Impian yang di Semai dari Pesantren

-sebuah resensi-
Oleh: Ismail Amin*

Judul : Negeri Lima Menara
Penulis : Ahmad Fuadi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 420 Halaman
*********************
“Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa, setelah lelah berjuang.” -Imam Syafi’i rahimahullah-

Selama separuh tahun ini, saya menonton dua film yang berlatar pesantren, Perempuan Berkalung Sorban dan Tiga Doa Tiga Cinta. Memang bukan film baru, saya yang telat menontonnya. Itu juga karena banyak yang telah menceritakan, memuji, memberi kritik bahkan ada yang tak segan-segan mencaci, dan kebetulan ada teman yang punya filmnya.

Perempuan Berkalung Sorban (2009) besutan Hanung Bramantyo, memberikan sebuah penggambaran pesantren yang cenderung dekonstruktif. Annisa (Revalina S Temat), tokoh utama dalam film tersebut mengalami pembekapan intelektual di lingkungan pesantren yang tak ramah gender.

Sebagai santri perempuan meskipun putri Kyai, ia dilarang banyak bertanya, protes, kritis bahkan sekedar untuk menjadi pemimpin di kelas. Dikatakan, dengan diam, perempuan telah mendapatkan surganya. Dan sampai kapanpun, atas nama syariat, perempuan diciptakan hanya untuk dipimpin dan dikendalikan, dan tak berhak menjadi pemimpin.

Siapapun yang menonton film ini, akan cenderung memberi penilaian negatif terhadap pesantren. Pesantren, menjadi tempat pembelengguan potensi kreatif anak didik yang paling efektif. Yang terjadi bukan pertukaran ide-ide melainkan learning shut down (pembisuan kebutuhan belajar) karena dipasung konsep-konsep dogmatis seperti takdir, nasib, kodrat, surga dan neraka. Selain itu, apapun dari ustadz dan kyai selalu dianggap benar tanpa studi kritis yang berarti. Bahkan tragisnya, pesantren dalam film ini, terkucil dari akses bacaan dan informasi-informasi up date, bahkan terkesan memusuhi.

Kyai memberlakukan larangan keras buku-buku modern masuk pesantren, yang benar hanyalah al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Kita bisa lihat, sampai dipenghujung film ini, Annisa, sebagai tokoh utama terus berjuang untuk sekedar mendirikan perpustakaan dalam lingkungan pesantren.

Tiga Doa Tiga Cinta (2008) yang disutradarai Nurman Hakim, masih sedikit lebih ramah dalam mendeskripsikan kehidupan pesantren. Meskipun pandangan tendensius terhadap pesantren tidak juga hilang. Terlebih lagi kehadiran dua orang ustadz yang kontroversial. Satunya, selalu mengartikan jihad fisik vis a vis dengan orang-orang kafir adalah bentuk peribadatan tertinggi. Dia memotivasi santri-santrinya untuk membinasakan kaum kafir yang telah menjajah dan menindas kaum muslimin di manapun ia ditemui. Satunya lagi, ustadz yang mengalami kelainan seksual. Santri baginya bukan sekedar yang diajari ilmu-ilmu Islam dan akhlak namun juga tempat pelampiasan nafsunya. Aturan pesantren yang ketat, yang bahkan sekedar mendengarkan berita dari radiopun terlarang, juga menjadi bagian dari film yang secara tidak langsung memberikan pencitraan pesantren yang ‘kampungan’.

Tentu saja kedua film ini tidak sedang menggambarkan realitas kehidupan pesantren sesungguhnya atau dikatakan mewakili ribuan pesantren yang tersebar di kepulauan nusantara ini. Namun setidaknya, sebagai media audio-visual, efek dramatisnya adalah fobia terhadap gaya pendidikan di pesantren, kalau bukan memusuhi.

Namun, lewat novelnya, “Negeri Lima Menara” -yang sebentar juga akan difilmkan-, Ahmad Fuadi memberikan alternatif lain dalam memandang Pesantren. Fakta-fakta keras dalam kehidupan pesantren berupa, aturan hitam-putih, kedisiplinan yang ketat, tumpukan pelajaran dan target, digiling sehalus-halusnya oleh penulis lewat penceritaan kisah yang renyah dan menarik.

Dimulai dari sikap setengah hati Alif (tokoh utama) untuk masuk pesantren sebagaimana yang disarankan kedua orang tuanya. Ia terhitung sebagai siswa berprestasi di sekolahnya, karena itu ia berharap untuk bisa mengikuti tokoh idolanya, Habibie, seorang teknokrat terkemuka negeri ini, masuk SMA, melanjutkan ke ITB dan meneruskannya ke Jerman. Menurutnya sangat sia-sia jika nilai akademiknya yang tinggi, dan talenta yang dimilikinya hanya untuk masuk pesantren.

Dalam pikirannya, pesantren adalah tempat belajar murid warga kelas dua, yang terdepak dari persaingan di sekolah umum. Beberapa orangtua menyekolahkan anaknya ke pesantren karena ongkosnya yang lebih murah, yang anaknya gagal dalam ujian masuk sekolah umum, atau anak-anaknya terlanjur nakal dan memilih pesantren untuk mengubah anaknya menjadi lebih manis dan mudah diatur. Namun pandangan kedua orangtua Alif sangat berbeda.

Termasuk Amak (panggilan buat ibunya) yang justru melihat kecerdasan anaknya sebagai modal untuk memasukkannya ke dalam sekolah agama, “Jadi Amak minta dengan sangat waang tidak masuk SMA. Bukan karena uang, tapi supaya ada bibit unggul yang masuk madrasah aliyah.” (hal 8).

Meskipun dengan niat separuh hati, Alif memilih ikut saran orangtuanya dan mengembara ke Jawa Timur untuk mondok di Pondok Madani (PM), sebuah pondok pesantren yang tersohor di seantero Jawa. Dari sinilah, cerita-cerita khas santri bermula. Alif bertemu dengan sahabat-sahabat dari berbagai daerah yang kemudian lima diantaranya menjadi sahabat terdekatnya. Ada Raja (Medan), Said (Surabaya), Dulmajid (Sumenep), Atang (Bandung) dan Baso (Makassar).

Keenamnya dikenal dengan sebutan Sahibul Menara, karena kebiasaan mereka menunggu maghrib di bawah menara masjid, sembari memandangi awan-awan yang berarak ke ufuk. Awan-awan hadir dalam benak mereka dalam bentuk peta negara dan benua impian masing-masing. Mereka bermimpi dan berharap kelak bisa menginjakkan kaki ke negeri impian mereka masing-masing.

Aturan akademik yang ketat dan penerapan sanksi atas tindakan indisipliner yang nonkompromis tetap menjadi jalinan cerita yang mewarnai hari-hari santri di pesantren. Ditengah berondongan “teror” pasukan Keamanan Pusat yang menjadi pengendali penegakan disiplin di PM, mulai dari ancaman sanksi jewer telinga, digunduli sampai dipulangkan bagi yang melanggar aturan, keenam santri yang menjadi obyek utama penceritaan berusaha untuk menuntaskan masa pendidikan mereka sebaik-baiknya.

Mereka dalam tiga tahun dituntut, mampu menguasai ilmu-ilmu keislaman yang dirujuk dari kitab-kitab induk (baca: kitab kuning), juga menguasai dua bahasa asing, Arab dan Inggris dengan sempurna.

Hari-hari mereka pun diisi dengan belajar bahasa, pidato, debat dan tenggelam dalam dunia literatur yang berbahasa asing. Mereka hanya diperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia di empat bulan pertama mereka di pesantren.

Berbeda dengan pesantren al-Huda dalam “Perempuan Berkalung
Sorban”, santri-santri PM dalam novel ini bebas menerima kiriman literatur dari luar negeri, yang merupakan pendalaman dari proyek mendalami bahasa Arab dan Inggris. Santri bebas berkorespondensi surat ke seluruh dunia, mulai dari AS, Belanda, Jerman, Inggris, Pakistan, Belgia sampai Arab Saudi.

Kalau Annisa harus minggat dari pesantren untuk sekedar belajar menulis, Alif dan Dulmajid tergabung dalam redaksi Samsy, majalah bulanan PM, dan bebas mengembangkan talenta menulisnya.

Berbeda dengan keseharian Huda (Nicholas Saputra), Ryan (Yoga Pratama) dan Syahid (Yoga Bagus) dalam “Tiga Doa Tiga Cinta”, yang agenda hariannya hanya berputar di tiga hal, belajar, ibadah dan mengaji. Alif dan kelima temannya di luar agenda inti pesantren, bebas mengembangkan talentanya dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, dari majalah kampus, fotografer, olahraga bela diri, pramuka, sepak bola, bulu tangkis, seni kaligrafi, teater, band musik bahkan pijat refleksi dan pengobatan tradisional.

Kalau bakat Ryan dalam fotografi harus dipendamnya dalam-dalam dan mesti sembunyi-sembunyi untuk sekedar menggambil gambar dan menggunakan kameranya, Alif di PM justru dibekali kartu pers dan bebas membawa kameranya kemana-mana, bahkan diminta untuk memotret salah seorang ustadz dan keluarganya. Kalau Syahid mesti lari ke dalam hutan untuk sekedar berlatih pencak silat, Said di PM aktif di kegiatan bela diri, dan puncaknya terpilih menjadi anggota elit “The Magnificent Seven”, tujuh orang terpilih pembela keamanan PM.

Kalau kedua pesantren sebelumnya, masih terjebak dalam dikotomi antara agama dan non agama, PM dalam novel ini berlepas diri dari paradigma pemisahan itu. Ketika salah seorang santri ditanya oleh seorang wali santri, yang melihat kebanyakan aktivitas pondok adalah seni, pramuka dan olahraga, ia memberi jawaban, “…Menurut Kiai kami, pendidikan PM tidak membedakan agama dan non agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Di Madani, agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana.” (hal. 35). Membaca “Negeri Lima Menara”, mampu meruntuhkan konstruk bangunan pemikiran yang cenderung negatif terhadap pesantren.

Pesantren dalam novel ini bukan hanya sekedar menimba ilmu-ilmu literal keislaman, namun juga membentuk peta mental dan kepribadian santri yang kreatif, disiplin, jujur, bertanggungjawab, setia kawan, mandiri, gigih dan pantang menyerah.

Berbeda dengan “Perempuan Berkalung Sorban” dan Tiga Doa Tiga Cinta”, yang ide ceritanya diangkat dari permainan imajinasi penulisnya, novel “Negeri Lima Menara”, terinspirasi oleh sebuah kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulisnya.

Ahmad Fuadi menceritakan kembali, masa mudanya yang dihabiskan di Pondok Modern Gontor bersama kelima temannya. Mereka menyodorkan kenyataan, bahwa belajar di pesantren atau menjadi alumni pesantren tidak menghalangi mereka untuk bisa melanjutkan pendidikan bahkan bekerja di luar negeri. Dengan prinsip, tidak ada dikotomi antara agama dan non agama dan agama adalah oksigen yang berada di mana-mana, selepas dari pesantren, ia melanjutkan kuliah di jurusan Hubungan Internasional di UNPAD dan gelar S2nya diperoleh di George Wahington University dan Royal Holloway, University of London. Meskipun melenceng dari cita-citanya semula ingin menjadi “Habibie”, namun ia tetap bahagia karena cita-citanya yang lain untuk menjadi wartawan Tempo dan kuliah di luar negeri bisa terwujud.

Dengan simpatik, penulis lewat ketokohan Alif berkata, “Walau sekarang ada di PM belajarnya adalah agama, aku tidak malu bermimpi suatu saat bisa menjadi wartawan Tempo yang melaporkan berita-berita penting dan terhormat dari berbagai belahan dunia. Diam-diam aku mulai mempertimbangkan, mengganti cita-citaku dari Habibie menjadi wartawan Tempo.” (Hal. 172).

Mantra mandraguna yang diajarkan pesantren, “Man jadda wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses, benar-benar diterapkan dalam kehidupannya, dan ia menjadi saksi hidup betapa saktinya mantra itu. Kelima sejawatnya yang lain juga telah membuktikannya, diakhir novel, penulis menceritakan pertemuan ketiga sahabat, Alif (Washington DC), Atang (Kairo), dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konferensi di London.

Said dan Dulmajid juga mampu mewujudkan mimpi mereka membangun pesantren dengan semangat PM di Surabaya, sementara Baso yang sejak di PM mati-matian menghafal al-Quran penuh, juga berhasil merealisasikan mimpinya untuk kuliah di Madinah, Arab Saudi. Siapa menyangka, mimpi-mimpi yang mereka semai dari bawah menara pondok pesantren dikemudian hari bisa terwujud.

Terus terang, setelah membaca novel yang dalam empat bulan dicetak ulang tiga kali ini, saya tidak hanya di bawah bertamasya spritual yang dimulai dari bilik-bilik pondok pesantren sampai Trafalgar Square yang mendirikan bulu roma, namun juga memancing saya berkhayal tinggi. Seandainya masa lalu bisa diulang, saya akan masuk pondok pesantren dan bukan sekolah di SMA.

Selamat atas novel inspiratif dan membangun jiwa ini!

*Mahasiswa Universitas Internasional al-Mostafa Qom Iran.(IRIB/PH/SL)

Categories: BUKU (Review), Sosial - Budaya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: