Kenapa Palestina?Lupakah masalah kita?

Banyak media elektronik maupun cetak serentak mengabarkan berita dari Timur Tengah masalah Palestina khususnya Caza,dan ditambah hari-hari ketika relawan Gaza di hadang pasukan Israel semua serentak media di Indonesia mengabarkan masalah ini,yang jadi pertanyaan saya, kemana kasus-kasus sebelumnya yang biasa menghiasi media di Indonesia ?kasus yang otomatis berkenaan langsung dan efeknya terhadap rakyat sangat besar kesengsaraan rakyat menjadi taruhannya seperti kasus: Sri Mulyani(kemana sekarang?),Bank century(apa kabarnya?),dan salah satu televisi swasta kita TV One milik Abu Rizal Bakrie yang sangat aktual mengabarkan berita Palestina seolah-olah melewatkan kejadian Lapindo yang entah kapan korban lumpur ini merasakan ganti rugi Lapindo???

Berpikir secara Global sebagai jawaban yang bisa saya pilih, karena melihat permasalahan di Palestina sebagai ekspresi masyarakat dunia Pembelaan terhadap bangsa Palestina adalah sebagai bentuk dari perlawanan terhadap tirani dunia dimana  sebuah negara yang bebas merdeka dan mana negara Penjajah. Negara-negara yang tidak takut akan AS dan sekutunya berani melangkah dengan beban dipundaknya sebagai kebijakan politik luar negerinya melawan tirani yang terjadi di Palestina.sedangkan Indonesia, kita lihat tunduk patuh pada Bank Dunia,IMF dan sangat pro Amerika dukungan dan kecaman terhadap masalah Timur tengah khususnya Palestina Indonesia belum mampu memberikan kontribusi nyata tentang masalah di Timur Tengah (Palestina). Mengutuk,mengecam hanya sebuah kata yang terucap sebagai reaksi biasa saja tanpa adanya sikap pemberani yang tampil di depan dengan mengoyak kebijakan melalui Organisasi Internasional juga PBB dengan jalur Diplomasinya…

saya ingin mengutip analisis dari seorang penulis Indonesia tentang masalah ini: Ibu Dina Y Sulaeman

Analisis tentang negeri ini ditengah-tengah ekspose media terhadap Masalah yang terjadi di Palestina yang ditulis dalam blognya dengan judul

“Mengapa Harus Bela Palestina Sementara Kita Susah disini?”

berikut analisisnya:

Pembangunan ekonomi yang berbasis hutang (bahkan baru-baru ini SBY menandatangani perjanjian hutang 800 juta dollar untuk menangani perubahan iklim! Gila utang 1600T aja entah kapan lunasnya, masih nambah lagi!) adalah contoh konkrit betapa Indonesia sudah diperbudak oleh kekuatan-kekuatan tiran. Inilah yang dimaksud oleh Yudi Latif saat dia komentar di tivi, “Sri Mulyani adalah seorang yang cerdas dan profesional, tapi dia secara sadar berada dalam posisi sebagai pelaksana kepentingan asing.” (ini bukan benci SMI ya, tapi, kebetulan krn menkeunya dulu SMI, terpaksa saya kutip lagi. Kalau nanti Agus Marto juga terbukti sebagai pelaksana kepentingan asing, tentu saja akan nulis juga soal Agus Marto). Para pejabat negeri ini, kebanyakan adalah pelaksana kepentingan asing karena kenyataannya, sebagian besar sumber-sumber ekonomi negeri ini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing; bahkan uang untuk membiayai roda pemerintahan negeri ini pun sumbernya hutang dari asing.

Dan Rezim Zionis masih berdiri hingga hari ini dengan ditopang oleh suplai dana yang sangat-sangat besar dari perusahaan-perusahaan asing itu; yang mengeruk uang dari negara-negara miskin dan berkembang (termasuk Indonesia).  Sudah banyak diketahui umum bahwa perusahaan-perusahaan terkemuka di AS—negara pendukung utama Rezim Zionis—dimiliki oleh para pengusaha Zionis. Mereka melebarkan bisnis ke berbagai penjuru dunia dan dengan cara-cara yang curang, mengeruk uang dari negara-negara berkembang. John Perkins, penulis buku Confessions of an Economic Hit Man menceritakan modus operandi lembaga-lembaga keuangan AS dalam mengeruk uang:

Salah satu kondisi pinjaman itu –katakanlah US $ 1milyar untuk negara seperti Indonesia atau Ekuador—negara ini kemudian harus memberikan 90% dari uang pinjaman itu kepada satu atau beberapa perusahaan AS untuk membangun infrastruktur—misalnya Halliburton atau Bechtel. Ini adalah perusahaan yang besar. Perusahaan-perusahaan ini kemudian akan membangun sistem listrik atau pelabuhan atau jalan tol, dan pada dasarnya proyek seperti ini hanya melayani sejumlah kecil keluarga-keluarga terkaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan terbentur pada hutang yang luar biasa besar, yang tidak mungkin mereka bayar.

Keuntungan besar yang mereka peroleh itu, ujung-ujungnya, digunakan untuk menopang kelangsungan hidup Rezim Zionis. Sejak tahun 1973, AS telah mengirimkan bantuan keuangan untuk Israel senilai lebih dari 1,6 trilyun dollar!  (dan dari sudut ini, rakyat jelata AS pun sebenarnya terjajah: uang pajak mereka yang harusnya digunakan untuk peningkatan kesejahteraan justru disumbangkan secara rutin ke Israel).

Ketika orientasi pemerintah bukan pada rakyat, tetapi pada kekuatan tiran (perusahaan transnasional, IMF, Bank Dunia, dll), tak heran bila sedemikian banyak kesengsaraan ada di negeri ini. Maka, yang harus dilawan pertama-tama adalah kekuatan tiran itu. Inilah yang diingatkan oleh Imam Khomeini lebih dari 20 tahun lalu: Israel itu bagai tumor ganas dalam ‘tubuh’ dunia. ‘Penyehatan’ dunia hanya bisa dilakukan dengan mencerabut pangkal masalahnya.

Jadi, tak perlu kita pertentangkan pembelaan kepada Palestina dengan membantu saudara-saudara kita di Lapindo. Justru keduanya harus sama-sama kita perjuangkan. Dan media, seharusnya konsisten dalam hal ini, berita yang mengawal Century dan Lapindo tetap gencar; begitu pula berita Gaza. Jangan jadikan Gaza sekedar alat untuk mengalihkan perhatian publik dari kebobrokan pemerintah negeri ini.

Categories: Dalam Negeri | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: