Eropa Masih Mengikuti AS

Tampaknya Eropa masih nyaman terus mengekor pada Paman Sam. Para menteri luar negeri Inggris, Jerman, dan Perancis dalam pertemuannya di Luksemburg sepakat untuk menerapkan sanksi lebih keras terhadap Republik Islam Iran. Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton dalam suratnya kepada Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Saed Jalili kembali mengajukan tawaran perundingan.

Para analis menilai penerapan politik “wortel dan cambuk” (imbalan dan hukuman) yang diterapkan AS dan sekutunya selama ini sudah tidak efektif lagi dan terbukti gagal. Selama ini pun, gagalnya dua babak perundingan nuklir Iran dan Uni Eropa juga dipicu oleh sikap irasional Barat. Sejatinya, penerapan politik wortel dan cambuk bukanlah hal yang baru bagi Iran. Politik semacam itu juga pernah diterapkan oleh George W. Bush, Condoleezza Rice dan Javier Solana selaku juru runding Kelompok 5+1. Namun itupun tak mampu mematahkan keputusan Tehran untuk terus melanjutkan program nuklir sipilnya. Apalagi kebijakan nuklir Iran bukan sekedar proyek negara tapi telah menjadi tuntutan mendasar rakyat Iran.

Selama ini pun Republik Islam Iran telah berkali-kali menunjukkan iktikad baiknya untuk menggalang kerjasama nuklir sipil yang transparan. Prakarsa Tehran menyelenggarakan Konferensi Internasional “Energi Nuklir untuk Semua, Senjata Nuklir bukan untuk Siapapun”, kehadiran proaktif Presiden Ahmadinejad dalam Sidang Kaji Ulang VIII Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) dan pendeklarasian kesepakatan trilateral Iran, Turki dan Brazil soal pertukaran uranium, semua itu menunjukkan bahwa program nuklir Iran senantiasa melangkah sesuai dengan kerangka NPT.

Namun mesin lobi zionis di AS dan Eropa terus gencar bergerilya hingga Dewan Keamanan PBB pun tak luput menjadi bagian dari ujung tombak perang mereka melawan program nuklir Iran. Padahal perilisan resolusi anti-Iran justru membuat kredibilitas Dewan Keamanan PBB kian dipertanyakan. Pengesahan resolusi yang hanya didasari oleh prasangka dan standar yang tidak adil pada dasarnya justru bisa menjadi pukulan balik bagi Dewan Keamanan. Upaya semacam itu hanya akan memunculkan opini di mata masyarakat dunia bahwa lembaga strategis semacam DK PBB hanya sekedar alat kepentingan negara-negara adidaya. Diabaikannya Deklarasi Tehran dan upaya penggembosan AS dalam Sidang Kaji Ulang NPT di New York merupakan indikator kuat betapa lemahnya lembaga-lembaga internasional di hadapan arogansi kekuatan adidaya.

Padahal jamak diketahui, otoritas internasional semacam PBB merupakan jalur untuk membangun kepercayaan global. Kini jika opini publik telah meyakini bahwa DK PBB hanya sekedar alat kepentingan negara-negara arogan, maka krisis kepercayaan pun bakal muncul dan lembaga-lembaga internasional pun tak lagi dipercaya bisa mengubah ketidakadilan tatanan dunia saat ini. (IRIB/LV/NA)

Categories: Hubungan Internasional | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: