Iran, Gulirkan Gelombang Keempat (Ekonomi Islam)

Oleh: Purkon Hidayat

Ahmadinejad seorang diri adalah sebuah media, begitu Prof. Maulana berujar.

Presiden Iran ini menggegerkan dunia dengan pidato lugasnya di berbagai even nasional dan internasional.

Baru-baru ini, pria brewok kurus itu berpidato keras dalam konferensi peninjauan ulang Traktat Non-proliferasi Nuklir (NPT) mengenai solusi mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir. Tentu saja, Ahmadinejad harus menanggung berbagai resikonya.

Seperti dugaan sebelumnya, sejumlah negara adidaya seperti AS, Inggris dan beberapa negara Barat lainnya walk out dari ruang sidang saat presiden Iran berpidato. Bukan hanya di luar negeri, Ahmadinejad pun dikecam kaum terdidik mapan Iran sebagai tidak becus berdiplomasi. Bahkan, dengan sinis mereka berkata, “Lelaki ini bikin malu kami saja, in mard abero ma ra mibare.”

Beberapa bulan lalu, saat memasuki kantor Dekan fakultas ekonomi sebuah universitas negeri paling bergengsi di Iran, yang terletak dua ratus meter dari kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia, saya mendengar obrolan lirih bernada sinis, “Pemerintah tidak becus mengurusi ekonomi negara ini, daulate ma namitune iqtishade kesvar ra idareh kune.” Di perguruan tinggi inilah para ekonom Iran jebolan universitas Barat berdiskusi dan mencetak para ekonom dalam negeri.

Mereka adalah para pengajar dan penulis terkemuka di bidang ekonomi mikro, makro dan studi ekonomi pembangunan. Sebagaimana pendidikan ekonomi yang mereka adopsi dari Barat, resep-resep yang ditawarkan masih berkutat pada arus mainstrem ekonomi dunia. Bahkan, seorang profesor ekonomi lulusan Barat yang saya temui di kantornya mengajukan pertanyaan bernada mengejek, “Apa bedanya ekonomi Islam dengan kapitalisme?” Bukan sekali, saya menyaksikan pakar moneter Iran ini menyerang kebijakan pemerintah di televisi Iran sendiri.

Kali ini, resep ekonomi para ekonomi senior tidak laku di masa Ahmadinejad. Padahal, mereka adalah dokter ekonomi Iran yang senantiasa didengar resep ekonominya pada periode Rafsanjani dan Khatami.Tidak mengherankan, pada pilpres Iran lalu, bersama kaum borjuis sebagian dari mereka berkumpul mengelilingi Mir Hossein Mousavi, kandidat presiden yang gagal itu.

Sepertinya Ahmadinejad kapok dengan resep-resep para ekonom papan atas Iran ini. Sekitar lima tahun lalu, koran terkemuka Iran, Kayhan memuat kontroversi mengenai ide saham adalat (saham keadilan) yang digulirkan tim ekonomi Ahmadinejad.

Para penentang yang sebagian besar jebolan universitas terkemuka di Barat, mencibir saham adalat tidak memiliki model di dunia. Sebaliknya, Ahmadinejad dan timnya membalas dengan pertanyaan yang menohok. Haruskah segala yang kita lakukan mengikuti model mainstream? Sampai kapan kita akan terus menjadi pengekor. Sejatinya, kitalah yang harus menjadi model bagi negara lain.

Dengan spirit inilah, tim ekonomi Ahmadinejad merancang reformasi ekonomi Iran. Tim ekonomi Ahmadinejad adalah para ekonom yang dibantu pakar disiplin lain dari seluruh penjuru Iran. Bahkan tidak tanggung-tanggung, mantan walikota Tehran ini merekrut ulama yang mendalami ekonomi dan para akademisi dari universitas di daerah.

Pada saat Mullah konglomerat semacam Rafsanjani memimpin Iran dan Akhon reformis seperti Khatami menjadi Presiden, nama-nama tim ekonomi Ahmadinejad ini hanya terdengar sayup-sayup ditelan hingar-bingar nama ekonom lulusan Barat dan universitas terkemuka Iran.

Ahmadinejad tidak ambil pusing. Menurut mantan walikota Ardabil itu, tidak ada perbedaan antara lulusan ekonomi Harvard maupun universitas di pelosok Iran. Baginya, yang penting gagasan ekonom itu cemerlang secara teoritis dan praktis. Jebolan teknik sipil Universitas Ilm va Sanat ini berupaya menerapkan pesan Imam Ali, “lihatlah isi, jangan melihat siapa yang berbicara.”

Dari sejarah, Ahmadinejad mempelajari pasang surut perekonomian berbagai negara dunia. Negara-negara yang kaya sumber daya alamnya dan sebagian besar negara muslim, adalah negara yang terpinggirkan secara ekonomi dan politik. Bahkan di segala sektor mereka harus mengekor titah adidaya global.

Tampaknya, Ahmadinejad memahami pesan Naomi Klien. Carut marut ekonomi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran vital Mafia Barkeley yang menggurita tahun 1960-an.

Tiga belas tahun kemudian, anak didik Friedman yang kembali ke tanah airnya berhasil mengubah Chile yang menganut ekonomi sosial menjadi kapitalis. Presiden Chile, Salvador Allende yang mengusung ekonomi kerakyatan, yang mirip dengan prakarsa Hatta di Indonesia, digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet dukungan CIA. Buntutnya, Chile terperangkap utang dan kekuasaan asing akibat resep dosis tinggi para ekonom Friedmanis yang menguasai negara itu.

Lalu, apa yang sedang diperjuangkan tim ekonomi Ahmadinejad? Ekonomi yang mereka tawarkan dan telah dijalankan saat ini, memprioritaskan kemandirian ekonomi dan desentralisasi pembangunan berbasis keadilan. Untuk itu, pemerintah menggalakan pembangunan sektor industri utama supaya Iran bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak menengadahkan tangan ke negara lain.

Saat ini, pemerintah Iran sedang getol-getolnya membenahi dan melengkapi Infrastruktur di daerah. Berbagai pabrik dibangun di daerah untuk menyuplai kebutuhan komoditas dalam negeri. Untuk meminimalisasi defisit anggaran yang membengkak akibat lonjakan pembangunan industri di negara ini, Ahmadinejad menerapkan subsidi terarah, terutama subsisi BBM. Baginya, orang-orang kaya tidak layak disubsidi, selama kemiskinan masih gentayangan di negeri ini.

Di level internasional, Iran meneriakan reformasi sistem ekonomi dunia. Di mata Ahmadinejad, Kapitalisme dan Welfare State gagal membawa dunia pada kesejahteraan yang adil. Krisis ekonomi global adalah buah getir keserakahan para kapitalis.

Saat ini, Iran menekankan urgensi restrukturisasi tata kelola dunia yang adil dalam bentuk kelembagaan baru. Di sektor ekonomi, Iran berupaya mengarahkan arus global saat ini menuju titik keseimbangan baru dengan mengakhiri unilateralisme adi daya global semacam Amerika Serikat.

Bagi Ahmadinejad, krisis ekonomi global tidak terjadi spontan, tapi akumulasi dari kebijakan keliru yang berpangkal pada kebobrokan sistem ekonomi kapitalisme.

Ahmadinejad tahu persis peringatan lampu merah ekonom peraih hadiah nobel tahun 1993, Douglass C. North. Dalam artikelnya, Economic Performance Through Time, North mengingatkan, mekanisme pasar bukan interaksi bebas antara supply dan demand semata. Namun juga diatur oleh perangkat keras dan lunak.

Sebuah mekanisme pasar diatur oleh perangkat keras berupaya tata kelola, hukum dan konstitusi. Selain itu juga dikendalikan oleh norma, perilaku, konvensi serta perangkat lunak lainnya. Gagasan North ini sebenarnya mengamini usulan Joseph Schumpeter mengenai urgensi perombakan ekonomi yang mengarah pada perbaikan sistem ekonomi.

Bagi Ahmadinejad, perangkat keras dan lunak sistem ekonomi global itulah yang harus diperbaiki saat ini. Ketiga sistem ekonomi yang pernah menguasai dunia harus diganti. Masa berlaku kapitalisme, Sosialisme dan Walfare State kadaluarsa.

Lalu, adakah sistem model keempat setelah kegagalan Walfare Statenya, yang pernah menyelamatkan AS dari depresi ekonomi 1930? Apabila kita tanyakan pada Ahmadinejad, tentu ia akan mengatakan ada, dan ekonomi Islam yang tengah diterapkan saat ini di Iran adalah gelombang keempat.

mungkinkah ide ini hanya isapan jempol belaka.Ternyata tidak, Iran menunjukkan kelajuan signifikan di berbagai sektor. Di bidang ekonomi, dana Moneter Internasional (IMF) memasukan Iran sebagai 18 negara ekonomi terkuat di Dunia. Di sektor sains dan teknologi, Iran melesat mengejar ketertinggalannya selama ini. Institute for Scientific Information (ISI) melaporkan, Iran menyabet peringkat pertama secara global dalam hal laju pertumbuhan output. ISI menegaskan, Iran meningkatkan hasil penerbitan akademis hampir sepuluh kali lipat dari 1996 hingga 2004.

Selain itu, perusahaan riset Kanada Science-Metrix baru-baru ini menempatkan Iran di peringkat teratas dunia dalam hal pertumbuhan dalam produktivitas ilmiah dengan indeks pertumbuhan 14,4. Di bawah tekanan sanksi, Ahmadinejad menyerukan kemandirian sebagai modal utama kemajuan suatu negara. Iran membuktikannya kepada dunia.

Categories: Sosial - Budaya, TOKOH | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: