Mahmoud Ahmadineejad


Apa yang terbersit di pikiran kita ketika mengingat tentang Iran. Nuklir-kah? Atau Syiah-nya? Memang, kedua-duanya merupakan ciri khas dari negeri yang berbatasan langsung dengan Irak dan Afghanistan. Dua negeri yang disebut terakhir, beberapa tahun belakangan dihancurkan ‘peradaban’nya oleh Amerika Serikat—Bapak Imperialisme Dunia. Tapi tidak bagi Iran.

Dalam sebuah millis yang beredar di Indonesia, orang-orang banyak mengatakan: “sungguh sangat bodohnya Amerika Serikat, jika sampai berani mengusik kedigdayaan Iran alias melakukan serangan militer terhadap Iran.” Kedigdayaan Iran saat ini, tak bisa dipisahkan dari profil Mahmoud Ahmadinejad—Presiden Iran yang penampilannya sangat sederhana tetapi mempunyai kharismatik yang memukau penduduk dunia. Presiden, yang tidak pernah sekalipun memakai dasi semenjak dilantik pada tanggal 3 Agustus 2005. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin lain di dunia yang selalu tampil necis memakai jas dan dasi. Ahmadinejad, sangat cinta negerinya—Iran. Hal ini dibuktikannya dengan penampilannya itu yang selalu memakai pakaian hasil produk dalam negeri. Maka, pantaslah jika ia dijuluki “Singa” sebagai simbol perlawanan dunia (terutama dunia Islam) terhadap ketidakadilan global yang didalangi oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Tidak seperti pemimpin di negara Arab pada umumnya, Ahmadinejad memilih untuk berkonfrontasi dengan Amerika Serikat dan para sekutunya.

Memang, sampai saat ini pemimpin negara-negara Arab sepertinya menganggap bahwa Amerika Serikat dan sekutunya tidak patut untuk dilawan. Sebuah pemikiran kerdil yang ternyata malah membawa negara Arab di-cap sebagai negara bagian milik Amerika Serikat. Loyalitas Ahmadinejad terhadap Iran bisa dilihat dari pernyataan tegasnya tentang nuklir sebagai berikut:

Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai adikuasa memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?

Begitulah sosok Ahmadinejad yang revolusioner. Bahkan, ia menyatakan siap sedia menjamu Amerika Serikat dan sekutunya jika berani mengumandangkan perang terhadap Iran. “Sejengkal pun Iran tidak akan mundur.” Buku ini berisi tentang biografi Mahmoud Ahmadinejad, yang menceritakan tentang perjalanan hidupnya semenjak lahir di Aradan hingga ia bisa sampai ke tampuk orang nomor wahid di Iran. Diceritakan juga bagaimana sepak terjang keterlibatannya dalam penyanderaan dan penyegelan Kedubes Amerika Serikat di Iran pada medio 1979 ketika Revolusi Islam Iran sedang meletus yang menggulingkan kediktatoran Shah Reza Pahlevi.

Buku ini juga diisi dengan ulasan pidato-pidato Ahmadinejad yang bisa membakar semangat perlawanan terhadap hegemoni Barat. Salah satunya adalah, pidato kontroversialnya di hadapan para mahasiswa Iran tertanggal 26 Oktober 2005 yang menyerukan agar Israel dihapus dari peta dunia. Pidato itu sempat menimbulkan kegoncangan di dunia. Termasuk Israel sendiri yang mengecam dan meminta kepada PBB agar Iran dikeluarkan dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pernyataan kontroversial diulangnya lagi pada tanggal 14 Desember 2005. kali ini, Ahmadinejad menekankan bahwa peristiwa Holocaust (pembantaian Nazi-Hitler terhadap orang-orang Yahudi) adalah sebuah mitos belaka yang digunakan sebagai dalih untuk membentuk negara Yahudi di jantung umat Islam (Palestina). Akibatnya, Ahmadinejad dicekal agar tidak bisa bepergian ke Jerman dalam rangka menyaksikan Timnas sepakbola Iran berlaga dalam Piala Dunia 2006. Akhirnya, buku yang patut dimiliki bagi para pengagum sosok Ahmadinejad dimana pun, tak terkecuali di Indonesia. Selain ulasan-ulasan yang ringan tentang Ahmadinejad, buku ini juga membonuskan sebuah komik eksklusif tentang Ahmadinejad. Maka, selamat membaca.

Lahir di daerah desa pertanian Aradan, dekat Garmsar, sekitar 120 kilometer arah tenggara Teheran. Dia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, berasal dari keluarga Syiah. Orang tuanya,seorang Tukang Besi, Ahmad Saborjihan, memberi nama Mahmud Saborjihan saat lahir. Dia menggunakan nama tersebut hingga sebuah keputusan besar mendorong keluarganya untuk hijrah ke Teheran pada paruh kedua tahun 1950-an. Di Teheran, ayahnya merubah namanya menjadi Mahmud Ahmadinejad sebagai isyarat religiusitas dan semangat mencari kehidupan yang lebih baik, karena Saborjihan dalam bahasa Parsi berarti pelukis karpet, pekerjaan yang jamak dilakukan di sentra karpet seperti Aradan, sedangkan Ahmadinejad berarti ras yang unggul, bijak dan paripurna.

Pendidikan

Dia lulus dari Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dengan gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi.

Pada tahun 1980, dia adalah ketua perwakilan IUST untuk perkumpulan mahasiswa, dan terlibat dalam pendirian Kantor untuk Pereratan Persatuan (daftar-e tahkim-e vahdat), organisasi mahasiswa yang berada di balik perebutan Kedubes Amerika Serikat yang mengakibatkan terjadinya krisis sandera Iran.

Bergabung dengan Imam Khomeini

Pada masa Perang Iran-Irak, Ahmedinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam pada tahun 1986. Dia terlibat dalam misi-misi di Kirkuk, Irak. Dia kemudian menjadi insinyur kepala pasukan keenam Korps dan kepala staf Korps di sebelah barat Iran. Setelah perang, dia bertugas sebagai wakil gubernur dan gubernur Maku dan Khoy, Penasehat Menteri Kebudayaan dan Ajaran Islam, dan gubernur provinsi Ardabil dari 19931997. hingga Oktober

Walikota Teheran

Ahmadinejad lalu terpilih sebagai walikota Teheran pada Mei 2003. Dalam masa tugasnya, dia mengembalikan banyak perubahan yang dilakukan walikota-walikota sebelumnya yang lebih moderat dan reformis, dan mementingkan nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan-kegiatan di pusat-pusat kebudayaan. Selain itu, dia juga menjadi semacam manajerHamshahri dan memecat sang editor, Mohammad Atrianfar, pada 13 Juni 2005, beberapa hari sebelum pemilu presiden, karena tidak mendukungnya dalam pemilu tersebut.

Presiden Mohammad Khatami pernah melarangnya menghadiri pertemuan Dewan Menteri, suatu hak yang biasa diberikan kepada para walikota Teheran. Hal ini dikarenakan pada waktu Khatami menuju Universitas Teheran, Khatami terjebak macet. Khatami mengkritik Ahmadinejad yang saat itu menjabat walikota Teheran. Namun bukannya tergesa-gesa membereskan masalah tersebut, Ahmadinejad justru berkata: “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”. Namun Ahmadinejad tetap santai menghadapi larangan tersebut.

Sebagai Presiden Iran

Setelah dua tahun sebagai walikota Teheran, Ahmadinejad lalu terpilih sebagai presiden baru Iran. Tak lama setelah terpilih, pada 29 Juni 2005, sempat muncul tuduhan bahwa ia terlibat dalam krisis sandera Iran pada tahun 1979. Iran Focus mengklaim bahwa sebuah foto yang dikeluarkannya menunjukkan Ahmadinejad sedang berjalan menuntun para sandera dalam peristiwa tersebut, namun tuduhan ini tidak pernah dapat dibuktikan.

Kontroversi

Kutipan pernyataannya dalam sebuah pertemuan di hadapan para mahasiswa pada 26 Oktober 2005 dari pernyataan Ayatollah Khomeini “Hapus Israel dari peta dunia” memicu kontroversi. Selain, menuai kecaman dari berbagai pemimpin dunia, termasuk Presiden Shimon Peres. Peres bahkan membalas dengan menuntut agar Iran dikeluarkan dari keanggotaan di Perserikatan Bangsa-bangsa. yang menyerukan agar Pernyataan yang kontroversial ini diulang kembali pada 14 Desember2005. Saat itu, ia berkata bahwa Holocaust (peristiwa pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh rezim Nazi pada masa Perang Dunia II) hanyalah sebuah mitos yang digunakan bangsa Eropa untuk menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam. Ia juga sempat menyelenggarakan konferensi tentang Holocaust.

Sementara, kritik dalam negeri mengenai kebijakan domestik dan luar negeri terus mengalir deras. Kritik datang dari tokoh ulama besar Ayatollah Hossein Ali Montazeri. Merujuk retorika Ahmadinejad terhadap Amerika Serikat, Montazeri menyatakan bahwa sangat perlu bertindak logis terhadap musuh dan tidak memprovokasi. Bagi Montazeri, ekstremisme tidak berbuah baik untuk rakyat.

Iran menegaskan bahwa pengembangan teknologi nuklir merupakan hak yang tidak bisa disangkal meskipun Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menuntut Iran untuk menghentikan program pengayaan uranium. Ahmadinejad mendapat kritikan dari kalangan konservatif maupun reformis mengenai kebijakan ekonominya dan cara dia menangani isu nuklir Iran.

Beberapa Presiden sebelumAhmadineejad

Abolhassan Banisadr (1980–81) ·

Mohammad-Ali Rajai (1981) ·

Ali Khamenei (1981–89) ·

Akbar Hashemi Rafsanjani (1989–97) ·

Mohammad Khatami (1997–2005) ·

Mahmoud Ahmadinejad (sejak 2005)

Kutipan

  • Mereka telah menciptakan mitos bernama Holocaust dan menganggapnya lebih penting dari Tuhan, agama, dan para rasul. [1]
  • “indifference of some governments and powers towards the teachings of the divine prophets, especially those of Jesus Christ”. [2]
  • “Jika Yesus berada di bumi saat ini, tidak diragukan lagi, dia akan menaikkan bendera keadilan dan cinta atas sesama untuk melawan penyeru peperangan, teroris dan pengganggu kehidupan manusia di seluruh dunia,” “Saya berdoa untuk tahun baru akan menjadi tahun kebahagian, kemakmuran, perdamaian dan persaudaraan untuk sesama. Saya berharap agar semuanya sukses dan bahagia”
Categories: TOKOH | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: