Sembunyikan 74 Miliar, Gayus Ngaku Kelas Teri

Meski mengaku sebagai makelar kelas teri dalam kasus perpajakan, pundi-pundi kekayaan tersangka kasus korupsi, pencucian uang, dan penggelapan pajak, Gayus Halomoan Tambunan, terbilang berjibun. Fakta baru nan mencengangkan dalam kasus tersebut terus bermunculan.

Setelah Polri menemukan uang haram Rp28 miliar milik mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan golongan IIIA itu, polisi kini menyita Rp74 miliar milik Gayus dalam safety box (kotak penyimpan) di Bank Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

“Dari pemeriksaan lanjutan maraton ditemukan, tadi (kemarin) disampaikan Bapak Kapolri, ada simpanan uang dan barang-barang berharga senilai Rp74 miliar. Terdiri dari mata uang asing dan logam mulia. Ini sudah disita,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Edward Aritonang di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

Gayus tidak melibatkan orang lain dalam penyimpanan uang segede itu alias menggunakan nama sendiri. “Hanya dia yang bisa buka,” kata Edward.

Polri masih menyelidiki dari mana Gayus memperoleh uang. Kasus tersebut, lanjut Edward, tidak ditangani tim khusus penanganan mafia hukum Polri, tetapi oleh tim penyidik dari Direktorat III Badan Reserse Kriminal Polri.

“Untuk masalah itu (Rp74 miliar), Saudara Gayus belum kooperatif, dalam arti lebih banyak bilang lupa. Uang besar saja lupa, apalagi uang kecil,” ungkapnya.

Selain Gayus tidak kooperatif, Polri mengaku kesulitan melacak sang penyuap karena transaksi penyuapan terjadi tanpa melalui transfer antarbank, tetapi secara tunai.

“Hasil penyelidikan yang baru bisa kita buktikan adalah Gayus menerima, sedangkan yang memberi saat ini masih terus kita dalami,” ujar Direktur III Tindak Pidana Korupsi Badan Reserse Kriminal Polri Brigjen Yovianus Mahar.

Pengacara Gayus, Pia Akbar Nasution, membenarkan bahwa kliennya menyimpan harta di kotak penyimpan. Kendati demikian, ia enggan mengomentari soal asal perolehan uang itu.

“Saya tidak bisa mengomentarinya. Itu sudah masuk materi penyidikan,” tukas Pia.

Sejumlah perusahaan sudah diperiksa polisi terkait dengan kasus Gayus (lihat grafis).

Izin Menkeu keluar

Polri kini bisa bernapas lega. Pasalnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengizinkan penegak hukum itu mengakses data surat pemberitahuan tahunan (SPT) wajib pajak 44 perusahaan yang berkaitan dengan tersangka Gayus Tambunan.

“Persetujuan tentang permintaan data WP atau mengirim surat ke BI sudah kita lakukan. Saya tidak ingat namanya,” ujar Agus.

Di sisi lain, gerbong tersangka kasus mafia pajak terkait dengan Gayus Tambunan kian bertambah.

Setelah pengacara, polisi, dan hakim, pekan silam, polisi menetapkan dua jaksa sebagai tersangka kasus tersebut. Keduanya adalah Cirus Sinaga dan Poltak Manulang.

Jumlah total tersangka menjadi 11 orang. Polisi sudah menahan sembilan tersangka, sementara Cirus dan Poltak dalam waktu dekat akan diperiksa sebagai tersangka.

Sebelumnya, Gayus kepada pengacara senior Adnan Buyung Nasution mengatakan sejumlah perusahaan besar terlibat dalam aksi cincai pajak.

Gayus menguak fakta bahwa ia hanya menjalankan permintaan untuk menggelapkan pajak. Ia mengaku hanya makelar kelas teri dalam kasus perpajakan.

Gayus diduga bagian dari mafia perpajakan. Pegawai pajak berusia 30 tahun itu bagian dari kelompok penelaah pajak yang berjumlah 10 orang di Ditjen Pajak. (Rrn/*/X-4)

Bakeri Alirkan Dana 7 Juta USD

Perusahaan dari Grup Bakrie yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resources, dan PT Arutmin rela mengalirkan US$7 juta demi ‘merapikan’ masalah pajaknya.

Berdasarkan data yang dimiliki Media Indonesia, tiga perusahaan itu mengalirkan dana US$3 juta kepada mantan pegawai golongan IIIA Direktorat Jenderal Pajak Gayus Tambunan. Di samping itu, tiga perusahaan itu juga mengalirkan US$4 juta untuk Maruli Pandapotan Manurung yang merupakan mantan atasan Gayus di Direktorat Keberatan dan Banding Pajak Ditjen Pajak, kakak beradik Alif Kuncoro dan Imam Maliki yang merupakan perantara atau makelar tiga perusahaan itu ke pihak perpajakan, serta Idris Herawan yang merupakan Panitera Pengadilan Pajak.

Aliran dana itu disimpan Gayus di enam bank. Ketika pihak berwajib mulai memperkarakannya, Gayus pun membagi-bagi dana yang dimilikinya. Gayus membaginya melalui Haposan Hutagalung, Andi Kosasih, Kompol Arafat, serta Hakim Asnun.

Haposan mendapatkan dana sebesar US$716 ribu dan US$1 juta. Jumlah tersebut dialirkan Haposan untuk biaya operasional sebesar US$20 ribu, agar Gayus tidak ditahan sebesar US$100 ribu, agar rekening Bank Mandiri milik Gayus tidak ditahan sebesar US$35 ribu, agar rumah Gayus tidak disita sebesar US$45 ribu, untuk membuka blokir US$500 ribu, untuk hakim US$500 ribu, serta untuk para jaksa US$500 ribu.

Untuk membuka blokir ini, Gayus menyetorkannya ke Kabareskrim, Wakabareskrim, Direktur II/Eksus lama dan baru, Kanit lama dan baru, serta penyidik lainnya yakni AKBP Mardiani. Sementara uang sejumlah US$100 ribu guna Gayus tidak ditahan, dialirkan Gayus kepada Brigjen Edmon Ilyas dan Kombes Pambudi Pamungkas.

Pengakuan Pengacara Gayus

Pengacara tersangka Gayus Halomoan Tambunan, Pia Akbar Nasution, membenarkan kliennya memiliki uang sekitar Rp 60 miliar yang tersimpan di safety box. Menurut dia, uang itu tersimpan di safety box di Bank Mandiri.
“Minggu lalu ada pembukaan safety box di Mandiri di Jakarta. Memang kita dampingi,” ucap Pia saat dihubungi Selasa (15/6/2010), ketika dikonfirmasi pernyataan Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri bahwa penyidik menyita Rp 60 miliar dari Gayus.

Pia mengatakan, uang itu berasal dari perusahaan-perusahaan yang ditangani oleh kliennya saat menjadi pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Apakah ada suap dari perusahaan di bawah grup Bakrie? “Saya belum mau komentar lebih detail,” jawab dia.

Seperti diberitakan, pihak Polri telah melayangkan surat permintaan izin kepada pihak Kementerian Keuangan untuk memeriksa berkas-berkas pajak yang ditangani Gayus. Direktur III Tipikor Bareskrim Brigjen (Pol) Yovianes Mahar mengatakan, pihaknya belum menerima surat izin itu.

Izin pemeriksaan, kata dia, diperlukan untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan kasus mafia pajak. “Hasil penyelidikan kita, baru bisa kita buktikan adalah Gayus menerima (suap). Sedangkan yang memberi saat ini masih terus kita dalami,” ucap dia.

“Menurut keterangan Gayus, dia menerima tunai dari perusahaan ini dan itu. Tapi kita belum tahu apa benar perusahaan itu memberi ke Gayus. Makanya, kita membutuhkan dokumen yang ada di Kemenkeu untuk menyelidiki apa benar ada perusahaan-perusahaan yang memberi suap ke Gayus,” jelas dia. (Media Indonesia/ Kompas/IRIB/ AR)

Categories: Dalam Negeri | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: