Ayatullah Al-Udzma Syeikh Mohammad Taqi Bahjat

Menyusul wafatnya Ayatullah Al-Udzma Syeikh Mohammad Taqi Bahjat, selain mengucapkan bela sungkawa atas kehilangan besar ini, akan lebih baik menelusuri kehidupan beliau untuk lebih banyak mengenalnya.

“Kepala beliau selalu tertunduk jarang sekali menatap langsung orang yang menemuinya,sikap zuhud dan tawadhu mengiringgi setiap langkah beliau”

Kelahiran

Ayatullah Al-Udzma Syeikh Mohammat Taqi Bahjat Fumani lahir di penghujung tahun 1334 HQ di sebuah keluarga agamis di kota Fuman, Provinsi Gilan. Di usia 16 bulan ia harus kehilangan ibu tercintanya dan menjadi anak yatim.

Sekaitan dengan nama Ayatullah Bahjat, ada kenangan manis yang dinukilkan oleh seorang famili beliau yang patut untuk direnungkan. Ceritanya demikian:

“Ayah Ayatullah Bahjat di umur 16 atau 17 tahun terkena penyakit kolera dan kondisinya sangat buruk, sehingga tidak ada harapan ia bakal sembuh. Ia mengatakan, pada saat itu saya mendengar suara yang mengatakan, “Biarkan dia! Karena dia adalah ayah dari Mohammad Taqi.”

Dalam kondisi yang demikian ia kemudian tertidur. Ibunya yang berada di sisinya menyangkanya telah meninggal, namun setelah beberapa saat ayah Ayatullah Bahjat bangun dari tidurnya dan keadaannya lebih baik dan setelah itu sembuh total. Beberapa tahun kemudian setelah kejadian itu ayah Ayatullah Bahjat memutuskan untuk menikah dan ucapan yang terdengar saat ia sakit dahulu sudah terlupakan sama sekali.

Setelah ia menikah dan mendapat anak, anak pertamanya diberinama Mahdi dan anak keduanya perempuan. Kemudian lahir anak ketiga dan diberi nama Mohammad Hossein. Ketika Allah memberikan anak keempat, ayah Ayatullah Bahjat lalu teringat suara saat ia sakit dahulu dan anak keempatnya diberi nama Mohammad Taqi. Namun anak keempat ini semasa kecil terjatuh dalam kolam air dan meninggal dunia. Akhirnya ia diberi anak yang kelima dan diberi nama Mohammad Taqi. Dengan demikian nama Ayatullah Bahjat adalah Mohammad Taqi.”

Karbalai Mahmoud Bahjat, ayah Ayatullah Bahjat adalah orang yang dipercaya di kota Fuman. Selain bekerja untuk menghidupi keluarganya, ia juga terlibat langsung menyelesaikan urusan masyarakat. Ia seorang sastrawan dan sering membacakan kidung puji-pujian Ahul Bait dan syair duka, khususnya kepada Imam Husein as. Syair duka yang masih dilantunkan oleh para penyair di sana.

Ayatullah Bahjat sejak kecil dididik oleh ayahnya yang begitu mencintai Ahlul Bait, khususnya Imam Husein as dan dengan mengikuti acara-acara duka Ayatullah Bahjat banyak mendapat siraman rohani. Sejak kecil Ayatullah Bahjat sudah tidak bermain seperti anak-anak kecil lainnya dan sejak itu pula telah tampak kejeniusan dan kecemerlangannya serta kecintaan luar biasa dalam menuntut ilmu.

Pendidikan

Ayatullah Bahjat merampungkan pendidikan dasarnya di kota Fuman dan setelah itu mulai belajar ilmu-ilmu agama di sana. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar agama di kotanya, beliau tidak sabar untuk melanjutkan pendidikannya dan pada tahun 1348 HQ menuju Irak dan setelah itu tinggal di Karbala. Ketika melanjutkan pendidikannya di Irak, Ayatullah Bahjat baru berusia 14 tahun.

Sesuai dengan ucapan seorang murid terdekat beliau, Ayatullah Bahjat dalam sebuah acara mengatakan, “Saya memasuki tahun taklif setahun setelah tinggal di Karbala.”

Benar, didikan Allah swt senantiasa membarengi hamba-hamba-Nya yang layak sejak masa kanak-kanak hingga remaja, sehingga saat dewasa menjadi pelita petunjuk jalan kepada Allah. Dengan demikian, Ayatullah Bahjat tinggal selama 4 tahun di Karbala dan mendapat pancaran cahaya Sayyid Al-Syuhada Imam Husein as serta selama itu pula beliau melakukan tazkiyah nafs (mensucikan diri). Selama 4 tahun beliau telah mempelajari bagian terpenting dari buku-buku fiqih dan ushul fiqih di bawah bimbingan guru-guru besar.

Pada tahun 1352 HQ, Ayatullah Bahjat melanjutkan pendidikannya ke kota Najaf Al-Asyraf dan bagian-bagian terakhir dari pelajaran tingkat suthuh (tinggi) dipelajarinya bersaama sejumlah Ayatullah seperti Al-Marhum Ayatullah Syeikh Murtadha Thalaqani. Sekalipun demikian, Ayatullah tidak hanya menghabiskan umurnya dengan belajar agama, tapi kecintaannya akan kesempurnaan sebagai manusia membuatnya tidak pernah tenang dan senantiasa menariknya untuk mencari pribadi-pribadi ilahi dan wali-wali Allah untuk meningkatkan spiritualnya.

Seorang murid Ayatullah Bahjat mengatakan, “Bertahun-tahun saya mengikuti pelajaran beliau dan tidak pernah saya mendengar beliau menceritakan mengenai pribadinya, kecuali sangat sedikit. Pernah beliau menyampaikan tentang dirinya saat berbicara dan memuji maqam spiritual gurunya Ayatullah Na’ini. Beliau berkatan, “Ketika saya masih remaja sering ikut dalam shalat jamaah bersama Ayatullah Na’ini dan saya dapat merasakan sebagian dari kondi-kondisi spiritual beliau.”

Guru-Guru Fiqih dan Ushul Fiqih

Ayatullah Bahjat setelah menyelesaikan tingkat suthuh dan belajar pada guru-guru besar seperti Ayatullah Sayyid Abul Hasan Isfahani, Dhiya’ Al-Iraqi, Mirza Na’ini, beliau kemudian memasuki hawzah dan pelajaran penuh kandaungan Ayatullah Syeikh Muhammad Husein Gharawi Isfahani yang lebih dikenal dengan nama Ayatullah Gharawi. Bersama Ayatullah Gharawi, Ayatullah Bahjat menyempurnakan pelbagai teori fiqih dan ushul fiqihnya. Potensi dan kemampuannya cemerlang dan bantuan ilahi yang dimilikinya Ayatullah Bahjat juga belajar dari Ayatullah Isfahani yang dikenal dengan almarhum Kompani yang punya pemikiran mendalam, detil dan memiliki kecerdasan luar biasa.

Ayatullah Mohammad Taqi Misbah Yazdi mengenai bagaimana Ayatullah Bahjat belajar dan memanfaatkan ilmu-ilmu sejumlah gurunya itu mengatakan, “Di bidang fiqih Ayatullah Bahjat banyak belajar dari Ayatullah Muhammad Kazhim Syirazi, murid Mirza Muhammad Taqi Syirazi, sementara untuk ilmu ushul fiqih beliau belajar pada Ayatullah Mirza Na’ini dan setelah itu banyak belajar pada Ayatullah Syeikh Muhammad Husein Gharawi Isfahani dan sempat juga belajar pada almarhum Isfahani (Kompani) dan juga belajar masalah lainnya dari beliau.”

Syair, Suluk dan Irfan

Ayatullah Bahjat selain menuntut ilmu sebelum mencapai usia baligh juga telah melakukan pensucian diri dan menyempurnakan aspek spiritualnya. Saat di Karbala, beliau serius mencari seorang guru dan pendidik akhlak yang pada akhirnya ia menyadari keberadaan Ayatullah Qadhi Thaba’thaba’i di kota Najaf Al-Asyraf. Setelah tiba di kota Najaf, beliau belajar akhlak juga dari guru besarnya Ayatullah Syeikh Muhammad Husein Isfahani (Gharawi).

Sekaitan dengan masalah ini, Ayatullah Misbah Yazdi mengatakan, “Mudah dipahami betapa Ayatullah Bahjat banyak dipengaruhi Ayatullah Syeikh Muhammad Husein Isfahani dalam perilaku. Karena sering beliau mengutip satu masalah dari beliau dengan keanehan tersendiri dan setelah itu kami bisa menyaksikan contoh perilaku tersebut dalam diri beliau. Jelas betapa guru beliau ini sangat berpengaruh dalam pembentukan spiritualnya.”

Begitu juga Ayatullah Bahjat mengikuti kuliah akhlak Ayatullah Sayyid Abdulghaffar di Najaf dan benar-benar memanfaatkan dan mengamalkannya, hingga akhirnya menjadi murid Ayatullah Sayyid Ali Qadhi. Beliau menuntut ilmu-ilmu makrifat dari Ayatullah Qadhi dan ketika menginjak usia 18 tahun beliau resmi menjadi murid arif kamil ayatullah Sayyid Ali Qadhi dan mendapat perhatian khusus guru agungnya ini. Masih di awal-awal masa mudanya beliau telah menyelesaikan pelbagai tahanap irfan yang sangat diharapkan dapat diraih oleh orang lain.

Ayatullah Misbah Yazdi mengatakan, “Beliau langsung belajar pada Ayatullah Ali Qadhi di bidang akhlak dan spiritual dan bertahun-tahun beliau menjadi muridnya. Ayatullah Qadhi termasuk pribadi khusus mendidik pribadi-pribadi dalam bidang spiritual dan irfan. Allamah Thaba’thaba’i, Ayatullah Syeikh Muhammad Taqi Amoli, Ayatullah Syeikh Ali Muhammad Boroujerdi dan banyak ulama, bahkan para marji yang belajar masalah akhlak dan irfan dari Ayatullah Qadhii. Nah, Ayatullah Bahjat terkadang mengutip masalah-masalah akhlak dan irfan dari ulama lain seperti Ayatullah Murtadha Taleqani dan lain-lain.”

Ayatullah Bahjat sendiri pernah mengatakan, “Di waktu itu ada seseorang yang ingin melihat siapa saja yang di waktu sahur bulan Ramadhan di makam suci Imam Ali melakukan shalat witir dan membaca doa Abu Hamzah Al-Tsumali di waktu qunut. Seingat saya, semoga tidak salah, mereka yang istiqimah melakukan amalan ini setiap malamnya di makam suci Imam ali as lebih dari 70 orang.

Bagaimana pun juga, banyak tokoh ulama yang istiqamah melaksanakan satu amalan ibadah dan spiritual. Sangat disayangkan di masa kita ini jarang disaksikan pribadi-pribadi seperti ini. Tentu saja kita tidak memiliki ilmu gaib, karena mungkin saja mereka yang dahulunya banyak melakukan ibadah-ibadah semacam ini di makam-makam suci, kini melakukannya di rumah-rumah mereka. Namun dapat dipastikan bahwa istiqomah melaksanakan amalan-amalan seperti ini semakin menurun dan ini sangat patut disesali.”

Hujjatul Islam Wal Muslimin Agha Tehrani menceritakan kejadian di atas seperti demikian:

“Waktu itu ada seorang yang mendengar bahwa di masa lalu ada 70 orang di makam suci Imam Ali as yang yang membaca doa Abu Hamzah Al-Tsumali saat qunut. Orang tersebut lalu memutuskan untuk mengajak beberapa orang untuk melakukan amalan tersebut. Ketika ia menghitung mereka yang melakukan amalan itu didapatinya jumlahnya lebih sedikit sekitar 50 orang. Demikian yang saya ingat bahwa di makam suci Imam Ali as mereka membaca doa Abu Hamzah Al-Tsumali saat berdoa dalam shalat witir.”

Filsafat

Ayatullah Bahjat belajar Al-Isyarat wa Al-Tanbihat, karya Ibnu Sina dan Al-Asfar Al-Arba’ah, karya Mulla Shadra kepada Ayatullah Sayid Hassan Badkubeh-i.

Marjaiyat

Sekalipun Ayatullah Bahjat adalah seorang faqih terkenal dan lebih dari 30 tahun memberikan kuliah-kuliah kharij fiqih dan ushul fiqih, namun beliau selalu menolak untuk menerima sebagai marji.

Sekaitan dengan masalah keengganan beliau menerima sebagai marji dan juga mengenai tidak berubahnya kondisi Ayatullah Bahjat setelah menerima sebagai marji, Ayatullah Misbah Yazdi mengatakan:

“Setelah resmi menjadi marji, rumah Ayatullah Bahjat tidak mengalami perubahan apapun. Tidak mungkin bagi beliau untuk menerima tamu di rumahnya. Oleh karenanya, saat memperingati acara duka maupun suka, beliau melaksanakannya di masjid Fathimiah. Pada prinsipnya, saya melihat sikap beliau menerima sebagai marji sebagai bentuk keramatnya. Yakni, kondisi kehidupan beliau, itu pun di usia 80 tahun tidak tepat bagi beliau menerima tanggung jawab yang seperti ini. Mereka yang mengenal beliau tidak pernah membayangkan beliau akan memanggul tanggung jawab sebagai marji. Tak pelak apa yang dilakukan beliau tidak lain hanya muncul dari rasa tanggung jawabnya. Bahkan kita harus mengatakan bahwa beliau di masa kini, itu pun dengan filosofi dan kesalehannya menjadi bukti bagi semua bahwa bisa seorang menjadi marji dan juga hidup dalam kesederhanaan. Setelah menjadi marji beliau tetap sederhana tanpa ada perubahan dalam cara berpakaian, makanan, rumah dan kondisi kehidupan lainnya.”

Setelah wafatnya Ayatullah Sayyid Ahmad Khansari, Ayatullah Bahjat mentashih jilid pertama dan kedua buku Dzakhiratul Ibad (kumpulan buku fatwa, seperti taudhihul masail saat ini), karyanya sendiri dan hanya membolehkan orang-orang khusus yang memanfaatkannya dan sebelum wafatnya Ayatullah Al-Udzma Araki, beliau tidak pernah memberikan izin mempublikasikan buku fatwanya itu. Namun semua berubah ketika Jami’atul Mudarrisn (Asosiasi Pendidik Hawzah) merilis pernyataan dan memperkenalkan tujuh marji, termasuk Ayatullah Bahjat dan sejumlah ulama seperti Ayatullah Meshkini, Ayatullah Javadi Amoli dan lain-lainnya mengumumkan marjaiyat beliau serta pelbagai permintaan, akhirnya Ayatullah Bahjat membolehkan buku fatwanya dicetak dalam oplah besar. Namun pun demikian, beliau tetap menolak namanya dicetak di cover buku tersebut.

Masih terkait dengan masalah ini, Ayatullah Misbah Yazdi menyebutkan, “Ayatullah Bahjat sebelum wafatnya Ayatullah Al-Udzma Araki tahu bahwa Jami’atul Mudarrisin memperkenalkan beliau sebagai seorang marji, langsung mengirimkan pesan dan menyatakan ketidakrelaannya melihat namanya disebutkan di sana.”

Setelah wafatnya Ayatullah Araki dan pesannya kepada Jami’atul Mudarrisn, beliau mengatakan, “Fatwa-fatwa saya tidak boleh diberikan kepada siapa pun.” Ketika Jami’atul Mudarrisin meminta informasi mengenai hal ini beliau menjawab, “Bersabarlah dan publikasikan semua buku fatwa yang kalian miliki. Bila ada orang yang masih tertinggal dan tidak bertaklid kepada orang lain dan hanya menginginkan bertaklid kepada kami, pada saat itulah kalian cetak buku fatwa saya.” Beberapa bulan setelah kejadian ini buku fatwa dan risalah amaliyah beliau dicetak di Lebanon.

Hijrah

Setelah menyelesaikan pendidikannya, tahun 1364 HQ Ayatullah Bahjat kembali ke Iran dan tinggal selama beberapa bulan di kotanya Fuman. Saat tengah mempersiapkan diri untuk kembali ke hawzah Najaf, beliau terlebih dahulu berziarah ke makam suci Sayyidah Fathimah Ma’sumah as dan setelah mendapat informasi mengenai kondisi hawzah Qom dan selama beberapa bulan di sana, beliau diberitahukan mengenai wafatnya guru-guru besar Najaf. Mendengar kabar itu beliau memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap di Qom.

Di kota Qom, Ayatullah Bahjat belajar kepada Ayatullah Al-Udzma Hojjat Kouh Kamareh-i dan menjadi satu dari murid terbaiknya. Saat Ayatullah Bahjat tiba di Qom, beberapa bulan sebelumnya Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi datang di Qom, begitu juga sejumlah ulama besar termasuk Imam Khomeini, Ayatullah Golpaigani dan lain-lain. Mereka semua ikut menghadiri kuliah-kuliah yang disampaikan Ayatullah Boroujerdi.

Sekaitan dengan masalah ini, Ayatullah Misbah Yazdi mengatakan:

“Sejak Ayatullah Boroujerdi mulai memberikan kuliahnya di Qom, Ayatullah Bahjat telah menjadi murid cemerlangnya dan termasuk murid yang dikenal suka mengajukan pertanyaan. Biasanya guru yang mengajarkan bahts kharij, biasanya memiliki dua atau tiga orang dari sekian murid-muridnya yang lebih baik dalam menjaga mencatat semua mata kuliah dan terkadang muncul pertanyaan di kepala mereka yang kemudian ditanyakan dan meminta agar gurunya menjelaskan lebih jauh masalah tersebut, sehingga masalah tersebut benar-benar terselesaikan. Murid-murid yang seperti ini sangat detil, pertanyaan mereka lebih ilmiah dan memerlukan pembahasan dan penjelasan lebih banyak. Ayatullah Bahjat di masa itu termasuk murid yang punya posisi seperti ini dalam kuliah yang disampaikan Ayatullah Boroujerdi.”

Mengajar

Ayatullah Bahjat sejak masih belajar pada Ayatullah Isfahani, Gharawi dan Syirazi di Najaf, selain belajar dan mensucikan diri, beliau juga mulai mengajar tingkat suthuh di Najaf. Setelah hijrah ke Qom beliau juga tetap melanjutkan kebiasaannya ini. Sekaitan dengan mengajar jenjang atas (bahts kharij) fikih dan ushul, dapat dikatakan secara keseluruhan beliau telah mengajar selama lebih dari 40 tahun dan karena tidak mencari popularitas, beliau mengajar di rumahnya dan banyak ulama yang bertahun-tahun belajar kepada beliau.

Metode Mengajar

Untuk mengetahui metode pengajaran Ayatullah Bahjat perlu untuk mendengarkan penjelasan Ayatullah Misbah Yazdi. Ia mengatakan:

“Ayatullah Bahjat dalam menjelaskan satu masalah, pertama beliau selalu berusaha untuk mengetengahkannya dari buku Syeikh Anshari dan ketika sampai pada pembahasan yang patut mendapat perhatian beliau mengutip pandangan ulama lain, khususnya dari buku Jawahir Al-Kalam(karya Allamah Syeikh Muhammad Hasan Najafi), almarhum Haj Agha Ridha Hamadani dan yang lain-lain. Setelah itu beliau menyampaikan pendapat pribadinya dan dijelaskan secara terperinci. Metode yang dipakai beliau dari satu sisi membuat murid yang hadir menjadi tahu pandangan ulama lainnya, sekaligus menghemat waktu. Guru-guru besar lain punya cara tersendiri yang tampaknya cocok bagi mereka yang masih baru belajar di mana guru memberikan pandangan terpisah, namun membuat waktu yang dibutuhkan lebih banyak dan biasanya terjadi pengulangan.

Selain mengajar ada poin penting yang kami manfaatkan dari beliau dan sudah barang tentu sebagian dari poin-poin yang disampaikan beliau berasal dari guru-guru beliau yang didapatkannya secara lisan. Poin-poin ini sangat bernilai, dalam dan memiliki kecermatan luar biasa.”

Ayatullah Masoudi yang bertahun-tahun belajar kepada Ayatullah Bahjat mengenai ciri khas dalam mengajar beliau mengatakan:

“Metode pengajaran beliau sangat khas. Biasanya para marji lain dalam kuliah kharij mereka saat menyampaikan satu masalah menyebutkan satu persatu pendapat ulama sebelumnya setelah itu mengkritik satu dan menerima lainnya dan di akhir pembahasan satu dari pandangan itu yang diterima, sekaligus menjelaskan proses argumentasinya. Berbeda dengan yang lainnya, Ayatullah Bahjat tidak sekedar mengutip pendapat ulama, tapi biasanya di awal pembahasan beliau menjelaskan masalah dan proses argumentasinya. Bila sebagian murid mempelajari pandangan ulama dan mengetahui bahwa pandangan siapa yang disampaikan beliau. Ketika bertanya, dia mengetahui terlebih dahulu pendapat siapa ini dan bila menerima juga dengan pengetahuan pendapat siapa yang diterimanaya. Oleh karenanya, siapa yang ingin ikut dalam kuliah Ayatullah Bahjat harus mengetahui terlebih dahulu dasar dan pandangan ulama lainnya.”

Ayatullah Mohammad Hussein Ahmadi Faqih Yazdi menjelaskan metode pengajaran Ayatullah Bahjat seperti ini:

“Biasanya beliau menyampaikan sejumlah masalah asli dan cabangnya setelah memperhatikan kehalusan dan detil hadis atau ayat yang punya hubungan dengan masalah setelah melakukan perbandingan antara tema yang tengah dibahas dengan sejumlah bahasan lain yang punya hubungan. Beliau kemudian menyoroti masalah tersebut dengan ketelitian khusus dalam menjaga keseimbangan dua masalah tersebut dan setelah itu mengambil kesimpulan yang harus diakui kesimpulan itu biasanya baru dan sangat ilmiah. Benar-benar beliau saat menjelaskan satu masalah berangkat dari keagungan beliau yang diwarisinya dari para imam as dan ijtihad yang benar harus dianalisa secara detil seperti ini.”

Wejangan Saat Mengajar

Hujjatul Islam Walmuslimin Qods yang bertahun-tahun menghadiri kuliah-kuliah Ayatullah Bahjat mengatakan, “Kebiasaan Ayatullah Bahjat sebelum memulai kuliahnya adalah memberikan wejangan sekitar 10 menit, tapi tidak secara khusus menyebutnya sebagai wejangan melainkan cerita mengenai ulama besar sebelumnya.”

Dapat ditebak sejak awal apa maksud utama Ayatullah Misbah Yazdi yang sekitar 15 tahun mengikuti kuliah kharij fiqih yang selain belajar juga memanfaatkan semangat dan jiwa malakuti beliau.

Ayatullah Misbah Yazdi mengatakan:

“Terkadang Ayatullah Bahjat menyampaikan cerita sambil mengutip satu hadis yang membuat kami terheran-heran. Mengapa beliau begitu bersikeras menyampaikan masalah yang sudah jelas dan gamblang bagi kami seperti masalah keimamahan Imam Ali as yang sering diingatkan beliau sebelum memulai kuliah. Kami benar-benar heran dan bertanya-tanya apakah kami meragukan keimamahan Imam Ali as sehingga beliau begitu bersikeras menyampaikan pelbagai argumen keimamahan Imam ali as kepada kami. Kami sedikit tidak puas dengan apa yang beliau lakukan. Karena kami berpikiran, mengapa beliau tidak menjelaskan akhlak dan spiritual yang benar-benar kami butuhkan. Namun ketika kami menginjak usia 50 atau 60 tahun barulah kami pahami sejumlah poin yang beliau sampaikan sekitar 40 tahun lalu mengenai keimamahan Imam Ali as dan hal ini sangat membantu kami. Seakan-akan pada waktu itu akan ada masalah yang bakal terjadi di masa depan yang bakal dilalaikan atau diragukan orang.

Seandainya beliau tidak memperhatikan masalah ini, kami tidak punya motifasi untuk mempelajarinya, bahkan poin-poin yang disampaikan oleh beliau sekitar 40 tahun lalu dalam catatan yang saya miliki mengenai masalah akidah atau lainnya masih sering saya manfaatkan.”

Posisi Keilmuan

Banyak ulama yang sezaman dengan beliau dan murid-murid terkenal yang akan disebutkan nanti mengakui ketelitian dan kejeniusan Ayatullah Bahjat sebagai berikut:

“Suatu hari dalam mata kuliah ushul fiqih yang menggunakan buku standar Kifayah Al-Ushul, seorang murid Akhound Khorasani memprotes cara penjelasan penulis buku tersebut yang disampaikan oleh sang guru. Menariknya, murid ini termasuk yang paling muda dari mereka yang hadir dalam kuliah beliau. Keesokan harinya sebelum kedatangan sang guru untuk memberikan kuliah, murid-murid yang lain memprotes dan mengkritik sikap murid tersebut. Saat tengah mengingatkan murid muda itu, tiba-tiba sang guru memasuki ruangan dan memperhatikan protes mereka kepada murid muda tersebut. Kepada mereka sang guru mengatakan, “Biarkan Bahjat dan jangan ganggu dia! Semua langsung terdiam lalu sang guru melanjutkan, “Semalam ketika saya membaca kembali catatan-catatan mengenai pelajaran Akhound Khorasani, saya baru sadar bahwa ia benar.” Setelah menyampaikan masalah ini sang guru kemudian memuji kejeniusan dan keseriusan Ayatullah Bahjat.”

Seorang ulama Najaf mengatakan, “Ayatullah Bahjat dalam kuliah Ayatullah Gharawi tidak pernah memberikan kesempatan gurunya. Setiap kali ada bahasan baru selalu dikritik oleh beliau.”

Almarhum Ayatullah Sheikh Morteza Hairi mengatakan, “Ayatullah Bahjat mampu menarik perhatian gurunya dengan pandangannya yang teliti dan pertanyaan-pertanyaan penting, sehingga biasanya kuliah keluar dari kondisi kharij fiqih atau ushul. Pertanyaan beliau juga ternyata sangat bermanfaat bagi kami, namun agar tidak dikenal orang, beliau tidak mengkritik. Karena bila beliau melanjutkan kritikannya bakal ketahuan beliau lebih dibanding yang lain atau setidaknya tidak dibawah yang lain.”

Allamah Mohammad Taqi Jakfari mengatakan, “Ketika kami belajar buku Makasib (buku fiqih karya Sheikh Anshari) dengan Syeikh Kazhim Syirazi, Ayatullah Bahjat yang kini tinggal di Qom juga ikut mata kuliah ini. Saya masih ingat dengan baik ketika beliau menyampaikan pertanyaannya, Syeikh Kazhim dengan penuh keseriusan mendengarkannya. Yakni pertanyaan yang diajukan Ayatullah Bahjat sangat detil dan dalam. Sementara pada saat yang sama beliau di Najaf dikenal dengan keutamaan dan irfan.”

Ayatullah Sayyid Mohammad Hossein Tehrani dalam buku Anwar Al-Malakut menulis:

“Ayatullah Hajj Sheikh Abbas Qouchani, wakil Ayatullah Sayyid Ali Qadhi mengatakan, “Ayatullah Al-Udzma Sheikh Mohammad Taqi Bahjat mengikuti kuliah fiqih dan ushul Ayatullah Al-Udzma Sheikh Mohammad Hussein Gharawi Isfahani. Biasanya sekembalinya dari kuliah beliau langsung menuju kamarnya. Sebagian murid yang masih punya pertanyaan dan tidak sempat melontarkannya di ruang kuliah mendatangani kamar beliau dan menanyakannya kepada Ayatullah Bahjat dan beliau menjawabnya. Sering kali beliau di kamarnya dalam keadaan tidur dan mereka tidak mengetahui kemudian menanyainya. Dalam kondisi yang demikian seperti orang yang terbangun beliau menjawab semua pertanyaan mereka dengan tuntas. Ketika beliau terbangun dari tidunya, beliau sama sekali tidak mengetahui mengenai apa yang ditanyakan oleh mereka dan bila ditanya beliau menjawab, “Saya tidak mengetahui masalah itu dan apa yang kalian katakan tidak ada dalam ingatan saya.”

Ayatullah Meshkini mengatakan, “Ayatullah Bahjat dari sisi keilmuan (baik dalam bidang fiqih dan ushul fiqih) berada dalam posisi yang tinggi di antara fuqaha Syiah.”

Hujjatul Islam Walmuslimin Amjad mengatakan, “Beliau dalam tingkat keilmuan berada dalam posisi yang sangat tinggi. Seorang faqih yang sangat besar dan saya percaya semestinya para mujtahid mengikuti kuliah beliau agar memahami sejumlah masalah dan memahaminya. Memang benar demikian adanya bahwa pelajaran kharij harus disampaikan seperti yang dilakukan oleh Ayatullah Bahjat tidak seperti mereka yang hanya pandai mengutip pendapat ulama dan merasa cukup dengan itu.”

Ulama: Ikuti Kuliah Ayatullah Bahjat

Ayatullah Misbah Yazdi mengatakan:

“Hal pertama yang membuat kami tertarik kepada Ayatullah Bahjat adalah daya tarik spiritualnya. Namun perlahan-lahan kami mengeri bahwa beliau dari sudut keilmuan dan kefaqihan berada dalam posisi yang sangat tinggi. Oleh karenanya kami selalu berusaha untuk dapat hadir dalam kuliah-kuliah beliau agar dapat memanfaatkan pengetahuannya, sekaligus satu alasan untuk bisa setiap hari bertemu dengan beliau dan memanfaatkan kesempurnaan jiwa dan spiritualnya. Kami mulai membaca buku Thaharah bersama beliau. Pada mulanya kami dan beberapa orang belajar bersama beliau di sebuah ruangan di Sekolah Tinggi Feiziah, Qom. Setelah setahun lewat kami juga belajar bersama beliau sekitar setahun atau dua tahun di sebuah ruangan di Madrasah Khan (madrasah Ayatullah Boroujerdi) dan setelah itu beliau mulai kelihatan lemah dan menyampaikan kuliahnya di rumah. Di rumah beliau sekali lagi kami belajar bersama beliau dan menamatkan buku Thaharah dan setelah itu buku Makasib dan Khiyarat selama 15 tahun. Kami sangat memanfaatkan kkuliah yang beliau berikan yang tidak didapatkan di kuliah-kuliah lainnya.”

Syahid Murtadha Muthahhari juga punya perhatian khusus dalam kuliah yang disampaikan oleh beliau. Sekaitan dengan masalah ini, Ayatullah Mohammad Hossein Ahmadi Yazdi mengatakan, “Syahid Muthahhari berulang kali menasihati kepada kami agar mengikuti kuliah Ayatullah Bahjat dan ia berkata, “Pastikan bahwa kalian mengikuti kuliahnya, khususnya kuliah ushul fiqih. Karena Ayatullah Bahjat dahulunya belajar pada Syeikh Muhammad Husein Isfahani, kalian harus mengikuti kuliah ushul beliau.”

Ayatullah Khosrou Shahi mengatakan:

“Saya mengikuti kuliah kharij fiqih bab Khiyarat Ayatullah Al-Udzma Syeikh Murtadha Hairi. Di akhir-akhir umurnya beliau sering sakit sehingga kuliah beliau diliburkan. Suatu hari ketika Ayatullah Hairi keluar dari makam suci Imam Ali as, saya mendekati beliau dan setelah mengucapkan salam saya berkata, “Insya Allah pelajaran akan segera Anda mulai? Ayatullah Hairi menjawab, “Tidak.” Kemudian beliau melanjutkan ucapannya, “Kalian masih muda dan untuk itu saya berikan satu kaidah kepada kalian. Ikutilah kuliah yang disampaikan oleh seorang guru yang tidak hanya pandai mengutip pendapat ulama, tapi pendapat itu dikaji dan menjelaskan poin-poinnya dalam memberikan kuliah. Karena dengan cara ini sangat membantu dalam mengaktualkan potensi ijtihad. Kuliah bagi kalian akan sangat bermanfaat di mana mampu mengaktualkan kemampuan berijtihad dan jangan merasa cukup hanya dengan menukli pandangan ulaman.”

Di situ juga langsung saya tanya, “Apakah Anda sudi memberikan nama guru yang dimaksud kepada kami? Beliau menjawab, “Perkenankan agar saya tidak menyebut nama.” Kemudian kepada beliau saya berkata, “Saya mengikuti kuliah Ayatullah Al-Udzma Bahjat.” Mendengar pernyataan saya beliau menyatakan kepuasannya sambil tersenyum lalu berkata, “Kuliah yang beliau sampaikan dari sisi ketelitian dan kandungan sama dengan kaidah yang baru saja saya katakan. Baguslah bila kalian mengikuti kuliahnya. Kuliah beliau dari segala sisi sangat membangun, baik dari sisi keilmuan dan akhlak. Lanjutkan belajar kalian.”

Karya

Ayatullah Bahjat memiliki sejumlah karya di bidang fiqih dan ushul fiqih, namun beliau sendiri tidak memutuskan untuk mencetaknya sebagian besar karyanya. Bahkan terkadang beliau tidak mengizinkan mereka yang ingin mencetaknya, sekalipun dengan dana pribadi. Beliau mengatakan, “Sampai saat ini masih banyak buku-buku ulama yang bertahun-tahun masih berwujud tulisan tangan. Buku-buku itu terlebih dahulu kalian cetak, karena untuk mencetak buku-buku saya masih belum terlambat.”

List sebagian besar karya beliau sebagai berikut:

1. Karya-Karya yang Telah Dicetak

1. Risalah Taudhihul Masail (berbahasa Persia)

2.Manasik Haji.

Dua buku di atas ditulis oleh sebagian murid beliau berdasarkan fatwa Ayatullah Bahjat yang dicetak setelah dikonfirmasi dan disahkan oleh beliau.

3.Wasilah An-Najah.

Buku ini memuat pandangan fiqih beliau di sebagian besar tema-tema fiqih yang ditulis beliau di samping teks Wasilah An-Najah karya Ayatullah al-Udzma Sayyid Abul Hasan Isfahani dan akhirnya satu jilid dari buku ini dicetak dengan konfirmasi dan pengesahan beliau.

4.Jami’ul Masail.

Buku ini merupakan catatan pinggi beliau atas buku Dzakhirah Al-‘Ibad karya guru beliau Ayatullah Al-Udzma Muhammad Hussein Gharawi Isfahani dan tambahan buku ini sampai akhir masalah fiqih yang beberapa bagian awalnya diberi nama Dzakhirah Al-‘Ibad dengan penataan yang tidak terlalu bagus dan hanya beberapa naskah yang diberikan kepada murid dan orang-orang tertentu. Di kemudian hari jilid pertama dari buku ini yang rencananya akan dicetak dalam lima jilid, akibat banyaknya cabang fiqih yang ditambahkan kepada asal buku ini oleh Ayatullah Bahjat dan namanya diubah menjadi Jamiul Masail dan buku ini akhirnya berhasil dicetak oleh sebagian murid-murid beliau.

2. Karya yang Siap Dicetak

1.Jilid Pertama Kitab Al-Shalah.

Ayatullah Bahjat dalam buku ini dengan caranya sendiri meringkas tema-tema pembahasan buku Jawahir Al-Kalam secara tertib dengan menambahkan penjelasan pandangan terbaru beliau.

2.Jilid Pertama Ushul Fiqih.

Metode penulisan buku ini hampir sama dengan buku Kifayah Al-Ushul dan beliau sendiri berkali-kali meneliti dan merevisinya. Buku ini mengandung pandangan terbaru beliau dalam berbagai pembahasan ushul fiqih.

3.Ta’liq (Kometner) ‘Ala Manasik Syeikh Anshari.

Buku ini memuat pandangan beliau dalam masalah manasik haji.

3. Karya yang Belum Dicetak

1.Jilid selanjutnya Ushul Fiqih.

2.Catatan pinggir terhadap buku Makasib Syeikh Anshari.

Buku ini ditulis berdasarkan buku Makasib Syeikh Anshari dari awal hingga akhir dan setelah selesai pembahasan dalam buku Makasib, lanjutan pembahasan yang tidak dibahas dalam buku tersebut ditulis oleh beliau berdasarkan teks buku Syara’iul Islam. Dalam buku ini beliau menjelaskan pelbagai pembahasan fiqih dengan pandangan terbarunya.

3.Buku Thaharah.

Ayatullah Bahjat menulis buku ini sama dengan gara penulisan beliau untuk buku Kitab Al-Shalah sesuai dengan urutan pembahasan buku Jawahir Al-Kalam dalam bentuk yang lebih ringkas dan memuat pandangan-pandangan terbarunya.

4.Jilid lain Kitab Al-Shalah.

Begitu juga Ayatullah Bahjat bekerjasama dengan Syeikh Abbas Qommi dalam menulis buku Safinah Al-Bihar dan sebagian besar tulisan tangan buku ini ditulis oleh beliau.

Murid

Sekalipun kehidupan Ayatullah Bahjat selalu jauh dari popularitas, namun banyak yang menimbu ilmu dari beliau. Sebagian dari mereka bahkan mujtahid dan memiliki buku risalah fatwa. Berikut ini nama sebagian dari mereka:

  1. Mohammad Taqi Misbah Yazdi.
  2. Abdul Majid Rashid Pour.
  3. Sayyid Mahdi Rouhani.
  4. Ali Pahlavani Tehrani.
  5. Mokhtar Aminiyan.
  6. Mohammadi Hadi Feqhi.
  7. Hadi Qods.
  8. Mahmoud amjad.
  9. Mohammadi Imani.
  10. Mohammad Hassan Ahmadi Faqihi Yazdi.
  11. Masoudi Khomeini.
  12. Sayyid Reza Khosrou Shahi.
  13. Ismail Abidi.
  14. Hassan Lahouty.
  15. Aziz Aliyari.
  16. Sayyid Mohammad Momeni.
  17. Hossein Mofidi.
  18. Mohammad Karim Parsa.
  19. Javad Mohammad Zadeh Tehrani.
  20. Sayyid Saber Mazandarani.
  21. Syahid Namaz Shirazi.
  22. Mahdi Hadawi.

Sumber:

1. Buku Beh Suy-e Mahboub

2. Buku Bargi Aza Daftar-e Aftab

Categories: TOKOH | Tags: , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: