Ingin Tenang, Shalatlah!

Shalat merupakan pembentuk spirit manusia dan sumber kedekatan kepada Allah Swt. Untuk itu, Rasulullah Saw menyebut shalat sebagai bendera Islam. Salah satu dampak positif shalat adalah menumbuhkan ketenteraman dan kenyamanan dalam diri manusia.

Ketenangan dan Shalat

Imam Ja’far Shadiq as berkata; “Barangsiapa tidak mempunyai lima hal, maka hidupnya akan sengsara. Kelima hal itu adalah kesehatan, keamanan, ketidakbutuhan, kepuasan, dan teman sependapat.” Menurut Imam Ja’far Shadiq as, masalah keamanan adalah salah satu faktor ketenangan dalam kehidupan yang mempunyai tempat spesial di seluruh ideologi dan kalangan pemikir.

Menurut para pemikir, peradaban dan kehidupan sehat tidak akan terealisasi tanpa adanya keamanan. Seorang sejarawan tersohor asal AS, Will Durant dalam bukunya, “Sejarah Peradaban,” mengatakan, “Peradaban akan terealisasi saat instabilitas dan kekacauan berakhir. Sebab, rasa ingin tahu dan inovasi akan tergerak saat tidak ada rasa takut. Saat itu, manusia akan memasrahkan dirinya pada naluri yang kemudian mendorong manusia menggapai ilmu, makrifat dan kehidupan yang indah.”

Namun dengan memperhatikan kondisi dunia saat ini, hal yang penting adalah bagaimana menciptakan masyarakat baik dari sisi individu maupun sosial, sehingga manusia merasa aman dalam menjalani kehidupan ini?

Semenjak dahulu, para sosiolog mempunyai pandangan yang berbeda-beda mengenai keamanan. Akan tetapi pendapat mereka bermuara dari hasil eksperimen yang tidak memberikan jaminan penuh pada keamanan. Pada abad ke 21, berbagai data dan hasil eksperimen dari berbagai pusat rehabilitasi mental menjelaskan bahwa manusia saat ini gagal dalam menjamin keamanan individu, khususnya dalam hal ketenteraman jiwa dan mental.

Pada saat yang sama, terdapat manusia di zaman sekarang ini yang mendapat ketenangan diri di tengah berbagai guncangan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah meninggalkan shalat. Di bawah naungan cahaya shalat, mereka berhasil membentuk spirit dan meraih ketenangan jiwa. Merekalah orang-orang yang memahami kandungan surat ar-Ra’d ayat 14. Dalam ayat itu, Allah Swt berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Setiap suara azan terdengar baik pagi, siang maupun malam, manusia diingatkan untuk mengerjakan shalat. Melalui shalat tersebut, manusia disadarkan bahwa ada kekuatan luar biasa yang memantaunya dan menjadi pelindung dalam setiap gejolak kehidupan. Jika seseorang melaksanakan shalat dengan sebenarnya, maka ia tidak akan pernah merasa labil. Sebab, mereka menyadari bahwa kehidupan mempunyai tujuan yang tinggi. Bagi setiap manusia yang ingin meraih kebahagiaan abadi, tidak ada jalan lain kecuali menjalin hubungan dengan sumber eksistensi alam seutuhnya. Untuk itu, manusia ketika menjalin hubungan dengan Allah Swt, ia akan merasakan ketenangan yang luar biasa dan keamanan sepenuhnya.

Shalat, Harapan Para Nabi

Jika menengok kembali sejarah para nabi dan manusia-manusia agung, kita akan menyaksikan bahwa rahasia keberhasilan mereka dalam menyebarkan ajaran tauhid, bermuara pada keamanan individu dan ketenteraman diri yang dihasilkan dari menjalin hubungan kepada Allah Swt. Untuk itu, shalat mempunyai tempat luar biasa dalam ajaran para nabi.

Diwahyukan kepada Nabi Musa as, “Hadapkanlah kepala-kepala kalian dan kerjakanlah shalat.”

Nabi Ibrahim as dalam doanya kepada Allah sebagaimana tercantum dalam surat Ibrahim ayat 40, mengatakan, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhanku, perkenankanlah doaku “

Nabi Isa as juga diwasiatkan untuk mengerjakan shalat. Dalam surat Maryam ayat 31 disebutkan, “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja kau berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan ) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.”

Setiap orang yang melakukan shalat, akan merasa tenteram dari segala hal yang mengkhawatirkan dan merasa aman dari segala hal yang menakutkan. Sebab, ia menyadari bahwa Allah Swt selalu ada di setiap waktu dan segala tempat. Allah pun selalu bersama orang yang mengerjakan shalat. Bahkan ia tidak merasa pesimis akan limpahan kasih sayang Allah Swt. Meski terjerat dalam berbagai kesalahan di masa lalu, ia menyadari bahwa Allah Swt adalah Maha Pengampun.

Seorang hamba ketika mengumandangkan kalimat Allahu Akbar yang berartikan Tuhan Yang Maha Besar, menyatakan bahwa segala kekuatan yang kemungkinan mengancamnya akan menjadi kecil dan hina di sisi-Nya. Dengan menyebut Bismiillahi Ar-Rahman Ar-Rahim yang berartikan “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ” seseorang memulai shalatnya. Saat itu, seorang hamba mengakui kasih sayang Allah Swt yang tidak ada batasnya. Dalam kondisi seperti ini, hati manusia dbanjiri rasa aman dan tenteram.

Setelah itu, seorang yang melakukan shalat membaca Alhamdu Lillahi Robbil Alamin yang berartikan, “Puji syukur kapada Allah Swt Pemilik Alam Semesta.” Pada saat itu, seorang hamba menyadari bahwa seluruh pujian bersumber dari-Nya.

Kemudian seorang yang melakukan shalat melanjutkan bacaanya dengan “Maliki Yaumi Ad-Dien” yang berartikan, “Allah Swt yang menguasai hari pembalasan.” Dengan menyebutkan ayat tersebut, seorang hamba menyatakan kekuatan penuh Allah Swt dan kekuasaan-Nya pada segala sesuatu. Saat itu, manusia disadarkan bahwa kehidupannya akan berakhir pada hari kebangkitan dan pertemuan dengan Allah Swt.

Seorang yang melakukan sholat melanjutkan bacaan sholatnya dengan membaca “Iyyaaka Naabudu wa iyyaaka Nastain, ” yang artinya adalah “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” Saat itu, seorang hamba menyatakan sikap bulatnya bahwa tidak ada pertolongan melainkan dari Allah Swt. Untuk itu, hanya Allah lah yang pantas disembah.

Setelah itu, seorang hamba melanjutkan sholatnya dengan ruku dan sujud. Dalam kondisi seperti itu, manusia semakin merendahkan dirinya di hadapan Allah Swt dan menyadari keberadaannya yang sangat lemah di sisi Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Saat itu pula, manusia akan merasa bebas dari segala beban di dunia yang kemudian meraih ketenangan dan keamanan abadi.(IRIB/AR/SL)

Categories: AGAMA | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: