruh manasiknya, mulai dari tawaf, shalat, sa’i, wuquf, dan lempar jumrah merupakan penjelmaan dari gerakan iman kolektif yang dibangun berlandaskan pada kesatuan kalimah tauhid dan penafian syirik”. Ia juga menekankan perlunya pemanfaatan haji sebagai sarana untuk memperkuat dan persatuan Islam dan berpegang pada kesamaan unsur di antara mazhab-mazhab Islam. Hojjatul-Islam, Reyshahri menjelaskan, “Entah mengapa dalam kondisi semacam sekarang, masih saja ada sebagian kelompok yang berupaya menjadikan manasik haji sebagai alat untuk menciptakan perpecahan. Padahal haji mengandung susbtansi tauhid dan karakteristik pemersatu”.

Dalam seminar serupa, dengan mengusung tema “Haji, Manifestasi Umat yang Satu”, juga banyak ditekankan perlunya persatuan dan solidaritas di antara masyarakat muslim. Para pembicara dalam seminar tersebut sepakat untuk menjadikan haji sebagai momentum untuk mengokohkan tali ikatan di antara umat Islam. Menyinggung digelarnya ritus haji yang diikuti jutaan jamaah lebih dari 100 negara ini, Hojjatul-Islam Ali Akbar Attaran, peneliti asal Iran, menyatakan, “Jika para politisi dunia Islam memahami nilai penting kesempatan emas ini, niscaya pelbagai persoalan dunia Islam, seperti krisis di Irak, Afghanistan, dan Pakistan bisa diselesaikan”. Dia juga menilai haji sebagai momentum untuk meneriakkan suara anti-imperialisme dunia Islam.

Penasehat Presiden Republik Islam Iran Urusan Ahlusunnah, Moulavi Eshaq Madani dalam Seminar “Haji, Manifestasi Umat yang Satu” yang digelar di kota suci Mekkah menilai haji sebagai ibadah terpenting, tempat di mana persatuan Islam terjelma di sana. Menyinggung investasi negara-negara Barat untuk menciptakan perpecahan di tubuh umat Islam, Moulavi Eshaq menyatakan, “Investasi itu ditujukan untuk melawan Republik Islam Iran dan pesan persatuannya. Karena Iran mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mewujudkan persatuan di dunia Islam”. Ulama terkemuka Ahlusunnah asal Iran ini menegaskan, “Dengan adanya persatuan Sunni dan Syiah, maka dunia Islam dan seluruh firqah-firqah Islam akan menjadi kuat dan berjaya”. Masih dalam seminar yang sama, Pemangku Urusan Ahlusunnah Iran, Nasir Salim Zadeh mengingatkan, sebelum menjadi isu politik, persatuan merupakan ajaran agama dan ilahi.

Sementara itu dalam rangkaian seminar lainnya di Mekkah yang mengambil tema khusus “Kehadiran yang Agung”, dibahas beragam dimensi haji dan peranannya dalam menciptakan persatuan. Penulis dan peneliti Iran, Dr. Abdul Karim Biazar Shirazi dalam orasinya di seminar ini menyatakan, “Haji merupakan musim keadilan, persatuan manusia, dan penjelmaan tauhid. Sejatinya dalam ritus ini, persatuan menjadi nyata. Karena itu, seluruh umat Islam harus menjadikan pelajaran nyata haji sebagai landasan persatuannya”. Seraya menyinggung keberadaan Nabi Muhammad saw sebagai suri teladan di seluruh sendi-sendi kehidupan, Dr Abdul Karim menyatakan, “Nabi Besar Islam saw dengan bertumpu pada tauhid berhasil mempersatukan seluruh ras dan etnis. Karena itu kita pun mesti mengikuti jalan Nabi saw dan menjadikan haji sebagai simbol persatuan kaum muslimin”.

Moulavi Nazir Ahmad Islami adalah pembicara lainnya dalam seminar “Kehadiran yang Agung”. Dia adalah wakil ulama Ahlusunnah dalam Dewan Ahli Kepemimpinan Islam Iran. Ia menilai propaganda Barat yang menyerukan pemisahan agama dan politik merupakan modal untuk memecah persatuan di antara umat Islam. Menyinggung maraknya gerakan takfiriyah atau pengkafiran yang dilakukan oleh sekelompok kalangan ekstrimis dan kolot, Moulavi Nazir menyatakan, “Fenomena berbahaya ini telah mencoreng wajah Islam di dunia dan menyebabkan terhapusnya kalangan yang tulus dari beragam mazhab Islam lainnya”. Dibagian lain pembicaraannya, ulama sunni terkemuka asal Iran ini menegaskan, “Jika negara-negara seperti Arab Saudi memperhatikan pesan Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw, tentu kondisi umat Islam saat ini bakal lebih baik dan mereka akan hidup dalam kondisi penuh kerukunan dan persatuan”.

Seminar “Al-Quds dalam Pancaran Penantian Sang Juru Selamat” merupakan salah satu seminar lainnya yang digelar oleh Lembaga Penyelenggara Haji Republik Islam Iran. Setiap tahunnya, Iran menggelar seminar dan konferensi bertemakan Al-Quds dan Palestina bersamaan dengan musim haji di Mekkah. Masalah ini sengaja terus diangkat karena begitu pentingnya masalah ini bagi pemerintah Iran. Para pembicara dalam seminar “Al-Quds dalam Pancaran Penantian Sang Juru Selamat” menyebut persatuan sebagai kunci pembebasan Palestina dan Al-Quds. Khalid Mawla, ulama asal Irak menyatakan, “Selama perpecahan dan perselisihan antarkelompok dan golongan masih ada, maka kebebasan Palestina pendudukan sekedar mimpi belaka”.

Sementara itu, Amirul-Haji Iran, Hojjatul-Islam Muhammad Reyshahri dalam sambutannya di seminar tersebut menyatakan, “Apa yang bisa merealiasasikan pembebasan Al-Quds dengan ijin Allah adalah kebangkitan umat Islam. Sebab jika umat telah sadar dan bangkit maka tak ada kekuatan apapun yang bisa menghentikan gerakan agung tersebut”.

Contoh nyata dari pengaruh kebangkitan Islam bisa dilihat pada keberhasilan perlawanan Islam di Lebanon dan Palestina. Anggota senior Hizbullah Lebanon, Haji Hasan Izzudin dalam seminar Al-Quds di Mekkah ini menyatakan, “Perlawanan Hizbullah Lebanon menentang militer rezim zionis Israel, telah berhasil mewujudkan kemuliaan, kehormatan, dan perubahan di Lebanon sehingga kelemahan rezim zionis pun menjadi terungkap nyata di hadapan masyarakat internasional”.

Dr. Ahmad Abu Halabiyah, anggota senior Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) yang juga anggota parlemen Palestina menyerukan dukungan seluruh umat Islam terhadap perlawanan Palestina. Menyinggung proyek pembangunan permukiman zionis dan penghancuran Masjidil Aqsha oleh Israel, Dr. Ahmad menyatakan, “Jika umat Islam tidak berusaha menyelamatkan tempat suci tersebut, maka di masa yang akan datang hal itu akan semakin sulit dilakukan”.

Salah satu seminar lainnya yang juga digelar lembaga penyelenggara haji Republik Islam Iran adalah seminar yang mengkaji secara khusus isu perempuan dan kaitannya dengan budaya penantian Imam Mahdi as. Dalam seminar yang bertajuk “Posisi Perempuan dalam Budaya Penantian Imam Mahdi” dibahas tentang peran dan hak perempuan di ranah sosial. Amirul-Haji Iran, Hojjatul-Islam Muhammad Reyshahri dalam sambutannya di seminar tersebut mendesak segera dihapuskannya beragam hambatan yang bisa menghalangi peran aktif perempuan di pelbagai dimensi sosial. Dia menegaskan, “Mewujudkan iklim yang kondusif bagi aktifitas perempuan di luar rumah dan peran gandanya sebagai istri dan ibu yang mendidik generasi masa depan merupakan hal yang vital”.

Categories: AGAMA, Sosial - Budaya | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: